Friday, March 24, 2017

Sertifikasi Juru Dakwah / Da'i


Sejumlah status bersliweran di dinding fesbukku. Beberapa diantaranya menghujat dengan keras ide pemerintah untuk sertifikasi juru dakwah. Ada kesan bahwa banyak orang menganggap ide itu berlebihan. Saya sendiri belum memeriksa kebenaran berita itu, apakah pemerintah memang berkehendak menetapkan sertifikasi kepada kader-kader dakwah?.

Jauh-jauh hari sebelumnya, sekitar tiga bulanan yang lalu, seorang teman, doktor dalam bidang psikologi industri, membuka sebuah trit di grup mengenai keresahannya terhadap maraknya juru dakwah yang tampil di tengah masyarakat tanpa dasar ilmu agama (Islam) yang memadai. Eksesnya banyak, yang paling menonjol adalah maraknya radikalisasi dan intoleransi di kalangan ummat Islam.

Mbak Doktor itu kemudian mengajukan sebuah ide untuk memberikan semacam sertifikasi kepada juru dakwah. Tentunya karena melihat dan merasakan sendiri bagaimana akibatnya bila pendakwah karbitan yang tidak cukup matang ilmunya dengan sangat percaya diri "membina" ummat. Dan Mbak Noor memang tidak bersendiri dalam hal ini. Banyak orang merasakan hal yang sama.

Di akhir diskusi dalam grup fesbuk itu, ujung-ujungnya banyak peserta diskusi meng-amin-i ide dari Mbak Doktor tersebut. Sertifikasi juru dakwah adalah sangat diperlukan. Dalam tubuh Muhammadiyah, hanya untuk menyebut salah satu saja, NU dan yang lainnya tentu juga mempunyai mekanisme dengan tujuan yang sama, ada lembaga yang dikenal dengan nama PUTM (Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah). Lembaga pendidikan da'i seperti inilah yang boleh dibilang lulusannya mempunyai "sertifikasi".

Sebagai akhir, saya hanya ingin menyatakan bahwa ide sertifikasi juru dakwah ini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru dan mengada-ada. Banyak anggota masyarakat yang sudah memikirkan masalah ini sejak lama.

Dari Sebuah Sudut Rumah.
Yogyakarta, Awal Februari.

photograph by Astungkara Wiguna

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...