Monday, March 13, 2017

Pilkada Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Pemilihan kepala daerah di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta usai sudah. Sekalipun pemilihan yang berlangsung tanggal 15 Februari 2017 baru pemilihan pada putaran pertama. Karena tidak ada calon yang mencapai perolehan lebih dari 50%, maka Komisi Pemilihan Umum Daerah akan melaksanakan pemilihan putaran kedua. Komisi Pemilihan Umum Daerah Khusus Ibukota Jakarta rencananya akan melaksanakan pemilihan yang kedua itu pada tanggal 19 April 2017. Kira-kira sebulan lagi.

Sambutan Masyarakat Indonesia

Pemilihan Kepala Daerah dan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta memang mendapat sambutan yang sangat antusias. Bukan hanya menarik untuk warga ibukota itu, namun juga menarik bagi seluruh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan domisili. Ada 101 daerah yang mengadakan pemilihan kepala daerah secara serentak, namun pemilihan di Jakarta inilah yang banyak mendapatkan perhatian publik. Daerah yang lainnya seolah sepi-sepi saja.

Penulis tidak mengetahui persis mengapa sambutan seluruh masyarakat Indonesia begitu meriah atas Pemilu di Daerah Khusus Ibukota. Salah satu faktornya barangkali adalah karena sebelumnya Presiden Joko Widodo sendiri yang menjadi Gubernur dan Kepala Daerah di Daerah Khusus Ibukota. Setelah Joko “Jokowi” Widodo memenangkan pemilihan presiden, maka jabatan Gubernur di ibukota otomatis diserahkan kepada Ahok, nama panggilan Basuki Tjahaya Purnama, wakilnya semasa menjadi Gubernur Jakarta.

Perolehan Suara Putaran Pertama

Ada tiga pasangan calon yang mengikuti Pemilihan Kepala Daerah dan Gubernur di Jakarta. Pasangan calon dengan nomor urut satu adalah ex-major Agus Harimurti Yudhoyono dengan wakilnya Sylviana Murni. Pasangan calon kedua adalah incumbent Basuki Tjahaja Purnama, atau masyarakat lebih mengenalnya sebagai Ahok, bersama wakilnya Djarot Saiful Hidayat. Pasangan calon yang terakhir atau ketiga adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan beserta wakilnya, seorang pebisnis besar, Sandiaga Shalahuddin Uno. Penulis tidak mengetahui alasan Presiden Jokowi memecat Anies Baswedan dari posisinya sebagai Menteri.

Hasil perhitungan manual di Komisi Pemilihan Umum Daerah menghasilkan, pasangan Agus-Sylvi mendapatkan 937.955 suara. Suara yang diperoleh oleh incumbent Ahok aka Basuki Tjahaja Purnama bersama Djarot Saiful Hidayat adalah 2.364.577 pemilih. Sedangkan pasangan Anies-Sandy memperoleh suara pemilih sebesar 2.197.333 suara. Dengan hasil itu maka pasangan Agus-Sylvi tereliminasi pada kesempatan pertama. Tersisa dua pasangan kandidat untuk melaju memperebutkan kursi Gubernur Jakarta, yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandy.

Kondisi Usai Pemilihan Pertama

Banyak yang telah terjadi semasa sebelum dan sesudah kampanye. Hingar-bingar demokrasi yang baru saja berkembang di Indonesia menciptakan keadaan yang buruk. Penulis hanya berharap bahwa hal itu tidak akan menjadi tradisi ke depan nanti. Masyarakat Indonesia haruslah menjadi komunitas yang dewasa dan dapat berfikir jernih.

Keadaan buruk itu adalah ketika pendukung pasangan calon, baik tim sukses maupun penggembira melakukan segala macam cara untuk menang. Diantaranya adalah black campaign dan menggunakan isyu suku, ras, agama dan antar golongan. Semua orang sudah tahu bahwa Anies Baswedan adalah Arab dan Ahok aka Basuki Tjahaja Purnama adalah seorang Cina Kristen. Masalah agama adalah sensitif di Indonesia ini, kekristenan Ahok selalu menjadi bulan-bulanan supporter pasangan calon yang lainnya. Olok-olok antara masing-masing pendukung berkembang menjadi serius dan menyedihkan.

Untunglah perundungan itu semakin mereda paska pemilihan putaran pertama 15 Februari 2017. Penulis berharap kondisi yang cukup bersahabat ini akan bertahan sampai pemilihan putaran kedua nanti. Ahok dan Djarot sebagai incumbent sudah membuktikan diri mampu mengelola wilayah dan permasalahannya. Anies dan Sandy sendiri juga belum tentu gagal apabila diserahi tanggung jawab yang sama. Siapapun yang menang, Indonesia harus tetap membangun negeri.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...