Tuesday, March 7, 2017

Mencoba Tidak Menyerah

Saat ini aku tinggal di rumah pamanku. Pamanku memiliki sebuah peternakan ayam layer yang besar di Yogyakarta ini. Bagi yang belum mengenal istilah layer, maka yang dimaksudkan dengan istilah itu adalah ayam petelur. Bayak hal yang menjadi pertimbanganku ketika memutuskan untuk tinggal di Yogyakarta ini. Faktor yang terpenting adalah penerimaan pamanku yang welcome terhadapku. Lebih-lebih dibandingkan dengan penerimaan famili-famili yang lain.

Adalah sangat wajar apabila famili yang lain itu kurang dapat menerimaku. Aku adalah seorang penderita bipolar. Bipolar adalah salah satu jenis gangguan jiwa yang berat. Aku mulai menjadi sufferer gangguan afektif bipolar sejak tahun 2000 yang lalu. Aku mengalaminya ketika masih menjadi mahasiswa Teknik Mesin di Universitas Gadjah Mada. Universitas Gadjah Mada adalah sebuah universitas yang besar di Indonesia ini. Beruntung aku masih dapat lulus dari universitas itu. Sekalipun tentunya dengan nilai-nilai yang minim.

Di rumah pamanku ini aku berusaha untuk belajar bertahan hidup. Hidup, bagaimanapun memerlukan uang. Untuk itu aku melakukan upaya yang aku bisa. Kebetulan akun Google AdSense-ku telah di-approve sejak sekitar tahun 2013. Mungkin tahunnya salah, aku hanya mengandalkan ingatan. Sayangnya dollar yang kukumpulkan belum pernah cair sampai selama itu. Hal ini terjadi karena aku memang belum mempunyai cukup ilmu dan ketrampilan dalam blogging.

Selain itu aku juga menulis novel. Ada tiga judul novel yang telah kutuliskan. Yang pertama adalah Bercanda Dalam Duka, yang kedua adalah Genggamlah Tanganku, dan yang terakhir ini kuberi judul Dua Utas Benang. Novel yang kedua Genggamlah Tanganku memenangkan hadiah ketiga dalam Lomba Sastra Aksara 2016. Lomba ini diprakarsai oleh Kajian Bahasa dan Sastra Indonesia, Deakin University, Melbourne, Australia dan Lembaga Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang beserta Penerbit Angkasa Bandung. Lomba itu didedikasikan kepada salah satu sastrawan Indonesia tempo doeloe, A A Navis. Beliau adalah sastrawan besar pada jamannya. Asalnya dari Sumatera Barat/Padang

Menjadi salah satu pemenang dalam sayembara novel ternyata bukanlah segala-galanya. Artinya membuka pintu kesuksesan. Aku masih kesulitan untuk mendapatkan penerbit bagi karyaku yang pertama dan ketiga. Ada teman yang menyarankan untuk self publishing saja. Kupikir, itu adalah jalan yang terbaik.

Dan hidup terus berjalan.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...