Wednesday, March 22, 2017

Kronik


Dalam acara Bedah Buku-ku kemarin, Mas Wahyu Harjanto mengatakan bahwa novelku sangat kronik, sangat sejarah. Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan bahwa apabila aku menjadi historian, pasti akan ngedab-ngedabi, itu istilah beliau.

Aku belum terlalu jelas mengenai apakah yang dimaksud dengan kronik. Mestinya artinya memang bisa dilacak lewat KBBI, tapi aku memang belum ingin mencari maksud istilah itu. Aku lebih tertarik untuk meneruskan menulis novel keempatku ini saja. Dengan komen Mas Wahyu itu aku jadi tergerak untuk memberikan latar belakang "sejarah" dalam novelku. Sengaja kuberi tanda petik dalam kata sejarah itu karena barangkali orang tidak sepakat denganku menilai suasana dan situasi pada saat itu. Terbukti dengan beredarnya poster dengan semboyan "PENAK JAMANKU TO?".

Sebenarnya tetap saja masalahnya. Pemaparanku ini tentu akan jauh lebih berwarna apabila aku dulu kuliah di Isipol atau Sastra saja. Namun, seorang teman mengatakan padaku untuk jangan menyesali kuliah di Teknik. Novelku menurutnya berciri "structured" dan "logic". Itu adalah ciri anak Teknik, katanya.


........

........

Saat itu warna kuning identik dengan pembangunan, kemajuan, intelektualitas, dan semua hal yang baik-baik. Rezim yang berkuasa di seluruh Indonesia adalah Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, presiden kedua. Organisasi peserta pemilihan umum hanya ada tiga dalam sistim demokrasi yang semu. Semu karena bungkusnya saja yang berbentuk demokrasi, kenyataannya semua hal bergantung pada keputusan Presiden Soeharto, sang penguasa mutlak yang tidak mungkin bisa dibantah, kecuali oleh istrinya sendiri.

Salah satu penyangga kekuasaan Presiden Soeharto adalah Golkar, kependekan dari Golongan Karya, salah satu dari tiga kontestan peserta Pemilihan Umum atau Pemilu yang penuh dengan rekayasa untuk melanggengkan kekuasaan rezim Orde Baru. Bersama dua partai peserta Pemilu yang lain, Partai Persatuan Pembangunan atau PPP dan Partai Demokrasi Indonesia atau lebih dikenal dengan PDI, Golkar mengikuti pesta demokrasi lima tahunan itu. Anehnya, Golkar saat itu tidak mau menyebut diri dan disebut sebagai partai peserta Pemilu. Entah mereka ingin dikenal sebagai apa waktu itu.

Golkar memilih warna kuning sebagai warna bendera dan atribut mereka. Untuk menggiring masyarakat supaya selalu ingat dengan keberadaannya, maka bisa dibilang hampir semua warna pada infrastruktur yang dimiliki oleh pemerintah rezim Orde Baru dipilih menggunakan warna ini. Gedung Balai Desa dan Kantor Desa Kamulan ini juga dicat kuning. Demikian pula bak sampah di ujung desa. Itulah alasannya mengapa minivan yang selalu ditunggu-tunggu oleh Sutarjo kecil juga berwarna kuning cerah.

........

........

(photograph by Emile Gede Seno Aji)

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...