Wednesday, March 22, 2017

Beasiswa Pekerja Seni


Saat itu ada program beasiswa untuk pekerja seni. Kebetulan pas novel pertama saya selesai dikerjakan. Novel itu rencananya akan saya jadikan port folio persyaratan beasiswa. Dengan riang saya menghubungi guru besar Teknik Mesin yang saya hormati, Prof Dr Ir Indarto DEA untuk memohon rekomendasi beliau. Alhamd beliau menyetujuinya.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu, sebagai penderita bipolar, saya merasa perlu untuk mengutarakan maksud saya ini pada psikiater yang merawat saya selama ini. Demikianlah, sebelum waktu kontrol tiba, saya menghadap beliau. Memang tidak ada persyaratan rekomendasi atau keterangan dari psikiater untuk beasiswa pekerja seni itu sesungguhnya.

Ternyata, secara asertif psikiater saya meminta saya untuk mengurungkan niat untuk studi lanjut. Beliau tidak mengijinkan saya mengikuti proses seleksi. Kondisi baru saja menyelesaikan novel pertama dan antusiasme mendapatkan kesempatan sekolah lanjut membuat saya masuk dalam kondisi manik. Itu yang baru saya sadari lama setelah bertemu psikiater itu,

"Kalau seperti ini bagaimana?," demikian asesmen sang psikiater.

Sempat terpikir untuk tetap mengikuti proses seleksi. Hal itu karena persyaratan keterangan psikiater memang tidak ada. Tapi kemudian saya berfikir, psikiater itu pasti melihat sesuatu yang tidak saya lihat dan sadari. Akhirnya saya menulis pesan pendek kepada Profesor Indarto,

"Maaf Pak In, saya tidak jadi memohon rekomendasi Bapak, psikiater saya tidak mengijinkan."

Sedih.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...