Saturday, December 31, 2016

Kisah Sedih Menjual Novel

Perhatian orang sedang ke DKI Jakarta, gak akan ada yang membaca curcolku ini. Hihihi,...biarin ajah.... Ada orang minta dibawakan novel, terengah2 dan basah kuyup oleh keringat akhirnya kubawakan novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Beliau membacanya dan kemudian memberikan kritik. Yang dikritiknya adalah menurutnya bahasaku tidak standar.

"Seharusnya 'dech' dan bukan 'deh'," katanya.

"Bentuk bakunya 'khan' dan bukan 'kan'," lanjutnya.

Aku manggut-manggut saja, berharap dia membayar novelku. Novel itu kujual dengan cara konsinyasi. Penerbit mendapatkan 55% dan aku mendapatkan 45%, yang 45% itu sudah termasuk royalti yang besarnya 10%. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang karena jengah, kritikan dan saran terus saja dikemukakannya. Akhirnya aku pamit saja, dalam hati kecil aku mengharap dia membuka dompet dan membayar harga novel yang Rp. 75.000.

Ternyata tidak, dia cuma mengatakan, "Terimakasih atas doorprize-nya, Maz Fermy baaiiiiik dech." Begitu dia berseru dengan menirukan bencong berujar sambil melambai2kan tangan dengan gaya khas. Aku memang agak keperempuan2an, padahal itu bukan mauku.

Sudah rugi, dilecehkan pula.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...