Tuesday, December 13, 2016

Doktor Syariah

Dulu seorang doktor syariah lulusan Universitas Madinah, Dr. Hidayat Nur Wahid, MA berkomentar minor tentang prosedur penangkapan teroris yang melawan menggunakan peluru tajam. Seharusnya pasukan antiteror menghadapi teroris semacam ini dengan peluru bius atau peluru karet (saya lupa tepatnya) alih alih peluru tajam yang seimbang dengan yang digunakan teroris. Tidak jelas bagiku kenapa usaha itu harus dilakukan oleh pasukan anti teror di Indonesia ini.


Kemarin dulu itu, ada lagi doktor syariah lulusan Universitas Madinah, Dr. Reza Basalamah bilang, jika kalian dicela orang karena berjenggot maka itu belum sebanding dengan celaan yang diterima Rasulullah. Usaha mesti dilakukan untuk menegakkan sunnah, katanya. Orahng lain mestinya tidak mencela mereka yang melakukan usaha menghidupkan sunnah ini. Lah yang mencela sama dicela di jaman itu sama-sama berjenggot jeh. Kekel aku.


Jadi inget jaman tidak enak ketika kuliah dulu di Teknik Mesin UGM. Aku naksir seorang kembang kampus dari Isipol. Kampus kami dipisahkan oleh Jalan Kaliurang. Golongan eksakta di sebelah Barat, sedangkan blok ilmu-ilmu sosial terdapat di sebelah Timur. Banyak juga mahasiswa lain dari berbagai fakultas yang ingin memenangkan hatinya. Tidak kurang usaha yang sudah kulakukan untuk menarik hatinya. Namun akhirnya hati gadis manis itu tertambat pada seorang lulusan Universitas Madinah, sarjana strata satu tapi. Usahanya untuk mendapatkan si cantik memang tidak main-main. Si sainganku itu mengusahakan untuk bertemu sang cewek di tempat kosnya ketika liburan tiba. Mungkin usaha yang kulakukan memang kurang sih. Mereka akhirnya menikah, aku mengenal dengan baik sang suami. Dia adalah lelaki yang baik


photograph by Fermy Nurhidayat

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...