Monday, December 19, 2016

Buya Syafi'ie Ma'arief

Barangkali ini hanyalah sebuah postingan lebay, namun ingin hatiku mengungkapkan sesuatu yang kurasakan jauh di dasar kalbu. Beberapa teman menulis di status mereka tentang bullying terhadap Buya Syafi'ie Ma'arief, mantan Ketua PP Muhammadiyah. Aku berusaha mencari bullying model apa yang dilakukan terhadap Buya Syafi'ie, dan atas dasar apa bullying itu dilakukan. Namun rupanya aku belum beruntung mendapatkannya.

Teringat aku ketika tinggal di rumah sanak saudara di kawasan Blimbingsari ketika periode awal-awal kuliahku di Teknik Mesin UGM. Persis di depan rumah adalah Kantor PPSK milik Yayasan Mulia Bangsa. Aku seringkali nebeng membaca majalah berita dan koran di sana.

Aku akan selalu ingat kepada Buya Syafi'ie Ma'arief dan Dr. Chairil Anwar karena keramahan mereka berdua kepadaku. Seringkali Buya Syafi'ie menyapaku duluan dan sekedar berbincang. Senyumnya selalu ramah terkembang air mukanya berbinar-binar. Aku sendiri memegang sapu di tangan, karena memang sebagian tugasku adalah membersihkan ruang pertemuan di samping kantor PPSK.

Selembut, sehangat dan seramah itu, bahkan kepada aku yang hanya seorang tukang sapu. Rasanya tidak rela kalau Buya Syafi'ie Ma'arief jadi korban bullying. Semoga Buya selalu sehat dan dalam naungan Allah SWT. Semoga aku juga demikian, sekalipun hati kecilku merasa tidak akan pernah pantas aku bersanding dengan Buya dalam hal apapun.

Semoga kita selalu damai Di Bawah Lindungan Ka'bah.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...