Tuesday, December 13, 2016

Basuki Tjahaya Purnama Get Into Trouble

Sore tadi aku mendatangi sebuah warung kuningan. Warung kuningan adalah warung yang menyediakan makanan dan minuman yang mudah dibuat dan dihidangkan. Biasanya pedagangnya berasal dari Kuningan, sebuah kabupaten di Jwa Barat. Ada memang yang berasal dari tempat yang lain, juga biasanya di Jawa Barat, namun memang kebanyakan berasal dari kabupaten itu. Dahulu mereka hanya menjual burjo atau bubur kacang hijau. Namun, seiring perkembangan waktu mereka menyediakan masakan yang sering kita jumpai di rumah. Burjo tidak lagi dijual disini, mungkin karena bubur bersantan itu mudah menjadi rusak, selain itu pelanggannya juga tidak banyak.

Seperti biasanya terdapat dalam warung-warung seperti itu, di warung yang kusamperin tadi juga terdapat sebuah pesawat televisi. Si pemilik warung memperhatikan siarannya dengan seksama dan penuh perhatian. Beberapa kali kulihat dia bangkit berdiri untuk memperbesar volume pesawatnya. Stasiun televisi itu rupanya sedang menyiarkan sebuah acara langsung dari Jakarta. Tepatnya di Pengadilan Negeri Jakarta. Kasus itu memang menjadi perhatian di seluruh negeri akhir-akhir ini. Kasus penistaan agama yang dipersangkakan terhadap Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Gubernur petahana yang menjabat Gubernur/Kepala Daerah Tingkat Satu DKI Jakarta.

Aku tidak ingin membicarkan itu dari sisi politis. Aku memang sampir sama sekali tidak mengerti politik, karena itu percuma saja aku berkomentar. Aku ingin mengomentari yang ringan-ringan saja. Sesuatu yang mudah dijangkau oleh akalku yang sederhana ini. Aku tidak dapat menyembunyikan keberpihakanku pada Ahok, sekalipun aku sendiri seorang muslim. Aku tidak melihat penistaan seperti yang dituduhkan dilakukan oleh Ahok oleh banyak pihak. Memang sih, ini soal sudut pandang juga.

Aku yakin bahwa apabila Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama ini dinyatakan bersalah telah melakukan penistaan agama oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, maka sesungguhnya muatan politisnya sangatlah kental. Ahok hanya menjadi sasaran bidikan para politisi yang ingin mewujudkan keinginannya berkuasa. Kata temanku yang sekolah di Fisipol, politik itu tentang siapa mendapatkan apa dan dimana. Ujung-ujungnya terkait masalah ekonomi juga, artinya apa yang didapat oleh sang politisi secara materi. Bukan hanya materi sebenarnya, namun mengimplementasikan keinginan berkuasa.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...