Wednesday, February 3, 2016

Hijrah


Seorang teman di Kabupaten Blitar mengeluh kepada saya perihal kehidupannya yang sulit. Dia merasa diganggu oleh orang-orang di sekitarnya. Apapun yang dikerjakannya selalu diganjal dan diganggu oleh orang lain. Bahkan mobilnya konon dirusak ketika dia tidak ada di rumah. Saya berusaha menenangkannya dan memberikan jalan keluar. Jalan keluar itu telah saya buktikan sendiri keampuhannya. Saya mengalami kondisi yang kurang lebih sama dengan teman saya itu kurang lebih dua tahun yang lalu. Ketika itu saya sendiri juga tinggal di Kabupaten Bliar saat itu. Hidup saya mengalami perkembangan setelah hijrah atau berpindah tempat tinggal di Yogyakarta, tempat saya menamatkan pendidikan tinggi di bidang Teknik Mesin.
Waktu itu saya berusaha untuk belajar bertani dan beternak di Desa Kamulan di wilayah Kabupaten Blitar juga. Sebagai debutan yang awam tentang dunia peternakan dan pertanian tentu saya mengalami banyak kendala. Diantaranya adalah mahalnya bibit ternak ayam yang harus saya beli dari pedagang disana dan menghadapi kartel tengkulak yang menyebabkan saya terpaksa menjual hasil ternak saya dengan harga murah. Bukan itu saja, pepohonan sengon yang telah ditanam di kebun dan telah cukup umur untuk dipanen juga dibanting harganya oleh kartel pedagang sengon. Selain itu minimnya pengetahuan saya tentang bertani dan bercocok tanam mendatangkan kendala juga. Saya adalah lulusan pergutruan tinggi. Sejak kecil saya tidak terbiasa mencangkul dan membersihkan lahan. Karena itu ketika saya melakukannya, maka hal itu membuat saya kecapekan karena memang pekerjaan bertani sangat berat apabila dilakukan sendiri.
Saya mengusulkan kepada teman saya itu untuk mencoba pindah ke lain kota. Mudah-mudahan peruntungannya akan berbeda jika dia berusaha di luar kota. Setiap kota mempunyai hoki sendiri. Barangkali dan memang yang kita harapkan begitu, hoki kita akan lebih baik di luar kota. Yang penting tidak berputus harapan dan tetap menjadi seorang yang jujur dan amanah. Jujur dan amanah adalah salah satu kunci kesuksesan kita. Di lain kota kita akan bertemu orang-orang yang baru dan menemukan harapan yang juga baru dengan kemampuan dan bakat yang kita miliki.
Semenjak dua tahun yang lalu ketika saya mulai pindah ke Yogyakarta, maka alhamdulillah saya bisa melakukan sesuatu. Kehidupan tidak menjadi sedemikian sulit seperti sebelumnya ketika saya tinggal di Desa Kamulan. Hadirnya teman-teman sealmamater dalam kehidupan di Yogya membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Di Yogyakarta pula akhirnya saya bisa memperbaiki keterampilan komputer yang saya miliki. Di Yogyakarta pula saya dapat menulis sebuah novel yang saya beri judul BERCANDA DALAM DUKA. Novel itu kemudian saya terbitkan secara self publishing dan saat ini sudah laku seratus sepuluh eksemplar. Jumlah itu tidaklah buruk untuk sebuah penerbitan secara self publishing karena menurut beberapa blog yang saya baca, untuk self publishing semacam itu, maka apabila buku kita laku delapanpuluh lima eksemplar saja sudah termasuk best seller.
Saya mengatakan kepada teman saya itu bahwa hijrah semacam ini tidak perlu harus ke Yogyuakarta. Tentu saja ada banyak piliha untuk hijrah atau berpindah tempat tinggal. Untuk kasus saya, hijrah ke Yogyakarta membawa dan membuka harapan-harapan baru. Harapan adalah sesuatu yang membuat kita tetap bertahan hidup. Oleh karenanya menjadi penting.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...