Saturday, September 6, 2014

Tinggal Dan Menetap Di Yogyakarta

Kemarin malam aku datang ke Yogyakarta via Stasiun Lempuyangan. Kutolak dengan halus semua tawaran Mas Mas yang mengojek karena aku sudah kehabisan bekal. Bekalku sudah kubelikan rokok Surya di Stasiun Madiun sebelumnya. Percuma, karena ketika berada di dalam Kereta Api aku juga tidak diperkenankan merokok.

Sekarang pelayanan di Kereta Api sudah jauh berbeda dibandingkan dulu. Sekarang jauh tertib dan rapi. Aku termasuk yang menikmati perubahan pelayanan itu. Dan aku merasa sangat beruntung. Pedagang asongan tidak lagi tampak menyusuri lorong-lorong Kereta Api. Pun jua tidak ada penumpang yang merokok di dalam kereta. Secara umum perjalananku nyaman dan menyenangkan.

Dahulu suasana di dalam gerbong kereta sangat hiruk pikuk. Apalagi padasaat-saat tertentu seperti menjelang dan setelah lebaran atau liburan natal dan tahun baru. Penumpang banyak yang duduk bahkan tidur di lantai kereta. Pedagang asongan atau orang lewat yang hendak ke toilet tidak segan-segan melangkahi muka mereka. Sungguh pemandangan yang tidak manusiawi sekali. Hal itu terjadi karena over capacity gerbong kereta api.

Tidak tahu mengapa perasaanku ketika turun di Stasiun Lempuyangan terasa begitu nyaman, Aku merasa datat melanjutkan hidupku di Yogyakarta ini. Aku merasakan kegagalan-kegagalanku ketika menetap di kota-kota lain seperti Blita sebelum ini dan Malang sebelumnya lagi tidak akan pernah terulang. Perasaan positif itu mungkin dipicu karena aku dahulu menamatkan kuliah di Yogyakarta sini. Universitas Gadjah Mada.

Aku tinggal sementara ini di rumah pamanku di daerah Sawitsari. Pamanku mengelola beberapa bisnis. Bisnis utamanya adalah peternakan ayam petelur atau leghorn. Selain itu ada pula sanggar senam dan sebuah salon kecantikan yang dikolola oleh istrinya. Ada juga studio musik dan sebuah kafe di belakang dan samping rumah. Aku tidak tahu bisnis apa lagi yang dijalankan oleh Om Farid sehingga beliau juga memiliki sebuah hotspot.

Sejak tadi malam aku telah mencoba hotspot milik Om Farid, lancar dan sinyalnya bagus. Cukup cepat juga. Saya bahagia sekali karena dengan itu aku tidak perlu lagi bingung mengenai koneksi internet untuk menjalankan usahaku sebagai internet marketer melalui program AdSense. Aku tinggal nunut duduk di kafe milik Om Farid dan mulai menulis. Alhamdulillah.

Aku merasa pada akhirnya aku akan sukses dengan usaha bisnis online-ku ini. Peralatan dan perangkat internet sudah tersedia. Tinggal kesungguhan dan keseriusan menggarapnya. Aku juga mulai merasakan keasyikan menulis. Sayan memang aku belum pernah mencoba browsing di internet tentang keyword optimization. Tapi pada akhirnya aku yakin bahwa soal itu akan tergarap juga dalam blog-ku ini. Mohon doanya ya kawan-kawan. Doa yang baik tentunya.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...