Sunday, September 7, 2014

Salahkah Rakyat Memilih Jokowi?

Tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan terbuka. Salahkah rakyat atau kita memilih Jokowi dalam Pemilu Presiden yang lalu? Pertanyaan ini layak mengemuka karena Presiden Jokowi bermaksud menaikkan harga BBM bahkan mengupayakannya sejak sebelum dilantik nanti pada tanggal 20 Oktober 2014.

Penulis sudah pernah menulis masalah ini dalam tulisan sebelumnya dari segi ekonomi makro. Kali ini penulis bermaksud menambahkan analisis dari segi politis masyarakat. Masyarakatlah yang akan terimbas langsung dengan kenaikan harga BBM ini dan pasti akan bereaksi keras. Penulis menahan diri untuk tidak mengkalkulasi kemungkinan pengerucutan isyu ini oleh pihak-pihak tertentu sehingga Jokowi dihentikan pemerintahannya sebelum berakhir masa jabatannya.

Seperti telah kita ketahui bersama, sebagian besar minyak yang kita konsumsi dibeli dalam Dollar Amerika. Apabila BBM dinaikkan maka inflasi akan cenderung menguat sehingga berdampak pada pelemahan nilai Rupiah Indonesia. Di satu sisi harga-harga akan naik untuk konsumsi dalam negeri. Hal itu akan memicu inflasi sehingga kembali Rupiah melemah terhadap Dollar secara signifikan. Dalam periode berikutnya pembelian minyak yang dilakukan pemerintah untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri akan semakin menghabiskan anggaran. Apabila pemerintah kemudian mengambil langkah dengan menaikkan harga BBM maka akan terjadi efek rekursif kenaikan harga-harga komoditi konsumsi dalam negeri. Hal ini tentulah mencekik leher rakyat.

Sebagian besar pemilih Jokowi adalah rakyat yang sangat rentan terhadap kenaikan harga. Apabila timbul kesan bahwa bertambah sulitnya ekonomi mereka diakibatkan oleh kebijakan Jokowi, tentunya itu akan berakibat pada berkurangnya kepercayaan mereka pada Jokowi. Terlalu dini untuk saya katakan bahwa masyarakat nantinya akan mengamuk dan melakukan kerusuhan. Pada dasarnya masyarakat kita adalah masyarakat yang sabar dan menerima apapun keputusan pemerintahnya. Tapi kemungkinan bahwa masyarakat akan menarik dukungannya itu ada.

Di lain sisi, kebiasaan Jokowi untuk membuat masyarakat berpartisipasi dalam pemerintahannya sangat menarik. Contoh yang jelas itu adalah ketika Tim Transisi mencoba menjaring nama-nama usulan masyarakat untuk mengisi posisi di kabinetnya. Demikian pula upaya Jokowi untuk mensosialisasikan rencana menaikkan BBM ini sebelum dilakukan adalah sesuatu hal yang patut diteruskan. Jokowi telah memulai sistim komunikasi politik yang bagus kepada rakyat.

Saya kira rakyat telah memberikan masukan mengenai ekses kenaikan harga BBM ini. Pertimbangan rakyat menolak kenaika BBM cukup masuk akal. Semoga kenaikan harga BBM tidak terjadi. Karena apabila hal itu terjadi maka yang paling susah adalah rakyat kecil yang notabene adalah pemilih Jokowi. Kita tidak pernah salah memilih Jokowi karena Jokowi telah memulai sistim komunikasi politik kebijakan yang terbuka. Kita bersama-sama dapat keberatan dan menganjukan alternatif pengganti sebagai masyarakat.

Semoga Jokowi tidak melakukan blunder dengan nekad melaksanakan kenaikan BBM. Masalah ini krusial bagi rakyat.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...