Sunday, September 7, 2014

Pengalamanku Dan Adik-Adikku Dikhitan


Khitan atau sunat dalam bahasa jawa adalah memotong secara melingkar atau sirkumsisi kulit di ujung penis yang dinamakan dengan preputium. Saat ini sirkumsisi bukanlah hal yang menyakitkan. Entah kalau jamannya bapak-bapak kita atau embah-embah kita dulu. Kabarnya dulu sunat atau sirkumsisi ini tidak menggunakan pemati rasa setempat. Bisa dibayangkan betapa sakitnya waktu itu. Karena itu tepatlah kalau dahulu anak yang sudah disunat mendapat predikat "berani".

Adikku yang terkecil dikhitan ketika ibuku sedang ada di Yogya untuk menemaniku. Saat itu kuliahku sedang bermasalah sehingga perlu ditemani oleh ibu. Ketika kami pulang ke Malang betapa terkejutnya kami karena adikku yang bungsu ternyata sudah dikhitan. Dan itu semua tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan ibuku. Ayahku mendaftarkan adikku pada program khitanan massal yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya.

Kami datang ke Malang ketika malam telah menjelang, dan adikku yang bungsu itu sedang tidur. Ibu menyingkap kain sarung yang dipakai adikku dan tampaklah burungnya yang sedang diperban putih. Ibuku menangis terisak perlahan. Entah berapa lama ibuku menangisi burung adikku itu.

Adikku laki-laki yang kedua juga mengikuti program khitanan massal yang dilakukan di Universitas Negeri Malang. Pulang dari tempat khitan bersamja-sama itu dia berlari ke rumah dan meloncati pagar. Kontan sorenya si adek burung bengkak besar sekali. Kayaknya sakit juga tuh,..soalnya sesorean itu adikku menangis terus menangisi burungnya yang bengkak.

Demikian pula denganku. Aku dikhitan pada usia duabelas tahun ketika kelas satu SMP. Aku juga dikhitankan oleh ayahku melalui program khitanan massal di Universitas negeri Malang. Memang enggak sakit kok. Namun ketika ditengok oleh Pak Mantri yang menyunat ternyata aku mengalami infeksi sehingga bengkak. Rasanya panas. Oleh Pak Mantri kemudian aku dibekali dengan antibiotik. Antibiotik itu harus diminum tiga kali sehari. Akhirnya burungku sembuh setelah empat hari minum antibiotik dari Pak Mantri.

Ketika sedang sarungan itu aku sempat berkata pada ibuku,"Buk,..nanti sama istriku aku mau bilang,..Dek,..aku dulu sunat lewat khitanan massal". Ibuku prihatin dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi menurut pengakuannya beliau trenyuh dan menahan tawa.

1 comment:

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...