Friday, September 5, 2014

Mengapa Menolak Kenaikan Harga BBM.....?

Pada awalnya saya sangat menyetujui rencana kenaikan harga BBM oleh Presiden terpilih versi KPU dan Mahkamah Konstitusi yakni Jokowi. Apa pasal,..? Saya berfikir bahwa beban anggaran kita cukup berat untuk menanggung program-program pemerintah baru berupa pembangunan infrastruktur transportasi utamanya ide tentang tol laut dan program pendidikan serta kesehatannya.

Saya awalnya juga dapat menerima alasan Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla bahwa subsidi untuk masyarakat sebenarnya tidak dihapuskan tapi sebenarnya cuma dialihkan saja bentuknya. Subsidi itu dialihkan menjadi jalan yang lebih baik dan rumah sakit yang lebih layak serta pelayanan publik yang lebih memadai.

Saya sendiri juga mempunyai jalan fikiran sendiri. Bagi saya waktu itu sangatlah tidak adil jika hutang negara yang dilakukan semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga tetap ditanggung oleh pemerintahan baru (mestinya memang begitu...hehehehe) tanpa pemerintah yang baru mendapatkan ruang fiskal yang cukup untuk melaksanakan program-programnya.

Akan tetapi pandangan saya berubah setelah mencermati analisa seorang kawan di fesbuknya. Bagi dia, kenaikan harga BBM akan mengakibatkan inflasi meningkat dan melemahnya nilai rupiah terhadap dollar amerika. Ini tentu saja berakibat kontraproduktif karena BBM kita dibeli dengan Dollar Amerika. Artinya pemerintah akan menanggung biaya tambahan akibat melemahnya nilai Rupiah itu terhadap Dollar Amerika.

Lebih lanjut, ketidakstabilan ekonomi di dalam negeri ini berakibat kembali melemahnya Rupiah Indonesia sehingga lagi-lagi beban pemerintah untuk mencukupi pasokan BBM akan meningkat. Efeknya betul-betul terasa berat bagi masyarakat akibat efek domino tersebut. Sebagai tambahan informasi pula, kekurangan pasokan BBM kita yang harus dibeli dari pasar minyak internasional adalah sekitar enamratus ribu barrel minyak. Jumlah itu cukup besar.

Apabila kita amati lebih jauh, sebenarnya salah satu tolok ukur pedagang dalam menentukan harga adalah harga minyak yang berlaku saat itu. Misalnya beras,..apabila harga minyak utamanya solar dan premium berada pada kisaran sebelasribu limaratus rupiah misalnya,...berapa harga beras yang pantas untuk itu? Pedagang rupanya selalu berfikir begitu. Mereka tidak hanya memikirkan nilai beras an sich dalam rupiah. Tapi harga beras juga mereka pertimbangkan dengan "rasa" kepantasan terhadap harga minyak. Itu hanya sekedar sebuah contoh, tentunya harga selain beras juga ikut "menyesuaikan" nantinya.

Efek yang ditimbulkan terhadap rakyat sangatlah besar apabila ini terjadi, jadi sebaiknya pemerintah memang tidak menaikkan harga minyak terlebih dahulu. Apapun istilahnya. Istilah itu bisa berupa apapun,..misalnya pencabutan subsidi atau apalah,...jangan dulu deh,....

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...