Sunday, August 3, 2014

Selamat Tinggal Gandring,..Selamat Jalan,..Terimakasih Telah Menemaniku Selama Ini

Kawan, pernahkah saudara merasa kehilangan? Bagaimana rasanya? Sedih bukan? Bagaimana bila yang hilang itu adalah sesuatu yang sangat kita cintai? Kesayangan kita? Tentu lebih sedih lagi bukan?

Demikianlah, baru-baru ini aku kehilangan ayam jago kesayanganku. Sebenarnya aku bukanlah tukang adu jago. Aku pada dasarnya memang pecinta satwa. Termasuk Keluarga Gallus ini. Ayam jago itu sedianya kujadikan pejantan atau pemacek untuk ayam-ayam babonku. Sekarang jago kesayanganku itu sudah tiada. Dan aku tidak tahu nasibnya. Apakah dia sudah menjadi ayam goreng yang terhidang di meja, atau menjadi opor ayam di hari nan fitri ini.

Beberapa tetangga, bahkan sepupu-sepupuku di Blitar ini memang usil. Makanya aku tidak terlalu terkejut jika ayam jagoku hilang. Sekarang para betina yang berkeliaran di kebonan tidak punya jago lagi. Seperti juga aku. Tidak lagi punya ayam jago.

Aku memang pecinta ayam sejak kecil. Barangkali kecintaanku pada unggas ini terbina sejak aku kecil. Di masa kanak-kanakku aku suka berlibur di Desa Kamulan ini. Waktu itu Embah Putri masih sugeng. Embah Putri memelihara banyak ayam kampung. Aku seringkali melihat dan menemani mBah Putri Amanah, Ibu ayahku, mengobati ayamnya yang sakit dengan kunyit yang telah dihancurkan dengan batu diantara rerimbunan daun kopi di pinggir kebonan. Dekat rumah.

Kini rumah besar dan tua itu dihuni oleh sepupuku perempuan. Dia usil. Suka ambilin telur2 ayamku untuk sarapan anaknya sebelum berangkat sekolah. Barangkali semboyan hidupnya adalah milikmu adalah milikku, sedangkan milikku adalah milikku sendiri. Dasar.

Ayam jago itu kubeli tepat setahun yang lalu dari mBah Prapto Jogoboyo. Ketika itu usianya baru delapan bulan. Masih linciran. Ada juga yang mengistilahkan dengan lancuran. Ayam yang manis itu diberi nama Gandring oleh mBah Mirin. Mbah Mirin adalah kolega di desa yang mengajariku memelihara ayam. Dia adalah breeder ayam bangkok paling top di desa Kamulan Kecamatan Talun.

Dulu pernah si Gandring dicuri oleh Suprit, seorang sepupu juga, untuk diadu. Kepalanya sampai bengkak dan matanya jadi hilang sebelah. Ketika itu si Gandring kemudian dilemparkan kembali ke kebonanku oleh Suprit dalam keadaan terluka.

Sekarang Gandring benar-benar hilang. Ayam babonku belum mungkin bertelur lagi sebelum Gandring ada gantinya. Selamat jalan Gandring,...selamat tinggal sayang..... Terimakasih telah menemaniku dan menghiburku dengan kokokmu yang merdu. Dihari-hari yang kelu dan sungguh memedihkan hati. Di Blitar ini.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...