Thursday, August 28, 2014

HIKAYAT "ROTI GORENG UGM"



Seringkali saya tercenung dan bercerita pada Ibu saya tentang "pencurian nilai" yang saya alami ketika menjadi mahasiswa Teknik Mesin. Ibu saya selalu menyatakan bahwa itu adalah barang busuk yang tidak perlu diingat-ingat lagi. Dalam satu hal, Ibu saya betul,..masalah itu sudah lama dan tidak ada gunanya diingat-ingat kembali. Tetapi rasa dendam dan dicurangi itulah yang membuat saya sakit sampai sekarang. Dan belum ketemu obatnya. Karena itu saya ingin share disini, barangkali membuat beban saya terasa lebih ringan. 

 Saya mengikuti kuliah umumnya dengan sangat serius dan belajar mati-matian. Demikian pula ketika saya mengambil Mata Kuliah Mesin Konversi Energi. Kebetulan saya memang berminat di bidang ini. Tibalah waktu ujian. Soalnya sederhana saja,kami cuma diminta menghitung Koefisien Prestasi dan Energi yang dihasilkan oleh sebuah Power Plant tenaga uap, atau vapour, menggunakan Siklus Rankine. Tentunya bukan soal yang sulit bagi saya karena saya sudah terbiasa menghitung menggunakan Siklus Rankine, bahkan Siklus Rankine yang sudah dimodifikasi karena menggunakan beberapa Turbin alih2 hanya sebuah Turbin. 

Soal Pak Sugiarto Ps itu hanya memerlukan pengertian tentang Siklus Rankine Sederhana. Jadi seharusnya memang mudah. Untuk menghitung Entalpi pada setiap tingkat keadaan kami diberikan Diagram Mollier. Prakteknya jadi tidak sesederhana itu karena Diagram Mollier yang diberikan pada kami belum mencantumkan Entalpi dan Entropi pada tingkat keadaan saturated water dan saturated vapor pada soal yang diberikan. Jelaslah hal itu terjadi karena Diagram Molliernya cuma diambil dari buku yang barangkali sudah out of date. Kalau Diagram Mollier-nya lebih sempurna seperti yang saya lihat ketika googling barusan (tidak bisa ditampilkan, ada copyrightnya) tentu saya dapat mengerjakan soal itu dengan mudah

Entahlah apa yang akhirnya saya tulis pada kertas jawaban saya karena properties pada dua tingkat keadaan tadi tidak dapat dilihat pada Diagram Mollier yang diberikan Pak Sugiarto Ps. Ketika nilai ujian diumumkan saya mendapatkan nilai C,..saya merasa tidak puas dan bermaksud protes pada Pak Sugiarto Ps. Teman2 yang saya ajak berdiskusi rupanya tidak mengerti persoalannya secara konseptual. Makanya saya juga bingung mereka itu mengerjakan apa ketika ujian kemarin itu,..? 

Singkat kata saya menemui Pak Sugiarto Ps di ruang dosen dan kami berdebat dengan keras. Argumen saya jelas,..soal itu tidak bisa dikerjakan dengan Diagram Mollier yang diberikan Pak Sugiarto Ps. Akhirnya Pak Giek bisa menerima argumen saya sekalipun gayanya tidak enak dan berjanji akan melihat kembali nilai ujian saya. 

Sengaja saya biarkan Pak Sugiarto dan tidak menagih janji beliau untuk memeriksa kembali kertas ujian saya. Yang ternyata tetap dibiarkan C tanpa perubahan. Jelas beliau sudah misconcept dan mahasiswa sekelas tidak menyadarinya. 

Peristiwa geger di ruang dosen ini tentu didengar oleh dosen2 yang lain dan saya mendapat tudingan yang tidak enak sebagai "terlalu teoritis" dan "textbook thinkin". Saking ampetnya saya jawab bapak dosen yang mengatakan itu,"Ya wajar dong Pak,..saya ini mahasiswa,..belum tahu masalah praktis di lapangan,..ilmu saya dapatkan dari textbook,..saya kira wajar kalau mahasiswa itu textbook thinking karena belajarnya memang dari textbook,..lha kalau saya keluyuran ke sarkem ndak belajar dari textbook ilmu saya ilmu apa coba,...? 
 Lebih jauh saya jadi merasa bahwa saya telah belajar dengan sia-sia. Saya memang merasa ada banyak mata kuliah yang seharusnya bisa mendapatkan nilai baik tapi selalu diberi nilai jelek. Indikasinya ada,...dan yang jelas itu ketika kasus Mata Kuliah Mesin Konversi Energi ini,...Ini jelas nilai saya dirampok. 

Makanya saya sampai kuliah lama dan dengan indeks prestasi formal yang jelek. Akibatnya jelas,....perusahaan masih melihat IPK formal tinggi,...dan saya kalah bersaing dengan kandidat lain yang IPK formalnya tinggi. Keciaaaaaan deh aku.  

Karena kesulitan mencari pekerjaan akibat IPK yang rendah tersebut akhirnya saya mencoba berwirausaha di rumah. Saya pernah pada suaktu ketika berjualan roti goreng di emperan rumah. Ketika pagi menjelang saya belanja bahan-bahan untuk membuat roti goreng. Kemudian mengadon ulenan roti serta menggorengnya. Biasanya menjelang siang kegiatan itu telah rampung.

Dagangan itu seperti yang telah saya katakan kemudian saya gelar di teras rumah. Saking jengkelnya karena menjadi alumni universitas terbaik dan terbesar di Indonesia, Teknik Mesin lagi, tapi masih saja kesulitan mendapatkan pekerjaan, saya memasang karton yang telah saya tulisi "Roti Goreng UGM".

Tetangga-tetangga yang pada lewat di depan rumah biasanya mesam-mesem saja. Tetapi mereka tidak beli. Padahal menurut Ibu roti saya ulenannya pas dan rasanya enak. Harganya cukup murah juga lho. Limaratus rupiah per potongnya. Akhirnya usaha saya bangkrut dua bulan kemudian.

Apabila sore telah datang dan "Roti Goreng UGM" saya tidak habis, Ibu selalu memborong "Roti Goreng UGM" sampai tak bersisa dan menyuruh saya segera mandi. Lha kasihan Ibu saya kalau begitu terus-menerus. Akhirnya saya menghentikan memproduksi dan menjual "Roti Goreng UGM" itu. Wassalam deh,.........


No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...