Sunday, August 3, 2014

Asal Muasal Kecintaanku Pada Harimau Jawa

Asal muasal ketertarikanku pada harimau jawa adalah karena menyukai pelajaran IPA di Sekolah Dasar. Sekolah Dasar-ku saat itu mungkin termasuk sudah mendahului jamannya, karena menginjak kelas empat sudah dipisahkan antara Pelajaran Biologi dan Fisika. Hanya saja Pelajaran Kimia diselipkan diantara kedua Mata Pelajaran itu.

Aku memang jago membaca di Perpustakaan Sekolah. Barangkali semua buku yang ada di Perpustakaan Sekolahku sudah selesai kubaca. Tandas. Termasuk Buku Paket Biologi SMP terbitan Depdikbud yang sebetulnya belum perlu kubaca karena aku baru kelas lima. Ya, ketika kelas lima Sekolah Dasar itulah aku mendapatkan Pokok Bahasan Taksonomi Biologi pada Mata Pelajaran Biologi. Ibu guru yang mengajar Biologi namanya Bu Wien, sayangnya aku lupa nama lengkapnya,... Maaf ya Bu......

Entah kenapa aku suka sekali menghafal nama-nama latin hewan dan tumbuhan ketika itu. Misalnya aku masih ingat bahwa nama latin untuk pohon jati adalah Tectona grandis, nama latin untuk pandan adalah Pandanus Tectonus. Nama latin untuk banteng jawa adalah Bos sondaicus, ayam kampung adalah Gallus domesticus. Ayam hutan yang ada di Indonesia ada dua macam, yakni ayam hutan merah dan ayam hutan hijau. Nama latin ayam hutan adalah Gallus gallus varius atau Gallus gallus bankiva.

Felis tigris sondaica adalah nama latin untuk harimau jawa. Sepupunya yang berasal dari tanah seberang Sumatera bernama latin Felis tigris sumatrae. Sepupunya yang lain lagi bernama Felis tigris balica. Macan kumbang yang berwarna hitam atau macan totol yang bulunya bertotol-totol warnanya bernama latin Felis pardus melas. Macan totol dan macan kumbang kebanyakan hidup diatas dahan. Ukuran tubuhnyapun relatif lebih kecil dibandingkan dengan macan loreng.

Harimau jawa atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan Javan Tiger secara internasional telah dinyatakan punah. Ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, aku kebetulan tahu bahwa ada seminar di Gedung Perpustakaan UPT II yang membahas keberadaan harimau jawa ini. Sepertinya banyak penggiat lingkungan yang menyatakan bahwa harimau jawa masih ada. Hal itu bisa dilihat dari bukti-bukti sekundernya seperti kotoran, bulu maupun jejak kaki. Tetapi pernyataan aktifis lingkungan hidup dari Indonesia itu masih dibantah orang. Termasuk seorang pembicara dari luar negeri yang ahli macan.

Ketika itu rupanya para harimau tidak lagi dmasukkan dalam genus Felis. Entah dengan alasan apa para ahli zoologi mengelompokkannya dalam genus Panthera. Sehingga nama latin harimau jawa menjadi Panthera tigris sondaica atau Panthera tigris javanica. Aku kurang mengikuti perkembangan ilmu taksonomi hewan dan tumbuhan sehingga kurang mengetahui alasannya.

Selama ini dikenal ada delapan sub-species harimau atau macan loreng. Tiga sub-species telah dinyatakan punah yakni harimau kaspia, harimau bali dan yang terakhir adalah harimau jawa. Ekses atau akibat dari pernyataan punah oleh dunia internasional itu sangat luas, diantaranya makin leluasanya pemburu harimau untuk memburu harimau jawa karena tidak termasuk satwa yang dilindungi undang-undang untuk dilarang diburu. Hal lainnya adalah sulitnya meminjam peralatan untuk survey tentang harimau jawa karena orang sudah skeptis duluan.

Saya beruntung dapat berkenalan dengan aktifis pemerhati serius tentang keberadaan harimau jawa. Mas Didik Raharyono yang berdomisili di Cirebon, Jawa Barat, dan rekannya di Jawa Timur, tepatnya Jember, Mas Wahyu Giri. Mas Didik oleh teman-temannya di UGM seringkali dipanggil dengan mBah Ghoib. Aku berasal dari generasi yang lebih muda, karena itu aku tidak mengetahui mengapa Mas Didik dijuluki sebagai mBah Ghoib.

Mas Didik Raharyono bercerita padaku bahwa riset tentang harimau jawa sebaiknya dan selama ini dibiayai secara mandiri. Tidak perlu menggantungkan diri dari bantuan dana dari luar negeri. Hal itu dikarenakan harimau jawa adalah satwa endemik dan milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah apabila kita membiayai sendiri riset dan pelestarian harimau jawa.
Aku ingat dalam salah satu tulisannya Mas Didik mengutip seorang pemburu bahwa orang yang mengatakan bahwa harimau jawa di hutan-hutan jawa sudah punah berarti tidak pernah masuk hutan.

Mudah-mudahan benar harapan dan dugaan saya bahwa selama ini harimau jawa telah mengembangkan sistim adaptasi terhadap lingkungan yang sangat unik untuk melindungi keberadaanya yang memang tinggal sangat sedikit. Adaptasi itu ialah mereka mampu menghindari jebakan-jebakan yang dipasang oleh para pemburunya. Termasuk jebakan kamera yang dipasang oleh para pecintanya.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...