Friday, July 11, 2014

Kenang-kenangan Dari Guru Mengajiku

Selama karirku mengaji pada seorang Kyai,hanya sekali aku merasa diluluskan oleh Kyaiku..itupun tanpa ijazah.

Dalam terma pesantren tradisional apabila si santri mendapat ijazah dari Kyainya maka ia berhak mengajarkan ilmu yang didapat dari Kyainya kepada orang lain. Berarti aku tidak berhak mengajarkan bacaan Al Fatihah dari Kyaiku tadi.

Demikianlah,aku memang pernah merasakan lulus mengaji dalam satu bidang yang sederhana itu.
Entah bagaimana ceritanya aku tertarik mengaji pada beliau. Kebetulan beliau menempati sebuah rumah baru di lingkungan kampungku di Malang. Bukan cuma rumah baru karena istrinya juga "baru" karena yang lama ketinggalan jauh di Sampang sana.
Dari percakapan dengan istri Pak Kyai akhirnya aku juga tahu bahwa beliau dikenal sebagai seorang Habib di Sampang.

Berat juga kurasakan mengaji pada beliau,diperbaikinya mulai makhraj sin pada basmalah sampai makhraj dhat pada akhir surat. Yang teringat padaku agak lama beliau perbaiki adalah makhraj ha' dan yg paling sulit bagiku adalah melatih makhraj ghain atau Pak Kyai itu menyebutnya ghin.
Dari pembicaraan bersama Bu Nyai aku sedikit tahu bahwa Habib suaminya itu adalah pelarian bentrok Sunni-Syii di Sampang. Pesantrennya,entah pesantren apa dihancurkan massa. Ia sendiri dalam keadaan bertelanjang dan berdarah2 akhirnya terdampar di Malang. Sempat disangka orang gila juga kata beliau.

Sesampai di Malang beliau ditolong oleh kerabat2nya sesama warga 'Alawiyyah dan dipinjami rumah di lingkunganku itu. Terakhir mengaji pada beliau,sempat beliau memujiku termasuk berbakat dan cepat belajar. Tentu aku heran,..tiga bulan kok bisa cepat,..? Ya,soalnya ada yang sampai tahunan mengaji pada beliau dan Al Fatihahnya nggak beres2 juga,begitu menurutnya.
Di Blitar ini aku tinggal di Masjid tapi aku tidak pernah tertarik menjadi imam shalat. Aku hanya tertarik meng-imami istriku sendiri shalat. Akan kubuat dia terkagum2 dengan bacaan Al Fatihahku..kalau sekedar pengin dikagumi istri saja menurutku gak termasuk riya' koq..lain halnya bila aku mengimami orang2 di Mesjid misalnya,godaan untuk riya' tentunya jauh lebih besar,dan aku ingin yang aman2 sajalah...

Selesai mengaji itu aku sangat terkejut ketika menemukan sebilah clurit di teras rumah. Seperti biasanya aku memang menyapu teras rumah setiap hari pada hari itu. Ingatanku langsung melayang pada Habib dari Sampang. Aku menuju rumahnya yang ternyata sudah kosong.
Menurut tetangganya beliau sudah kembali ke Sampang karena keadaan sudah aman disana. Deg,..dadaku bergejolak..aku bahkan belum tahu namanya. Kubersihkan clurit yg diletakkan di teras rumahku itu. Darah yg mengering pada wilahan logamnya bandel juga dibersihkan. Akhirnya dapat juga kubersihkan dengan brus atau tatal pengerjaan mesin bubut logam.

Terbayang dimataku bahwa itu adalah darah kaum Sunni di Sampang..aku sendiri juga seorang Sunni dan Habib itu mengerti. Tidak pernah kami membicarakan khilafiyah diantara kami. Clurit itu sekarang menemaniku di Blitar ini dan kufungsikan sebagai arit biasa. Sangat berguna untuk membersihkan gulma di kebonan. Sudah kagak ada serem2nya sama sekali boook.....

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...