Saturday, July 19, 2014

Kemarahanku Pada Sepupuku

Adalah karena jengkel, orang bisa menjadi sakit. Bukan sakit secara mental, tapi benar-benar sakit secara fisik. Demikian kesimpulan yang dapat kupetik ketika aktif menonton salah satu tayangan TPI almarhum. Stasiun televisi itu bukannya benar-benar almarhum, akan tetapi cuma berubah namanya saja menjadi MNCtv. Sekarang aku tidak lagi aktif menonton tayangan televisi, sehingga kurang tahu bagaimana kelanjutan acara tersebut.

Tayangan yang kumaksud diatas adalah acara yang diasuh oleh Ustadz Danu. Berbagai penyakit aneh-aneh bisa disembuhkan dengan didoakan agar mendapat kesembuhan oleh sang Ustadz. Dari tayangan tersebut aku sampai pada kesimpulan bahwa akar dari segala macam penyakit adalah rasa jengkel. Entah jengkel pada orang tua, anak, saudara atau bahkan jengkel pada pasangan hidup.

Dalam tulisan ini, aku tidak dalam posisi menghakimi acara diatas, dan kebenaran prejudice dari penyebab sakitnya orang-orang yang berhasil disembuhkan dengan cara Ustadz Danu tadi. Mungkin memang betul bahwa rasa jengkel menyebabkan disekresikannya hormon-hormon tertentu dalam tubuh. Yang jelas aku tahu adalah disekresikannya hormon kortisol pada otak kita. Sekresi hormon kortisol pada susunan syaraf pusat atau otak ini mungkin menyebabkan organ-organ tertentu merespons dengan cara patologis sehingga terjadilah sakit.

Tidak kurang dari Aristoteles seorang filosof dari era keemasan Yunani sendiri yang menulis tentang tentang hal ini. Lebih tepatnya sebenarnya Aristoteles menulis tentang marah. Beliau berpendapat bahwa marah itu mudah, siapa saja bisa marah, akan tetapi marah karena alasan yang benar, dengan kadar yang sesuai dan pada orang yang tepat bukanlah perkara yang mudah. Demikianlah yang beliau tulis dalam Nichomachean Ethics.

Aku sendiri pernah mendapat nasehat dari seseorang bahwa apabila aku marah, maka tuliskanlah kemarahan tersebut. Media menuliskan kemarahan ini tentu lebih baik daripada mengumbar kemarahan atau kejengkelan pada orang yang tidak tepat. Sedangkan apabila kita menyatakannya pada orang yang bersangkutan mungkin malah kontra produktif bagi kita. Mungkin karena saking bodohnya orang yang bakalan kita marahi sehingga memarahinya adalah perbuatan yang tidak berguna. Banyak lho orang bodoh dan sempit wawasan di dunia ini......

Sayangnya aku sudah lupa siapa yang menasehatkan hal itu padaku. Jelas cara ini lebih bermanfaat sebagai media katarsis. Daripada membuka kamus, saya jelaskan disini padanan dari kata katarsis adalah pelampiasan.

Dari ungkapan Aristoteles diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa marah atau jengkel pun bisa bermanfaat apabila kita dapat mengelolanya. Kemarahan dan kejengkelan pada sistim kapitalis menyebabkan munculnya keprihatinan akan masalah ini. Kemudian muncullah ideologi tandingan seperti ideologi sosialisme dan segala macam variannya. Selain itu muncul pula otokritik dalam tubuh kapitalisme sendiri sehingga menjadikan kapitalisme lebih berwajah masnusiawi seperti dilakukan oleh Danah Zohar. Danah Zohar adalah seorang profesor pada Oxford University di Britania raya sono. Beliau adalah seorang filosof dan fisikawan yang undergraduate programnya adalah Fisika Teoritis di Massachussets Institute of Technology, atau MIT, di Amerika Serikat sana.

Mari kita mulai.

Aku marah pada sepupuku karena seneng banget nyolong telur-telur ayamku. Di Blitar ini aku berusaha menyambung hidup dengan beternak ayam kampung. Sepertinya dia tidak rela aku mencari hidup di tanah kelahiranku ini. Lha aku beternak di tanah-tanahku sendiri kok....tanah dia kan sudah dijual sebagian besar sama sepupu yang lain. Aku beternak ayam kampung dan itik manila di tanah milikku sendiri. Apa dong alasan dia mencuri telur-telur ayamku. Dasar maling.

Aku marah pada sepupuku karena suka mencuri hasil kebonanku seperti pisang misalnya. Lha tanah milikku kok dia yang makan hasil kebonanku. Benarnya ketemu berapa perkara memangnya...? Lha terus aku makan dan mencari nafkah, sementara nafkah untuk diriku sendiri, dari mana dong? Dasar maling.

Dari sertifikat tanah sudah jelas bahwa tanah itu atas nama bapakku. Kok berani-beraninya dia bikin bangunan disitu. Kok ya dia masih merasa masih punya hak dengan mengatakan bahwa aku dan dia sama-sama cucunya mBah Putri. Kan tanah sudah dibagi-bagi. Salah sendiri ngapain tanah dia dijual ke sepupu yang lain sehingga bagiannya jadi sempit. Lha ngapain dia mengklaim tanah milikku yang bersertifikat atas nama ayahku sebagai miliknya. Dasar maling.

Maksudnya apa coba? Apakah aku tidak boleh melanjutkan hidup dengan milik-milikku sendiri....?

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...