Saturday, July 19, 2014

Gebyar Gempita Pencapresan Pada Pemilu Tahun 2014 Ini




Gegap gempita Pemilu Presiden di Indonesia kali ini sungguh luar biasa. Kita, bangsa Indonesia memang baru kali ketiga ini merasakan Pemilu Presiden yang langsung dipilih oleh rakyat. Dua pemilu presiden sebelumnya dimenangkan oleh Presiden yang masih menjabat sekarang, Jend. (Purn) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, yang berlatar belakang militer. Pemilu kali ini pun salah satu kontestannya adalah Letjen. (Purn) Prabowo Subianto yang juga berlatar belakang militer. Bedanya adalah Jenderal Prabowo berasal dari kesatuan Kopassus, atau baret merah, sedangkan Jenderal Yudhoyono meniti karier di kesatuan Kostrad yang mengenakan baret hijau.

Lawan Jenderal Prabowo sebagai kandidat presiden untuk periode 2014-2019 ini adalah Ir. H. Joko Widodo, mantan Walikota Solo. Saat ini beliau masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebagai persyaratan mengikuti pencapresan, beliau telah mengajukan cuti kepada presiden definitif.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan berpretensi tidak berpihak kepada salah satu kandidat presiden. Tulisan ini memang berpihak. Saya berharap bahwa saya dapat menjelaskan keberpihakan ini kepada sidang pembaca yang budiman. Tentunya saya sangat bisa menerima seandainya banyak diantara pembaca yang tidak sependapat dengan saya. Tentunya hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, saya pernah membaca di majalah mingguan Tempo bahwa Jenderal Prabowo Subianto, selain Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, adalah salah satu perwira di TNI Angkatan Darat yang paling bersinar. Dalam artian melejit kariernya. Kemudian nama beliau pernah disangkutkan dengan tindakan Tim Mawar. Tim Mawar adalah sebuah tim di jajaran Kopassus yang disangkutkan dengan penculikan lebih dari tigabelas aktifis pro demokrasi sekitar tahun 1998. Kasus ini berakhir dengan diberhentikannya Jenderal Prabowo dari masa dinas aktif militernya atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira TNI-AD.

Setelah itu lamat-lamat teringat oleh saya bahwa beliau pergi ke Yordania untuk urusan bisnis. Adik beliau Hashim Djoyohadikusumo memang dikenal sebagai salah satu pengusaha besar di Indonesia hingga saat ini. Kabarnya beliau memiliki beberapa kilang minyak di Timur Tengah. Setelah itu teringat pula oleh saya bahwa beliau mangkir dari pemanggilan sebagai saksi atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh Komnas HAM di Indonesia.

Setelah itu saya tidak pernah lagi mendengar kabar tentang beliau. Hanya memang beberapa tahun belakangan ini seringkali di televisi beliau muncul membawakan iklan layanan masyarakat sebagai ketua HKTI atau Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. Eh....ya, beliau muncul juga dalam pemberitaan di media massa sebagai salah satu sponsor pencalonan Jokowi, atau Ir. H Joko Widodo, sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta melawan gubernur incumbent Fauzi Bowo. Pak Bowo yang ini dikenal dengan nama panggilan Foke.

Saya mengamati bahwa Jokowi meniti karier politiknya dari bawah. Bermula dari keresahan beliau ketika menjadi pengusaha mebel di Solo dan juga keprihatinannya karena Surakarta, kota kelahirannya, medapat beberapa predikat buruk, maka beliau mencalonkan diri sebagai Walikota Solo. Solo adalah nama lain dari Surakarta. Salah satu predikat buruk kota Surakarta adalah kota yang paling tidak layak huni. Melas banget.

Dengan perolehan suara sekitar tigapuluhan persen lebih sedikit pada pilwali itu beliau akhirnya menjadi Walikota Surakarta. Ir. H. Joko Widodo melakukan pembenahan di kota Solo, cara kepemimpinannya, yang kemudian dikenal dengan blusukan sangat melekat di hati rakyat Surakarta. Dan menurut catatan warga Solo, beliau telah berhasil melakukan beberapa pembenahan di kota Solo.

Pada pilwali yang kedua di Surakarta, Jokowi sebagai walikota incumbent mendapat mandat kembali dengan dukungan rakyat sebesar sembilanpuluhsatu persen. Jumlah yang cukup fantastis.

Nama beliau mulai terangkat secara nasional ketika mensupport pembuatan mobil nasional Esemka. Sebuah mobil rakitan anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan di Klaten, Surakarta. Sebelumnya Klaten memang sudah terkenal dengan industri besi cor-nya. Nama beliau semakin berkibar ketika berani menentang keputusan Gubernur Jawa Tengah untuk membangun mall di tanah milik propinsi di wilayah Kotamadya Solo. Kembali beliau mendapatkan dukungan masyarakat.

Saya tidak tahu bagaimana ceritanya sampai beliau dicalonkan dan bersedia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta melawan gubernur incumbent Fauzi Bowo. Jakarta adalah propinsi yang jauh dari Surakarta dengan tingkat heterogenitas yang jauh lebih kompleks. Nyatanya beliau terpilih.

Salah satu penyokong beliau untuk menduduki jabatan Gubernur DKI Jakarta, selain partai pengusung beliau sendiri, PDIP, adalah Hasyim Djoyohadikusumo beserta Jenderal Purnawirawan Prabowo, rival beliau pada Pilpres kali ini.

Awalnya saya memang acuh tak acuh dengan pilpres tahun ini. Bayangan saya, pasti hasilnya tidak akan membawa perubahan yang cukup berarti bagi kemajuan Indonesia. Baik dalam demokrasi ataupun dalam hal kemakmuran ekonomi serta yang lainnya. Saya aktif sebagai demonstran ketika geger reformasi tahun 1998. Dan hati saya menciut melihat hasil reformasi yang kami, para mahasiswa saat itu, perjuangkan ketika itu. Waktu itu kami memperjuangkan dihentikannya KKN di Indonesia. KKN adalah singkatan dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Hasilnya sampai saat ini jauh panggang daripada api. Korupsi yang dilakukan secara diam-diam dan tertutup di jaman Presiden Suharto, di jaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dilakukan dengan sangat terbuka dan terang-terangan. Itukah yang kami perjuangkan ketika itu...? Tentu saja tidak.

Perubahan sikap saya dari acuh tak acuh menjadi lebih peduli terjadi dalam suatu periode chatt bersama teman dari Kagama Virtual. Saat itu beliau bertanya bagaimana suasana desaku menjelang pilpres ini.? Tentu saja kujawab apa adanya, bahwa aku tidak berminat mengikuti pilpres karena pengalaman yang dulu-dulu. Aku terlanjur apatis. Beberapa hari kemudian dia gantian mengajakku chatt. Memintaku untuk ikut menyokongnya mendukung pencalonan Jokowi sebagai kandidat presiden. Saat itu memang dukungan kepada Jokowi masih berupa dukungan beberapa orang alumni UGM dan ITB. Dan dapat diduga karena memang Jokowi sangat populer dan media darling, maka bola salju pencalonan itu menggelembung membesar.

Waktu itu saya berfikir, kenapa teman yang satu ini meminta saya untuk menyokongnya mendukung Jokowi? Dia sama sekali tidak nampak sebagai seorang oportunis. Posisinya sebagai aktifis HAM dengan background pendidikan pasca sarjana di bidang Human Rights membuat saya yakin bahwa dia tahu apa yang dia inginkan dan perjuangkan. Saya percaya pada ketulusannya.

Tidak terlalu lama saya berfikir untuk memutuskan menyetujuinya untuk menyokong. Mungkin hal itu dikarenakan juga mantan walikota Surakarta ini memang media darling, dan saya tidak menemukan alasan yang masuk akal untuk mencelanya. Alasan sebagian orang bahwa Jokowi tidak berhasil memimpin Jakarta karena tidak berhasil mengatasi masalah banjir misalnya, tidak bisa masuk di akal saya. DKI Jakarta adalah daerah khusus, artinya disanalah pusat pemerintahan berada. Tentu tidak bisa memutuskan sesuatu yang penting, bahkan urgen di Jakarta tanpa melibatkan sedikit atau banyak campur tangan pemerintah pusat.

Selain itu secara geografis DKI Jakarta berbatasan dengan Jawa Barat dan Banten. Artinya tidak mungkin misalnya memecahkan masalah banjir dan macet di Jakarta tanpa melibatkan kedua Pemda itu. Kita pasti sering mendengar istilah banjir kiriman dari Bogor. Lha mengatasinya bagaimana kalau tanpa koordinasi dengan Pemda Jawa Barat? Itu satu contoh kecil saja. Juga masalah kemacetan di Jakarta. Tentu kita tahu bahwa banyak komuter di Jakarta. Mereka bertempat tinggal di satelit Jakarta akan tetapi bekerja di Jakarta. Kebayang kan bagaimana riuhnya kendaraan hilir mudik antara Jakarta dengan kota-kota satelitnya? Jakarta memang terkait dengan daerah-daerah sekitarnya yang berada di luar propinsi DKI Jakarta, karena itu sampai ada istilah Jabodetabek yang merupakan abreviasi dari Jakarta , Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Selain itu dalam industri manufaktur juga dikenal istilah Jababeka atau Jakarta, Bandung, Bekasi dan Karawang. Daerah-daerah itu merupakan daerah yang terkait satu sama lain secara industri. Jadi, tidaklah adil melimpahkan tanggung jawab kepengurusan DKI Jakarta kepada Jokowi semata.

Itulah sedikit alasanku kenapa mempercayakan pilihan saya pada Jokowi untuk memimpin sekitar duaratus juta lebih rakyat Indonesia. Semoga menjadi jauh lebih baik. 

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...