Monday, June 30, 2014

Beberapa Teman di Kota Kediri

Teman, kali ini aku ingin bercerita tentang sebuah pertemanan, sebuah persahabatan. Seingatku aku pernah menulis tentang cinta. Kadang orang membedakan antara romantic love, cinta antara seorang laki-laki dengan perempuan, dengan friendship love atau cinta persahabatan. Repotnya teman,..ada lagi orang membuat istilah erotic love. Katanya, romantic love sedikit berbeda dengan erotic love karena dalam yang terakhir itu lebih kental nuansa erotik atau seksualnya. Ah,..sudahlah...aku bukan ahli cinta apalagi ahli bercinta in practical. jadi kali ini aku ingin berbagi tentang persahabatanku dengan teman-teman di kota Kediri.

Kediri adalah sebuah kota kecil sekarang, tetapi riwayatnya sangat panjang. Dahulu di Tanah Jawa ini berdiri sebuah kerajaan besar bernama Kadiri. Ada juga penulis yang jelas-jelas menyebut Kerajaan Kediri. Aku bukanlah seorang anthropolog apalagi seorang historian, jadi mungkin saja aku keliru menulis tentang kota ini. Setahuku Kerajaan Kediri sudah ada sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Kerajaan besar Majapahit bermula dari sebuah Padukuhan yang bernama Padukuhan Majapahit. Masih menurut ingatanku, Raden Wijaya membangun hutan Tarik, yang kemudian menjadi Padukuhan Majapahit dengan bantuan pamannya Arya Wiraraja atau dikenal juga dengan nama Banyak Wide, seorang Adipati dari Madura.

Aku tidak tahu persis awal mula berdirinya Kerajaan Kediri. Aku hanya tahu bahwa Kediri mempunyai jaman keemasan juga ketika dipimpin oleh Ratu Sima dan mPu Sindok. Setelah masa mPu Sindok maka kerajaan Kediri dibelah menjadi dua. Yang separuh menjadi Kerajaan Daha dan sebelahnya lagi menjadi Kerajaan Jenggala. Rakyat Kediri tentunya sangat mendambakan mereka kembali menikmati masa-masa kejayaan ketika kedua kerajaan tersebut belum terpisah. Karena itu mereka membuat cerita rakyat tentang bertemunya Dyah Sekar Chandrakirana, sekar kedaton Daha, dengan Raden Panji Asmarabangun, putera mahkota Jenggala. Dari sinilah mungkin berawal dan berakarnya Cerita Panji yang merupakan salah satu khazanah kesusateraan klasik di Indonesia.

Kediri memiliki juga seorang raja besar selain Ratu Sima dan mPu Sindok. Dalam sebuah kesempatan bertutur, teman-temanku dari Kediri menyebut raja itu dengan nama Prabu Sriaji Joyoboyo. Prabu Sriaji Joyoboyo memiliki seorang putra yang kemudian juga menjadi raja besar. Putra Sriaji Joyoboyo dikenal dengan nama Prabu Anom.

Aku pernah berkunjung sekali ke petilasan Sang Prabu Sriaji Joyoboyo dan putranya Prabu Anom. Tapi mohon jangan tanyakan padaku dimana tepatnya letak petilasan-petilasan tersebut karena aku tidak tahu persisnya. Aku mengunjungi kedua petilasan tersebut dengan diantar oleh teman-temanku di Kediri. Aku tahu, aku sangat beruntung memiliki teman-teman yang baik di Kediri. Karena merekalah aku jadi mendengar dan mengapresiasi Kediri sebagai sebuah Kerajaan besar dulunya.

Mulanya aku ingin berbagi tentang satu per satu teman-temanku itu, tetapi kupikir untuk tulisan kali ini aku hanya ingin mengapresiasi mereka secara garis besar saja. Mereka adalah teman-teman yang baik. Aku teringat pada seorang teman yang sangat bersemangat. Bahkan dalam wilayah-wilayah supranatural. Selain memiliki dunia supranatural dia adalah seorang aktifis masyarakat yang tangguh. Seorang pekerja keras yang pantang menyerah.

Satu lagi temanku di Kediri yang sekarang praktis sudah tidak pernah bertemu lagi. Temanku ini akhirnya menikah dengan seorang perempuan di Dampit. Sebuah Kecamatan di Kabupaten Malang. Kubilang akhirnya karena sebelumnya memang dia lamaaaaa.....sekali menjomblo. Kudengar anaknya sudah satu sekarang. Hiruk pikuk kehidupan pribadiku sendiri selalu mengingatkanku bahwa aku selalu punya teman di Kediri. Tanah kelahiran Ibu dan Nenekku.

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...