Monday, March 31, 2014

Totalitas Hati Dan Fikiran Serta Fenomena "Flow"



" Pelukis harus menyukai pekerjaan melukis itu sendiri diatas segalagalanya. Seandainya seniman di depan kanvas itu mulai bertanya-tanya berapa harga lukisannya bila terjual, atau apa komentar kritikus tentang lukisan itu, ia tidak akan mampu mengejar tujuannya sebenarnya. Prestasi kreatif bergantung pada totalitas hati dan fikiran".

Demikianlah kesimpulan yang diambil oleh Mihalyi Csikzentmihalyi,seorang researcher dalam bidang Ilmu Psikologi dari Amerika Serikat. Menilik namanya, mungkin Csikzentmihalyi adalah seorang immigrant atau anak seorang immigrant dari Eropa Timur. Barangkali leluhurnya berasal dari Republik Ceko. Atau mungkin juga berasal dari Slovenia-Slovakia. Csikzentmihalyi sering dikutip oleh Daniel Goleman dalam bukunya yang terbit pada tahun sembilanpuluh serta sangat populer pada dekade sembilanpuluhan itu. Buku itu berjudul Emotional Inteligence, dan telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia, Jakarta.

Fenomena "flow' adalah kumpulan karakteristik tertentu yang dialami oleh seseorang ketika sedang bekerja atau melakukan suatu aktifitas yang digemarinya. Fenomena ini sangat khas dan karakteristiknya bisa dikatakan sama atau hampir sama untuk semua kasus yang diamati oleh Csikzentmihalyi. Jangan-jangan secara tidak sadar kita juga pernah mengalami fenomena yang diungkap oleh Mihalyi Csikzentmihalyi ini.

Kondisi flow dialami oleh seseorang ketika dia melakukan suatu tugas atau pekerjaan dengan tingkat kesulitan sedikit diatas tingkat kesulitan yang biasa dihadapinya. Ketika itu perhatiannya begitu terkonsentrasi pada apa yang dilakukannya sedemikian sehingga dia seolah-olah melupakan dan tidak memperhatikan keadaan sekeliling, bahkan dirinya sendiri. Flow ini sangat penting dalam menentukan prestasi atau kinerja seseorang dalam bekerja. Bisa dikatakan bahwa semakin sering seseorang mengalami fenomena flow ketika bekerja, berarti semakin tinggi pula prestasinya. Sayangnya, mungkin saya salah, Daniel Goleman tidak mengulas fenomena flow ini dalam bukunya yang terbit kemudian, Emotional Inteligence for Star Performer. Mungkin karena Goleman mempunyai alasan sendiri, tapi menurut saya fenomena flow itu sangat relevan apabila diungkap disitu. Barangkali karena naskah itu dimaksudkan untuk menjadi semacam buku saku yang handy untuk para pekerja, dan menjadi semacam guideline bagi mereka sehingga menjadi para star performer, dan kajian mengenai flow phenomena itu terlalu teoritis alih-alih praktis.

Seorang dokter bedah otak bercerita mengenai fenomena flow yang pernah dialaminya; Perawat kepala membantu saya mengenakan pakaian bedah dan masker, kemudian kami bersama-sama memasuki ruang bedah. Pasien kali itu adalah seorang perempuan berusia enampuluhtahun. Didalam ruang bedah sudah menunggu seorang dokter anestesi dan beberapa perawat yang lainnya. Seorang perawat kemudian memutar musik kesukaan saya dan kami kemudian bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Saya demikian asyik oleh pekerjaan itu seolah-olah saya sudah lupa antara ruang dan waktu. Di dunia ini seolah-olah hanya ada saya dan apa yang saya kerjaakn itu. Akhirnya operasi selesai dan dinyatakan berhasil. Saya sekejap memandangi hasil pekerjaan saya dan ketika perawat membantu membuka masker yang saya kenakan, saya begitu terkejut karena plafon atap dibelakang saya telah pecah berantakan. Puingnya mengotori lantai ruang bedah. Saya begitu terfokus dan asyik dengan pekerjaan saya sehingga tidak menyadarinya ketika melakukan operasi. Rupanya kucing tetangga sedang kasmaran dan menemukan tempat kawin yang tepat diatas plafon ruang bedah.

Cerita ini dan berbagai kisah lain yang serupa membuat Csikzentmihalyi benar-benar yakin bahwa fenomena flow benar-benar ada dan seringkali dijumpai dalam kehidupan manusia sehari-hari. Hal itu sangat berpengaruh dalam kesuksesan seseorang dalam bekerja. Demikian pula, hal ini juga mempengaruhi endurance, atau daya tahan seseorang ketika bekerja serta menghadapi masalah.

Secara fisiologis dan biochemistry sederhana, dapat dijelaskan bahwa ketika seseorang bekerja dan mengalami flow, maka otak akan mensekresikan epinephrine dan norepinephrine pada seluruh susunan central nervous system. Dan yang lebih penting lagi adalah disekresikannya katekolamin. Hormon itu berfungsi sebagai apa yang disebut sebagai morphine-like substance yang membuat tubuh merasa nyaman. Sebagai perbandingan, ketika kita mengalami distress alih-alih eustress, maka otak kita mengeluarkan hormon kortisol dalam seluruh central nervous system kita. Dalam pembahasan mengenai stress, dibedakan antara eustress dan distress. Eustress adalah stress terukur yang berpengaruh positif pada kita sedangkan distress adalah ketegangan yang berakibat negatif pada diri kita, bahkan mungkin dapat pula menjadi patologis.

Didalam bisnis atau bekerja, selain totalitas hati dan fikiran, perlu juga kita pertimbangkan kesesuaiannya dengan hati nurani. Bukan saja Goleman yang menuliskan hal itu, tetapi Stephen R. Covey juga mengingatkan hal itu dalam bukunya yang meledak, juga di era sembilanpuluhan, Seven Habits for Highly Effective Person. Nasehat itu juga diulangnya dalam buku First Thing First. Dahulukan yang Utama. Kita tidak akan pernah berhasil bila kita mencuri, memanipulasi atau memakan hak-hak orang lain. Apalagi korupsi.

Dalam dunia bisnis, dengan sangat lugas Douglas Lennick pernah menulis; Sebagian orang mempunyai kesan yang keliru bahwa keberhasilan Anda dalam bisnis adalah karena anda menipu orang atau menekan mereka agar membeli sesuatu yang tidak mereka perlukan. Dalam jangka pendek caraq itu bisa berhasil, akan tetapi dalam jangka panjang Anda yang akan rugi. Anda akan jauh lebih sukses jika anda tetap selaras dengan hati nurani Anda.

Saya sendiri sekarang ini sedang merintis bisnis sendiri sebagai peternak ayam kampung di tanah kelahiran saya sendiri, Kabupaten Blitar. Sebagai seorang pemula atau new entrance dengan modal cekak, saya sering berfikir dan khawatir tentang pakan ternak saya itu. Betapa tidak, harga pakan sedang melonjak dan harga ayam sedang anjlok turun. Sudah beberapa kali ini seekor demi seekor ayam kesayangan saya terjual untuk menutup biaya pakan. Terkadang muncul pula kesedihan karena dengan sangat terpaksa mutu gizi untuk ayam-ayam peliharaan saya itu diturunkan. Apa boleh buat, kami semua, saya dan ayam-ayam peliharaan saya mesti tetap survive. Apapun yang terjadi. Saya dapat kembali blogging karena alhamdulillah diberi sangu oleh nenek saya di Kediri. Blog ini juga mesti survive,...apalagi sudah diapprove oleh google adSense. Sayang kalau sampai ditutup.

Maka nasehat dari Mihalyi Csikzentmihalyi dan Douglas Lennick itu terasa begitu relevan untuk saya. Saya mesti tetap berkonsentrasi pada usaha ternak inu. Sekhawatir apapun mesti bisa saya eliminasi. Apalagi saya juga merasa sangat terbantu dan terhibur oleh ulah ayam-ayam saya itu. Jika saya duduk berjongkok di kebonan untuk sekedar mengamati mereka, adakah yang sedang sakit atau adakah sesuatu yang tidak biasa, maka mereka berlarian dan berkerumun disekitar saya. Hal itu membuat saya merasa bahagia dan membangkitkan harapan akan kesuksesan. Mungkin saat itulah saya mengalami flow seperti yang dimaksudkan oleh Csikzentmihalyi.


No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...