Wednesday, March 26, 2014

Sekelumit Kisah Tentang Sekolah

Sekolah adalah salah satu hal yang membentuk kepribadian seseorang. Tentunya akan sangat berbeda antara orang yang well educated dengan yang tidak. Katanya, perbedaan itu tampak dari pola pikir, pola sikap dan perilaku seseorang. Memang betul bahwa sekolah bukan satu-satunya hal yang membentuk kepribadian seseorang, Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA., dalam salah satu ceramahnya di salah satu stasiun televisi swasta pernah mengatakan bahwa ada tiga hal yang mempengaruhi kepribadian seseorang, yang pertama adalah orang tua, yang kedua adalah lingkungan dan yang ketiga adalah bacaan. Mungkin sekolah termasuk dalam faktor kedua, yakni lingkungan, seperti yang disebut oleh Prof. Quraish.

Seorang mahasiswa atau mahasiswi yang sangat terlatih membaca daras-daras berbahasa Inggris, bahkan novel-novel atau roman yang dibacanya berbahasa itu, tentu akan sangat berbeda cara berfikir, pola tindak dan tentu perilakunya, dengan seorang santri atau santriwati di pesantren yang sangat terlatih membaca dan mempelajari kitab kuning. Mungkin si mahasiswa akan jauh lebih westernized. Itu hanya sebagai gambaran saja.

Memang tetap ada kritik terhadap kebudayaan bersekolah. Telaah yang sangat kritis dilakukan oleh Ivan Iliyich dalam buku Deschooling Society. Bagi Iliyich, sekolah itu membelenggu dan menjadikan seseorang tidak kreatif. Mungkin ada benarnya,..ada masalah dalam dunia pendidikan kita.

Daniel Goleman, pencetus ide Emotional Inteligence, di dasawarsa sembilanpuluhan, pernah menulis dalam buku berjudul sama bahwa masalah dalam pendidikan di Amerika Serikat adalah terlalu banyaknya perguruan tinggi dan kurangnya taman kanak-kanak. Tentu maksudnya adalah seorang peserta didik kurang mempunyai kesempatan untuk meng-eksplorasi sisi-sisi humaniora dan mereka lebih banyak dilatih dalam sisi logis, analitis, aritmatik dan verbal. Bukannya aspek-aspek tadi, yang termasuk dalam poin-poin Inteligence Quotient, tidaklah penting, tetapi sisi-sisi kecerdasan emosional yang termasuk dalam soft skill sebenarnya jauh lebih berpengaruh pada keberhasilan seseorang dalam hidupnya.

Sebuah ilustrasi yang paling saya ingat untuk menunjukkan betapa pentingnya Emotional Intellegence adalah research yang dilakulan oleh sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Sekelompok anak-anak TK didatangi oleh para peneliti. Mereka diberi sebutir marshmallow, atau permen lunak, yang menjadi kesukaan anak-anak di Amerika Serikat sana, dan diberikan sebuah tawaran. Sang anak boleh memakan marshmallow itu saat itu juga dan pergi, tapi jika mereka menunggu sampai waktu yang ditetapkan oleh para peneliti itu, mereka akan mendapatkan sebutir marshmallow lagi. Banyak anak yang tidak tahan dengan godaan segera memakan permen lunak itu, kemudian pergi. Tapi ada pula yang menunggu dengan taat untuk mendapatkan sebutir lagi. Ada saja cara mereka menunggu untuk mengisi kebosanan. Ada yang bermain dengan temannya, ada yang duduk sambil menggoyanggoyangkan kaki dan ada juga yang mencoba tidur. Akhirnya waktu menunggu sudah habis dan anak-anak yang kuat menahan diri itu diberi hadiah sebutir marshmallow lagi. Anak-anak itu kegirangan dan mereka pergi menyusul teman-temannya yang lain. Anak-anak itu kemudian disebut oleh para researchernya sebagai Anak Anak Marshmallow.

Anak-anak marshmallow itu kemudian diikuti perkembangan hidupnya oleh para peneliti. Limabelas tahun kemudian mereka dilihat perkembangannya. Terbukti dalam penelitian itu bahwa anak-anak yang bisa menahan diri jauh lebih sukses dibandingkan anak-anak yang tidak bisa menahan diri untuk segera makan marshmallow yang diberikan.

Dari hasil penelitian ini dan serangkaian penelitian yang lain yang telah dilakukan di berbagai universitas di Amerika Serikat, terbukti bahwa emotional intelligence, atau kecerdasan emosional, berpengaruh dua kali lebih besar dalam menentukan keberhasilan seorang anak dibandingkan dengan intelligence quotient.

Sayangnya aspek-aspek kecerdasan emosional itu kurang terlalu disentuh dalam sistem pendidikan di Amerika, demikian masih menurut Daniel Goleman. Bagaimana di Indonesia? Tentunya saya tidak tahu karena saya bukan pakar pendidikan di Indonesia dan hanya mengamati sistem pendidikan disini secara sepintas. Terkadang terbersit juga keinginan untuk melakukan research mengenai hal ini di Indonesia. Tapi latar belakang pengetahuan saya tentang Ilmu Psikologi, terutama apalagi Psikologi Pendidikan, sangatlah kurang memadai. Lagipula apa perlunya dalam kehidupan praktis saya sehari-hari? Kok ngoyoworo tenan,...saya hanyalah seorang peternak ayam kampung dan itik manila di desa Kamulan ini.

Bagi saya pribadi, apapun alasannya, sekolah adalah tetap penting. Saya merasa sangat beruntung karena diberi kesempatan untuk bersekolah sampai level pendidikan tinggi. Saya adalah lulusan Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Bagi saya, kehidupan akademis dan non akademis di Kampus Biru itu adalah sangat berharga dan tidak tergantikan dengan yang lainnya. Pengalaman berkuliah di sana membuka cakrawala berfikir yang sama sekali baru,...dan mungkin akan jauh berbeda jika saya bersekolah di tempat yang lain.

Sebagai sebuah gambaran, saya akan sedikit bercerita. Saya sangat menggemari belajar bahasa Inggris dan terkadang mengajak ngobrol orang Amerika atau Eropa yang kebetulan banyak dijumpai di kampus kami di Yogyakarta. Pada suatu kesempatan saya berkesempatan ngobrol dengan seorang mahasiswi Canadian. Dia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Montreal, Canada. Kecantikan gadis itu tentu saja masih terbayang sampai kini, tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan pada para pembaca.

Kami ngobrol dalam Bahasa Inggris (memangnya dalam bahasa apa lagi?), dan dia memperbaiki beberapa pronunciation saya. Berkali-kali dia melatih saya untuk mengucapkan thanks dan think sampai kupingnya merasa puas. Bukan itu saja yang saya dapatkan dari dia, dalam kesempatan berbincang itu, saya akhirnya juga mengetahui bahwa Canada, sekalipun merupakan Commonwealth Inggris tetapi sebenarnya sangat dipengaruhi oleh budaya Prancis. Bahkan ada beberapa tempat yang lebih lazim menggunakan Francaise sebagai bahasa sehari-hari alih-alih English.

Ketika saya bertutur bahwa saya adalah mahasiswa Teknik Mesin di UGM, tiba-tiba dia tertawa. Dia bercerita bahwa di Universitas Montreal, tempatnya kuliah, mahasiswa Teknik Mesin adalah jenis makhluk yang paling menjengkelkan disitu. Mereka merasa paling hebat,..kata dia lhoo....dan paling suka menjahili mahasiswa dan mahasiswi dari disiplin ilmu yang lain. Kuliahnya rata-rata paling lama, tutur Janet, mahasiswi Montreal itu. Kelakuannya pun aneh-aneh sehingga jadi terkenal seantero kampus. Katanya, ada yang kegiatannya sehari-hari adalah menanam pohon di sekitaran kampus. Masih banyak hal lain yang diceritakan Janet pada saya tentang mahasiswa Teknik Mesin di Montreal University itu, tapi saya memang sudah lupa. Yang jelas teringat oleh saya adalah mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai para Mechy,..mungkin singkatan dari Mechanical Engineering..lha apa lagi?

Lalu bagaimana dengan mahasiswa dan mahasiswi Teknik Mesin di UGM sendiri? Setahuku mereka baik-baik saja semua tuh...gak ada yang aneh-aneh kayak para Mechy di Montreal University seperti yang diceritakan Janet pada saya bertahun-tahun yang lalu itu. Setahuku Jurusan Teknik Mesin di Fakultas Teknik UGM sekarang berubah menjadi Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri, dan kegiatan perkuliahan yang paling diminati oleh mahasiswa Teknik Mesin disana adalah Kuliah Bersama (mahasiswi) Teknik Industri. Itu dulu,..enggak tahu kalau sekarang. Kangen juga aku dengan kampusku itu...banyak romantika yang kualami disana....dan,...oh Janet,....aku juga kangen kamu...apakah kamu kangen padaku?

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...