Wednesday, March 26, 2014

Nasehat Untuk Ayamku

Sekarang aku tinggal di desa ayahku almarhum. Ayahku adalah seorang guru Matematika level Sekolah Menengah Pertama. Terakhir beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah SD dan SMP Dharma Wanita Unibraw. Nampaknya orang-orang Universitas Brawijaya sekarang lebih suka menggunakan abrevasi UB untuk menyebut dirinya sendiri. Dulu Universitas yang cukup besar di kota Malang, tempatku menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, ini menggunakan abrevasi Unbra atau Unibraw alih-alih UB yang mungkin lebih populer sekarang.

Analisis (iseng)-nya mungkin karena konotasi Unbra barangkali tidak terlalu menyenangkan, terutama bagi civitas academica yang bernaung pada institusi tersebut. Secara etimologi gurauan, yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa dan mahasiswi apabila lagi kecapekan dan jenuh belajar, kemudian berkumpul di teras pondokan dan ngobrol ngalor-ngidul sembari membuat lelucon, Unbra berasal dari english vocabulary Un, yang biasanya dipasang sebagai prefix dengan makna without atau dalam Bahasa Indonesia adalah "tanpa" dan Bra yang artinya pakaian dalam perempuan yang dikenakan di sebelah atas. Biasanya memang English, American dan orang-orang dari negara lain yang menggunakan Bahasa Inggris memang menggunakan istilah bra, instead of BH. Biasanya orang bersikeras bahwa BH adalah singkatan dari Breast Holder,...artinya itu Bahasa Inggris,..tapi sebenarnya bukan. BH adalah abreviasi dari Bahasa Belanda Borst Houder. Akan tetapi memang benar bahwa tetminologi unbra kurang lazim dipakai dalam pengertian diatas oleh inhabitants negara-negara dengan mother tongue English, mereka lebih suka menggunakan istilah topless atau no bra untuk pengertian yang sama.

Seingatku di dekade tujuhpuluhan atau delapanpuluhan di negara-negara Barat pernah ada gerakan no bra. Gerakan itu dipopulerkan oleh kaum feminist di sana. Gerakan ini memang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Barangkali untuk menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki itu benar-benar setara dalam segala hal mereka menolak untuk mengenakan bra. Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa di UGM Yogyakarta, aku mengenal beberapa teman dan senior mahasiswi yang juga berpandangan feminist. Bacaan mereka terutama adalah buku-buku karya Fatima Mernissi, seorang feminist dari Mesir, sebuah negeri dengan latar belakang kebudayaan Islam yang panjang dan tentu saja menarik. Tapi aku tidak pernah cukup punya keberanian untuk bertanya pada teman-temanku itu apakah mereka mengenakan bra atau tidak.

Dulu, di jaman Pulau Jawa masih dijajah oleh Negeri Belanda, orang barat cq Belanda masih belum mengenal BH. Orang Jawa jauh lebih berbudaya, kaum perempuannya sudah mengenakan penutup untuk tubuh bagian atas. Kemudian orang Belanda bertanya pada orang Jawa....apakah itu..? Orang Jawa dengan santun  menjelaskan...meniko Buntele Hemik. Untuk memudahkan, akhirnya orang Belanda menyingkatnya dengan BH, dan karena mungkin malu karena istilah itu berasal dari tanah jajahan nun jauh di seberang lautan sono, maka dibuatlah kepanjangan yang "kebetulan" pas yaitu borst houder.

Wah,..ceritanya kok jadi begini,..tadi kan cerita soal ayahku. Ayahku memang membidani berdirinya SD dan SMP Dharma Wanita Unibraw tersebut. Tentunya beliau tidak sendirian, ada Ibu Zainal Arifin Achmady, yang waktu itu Ibu Rektor Unibraw dan tentunya juga ibu-ibu yang lain yang tergabung bersama di Dharma Wanita Persatuan Unibraw. Setelah ayahku meninggal konon pengelolaan SD dan SMP itu diambil alih oleh Unibraw...eh..maaf..keliru..keliru..sekarang UB ya...dan tidak lagi bernaung dibawah Dharma Wanita Persatuan UB. Nama sekolah itu sekarang menjadi SD dan SMP BSS yang merupakan singkatan dari Brawijaya Smart School. Jabatan Kepala Sekolah yang ditinggalkan oleh ayahku kemudian diisi oleh Bapak Saleh,..kemungkinan beliau adalah mantan guruku di SMA dulu...beliau mengajarkan kami Chemistry. Waktu kelas III SMA aku diajar oleh beliau. Orangnya sabar tapi tegas..dan senang melucu juga di depan kelas.

Selama ini aku tinggal di kamar merbot di Masjid Al Huda di Desa Kamulan ini. Untunglah aku masih diperkenankan tinggal disana karena aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi sekarang. Banyak kegiatan yang dilakukan di Masjid Desa itu. Bagiku yang menarik adalah kegiatan Madrasah Diniyyah di Masjid tersebut. Para jamaah juga menyelenggarakan Yasinan setiap Kamis Malam Jum'at. Oh ya...dulu ketika Semester empat atau lima di Universitas Gadjah Mada aku juga mengikuti acara Universitas Malam Jum'at atau disingkat UMJ di Pondok Pesantren Budi Mulia Yogyakarta. Acara itu diasuh oleh almarhum KH Suprapto Ibnu Juraimi.

Awalnya aku memang malas ikut Yasinan bersama jama'ah-jamaah Masjid yang lain, namun akhirnya hatiku tergerak untuk ikut bersama yang lain. Pertimbanganku, karena pada kenyataannya, ketika sendirian di kamar itu, aku tidak pernah membaca Surah Yaasiin.

Pada suatu kesempatan Yasinan aku diajak bicara oleh Mas Dwi, peternak burung kenari di desaku ini.
"Ayam-ayammu jangan boleh keluyuran di Masjid Mit".
"Bikin kotor".

Aku memang melakukan usaha enterpreneuring sebagai peternak ayam kampung. Biasanya ayam-ayamku suka menyusulku di Masjid. Apalagi apabila belum diberi makan. Ini adalah upayaku untuk bertahan hidup dan menghidupi keluargaku, bila tiba kelak masanya aku berumah tangga.

"Iya Mas Dwi", jawabku, kemudian,"Padahal ndak kurang-kurang loh aku kalau menasehati".

Orang-orang pada menahan ketawa. Aku tahu,..mereka kepingin ketawa tapi jengkel betul sama aku karena ulah ayamku di Masjid.

"Tapi lha piye", lanjutku, "Ayam-ayamku kok tetap tidak mau mengerti".

Meledaklah tawa seisi rumah Kang Yoko yang kali itu adalah tuan rumah Yasinan. Kali ini mereka tidak bisa lagi menahannya...they couldn't bear it.

"Jan ngglecen-ne persis Pak Toha", komentar salah seorang peserta Yasinan. Pak Toha adalah ayahku yang sempat kuceritakan di awal tulisan ini. Aku berfikir-fikir, apakah padanan Bahasa Indonesia yang pas untuk kata ngglecen dalam Bahasa Jawa Blitaran ini? Ngglecen diucapkan dengan huruf e seperti kata enau, semacam pohon palma. Adakah diantara para pembaca yang mengetahuinya? Share yuk......

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...