Wednesday, March 19, 2014

Menulis Ulang Naskah Pribadi Pasca Krisis Usia Pertengahan



"Ayam-ayam kamu waktunya dijual lho Mit".
"Ya".
"Sekarung pakan itu harganya berapa?".
"Tigaratusribu Rupiah".
"Sekarung pakan habis berapa hari?"
"Nggak pernah merhatiin".
"Mbok Lasemi itu miara ayam juga, ada sepuluh ekor, sehari habis satusetengah kilo pakan, pakannya seharga tujuhribu rupiah per kilonya, dijual ceplok endog empatribu rupiah per ekor, kalau usia ayamnya tiga minggu harganya tujuhribu rupiah per ekor,...wah rugi".
    
     Demikian cerocos Pak Paijan tetangga desaku pagi ini tanpa diminta. Waktu itu aku sedang bertandang ke rumahnya dalam rangka membayar hutangku pada Reni, anak Pak Paijan. Reni membuka usaha warung kopi dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari lainnya persis di jalan poros desaku.
    
     Lama betul si Reni ini nukerin duit kembalian hutangku ya?, pikirku tak sabar. Hutangku padanya enamribu limaratus rupiah. Kuberikan padanya selembar sepuluhribuan rupiah dan sekeping limaratusan rupiah logam. Kebetulan dia tidak pegang duit cash sehingga perlu menukar uangku pada tetangga-tetangganya. Aku paling tidak bisa menikmati obrolan bersama Pak Paijan, bagiku dia ini suka usil dan cuma memancing-mancing komentar atau tanggapan yang tidak perlu.
    
     Eh,...jadi inget kalau aku pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sewaktu aku tinggal di Malang bersama kedua orangtuaku. Seingatku bahasa Latin yang dipakai di dunia Kedokteran untuk obrolan adalah anamnesa. Sehingga kalimat terakhir dalam paragraf diatas jika ditulis dalam peristilahan itu menjadi...Aku paling tidak bisa menikmati anamnesa bersama Pak Paijan, bagiku dia ini suka usil dan cuma memancing-mancing komentar atau tanggapan yang tidak perlu....lho..kok jadi aneh begini ya? Apanya ya yang bikin jadi aneh..?
 
     "Mbok kamu miara burung kenari kayak Mas Dwi itu Mit," demikian Pak Paijan meneruskan kuliah paginya. Aku berdoa supaya Reni segera pulang dan aku cepat terbebas dari derita ini.
"Usia sebulan harganya sudah seratuslimapuluh ribu rupiah,...yang babonan bisa sampai limaratusribu rupiah".
"Mas Dwi itu sampai kewalahan kebanjiran peminat burung kenari".
"Sudah tempatnya bersih, gak kayak ayam,..kotor".
    
     Rupanya Tuhan Yang Mahabijaksana mendengar doa-doaku. Kulihat Reni memasuki pekarangan rumahnya dan masuk ke ruang tamu sembari mengulurkan kembalian uangku sejumlah empatribu rupiah. Aku bersorak dalam hati, rasanya seolah-olah terbebas dari derita ribuan tahun di penjara bawah tanah.
   
     Demikian memang kehidupanku sekarang. Aku beternak ayam kampung di desaku ini. Usaha ini akan tetap aku geluti dan jatuh-bangunnya ingin kurasakan apapun komentar orang. Kalau dipikir-pikir komentar negatif semacam Pak Paijan itu jauh lebih sedikit dibandingkan komentar dan dukungan positif yang kurasakan.
    
     Di Kecamatan Kanigoro itu orang beternak ayam kampung sampai ribuan jumlahnya. Kalau usaha itu sampai sekarang tetap digeluti orang, berarti beternak ayam kampung-pun bisa jadi duit. Mungkin suaktu ketika jika ada kesempatan dan kenalan disana aku perlu juga melakukan studi banding kecil-kecilan di Kanigoro. Selain dikenal sebagai sentra ayam potong, atau mungkin orang lebih suka menyebutnya dengan ayam broiler, Kecamatan Kanigoro juga dikenal sebagai sentra ayam kampung. Enggak tahu ya..kalau sentra ayam kampus ada dimana, yang jelas bukan di kota kecil Blitar ini.
    
     Akhirnya aku pulang ke tanah kelahiranku. Desaku kecil saja di wilayah Kabupaten Blitar ini. Lama memang aku meninggalkan desaku ini bersama famili-famili keluarga ayah almarhum. Seingatku, ketika aku kuliah di Universitas Gadjah Mada, aku cuma berkunjung sekali kesini. Itupun cuma karena ingin berkunjung, atau lebih tepatnya berziarah ke makam mBah Putri Amanah almarhumah, nenekku, ibu ayahku almarhum.
    
     Desaku bernama Kamulan. Terletak di Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Disini aku dilahirkan ibuku. Waktu itu ibuku masih nderek mBah Putri Amanah almarhumah dan mBah Kakung Ahmad Iskak almarhum, orangtua ayahku. Mbah Kakung Ahmad Iskak dikenal sebagai mBah Kamituwo, sesuai dengan jabatannya sebagai Kamituwo Kamulan. Kamituwo artinya Kepala Dukuh. Ketika aku Kuliah Kerja Nyata di Bantul sebagai salah satu Matakuliah Wajib di UGM, Kepala Dukuh itu disana disebut sebagai Pak Dukuh saja.
    
     Selain bertani, mBah Kakung Ahmad Iskak juga mempunyai ketrampilan sebagai perajin perhiasan dari emas, atau istilahnya di Blitar ini adalah Kemasan. Dalam usia rentanya beliau sempat membuatkan necklace lengkap  dengan liontin-nya untuk ibuku. Barangkali ibuku memang menantu kesayangannya. Cincin kawin ibuku seberat lima gram diminta oleh mBah Kakung Almarhum, kemudian dilebur dan ditambah dengan simpanan emas milik mBah Kakung Ahmad Iskak sendiri dibentuk dan dijadikan necklace dan pelengkap liontin-nya dengan tangan mBah Kakung sendiri. Karena sudah sepuh sehingga tidak kuat lagi ngububi (calon) perhiasan, maka yang ngububi bakal perhiasan ibuku itu adalah Pak Ripan, seorang tetangga yang nderek mBah Putri Amanah dan mBah Kakung dari desa tetangga, yaitu Desa Jajar.
   
     Yang dimaksudkan dengan ngububi adalah memanaskan logam emas didalam tungku menggunakan semburan udara. Dulu Pak Ripan menggenjot sebuah piranti dengan kaki sehingga udara bertekanan keluar dari piranti itu ke dalam tungku, karena sekarang sudah jaman modern maka mungkin para kemasan jaman sekarang menggunakan compressor. Eh iya,...aku kan lulusan Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada....mungkin sebaiknya aku menggunakan terminologi furnace alih-alih tungku. Lebih gagah rasanya..swear deh...
   
     Ketika aku masih usia Sekolah Dasar, aku masih melihat kalung dengan liontin yang dipasangi sebuah batu berwarna merah menyala oleh mBah Kakung Ahmad Iskak Almarhum itu selalu dipakai oleh ibuku kemanapun beliau pergi dan dimanapun beliau berada. Bagaimana tidak? Necklace bersama liontin dengan batu merah manyala itu adalah karya terakhir Almarhum ayah mertuanya.
    
     Samar-samar aku ingat, dengan bercucuran airmata ayah berlutut di depan ibu meminta kalung bersejarah itu untuk dijual karena suatu keperluan yang aku masih belum mengerti... Bukankah waktu itu aku masih kecil..? Aku juga ingat ketika ibuku duduk dan melepas kalung yang sangat indah itu dari leher beliau serta menyerahkannya pada ayahku. Aku juga ingat ketika aku digendong oleh ibu di toko emas menemani ayahku menjual kalung bersejarah itu....semuanya...gone with the wind.....
    
     Sekarang disini dan kini aku tinggal membangun mimpiku sendiri sebagai peternak ayam. Jadi ingat bahwa dasar Psikologi Fritz Perl adalah orang yang berada disini dan kini. Terimakasih untuk mendiang ayahku...aku anak ayah sekarang...aku lahir di desa ayah..sekarang aku tinggal dan menetap di desa ayah,..merawat peninggalan ayah yang tersisa... Terimakasih Yah.....terimakasih...di desaku dan desa ayah ini aku bisa kembali merajut mimpi...mimpi untuk membentuk keluarga dan menghidupi keluargaku dengan usaha sendiri... Terimakasih Ayah.....I do mean it father...I do mean it.

2 comments:

  1. Saya ingat adik pernah kuliah di FK UB... dan ayah adik adalah guru matematika di PPSP. Semoga amal Ibadan Alm Bpk Toha diterima disisiNya.

    ReplyDelete
  2. Betul mBak Dita,..maturnuwun,..Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin...

    ReplyDelete

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...