Friday, March 28, 2014

Bapak dan Ibu Guru Yang Kukenang Selalu (Part II)



Guru Sekolah Dasar yang pertama kali kukenal adalah Bu Harsih, kalau tidak salah nama lengkapnya Ibu Suharsih Subianto. Beliau adalah ibu guru wali kelas 1-B, kelas tempatku berada. Sebagai wali kelas, Bu Harsih mengajar semua mata kuliah,...eh keliru,..maksudku mata pelajaran, kecuali mata pelajaran Agama dan mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan. Yang mengajar mata pelajaran Agama Islam saat itu adalah Ibu Dewi Setomi, Bu Dewi orangnya kecil mungil serta cantik jelita, beliau suka mendongeng di depan kelas. Dongengan Bu Dewi yang masih kuingat dengan baik adalah Kisah Qabil dan Habil, kalau menurut versi Bu Dewi mereka ini adalah putra-putri Kakek Adam dan Nenek Hawa. Siti Hawa ini dalam versi Inggris dikenal sebagai Eve.

Dalam dongeng Bu Dewi Qabil itu laki-laki sedangkan Habil itu perempuan. Ketika menjadi siswa kelas satu Sekolah dasar itu aku sedih sekali menjadi seorang laki-laki seperti Qabil yang jahat. Aku ingin menjadi seorang perempuan yang baik hati seperti Habil. Ketika bercerita di depan kelas, suasana kelas menjadi sangat hening, seluruh siswa mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian dengan sikap duduk sempurna seperti yang diajarkan oleh para ibu guru TK kami. Bu Dewi memang sangat piawai bercerita. Ketika usiaku beranjak dewasa aku baru tahu bahwa Habil dan Qabil itu ternyata dua-duanya laki-laki dan mereka berebut istri. Tetapi cerita Bu Dewi lebih membekas di hatiku.

Akhirnya aku tidak lagi kecewa menjadi laki-laki karena Habil ternyata juga seorang laki-laki. Apalagi aku selalu kalah bila berebut pacar dengan teman-temanku hingga masa kuliah dan pasca kuliah. Akhirnya sampai sekarang aku belum juga beristri.....keciaaaan deh aku.....

Ibu Dewi Setomi mengajari kami Surah Al Fatihah dan surah-surah pendek lainnya untuk kami hafalkan di depan beliau di depan kelas. Kemudian yang saya ingat, Bu Dewi menuliskan Tahiyyat Awwal dan Tahiyyat Akhir pada sepotong kertas kwarton buffalo yang bagus. Tahiyyat Awwal dengan spidol merah atau hijau, sedangkan Tahiyyat Akhir beliau tulis menggunakan spidol merah atau biru. Pokoknya tidak sewarna, begitulah. Tulisan Bu Dewi sangat bagus, kami dapat membacanya dengan jelas. Selain itu beliau juga membacakannya untuk kami dengarkan dan kami tirukan bersama-sama di dalam kelas bersama Bu Dewi, guru agama kami nan cantik jelita itu.

Masing-masing anak mendapatkan sebuah karton dengan tulisan tangan Ibu Dewi sendiri. Tentu saja beliau menggunakan aksara latin tegak. Boro-boro kami bisa membaca aksara arab waktu itu. Buku 'Iqro mulai jilid 1 hingga jilid 6 belum dikarang oleh Bapak KH. As'ad Humam di Yogyakarta sana. Jadi saat itu belum sempat kami pelajari.

Kartonku berwarna hijau, sedangkan karton milik teman sebangkuku Utje, Moeliarta Roekiandari, berwarna merah jambu. Bu Dewi meminta kami melaminating karton milik kami sendiri. Laminating kartonku lurus sederhana saja sedangkan laminating pada karton si Utje menggunakan motif-motif lengkung yang sangat indah. Aku bersahabat sangat dekat dengan Utje sampai kelas empat Sekolah Dasar. Biarpun misalnya kami saat itu tidak satu kelas. Bila waktu istirahat tiba kadang-kadang aku menemani Utje main ayunan. Utje duduk di ayunan dan aku berdiri di samping tiang penyangga ayunan itu sambil mendengarkan si Utje alias Moeliarta Roekiandari ini berceloteh. Utje memang talkative banget. Aku dapat membaca seluruh serial komik Tintin, wartawan perkasa dari Prancis itu dari buku-buku Utje. Dia membawakannya untukku di sekolah untuk kubaca namun melarangku untuk membawanya pulang dan membacanya di rumah.

Bu Harsih adalah pemain ping-pong yang sangat hebat. Sepertinya beliau pernah mewakili kota Malang untuk suatu perlombaan tingkat daerah. Itu seingatku lho....bisa saja aku keliru. Aku cuma mengandalkan ingatan.

Aku ingat betul catatan wali kelas di raport-ku ketika catur wulan pertama yang dibuat oleh Bu Harsih. Begini bunyinya,... Masih suka angin-anginan, tetapi rasa percaya dirinya sangat membantu, Juara 3... Sampai sekarang aku masih belum tahu benar apa yang dimaksudkan oleh ibu guruku itu dengan angin-anginan. Seingatku aku tidak pernah membuka baju dan berangin-angin di halaman sekolah ketika pelajaran sedang berlangsung. Aku juga akhirnya sadar, dari catatan Bu Harsih itu, bahwa ternyata self confident-ku cukup bagus ketika masih kanak-kanak. Sangat berbeda ketika aku beranjak dewasa, rasa percaya diriku melorot jauh, apalagi ketika kuliah di UGM. Aku seringkali berfikir, tidak salahkah UGM menerimaku sebagai mahasiswanya? Padahal aku juga tahu bahwa passing grade untuk jurusanku pada tahun itu adalah nomor dua tertinggi di UGM.

Passing grade adalah batas nilai  minimal dari score UMPTN, atau sekarang menjadi SMPTN, yang dikumpulkan oleh calon mahasiswa peserta UMPTN untuk memasuki sebuah Program Studi atau Jurusan di Perguruan Tinggi. Aku memang masuk UGM melalui jalur itu. Aku tahu, rasa percaya diri yang jatuh itu mungkin disebabkan karena sebelumnya aku dinyatakan dropped-out dari Universitas Brawijaya Malang. Begitu berpengaruhnya hal itu pada diriku sampai terimplikasi dalam konsep diri dan cara bergaul yang cenderung tertutup serta menarik diri (withdrawal). Alhamdulillah, aku tidak dinyatakan dropped-out oleh UGM, memang itulah yang kutakutkan dan seolah-olah menghantuiku siang malam, dan aku dinyatakan lulus dari Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada setelah sembilan tahun kuliah.

Ketika wisuda bulan Februari 2003 aku menangis terisak-isak ketika aku bersama wisudawan yang lain menyanyikan bersama-sama Hymne Alumni Universitas Gadjah Mada dengan dipandu oleh adik-adik mahasiswa dan mahasiswi Paduan Suara Universitas Gadjah Mada.
   
                   Bagi kami almamater kuberjanji setia
                   Kupenuhi darma bhakti tuk ibu pertiwi
                   Didalam kebudayaanmu, jiwa seluruh bangsaku
                   Kujunjung kejayaanmu, kejayaan nusantara.

Ketika itu teman-teman wisudawan didekatku pada memperhatikanku dengan raut muka keheranan. Hanya aku yang bisa merasakan dan memahami kenapa aku menangis terisak-isak ketika itu. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang panjang selama hampir satu dasawarsa untuk sekedar lulus kuliah. Dan sebelumnya teman-temanku di Universitas Brawijaya menghindar dariku, jangankan kuajak bicara, baru tampak aku saja teman-temanku sudah menjauh. Bahkan ada yang sampai ekstrim berlari. Kecuali satu atau dua orang teman dekat, merekapun tidak dapat membantuku lebih jauh untuk menyelamatkan kuliahku di Universitas Brawijaya Malang itu. Tragis memang.

Kelas dua sekolah Dasar, wali kelasku adalah Ibu Etty. Bu Etty orangnya sangat tegas,..bahkan mungkin cenderung keras. Beliau sangat disiplin, mungkin hampir seperti disiplin militer. Jika kami libur sepuluh hari, maka beliau juga memberi kami sekelas sepuluh buah Pekerjaan Rumah. Buku homework itu dibedakan dengan buku ketika menerima pelajaran di kelas. Tugas atau soal, terutama pelajaran menulis halus, beliau tulis sendiri di buku kami dengan tinta merah. Entah kenapa ketika menginjak kelas dua itu aku selalu merasa dianakemaskan oleh Bu Etty. Ya, benar, ketika itu aku merasa benar-benar diperhatikan oleh beliau.

Pernah dalam sebuah kesempatan di depan kelas beliau menyemangati anak-anak muridnya untuk rajin belajar dengan berkata seperti ini. "Kalau si Mimit itu pintar bukan berarti otaknya lebih, jadi mbendol seperti ini", beliau meletakkan kepalan tangannya di dahi beliau sehingga nampak seperti blangkon gaya Yogyakarta yang dipakai terbalik,"Tapi karena Mimit rajin belajar,..begitu ya anak-anak".

Aku mempunyai pengalaman yang menarik bersama ibu guruku yang kucintai ini. Ketika itu pelajaran terakhir adalah Mathematics. Ketika bel pertanda saat pulang berdentang, beliau menahan kami terlebih dahulu. Beliau akan menguji hafalan kami terhadap tabel perkalian yang beliau ajarkan dan beliau minta untuk kami hafalkan. Mulailah beliau menguji hafalan perkalian kami. Sistemnya adu cepat. Siapa yang bisa menjawab boleh tunjuk jari dan siapa yang lebih cepat tunjuk jari akan diminta oleh Ibu Etty untuk menjawab, jika jawabannya benar maka si siswa diperkenankan pulang. Jika jawabannya salah maka yang lain boleh tunjuk jari lagi untuk ditunjuk Bu Etty menjawab. Anak yang menjawab salah tidak diperkenankan untuk mengikuti acara mencongak, demikian istilahnya, untu sebuah pertanyaan berikutnya.

Berdebar-debar aku dan hampir menangis. Satu-satunya kolom tabel perkalian yang kuingat adalah tujuh kali delapan samadengan limapuluhenam. Yang lainnya belum hafal sama sekali. Terbayang sudah aku berdiri di samping meja Bu Guru dan dimarahi karena malas belajar...nanti siang jika semua siswa sudah pulang. Sebuah pertanyaan mencongak berlalu dan temanku yang pertama pulang itu bersorak berlari keluar kelas sambil menyambar tas sekolahnya. Dua pertanyaan berlalu dengan cerita serupa... Aku sudah hampir menangis ketika Bu Etty memberikan pertanyaan mencongak yang ketiga.

"Tujuh kali delapan".
Aku hampir tidak percaya pada apa yang kudengar dan mungkin karena kekuatan bawah sadar yang bekerja tanpa kusadari, telunjukku sudah naik diudara tinggi-tinggi. Aku melihat ke belakang dan ternyata sudah beberapa anak menunjukkan jarinya seperti aku.

"Mimit duluan, berapa Mit?".
Dengan suara serak karena ketakutan dan excited aku menjawab,"Limapuluhenam".
"Kamu boleh pulang Mit", demikian seru ibu guruku yang kusayangi itu.

Aku bersorak kegirangan dan segera menyambar tas sekolahku. Setengah berlari aku pulang ke rumah. Ternyata aku sama saja dengan yang lainnya. Hatiku gembira tiada terkira, dan yang lebih penting lagi adalah selamatlah reputasiku sebagai anak pintar didepan Bu Etty. Ketika dipegang oleh Bu Etty itu seingatku aku menduduki Juara 2 untuk dua catur wulan dan Juara 1 untuk satu catur wulan.

Ketika sudah meninggalkan kelas Bu Etty karena naik ke kelas-kelas berikutnya seingatku Bu Etty masih sering menyapaku dan mengajakku berbincang. Memang, bukankah kata Goethe "Peradaban dimulai dari perbincangan". Entah tentang apa perbincanganku bersama Bu Etty, aku sudah lupa. Seringkali kami bertemu di Ruang Perpustakaan. Sejak kelas dua dengan wali kelas Bu Etty itu aku selalu menjadi Juara I untuk kegiatan membaca di Perpustakaan. Dan sampai lulus SMP atau kelas delapan di PPSP IKIP Malang itu tidak ada seorangpun yang bisa menggeser kedudukanku sebagai Juara I (Perpustakaan). Memang begitu tulisannya di Piagam Penghargaan. Memang aku hanya dua kali atau dua catur wulan saja pernah menjadi Juara I untuk juara kelas. Sekali ketika dipegang Bu Etty dan sekali dipegang Pak Kanang ketika kelas empat. Tapi kalau Juara I (Perpustakaan) memang selalu aku dari kelas dua sampai lulus SMP di kelas delapan, karena sekolah kami menerapkan SD-SMP delapan tahun.

Sekarang Bu Etty sudah meninggalkan kami untuk selamalamanya. Aku bahkan belum tahu sebenarnya agama beliau itu apa. Tapi apakah itu penting bagiku?. Selamat jalan Bu Etty,...Rest in peace ya Bu,..aku percaya sewaktu ketika nanti aku pasti menyusulmu dan kita kembali bercerita-cerita lagi... Tentu begitu banyak yang telah terjadi pada kita setelah kita tidak pernah lagi bertemu...aku ingin bercerita lagi pada ibu...tentang kuliahku..tentang pacarku...tentang burung merpatiku yang mati dipukul sapu oleh familiku...dan masih banyak lagi bu...Selamat tinggal Bu Etty,...doaku untukmu selalu.

Tulisan ini sengaja dibuat jeda di sini sebagai apresiasi untuk Ibu Etty, wali kelasku ketika kelas dua Sekolah Dasar.





No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...