Thursday, March 27, 2014

Bapak dan Ibu Guru Yang Kukenang Selalu (Part I)

"Aku enggak mau sekolah".
"Cita-citaku kan jadi supir sepur tumbuk".
"Kalau mau jadi supir sepur tumbuk kan gak perlu sekolah".
Demikian rajukku pada Ibu ketika pertama kali masuk sekolah. Dengan sabar Ibuku tetap memakaikan seragamku yang pertama. Usiaku saat itu empat tahun, dan memang sudah saatnya masuk Kindegarten atau Taman Kanak Kanak. Tentu saja saat itu aku sama sekali tidak akan mengira bahwa karierku bersekolah akan memakan waktu yang sangat panjang. Hal itu terutama karena kuliahku had been occupied like a grinding halt.

Sepur tumbuk adalah istilah yang diajarkan Ibuku untuk menyebut sebuah alat berat yang digunakan untuk memadatkan jalan, terutama ketika mengaspal jalan. Mempunyai tiga buah silinder untuk bergerak sepanjang jalan, dengan silinder depan berukuran kurang lebih sebesar drum aspal. Aku tidak mengambil Mata Kuliah Pilihan Alat Berat atau Heavy Equipments ketika kuliah di Jurusan Teknik Mesin, sehingga belum tahu persis sampai sekarang apa nama atau istilah yang tepat untuk piranti pemadat jalan tersebut. Teman-teman sepermainanku ketika kecil menyebutnya slender. Apa mungkin istilah itu berasal dari kata silinder ya..? Tapi dalam tulisan ini aku malu menggunakan istilah slender itu...karena akan ketahuan bahwa aku ini sebenarnya enggak bisa Bahasa Inggris dan ndesit banget gitu. Lagian ada adjektiva Bahasa Inggris yang juga berbunyi slender yang artinya sekitar small, slim, thin, tiny atau seputaran-seputaran itu lah....aku kan gak pernah kuliah di English Literacy Department...jadi ya wajar dong kalau salah dalam hal itu. Wong dalam hal yang lain saja aku juga masih banyak salahnya kok....

Ibuku kemudian menjawab,
"Iya, bener, kalau mau jadi supir sepur tumbuk memang enggak perlu sekolah".
Setelah berkata seperti itu, Ibuku kemudian menggandengku berjalan menuju sekolahku yang pertama, dan mengantarkanku pada Bu Yati dan Bu Tutik, ibu guru TK-ku.

Aku ingat ketika berada di dalam kelas, Ibu Tutik dan Ibu Yati suka sekali menunjuk salah satu siswanya untuk bernyanyi di depan kelas dengan lagu-lagu anak-anak yang sudah mereka ajarkan kepada kami, para muridnya. Biasanya lagu Bintang Kecil, Kapal Api atau Pelangi. Biasanya ciptaan AT Machmud atau Ibu Sud. Berabe dong kalau dalam usia dan dijaman itu kami menyanyikan lagu Pelangi-nya Yuni Shara. Lha piye...?.Yuni Shara-nya juga masih TK kan waktu itu...? Sayangnya TK-nya Yuni Shara nggak sama dengan TK-ku.

"Ayo Vita, nyanyikan lagu 'Bintang Kecil' didepan kelas", begitu pinta Bu Tutik pada Vitariana Yohandoyo temanku. Saat ini Vita sudah menjadi dokter kecantikan yang berpraktek di Denpasar, Bali. Dengan malu-malu kemudian Vita bangkit berdiri dan melaksanakan perintah Bu Tutik. Selesai Vita menyanyi kemudian Bu Yati berkata,
"Aduh pinter sekali Vita,..ayo anak-anak tepuk tangan untuk Vita".
Seisi kelas kemudian bertepuk tangan dengan patuh untuk Vita yang setengah berlari kembali menuju bangkunya dengan pipi bersemu merah dadu. Betapa senangnya mendapat applause dari seisi kelas seperti Vita itu, begitu pikirku saat itu. 

Ketika seisi kelas sudah tenang kembali Ibu Yati kemudian bersuara,
"Ayo,..anak-anak nol kecil,..siapa yang berani bernyanyi didepan kelas seperti Vita?"
Kesempatan emas, pikirku, ini saatnya aku mendapatkan applause seperti Vitariana Yohandoyo, kalau perlu dengan standing ovation sekalian. Dengan gagah berani kuacungkan jari telunjukku tinggi-tinggi.

"Ya,..Mimit maju ke depan kelas", begitu perintah Bu Yati, ibu guruku itu.
Dengan langkah tegap dan dada sedikit dibusungkan kedepan seperti prajurit berangkat maju ke medan perang aku maju ke depan kelas seperti permintaan Bu Yati.

"Lagu apa Mit?", tanya Bu Yati kemudian,"Kapal Api, Bintang Kejora atau Pelangi?", tanyanya, "Lagu Bintang Kecil kan sudah dinyanyikan oleh Vita tadi", demikian lanjut Bu Yati menyebut beberapa judul lagu yang sudah diajarkannya padaku dan teman-temanku di kelas.

"Menggosok Gigi", seruku tanpa ragu. Kali ini aku pasti mendapat tepuk tangan yang lebih keras dari Vita, begitu pikirku. Lagu itu memang belum pernah diajarkan oleh ibu guru didepan kelas. Bahkan mungkin akulah satu-satunya yang hafal lagu itu. Bu Yati kemudian berpandangan dengan Bu Tutik, wajah keduanya tampak bertanya-tanya. Rupanya mereka belum mengenal lagu "Menggosok Gigi" itu. Pertanda bagus, pikirku, akan kubuat mereka dan seisi kelas terkagum-kagum padaku.

"Ya Mimit, nyanyikan", demikian akhirnya kata Ibu Yati, tentu saja tetap dengan wajah ragu-ragu dan sedikit khawatir.

Dengan penuh percaya diri dan suara lantang kemudian aku bernyanyi,

                                  "Dua kali sehari aku menggosok gigi,
                                   Dua kali sehari aku menyikat gigi,
                                   Gigi putih dan bersih,
                                   Gigi sehat dan kuat
                                   Karna slalu memakaaaaaiiii
                                   .......sikat gigi Manfuuuuul".

Demikian aku bernyanyi menirukan iklan sikat gigi Manful seperti yang kutonton di siaran niaga TVRI. Seisi kelas sekejap hening, tidak ada tepuk tangan yang meriah seperti ketika Vita selesai menyanyi, apalagi sebuah standing ovation yang membanggakan. Bu Yati berpandangan kembali dengan mitra mengajarnya, Bu Tutik, wajah mereka kaku menahan tawa. Aneh, pikirku, teman-temanku tidak diminta bertepuk tangan, demikian pula tidak ada pujian dari ibu guruku sebagai "anak pintar" seperti Vita.

"Duduk Mimit", cuma demikian kata Bu Yati padaku. Aku menjadi heran dengan kedua guruku itu, kemudian aku berfikir bahwa mungkin cara berfikir orang dewasa dan anak-anak itu berbeda. Tentunya aku kembali duduk ke bangkuku dengan masygul.

Ketika berada di Kindegarten itu aku termasuk siswa yang berprestasi. Ketika memperingati independence day tujuhbelas Agustus, sekolahku TK Laboratorium IKIP Malang mengadakan lomba yang diikuti oleh semua peserta didik dari ketiga kelas, TK-1, TK-2 dan TK-3. Aku ditempatkan di TK-1 oleh ibu guru. Dalam acara tujuhbelasan itu aku menjuarai Lomba Makan Kerupuk sebagai Juara Pertama. Mengalahkan semua siswa, baik kelas nol kecil maupun nol besar.

Kerupuk seharga duaratusan rupiah kalau diukur dengaqn uang saat ini, yang terbuat dari pati atau amylum itu diikat dengan seutas benang oleh ibu guru dan kami berlomba memakannya. Siapa yang kerupuknya paling cepat habis adalah sang pemenang. Aku ingat ketika itu aku sedang memakan kerupuk dengan teman sebelahku,..entah itu Meddie atau mungkin si Vita yang tadi kuceritakan. Meddie sekarang adalah alumni ITB dan kudengar bekerja pada sebuah perusahaan swasta asing yang sangat prestisius di Jakarta. Sama sepertiku, Meddie kuliah di Departemen Teknik Mesin, demikian istilahnya di ITB saat itu, sedangkan aku kuliah di Jurusan Teknik Mesin UGM. Saat ini aku beternak ayam kampung di tanah kelahiranku di Blitar ini.

Ketika sedang asyik-asyiknya bergurau dengan Meddie itu tiba-tiba Ibu Maryam Yusuf, ibu guru Kelas TK-2 melewati barisanku dan terkejut melihat potongan kerupukku kok tinggal sedikit, berbeda dengan murid-muridnya yang lain. Spontan Ibu Maryam Yusuf berteriak menyemangatiku.

"Ayo Miiit,..cepat habiskan kerupuknya, kamu bisa juara satu".
Aku baru menyadari apa yang terjadi dan dengan disoraki serta ditepuktangani oleh Bu Maryam Yusuf, ibu guru yang tidak mengajarku di depan kelas karena beliau mengajar di TK-2 kuhabiskan kerupukku dengan cepat. Dalam lomba itu semua peserta diikat tangannya menggunakan sapu tangan yang wajib dibawa oleh siswa TK setiap harinya. Ibu guru ingin membiasakan hidup bersih bagi para siswanya. Dan jaman itu kertas tissue belum lazim seperti saat ini.

"Horeee...Mimit juara satu", demikian teriak Bu Maryam. Saat itulah aku merasa benar-benar dihargai sebagai manusia,..bukannya subhuman yang selalu jadi anak bawang dimana-mana. Aku ingat sebagai Juara Pertama Lomba Makan Kerupuk itu aku diberi hadiah oleh para ibu guru sebuah kotak pinsil plastik yang masih kupakai sampai kelas satu Sekolah Dasar.

Selesai pendidikan taman kanak-kanakku kemudian aku melanjutkan di SD PPSP IKIP Malang. Lulusan TK sekolah kami sudah bisa membaca dengan lancar berkat buku pelajaran membaca "Iin dan Aan" yang ditulis oleh Ibu Prof. Dr. Sapartinah Pakasi, seorang pakar pendidikan dari kota Malang yang membidani cikal bakal sekolah kami itu. Kudengar Ibu Pakasi, demikian biasa beliau disapa, telah mempelajari Ilmu Pendidikan sampai S-3 atau Doktor di Amerika Serikat. Waktu itu belum lazim memang anak baru lulus TK sudah lancar membaca dan menulis huruf latin. Sekarang sekolah itu dinegerikan dan menjadi SD Percobaan II. Dulu SD-ku bernaung dibawah IKIP Malang dan bukannya Dinas Pendidikan Kota Malang. IKIP Malang kemudian bermetamorfosis menjadi Universitas Negeri Malang dengan abbrevasi UM.

Pada sekitar tahun 2011 kemarin, aku sangat terkejut dengan prestasi UM menurut Webometric Analysis. Aku tidak hafal apa saja parameter yang digunakan oleh Webometric untuk menyusun ranker Perguruan Tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tapi menurut Webometric Analysis pada tahun itu UM menempati ranker ke-enam di seluruh Indonesia. Seingatku saat itu Peringkat-1 adalah ITB, Peringkat-2 diisi oleh UI, Peringkat-3 diisi oleh Universitasku di Yogya, UGM, Peringkat-4 diisi oleh Universitas Gunadarma Jakarta, Peringkat-5 diisi oleh IPB Bogor dan Peringkat-6 diisi oleh UM Malang...sangat membanggakan tentunya bagi segenap civitas academica UM. Sebagai perbandingan, Unibraw yang juga ada di Malang menempati ranker ke-15 masih menurut sistem Webometrik tahun itu, enggak tahu kalau sekarang. Sebagai perbandingan, Unsri yang ada di luar Pulau Jawa mendapatkan Peringkat-14. Setingkat lebih baik dari Unibraw. Bravo Universitas Negeri Malang, aku senang dulu sekolah TK, Dasar dan Menengah Pertamaku bernaung dibawah institusi itu.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...