Monday, March 31, 2014

Totalitas Hati Dan Fikiran Serta Fenomena "Flow"



" Pelukis harus menyukai pekerjaan melukis itu sendiri diatas segalagalanya. Seandainya seniman di depan kanvas itu mulai bertanya-tanya berapa harga lukisannya bila terjual, atau apa komentar kritikus tentang lukisan itu, ia tidak akan mampu mengejar tujuannya sebenarnya. Prestasi kreatif bergantung pada totalitas hati dan fikiran".

Demikianlah kesimpulan yang diambil oleh Mihalyi Csikzentmihalyi,seorang researcher dalam bidang Ilmu Psikologi dari Amerika Serikat. Menilik namanya, mungkin Csikzentmihalyi adalah seorang immigrant atau anak seorang immigrant dari Eropa Timur. Barangkali leluhurnya berasal dari Republik Ceko. Atau mungkin juga berasal dari Slovenia-Slovakia. Csikzentmihalyi sering dikutip oleh Daniel Goleman dalam bukunya yang terbit pada tahun sembilanpuluh serta sangat populer pada dekade sembilanpuluhan itu. Buku itu berjudul Emotional Inteligence, dan telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Gramedia, Jakarta.

Fenomena "flow' adalah kumpulan karakteristik tertentu yang dialami oleh seseorang ketika sedang bekerja atau melakukan suatu aktifitas yang digemarinya. Fenomena ini sangat khas dan karakteristiknya bisa dikatakan sama atau hampir sama untuk semua kasus yang diamati oleh Csikzentmihalyi. Jangan-jangan secara tidak sadar kita juga pernah mengalami fenomena yang diungkap oleh Mihalyi Csikzentmihalyi ini.

Kondisi flow dialami oleh seseorang ketika dia melakukan suatu tugas atau pekerjaan dengan tingkat kesulitan sedikit diatas tingkat kesulitan yang biasa dihadapinya. Ketika itu perhatiannya begitu terkonsentrasi pada apa yang dilakukannya sedemikian sehingga dia seolah-olah melupakan dan tidak memperhatikan keadaan sekeliling, bahkan dirinya sendiri. Flow ini sangat penting dalam menentukan prestasi atau kinerja seseorang dalam bekerja. Bisa dikatakan bahwa semakin sering seseorang mengalami fenomena flow ketika bekerja, berarti semakin tinggi pula prestasinya. Sayangnya, mungkin saya salah, Daniel Goleman tidak mengulas fenomena flow ini dalam bukunya yang terbit kemudian, Emotional Inteligence for Star Performer. Mungkin karena Goleman mempunyai alasan sendiri, tapi menurut saya fenomena flow itu sangat relevan apabila diungkap disitu. Barangkali karena naskah itu dimaksudkan untuk menjadi semacam buku saku yang handy untuk para pekerja, dan menjadi semacam guideline bagi mereka sehingga menjadi para star performer, dan kajian mengenai flow phenomena itu terlalu teoritis alih-alih praktis.

Seorang dokter bedah otak bercerita mengenai fenomena flow yang pernah dialaminya; Perawat kepala membantu saya mengenakan pakaian bedah dan masker, kemudian kami bersama-sama memasuki ruang bedah. Pasien kali itu adalah seorang perempuan berusia enampuluhtahun. Didalam ruang bedah sudah menunggu seorang dokter anestesi dan beberapa perawat yang lainnya. Seorang perawat kemudian memutar musik kesukaan saya dan kami kemudian bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Saya demikian asyik oleh pekerjaan itu seolah-olah saya sudah lupa antara ruang dan waktu. Di dunia ini seolah-olah hanya ada saya dan apa yang saya kerjaakn itu. Akhirnya operasi selesai dan dinyatakan berhasil. Saya sekejap memandangi hasil pekerjaan saya dan ketika perawat membantu membuka masker yang saya kenakan, saya begitu terkejut karena plafon atap dibelakang saya telah pecah berantakan. Puingnya mengotori lantai ruang bedah. Saya begitu terfokus dan asyik dengan pekerjaan saya sehingga tidak menyadarinya ketika melakukan operasi. Rupanya kucing tetangga sedang kasmaran dan menemukan tempat kawin yang tepat diatas plafon ruang bedah.

Cerita ini dan berbagai kisah lain yang serupa membuat Csikzentmihalyi benar-benar yakin bahwa fenomena flow benar-benar ada dan seringkali dijumpai dalam kehidupan manusia sehari-hari. Hal itu sangat berpengaruh dalam kesuksesan seseorang dalam bekerja. Demikian pula, hal ini juga mempengaruhi endurance, atau daya tahan seseorang ketika bekerja serta menghadapi masalah.

Secara fisiologis dan biochemistry sederhana, dapat dijelaskan bahwa ketika seseorang bekerja dan mengalami flow, maka otak akan mensekresikan epinephrine dan norepinephrine pada seluruh susunan central nervous system. Dan yang lebih penting lagi adalah disekresikannya katekolamin. Hormon itu berfungsi sebagai apa yang disebut sebagai morphine-like substance yang membuat tubuh merasa nyaman. Sebagai perbandingan, ketika kita mengalami distress alih-alih eustress, maka otak kita mengeluarkan hormon kortisol dalam seluruh central nervous system kita. Dalam pembahasan mengenai stress, dibedakan antara eustress dan distress. Eustress adalah stress terukur yang berpengaruh positif pada kita sedangkan distress adalah ketegangan yang berakibat negatif pada diri kita, bahkan mungkin dapat pula menjadi patologis.

Didalam bisnis atau bekerja, selain totalitas hati dan fikiran, perlu juga kita pertimbangkan kesesuaiannya dengan hati nurani. Bukan saja Goleman yang menuliskan hal itu, tetapi Stephen R. Covey juga mengingatkan hal itu dalam bukunya yang meledak, juga di era sembilanpuluhan, Seven Habits for Highly Effective Person. Nasehat itu juga diulangnya dalam buku First Thing First. Dahulukan yang Utama. Kita tidak akan pernah berhasil bila kita mencuri, memanipulasi atau memakan hak-hak orang lain. Apalagi korupsi.

Dalam dunia bisnis, dengan sangat lugas Douglas Lennick pernah menulis; Sebagian orang mempunyai kesan yang keliru bahwa keberhasilan Anda dalam bisnis adalah karena anda menipu orang atau menekan mereka agar membeli sesuatu yang tidak mereka perlukan. Dalam jangka pendek caraq itu bisa berhasil, akan tetapi dalam jangka panjang Anda yang akan rugi. Anda akan jauh lebih sukses jika anda tetap selaras dengan hati nurani Anda.

Saya sendiri sekarang ini sedang merintis bisnis sendiri sebagai peternak ayam kampung di tanah kelahiran saya sendiri, Kabupaten Blitar. Sebagai seorang pemula atau new entrance dengan modal cekak, saya sering berfikir dan khawatir tentang pakan ternak saya itu. Betapa tidak, harga pakan sedang melonjak dan harga ayam sedang anjlok turun. Sudah beberapa kali ini seekor demi seekor ayam kesayangan saya terjual untuk menutup biaya pakan. Terkadang muncul pula kesedihan karena dengan sangat terpaksa mutu gizi untuk ayam-ayam peliharaan saya itu diturunkan. Apa boleh buat, kami semua, saya dan ayam-ayam peliharaan saya mesti tetap survive. Apapun yang terjadi. Saya dapat kembali blogging karena alhamdulillah diberi sangu oleh nenek saya di Kediri. Blog ini juga mesti survive,...apalagi sudah diapprove oleh google adSense. Sayang kalau sampai ditutup.

Maka nasehat dari Mihalyi Csikzentmihalyi dan Douglas Lennick itu terasa begitu relevan untuk saya. Saya mesti tetap berkonsentrasi pada usaha ternak inu. Sekhawatir apapun mesti bisa saya eliminasi. Apalagi saya juga merasa sangat terbantu dan terhibur oleh ulah ayam-ayam saya itu. Jika saya duduk berjongkok di kebonan untuk sekedar mengamati mereka, adakah yang sedang sakit atau adakah sesuatu yang tidak biasa, maka mereka berlarian dan berkerumun disekitar saya. Hal itu membuat saya merasa bahagia dan membangkitkan harapan akan kesuksesan. Mungkin saat itulah saya mengalami flow seperti yang dimaksudkan oleh Csikzentmihalyi.


Friday, March 28, 2014

Bapak dan Ibu Guru Yang Kukenang Selalu (Part II)



Guru Sekolah Dasar yang pertama kali kukenal adalah Bu Harsih, kalau tidak salah nama lengkapnya Ibu Suharsih Subianto. Beliau adalah ibu guru wali kelas 1-B, kelas tempatku berada. Sebagai wali kelas, Bu Harsih mengajar semua mata kuliah,...eh keliru,..maksudku mata pelajaran, kecuali mata pelajaran Agama dan mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan. Yang mengajar mata pelajaran Agama Islam saat itu adalah Ibu Dewi Setomi, Bu Dewi orangnya kecil mungil serta cantik jelita, beliau suka mendongeng di depan kelas. Dongengan Bu Dewi yang masih kuingat dengan baik adalah Kisah Qabil dan Habil, kalau menurut versi Bu Dewi mereka ini adalah putra-putri Kakek Adam dan Nenek Hawa. Siti Hawa ini dalam versi Inggris dikenal sebagai Eve.

Dalam dongeng Bu Dewi Qabil itu laki-laki sedangkan Habil itu perempuan. Ketika menjadi siswa kelas satu Sekolah dasar itu aku sedih sekali menjadi seorang laki-laki seperti Qabil yang jahat. Aku ingin menjadi seorang perempuan yang baik hati seperti Habil. Ketika bercerita di depan kelas, suasana kelas menjadi sangat hening, seluruh siswa mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian dengan sikap duduk sempurna seperti yang diajarkan oleh para ibu guru TK kami. Bu Dewi memang sangat piawai bercerita. Ketika usiaku beranjak dewasa aku baru tahu bahwa Habil dan Qabil itu ternyata dua-duanya laki-laki dan mereka berebut istri. Tetapi cerita Bu Dewi lebih membekas di hatiku.

Akhirnya aku tidak lagi kecewa menjadi laki-laki karena Habil ternyata juga seorang laki-laki. Apalagi aku selalu kalah bila berebut pacar dengan teman-temanku hingga masa kuliah dan pasca kuliah. Akhirnya sampai sekarang aku belum juga beristri.....keciaaaan deh aku.....

Ibu Dewi Setomi mengajari kami Surah Al Fatihah dan surah-surah pendek lainnya untuk kami hafalkan di depan beliau di depan kelas. Kemudian yang saya ingat, Bu Dewi menuliskan Tahiyyat Awwal dan Tahiyyat Akhir pada sepotong kertas kwarton buffalo yang bagus. Tahiyyat Awwal dengan spidol merah atau hijau, sedangkan Tahiyyat Akhir beliau tulis menggunakan spidol merah atau biru. Pokoknya tidak sewarna, begitulah. Tulisan Bu Dewi sangat bagus, kami dapat membacanya dengan jelas. Selain itu beliau juga membacakannya untuk kami dengarkan dan kami tirukan bersama-sama di dalam kelas bersama Bu Dewi, guru agama kami nan cantik jelita itu.

Masing-masing anak mendapatkan sebuah karton dengan tulisan tangan Ibu Dewi sendiri. Tentu saja beliau menggunakan aksara latin tegak. Boro-boro kami bisa membaca aksara arab waktu itu. Buku 'Iqro mulai jilid 1 hingga jilid 6 belum dikarang oleh Bapak KH. As'ad Humam di Yogyakarta sana. Jadi saat itu belum sempat kami pelajari.

Kartonku berwarna hijau, sedangkan karton milik teman sebangkuku Utje, Moeliarta Roekiandari, berwarna merah jambu. Bu Dewi meminta kami melaminating karton milik kami sendiri. Laminating kartonku lurus sederhana saja sedangkan laminating pada karton si Utje menggunakan motif-motif lengkung yang sangat indah. Aku bersahabat sangat dekat dengan Utje sampai kelas empat Sekolah Dasar. Biarpun misalnya kami saat itu tidak satu kelas. Bila waktu istirahat tiba kadang-kadang aku menemani Utje main ayunan. Utje duduk di ayunan dan aku berdiri di samping tiang penyangga ayunan itu sambil mendengarkan si Utje alias Moeliarta Roekiandari ini berceloteh. Utje memang talkative banget. Aku dapat membaca seluruh serial komik Tintin, wartawan perkasa dari Prancis itu dari buku-buku Utje. Dia membawakannya untukku di sekolah untuk kubaca namun melarangku untuk membawanya pulang dan membacanya di rumah.

Bu Harsih adalah pemain ping-pong yang sangat hebat. Sepertinya beliau pernah mewakili kota Malang untuk suatu perlombaan tingkat daerah. Itu seingatku lho....bisa saja aku keliru. Aku cuma mengandalkan ingatan.

Aku ingat betul catatan wali kelas di raport-ku ketika catur wulan pertama yang dibuat oleh Bu Harsih. Begini bunyinya,... Masih suka angin-anginan, tetapi rasa percaya dirinya sangat membantu, Juara 3... Sampai sekarang aku masih belum tahu benar apa yang dimaksudkan oleh ibu guruku itu dengan angin-anginan. Seingatku aku tidak pernah membuka baju dan berangin-angin di halaman sekolah ketika pelajaran sedang berlangsung. Aku juga akhirnya sadar, dari catatan Bu Harsih itu, bahwa ternyata self confident-ku cukup bagus ketika masih kanak-kanak. Sangat berbeda ketika aku beranjak dewasa, rasa percaya diriku melorot jauh, apalagi ketika kuliah di UGM. Aku seringkali berfikir, tidak salahkah UGM menerimaku sebagai mahasiswanya? Padahal aku juga tahu bahwa passing grade untuk jurusanku pada tahun itu adalah nomor dua tertinggi di UGM.

Passing grade adalah batas nilai  minimal dari score UMPTN, atau sekarang menjadi SMPTN, yang dikumpulkan oleh calon mahasiswa peserta UMPTN untuk memasuki sebuah Program Studi atau Jurusan di Perguruan Tinggi. Aku memang masuk UGM melalui jalur itu. Aku tahu, rasa percaya diri yang jatuh itu mungkin disebabkan karena sebelumnya aku dinyatakan dropped-out dari Universitas Brawijaya Malang. Begitu berpengaruhnya hal itu pada diriku sampai terimplikasi dalam konsep diri dan cara bergaul yang cenderung tertutup serta menarik diri (withdrawal). Alhamdulillah, aku tidak dinyatakan dropped-out oleh UGM, memang itulah yang kutakutkan dan seolah-olah menghantuiku siang malam, dan aku dinyatakan lulus dari Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada setelah sembilan tahun kuliah.

Ketika wisuda bulan Februari 2003 aku menangis terisak-isak ketika aku bersama wisudawan yang lain menyanyikan bersama-sama Hymne Alumni Universitas Gadjah Mada dengan dipandu oleh adik-adik mahasiswa dan mahasiswi Paduan Suara Universitas Gadjah Mada.
   
                   Bagi kami almamater kuberjanji setia
                   Kupenuhi darma bhakti tuk ibu pertiwi
                   Didalam kebudayaanmu, jiwa seluruh bangsaku
                   Kujunjung kejayaanmu, kejayaan nusantara.

Ketika itu teman-teman wisudawan didekatku pada memperhatikanku dengan raut muka keheranan. Hanya aku yang bisa merasakan dan memahami kenapa aku menangis terisak-isak ketika itu. Sebuah perjalanan dan perjuangan yang panjang selama hampir satu dasawarsa untuk sekedar lulus kuliah. Dan sebelumnya teman-temanku di Universitas Brawijaya menghindar dariku, jangankan kuajak bicara, baru tampak aku saja teman-temanku sudah menjauh. Bahkan ada yang sampai ekstrim berlari. Kecuali satu atau dua orang teman dekat, merekapun tidak dapat membantuku lebih jauh untuk menyelamatkan kuliahku di Universitas Brawijaya Malang itu. Tragis memang.

Kelas dua sekolah Dasar, wali kelasku adalah Ibu Etty. Bu Etty orangnya sangat tegas,..bahkan mungkin cenderung keras. Beliau sangat disiplin, mungkin hampir seperti disiplin militer. Jika kami libur sepuluh hari, maka beliau juga memberi kami sekelas sepuluh buah Pekerjaan Rumah. Buku homework itu dibedakan dengan buku ketika menerima pelajaran di kelas. Tugas atau soal, terutama pelajaran menulis halus, beliau tulis sendiri di buku kami dengan tinta merah. Entah kenapa ketika menginjak kelas dua itu aku selalu merasa dianakemaskan oleh Bu Etty. Ya, benar, ketika itu aku merasa benar-benar diperhatikan oleh beliau.

Pernah dalam sebuah kesempatan di depan kelas beliau menyemangati anak-anak muridnya untuk rajin belajar dengan berkata seperti ini. "Kalau si Mimit itu pintar bukan berarti otaknya lebih, jadi mbendol seperti ini", beliau meletakkan kepalan tangannya di dahi beliau sehingga nampak seperti blangkon gaya Yogyakarta yang dipakai terbalik,"Tapi karena Mimit rajin belajar,..begitu ya anak-anak".

Aku mempunyai pengalaman yang menarik bersama ibu guruku yang kucintai ini. Ketika itu pelajaran terakhir adalah Mathematics. Ketika bel pertanda saat pulang berdentang, beliau menahan kami terlebih dahulu. Beliau akan menguji hafalan kami terhadap tabel perkalian yang beliau ajarkan dan beliau minta untuk kami hafalkan. Mulailah beliau menguji hafalan perkalian kami. Sistemnya adu cepat. Siapa yang bisa menjawab boleh tunjuk jari dan siapa yang lebih cepat tunjuk jari akan diminta oleh Ibu Etty untuk menjawab, jika jawabannya benar maka si siswa diperkenankan pulang. Jika jawabannya salah maka yang lain boleh tunjuk jari lagi untuk ditunjuk Bu Etty menjawab. Anak yang menjawab salah tidak diperkenankan untuk mengikuti acara mencongak, demikian istilahnya, untu sebuah pertanyaan berikutnya.

Berdebar-debar aku dan hampir menangis. Satu-satunya kolom tabel perkalian yang kuingat adalah tujuh kali delapan samadengan limapuluhenam. Yang lainnya belum hafal sama sekali. Terbayang sudah aku berdiri di samping meja Bu Guru dan dimarahi karena malas belajar...nanti siang jika semua siswa sudah pulang. Sebuah pertanyaan mencongak berlalu dan temanku yang pertama pulang itu bersorak berlari keluar kelas sambil menyambar tas sekolahnya. Dua pertanyaan berlalu dengan cerita serupa... Aku sudah hampir menangis ketika Bu Etty memberikan pertanyaan mencongak yang ketiga.

"Tujuh kali delapan".
Aku hampir tidak percaya pada apa yang kudengar dan mungkin karena kekuatan bawah sadar yang bekerja tanpa kusadari, telunjukku sudah naik diudara tinggi-tinggi. Aku melihat ke belakang dan ternyata sudah beberapa anak menunjukkan jarinya seperti aku.

"Mimit duluan, berapa Mit?".
Dengan suara serak karena ketakutan dan excited aku menjawab,"Limapuluhenam".
"Kamu boleh pulang Mit", demikian seru ibu guruku yang kusayangi itu.

Aku bersorak kegirangan dan segera menyambar tas sekolahku. Setengah berlari aku pulang ke rumah. Ternyata aku sama saja dengan yang lainnya. Hatiku gembira tiada terkira, dan yang lebih penting lagi adalah selamatlah reputasiku sebagai anak pintar didepan Bu Etty. Ketika dipegang oleh Bu Etty itu seingatku aku menduduki Juara 2 untuk dua catur wulan dan Juara 1 untuk satu catur wulan.

Ketika sudah meninggalkan kelas Bu Etty karena naik ke kelas-kelas berikutnya seingatku Bu Etty masih sering menyapaku dan mengajakku berbincang. Memang, bukankah kata Goethe "Peradaban dimulai dari perbincangan". Entah tentang apa perbincanganku bersama Bu Etty, aku sudah lupa. Seringkali kami bertemu di Ruang Perpustakaan. Sejak kelas dua dengan wali kelas Bu Etty itu aku selalu menjadi Juara I untuk kegiatan membaca di Perpustakaan. Dan sampai lulus SMP atau kelas delapan di PPSP IKIP Malang itu tidak ada seorangpun yang bisa menggeser kedudukanku sebagai Juara I (Perpustakaan). Memang begitu tulisannya di Piagam Penghargaan. Memang aku hanya dua kali atau dua catur wulan saja pernah menjadi Juara I untuk juara kelas. Sekali ketika dipegang Bu Etty dan sekali dipegang Pak Kanang ketika kelas empat. Tapi kalau Juara I (Perpustakaan) memang selalu aku dari kelas dua sampai lulus SMP di kelas delapan, karena sekolah kami menerapkan SD-SMP delapan tahun.

Sekarang Bu Etty sudah meninggalkan kami untuk selamalamanya. Aku bahkan belum tahu sebenarnya agama beliau itu apa. Tapi apakah itu penting bagiku?. Selamat jalan Bu Etty,...Rest in peace ya Bu,..aku percaya sewaktu ketika nanti aku pasti menyusulmu dan kita kembali bercerita-cerita lagi... Tentu begitu banyak yang telah terjadi pada kita setelah kita tidak pernah lagi bertemu...aku ingin bercerita lagi pada ibu...tentang kuliahku..tentang pacarku...tentang burung merpatiku yang mati dipukul sapu oleh familiku...dan masih banyak lagi bu...Selamat tinggal Bu Etty,...doaku untukmu selalu.

Tulisan ini sengaja dibuat jeda di sini sebagai apresiasi untuk Ibu Etty, wali kelasku ketika kelas dua Sekolah Dasar.





Thursday, March 27, 2014

Bapak dan Ibu Guru Yang Kukenang Selalu (Part I)

"Aku enggak mau sekolah".
"Cita-citaku kan jadi supir sepur tumbuk".
"Kalau mau jadi supir sepur tumbuk kan gak perlu sekolah".
Demikian rajukku pada Ibu ketika pertama kali masuk sekolah. Dengan sabar Ibuku tetap memakaikan seragamku yang pertama. Usiaku saat itu empat tahun, dan memang sudah saatnya masuk Kindegarten atau Taman Kanak Kanak. Tentu saja saat itu aku sama sekali tidak akan mengira bahwa karierku bersekolah akan memakan waktu yang sangat panjang. Hal itu terutama karena kuliahku had been occupied like a grinding halt.

Sepur tumbuk adalah istilah yang diajarkan Ibuku untuk menyebut sebuah alat berat yang digunakan untuk memadatkan jalan, terutama ketika mengaspal jalan. Mempunyai tiga buah silinder untuk bergerak sepanjang jalan, dengan silinder depan berukuran kurang lebih sebesar drum aspal. Aku tidak mengambil Mata Kuliah Pilihan Alat Berat atau Heavy Equipments ketika kuliah di Jurusan Teknik Mesin, sehingga belum tahu persis sampai sekarang apa nama atau istilah yang tepat untuk piranti pemadat jalan tersebut. Teman-teman sepermainanku ketika kecil menyebutnya slender. Apa mungkin istilah itu berasal dari kata silinder ya..? Tapi dalam tulisan ini aku malu menggunakan istilah slender itu...karena akan ketahuan bahwa aku ini sebenarnya enggak bisa Bahasa Inggris dan ndesit banget gitu. Lagian ada adjektiva Bahasa Inggris yang juga berbunyi slender yang artinya sekitar small, slim, thin, tiny atau seputaran-seputaran itu lah....aku kan gak pernah kuliah di English Literacy Department...jadi ya wajar dong kalau salah dalam hal itu. Wong dalam hal yang lain saja aku juga masih banyak salahnya kok....

Ibuku kemudian menjawab,
"Iya, bener, kalau mau jadi supir sepur tumbuk memang enggak perlu sekolah".
Setelah berkata seperti itu, Ibuku kemudian menggandengku berjalan menuju sekolahku yang pertama, dan mengantarkanku pada Bu Yati dan Bu Tutik, ibu guru TK-ku.

Aku ingat ketika berada di dalam kelas, Ibu Tutik dan Ibu Yati suka sekali menunjuk salah satu siswanya untuk bernyanyi di depan kelas dengan lagu-lagu anak-anak yang sudah mereka ajarkan kepada kami, para muridnya. Biasanya lagu Bintang Kecil, Kapal Api atau Pelangi. Biasanya ciptaan AT Machmud atau Ibu Sud. Berabe dong kalau dalam usia dan dijaman itu kami menyanyikan lagu Pelangi-nya Yuni Shara. Lha piye...?.Yuni Shara-nya juga masih TK kan waktu itu...? Sayangnya TK-nya Yuni Shara nggak sama dengan TK-ku.

"Ayo Vita, nyanyikan lagu 'Bintang Kecil' didepan kelas", begitu pinta Bu Tutik pada Vitariana Yohandoyo temanku. Saat ini Vita sudah menjadi dokter kecantikan yang berpraktek di Denpasar, Bali. Dengan malu-malu kemudian Vita bangkit berdiri dan melaksanakan perintah Bu Tutik. Selesai Vita menyanyi kemudian Bu Yati berkata,
"Aduh pinter sekali Vita,..ayo anak-anak tepuk tangan untuk Vita".
Seisi kelas kemudian bertepuk tangan dengan patuh untuk Vita yang setengah berlari kembali menuju bangkunya dengan pipi bersemu merah dadu. Betapa senangnya mendapat applause dari seisi kelas seperti Vita itu, begitu pikirku saat itu. 

Ketika seisi kelas sudah tenang kembali Ibu Yati kemudian bersuara,
"Ayo,..anak-anak nol kecil,..siapa yang berani bernyanyi didepan kelas seperti Vita?"
Kesempatan emas, pikirku, ini saatnya aku mendapatkan applause seperti Vitariana Yohandoyo, kalau perlu dengan standing ovation sekalian. Dengan gagah berani kuacungkan jari telunjukku tinggi-tinggi.

"Ya,..Mimit maju ke depan kelas", begitu perintah Bu Yati, ibu guruku itu.
Dengan langkah tegap dan dada sedikit dibusungkan kedepan seperti prajurit berangkat maju ke medan perang aku maju ke depan kelas seperti permintaan Bu Yati.

"Lagu apa Mit?", tanya Bu Yati kemudian,"Kapal Api, Bintang Kejora atau Pelangi?", tanyanya, "Lagu Bintang Kecil kan sudah dinyanyikan oleh Vita tadi", demikian lanjut Bu Yati menyebut beberapa judul lagu yang sudah diajarkannya padaku dan teman-temanku di kelas.

"Menggosok Gigi", seruku tanpa ragu. Kali ini aku pasti mendapat tepuk tangan yang lebih keras dari Vita, begitu pikirku. Lagu itu memang belum pernah diajarkan oleh ibu guru didepan kelas. Bahkan mungkin akulah satu-satunya yang hafal lagu itu. Bu Yati kemudian berpandangan dengan Bu Tutik, wajah keduanya tampak bertanya-tanya. Rupanya mereka belum mengenal lagu "Menggosok Gigi" itu. Pertanda bagus, pikirku, akan kubuat mereka dan seisi kelas terkagum-kagum padaku.

"Ya Mimit, nyanyikan", demikian akhirnya kata Ibu Yati, tentu saja tetap dengan wajah ragu-ragu dan sedikit khawatir.

Dengan penuh percaya diri dan suara lantang kemudian aku bernyanyi,

                                  "Dua kali sehari aku menggosok gigi,
                                   Dua kali sehari aku menyikat gigi,
                                   Gigi putih dan bersih,
                                   Gigi sehat dan kuat
                                   Karna slalu memakaaaaaiiii
                                   .......sikat gigi Manfuuuuul".

Demikian aku bernyanyi menirukan iklan sikat gigi Manful seperti yang kutonton di siaran niaga TVRI. Seisi kelas sekejap hening, tidak ada tepuk tangan yang meriah seperti ketika Vita selesai menyanyi, apalagi sebuah standing ovation yang membanggakan. Bu Yati berpandangan kembali dengan mitra mengajarnya, Bu Tutik, wajah mereka kaku menahan tawa. Aneh, pikirku, teman-temanku tidak diminta bertepuk tangan, demikian pula tidak ada pujian dari ibu guruku sebagai "anak pintar" seperti Vita.

"Duduk Mimit", cuma demikian kata Bu Yati padaku. Aku menjadi heran dengan kedua guruku itu, kemudian aku berfikir bahwa mungkin cara berfikir orang dewasa dan anak-anak itu berbeda. Tentunya aku kembali duduk ke bangkuku dengan masygul.

Ketika berada di Kindegarten itu aku termasuk siswa yang berprestasi. Ketika memperingati independence day tujuhbelas Agustus, sekolahku TK Laboratorium IKIP Malang mengadakan lomba yang diikuti oleh semua peserta didik dari ketiga kelas, TK-1, TK-2 dan TK-3. Aku ditempatkan di TK-1 oleh ibu guru. Dalam acara tujuhbelasan itu aku menjuarai Lomba Makan Kerupuk sebagai Juara Pertama. Mengalahkan semua siswa, baik kelas nol kecil maupun nol besar.

Kerupuk seharga duaratusan rupiah kalau diukur dengaqn uang saat ini, yang terbuat dari pati atau amylum itu diikat dengan seutas benang oleh ibu guru dan kami berlomba memakannya. Siapa yang kerupuknya paling cepat habis adalah sang pemenang. Aku ingat ketika itu aku sedang memakan kerupuk dengan teman sebelahku,..entah itu Meddie atau mungkin si Vita yang tadi kuceritakan. Meddie sekarang adalah alumni ITB dan kudengar bekerja pada sebuah perusahaan swasta asing yang sangat prestisius di Jakarta. Sama sepertiku, Meddie kuliah di Departemen Teknik Mesin, demikian istilahnya di ITB saat itu, sedangkan aku kuliah di Jurusan Teknik Mesin UGM. Saat ini aku beternak ayam kampung di tanah kelahiranku di Blitar ini.

Ketika sedang asyik-asyiknya bergurau dengan Meddie itu tiba-tiba Ibu Maryam Yusuf, ibu guru Kelas TK-2 melewati barisanku dan terkejut melihat potongan kerupukku kok tinggal sedikit, berbeda dengan murid-muridnya yang lain. Spontan Ibu Maryam Yusuf berteriak menyemangatiku.

"Ayo Miiit,..cepat habiskan kerupuknya, kamu bisa juara satu".
Aku baru menyadari apa yang terjadi dan dengan disoraki serta ditepuktangani oleh Bu Maryam Yusuf, ibu guru yang tidak mengajarku di depan kelas karena beliau mengajar di TK-2 kuhabiskan kerupukku dengan cepat. Dalam lomba itu semua peserta diikat tangannya menggunakan sapu tangan yang wajib dibawa oleh siswa TK setiap harinya. Ibu guru ingin membiasakan hidup bersih bagi para siswanya. Dan jaman itu kertas tissue belum lazim seperti saat ini.

"Horeee...Mimit juara satu", demikian teriak Bu Maryam. Saat itulah aku merasa benar-benar dihargai sebagai manusia,..bukannya subhuman yang selalu jadi anak bawang dimana-mana. Aku ingat sebagai Juara Pertama Lomba Makan Kerupuk itu aku diberi hadiah oleh para ibu guru sebuah kotak pinsil plastik yang masih kupakai sampai kelas satu Sekolah Dasar.

Selesai pendidikan taman kanak-kanakku kemudian aku melanjutkan di SD PPSP IKIP Malang. Lulusan TK sekolah kami sudah bisa membaca dengan lancar berkat buku pelajaran membaca "Iin dan Aan" yang ditulis oleh Ibu Prof. Dr. Sapartinah Pakasi, seorang pakar pendidikan dari kota Malang yang membidani cikal bakal sekolah kami itu. Kudengar Ibu Pakasi, demikian biasa beliau disapa, telah mempelajari Ilmu Pendidikan sampai S-3 atau Doktor di Amerika Serikat. Waktu itu belum lazim memang anak baru lulus TK sudah lancar membaca dan menulis huruf latin. Sekarang sekolah itu dinegerikan dan menjadi SD Percobaan II. Dulu SD-ku bernaung dibawah IKIP Malang dan bukannya Dinas Pendidikan Kota Malang. IKIP Malang kemudian bermetamorfosis menjadi Universitas Negeri Malang dengan abbrevasi UM.

Pada sekitar tahun 2011 kemarin, aku sangat terkejut dengan prestasi UM menurut Webometric Analysis. Aku tidak hafal apa saja parameter yang digunakan oleh Webometric untuk menyusun ranker Perguruan Tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tapi menurut Webometric Analysis pada tahun itu UM menempati ranker ke-enam di seluruh Indonesia. Seingatku saat itu Peringkat-1 adalah ITB, Peringkat-2 diisi oleh UI, Peringkat-3 diisi oleh Universitasku di Yogya, UGM, Peringkat-4 diisi oleh Universitas Gunadarma Jakarta, Peringkat-5 diisi oleh IPB Bogor dan Peringkat-6 diisi oleh UM Malang...sangat membanggakan tentunya bagi segenap civitas academica UM. Sebagai perbandingan, Unibraw yang juga ada di Malang menempati ranker ke-15 masih menurut sistem Webometrik tahun itu, enggak tahu kalau sekarang. Sebagai perbandingan, Unsri yang ada di luar Pulau Jawa mendapatkan Peringkat-14. Setingkat lebih baik dari Unibraw. Bravo Universitas Negeri Malang, aku senang dulu sekolah TK, Dasar dan Menengah Pertamaku bernaung dibawah institusi itu.

Wednesday, March 26, 2014

Sekelumit Kisah Tentang Sekolah

Sekolah adalah salah satu hal yang membentuk kepribadian seseorang. Tentunya akan sangat berbeda antara orang yang well educated dengan yang tidak. Katanya, perbedaan itu tampak dari pola pikir, pola sikap dan perilaku seseorang. Memang betul bahwa sekolah bukan satu-satunya hal yang membentuk kepribadian seseorang, Prof Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA., dalam salah satu ceramahnya di salah satu stasiun televisi swasta pernah mengatakan bahwa ada tiga hal yang mempengaruhi kepribadian seseorang, yang pertama adalah orang tua, yang kedua adalah lingkungan dan yang ketiga adalah bacaan. Mungkin sekolah termasuk dalam faktor kedua, yakni lingkungan, seperti yang disebut oleh Prof. Quraish.

Seorang mahasiswa atau mahasiswi yang sangat terlatih membaca daras-daras berbahasa Inggris, bahkan novel-novel atau roman yang dibacanya berbahasa itu, tentu akan sangat berbeda cara berfikir, pola tindak dan tentu perilakunya, dengan seorang santri atau santriwati di pesantren yang sangat terlatih membaca dan mempelajari kitab kuning. Mungkin si mahasiswa akan jauh lebih westernized. Itu hanya sebagai gambaran saja.

Memang tetap ada kritik terhadap kebudayaan bersekolah. Telaah yang sangat kritis dilakukan oleh Ivan Iliyich dalam buku Deschooling Society. Bagi Iliyich, sekolah itu membelenggu dan menjadikan seseorang tidak kreatif. Mungkin ada benarnya,..ada masalah dalam dunia pendidikan kita.

Daniel Goleman, pencetus ide Emotional Inteligence, di dasawarsa sembilanpuluhan, pernah menulis dalam buku berjudul sama bahwa masalah dalam pendidikan di Amerika Serikat adalah terlalu banyaknya perguruan tinggi dan kurangnya taman kanak-kanak. Tentu maksudnya adalah seorang peserta didik kurang mempunyai kesempatan untuk meng-eksplorasi sisi-sisi humaniora dan mereka lebih banyak dilatih dalam sisi logis, analitis, aritmatik dan verbal. Bukannya aspek-aspek tadi, yang termasuk dalam poin-poin Inteligence Quotient, tidaklah penting, tetapi sisi-sisi kecerdasan emosional yang termasuk dalam soft skill sebenarnya jauh lebih berpengaruh pada keberhasilan seseorang dalam hidupnya.

Sebuah ilustrasi yang paling saya ingat untuk menunjukkan betapa pentingnya Emotional Intellegence adalah research yang dilakulan oleh sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Sekelompok anak-anak TK didatangi oleh para peneliti. Mereka diberi sebutir marshmallow, atau permen lunak, yang menjadi kesukaan anak-anak di Amerika Serikat sana, dan diberikan sebuah tawaran. Sang anak boleh memakan marshmallow itu saat itu juga dan pergi, tapi jika mereka menunggu sampai waktu yang ditetapkan oleh para peneliti itu, mereka akan mendapatkan sebutir marshmallow lagi. Banyak anak yang tidak tahan dengan godaan segera memakan permen lunak itu, kemudian pergi. Tapi ada pula yang menunggu dengan taat untuk mendapatkan sebutir lagi. Ada saja cara mereka menunggu untuk mengisi kebosanan. Ada yang bermain dengan temannya, ada yang duduk sambil menggoyanggoyangkan kaki dan ada juga yang mencoba tidur. Akhirnya waktu menunggu sudah habis dan anak-anak yang kuat menahan diri itu diberi hadiah sebutir marshmallow lagi. Anak-anak itu kegirangan dan mereka pergi menyusul teman-temannya yang lain. Anak-anak itu kemudian disebut oleh para researchernya sebagai Anak Anak Marshmallow.

Anak-anak marshmallow itu kemudian diikuti perkembangan hidupnya oleh para peneliti. Limabelas tahun kemudian mereka dilihat perkembangannya. Terbukti dalam penelitian itu bahwa anak-anak yang bisa menahan diri jauh lebih sukses dibandingkan anak-anak yang tidak bisa menahan diri untuk segera makan marshmallow yang diberikan.

Dari hasil penelitian ini dan serangkaian penelitian yang lain yang telah dilakukan di berbagai universitas di Amerika Serikat, terbukti bahwa emotional intelligence, atau kecerdasan emosional, berpengaruh dua kali lebih besar dalam menentukan keberhasilan seorang anak dibandingkan dengan intelligence quotient.

Sayangnya aspek-aspek kecerdasan emosional itu kurang terlalu disentuh dalam sistem pendidikan di Amerika, demikian masih menurut Daniel Goleman. Bagaimana di Indonesia? Tentunya saya tidak tahu karena saya bukan pakar pendidikan di Indonesia dan hanya mengamati sistem pendidikan disini secara sepintas. Terkadang terbersit juga keinginan untuk melakukan research mengenai hal ini di Indonesia. Tapi latar belakang pengetahuan saya tentang Ilmu Psikologi, terutama apalagi Psikologi Pendidikan, sangatlah kurang memadai. Lagipula apa perlunya dalam kehidupan praktis saya sehari-hari? Kok ngoyoworo tenan,...saya hanyalah seorang peternak ayam kampung dan itik manila di desa Kamulan ini.

Bagi saya pribadi, apapun alasannya, sekolah adalah tetap penting. Saya merasa sangat beruntung karena diberi kesempatan untuk bersekolah sampai level pendidikan tinggi. Saya adalah lulusan Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Bagi saya, kehidupan akademis dan non akademis di Kampus Biru itu adalah sangat berharga dan tidak tergantikan dengan yang lainnya. Pengalaman berkuliah di sana membuka cakrawala berfikir yang sama sekali baru,...dan mungkin akan jauh berbeda jika saya bersekolah di tempat yang lain.

Sebagai sebuah gambaran, saya akan sedikit bercerita. Saya sangat menggemari belajar bahasa Inggris dan terkadang mengajak ngobrol orang Amerika atau Eropa yang kebetulan banyak dijumpai di kampus kami di Yogyakarta. Pada suatu kesempatan saya berkesempatan ngobrol dengan seorang mahasiswi Canadian. Dia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Montreal, Canada. Kecantikan gadis itu tentu saja masih terbayang sampai kini, tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan pada para pembaca.

Kami ngobrol dalam Bahasa Inggris (memangnya dalam bahasa apa lagi?), dan dia memperbaiki beberapa pronunciation saya. Berkali-kali dia melatih saya untuk mengucapkan thanks dan think sampai kupingnya merasa puas. Bukan itu saja yang saya dapatkan dari dia, dalam kesempatan berbincang itu, saya akhirnya juga mengetahui bahwa Canada, sekalipun merupakan Commonwealth Inggris tetapi sebenarnya sangat dipengaruhi oleh budaya Prancis. Bahkan ada beberapa tempat yang lebih lazim menggunakan Francaise sebagai bahasa sehari-hari alih-alih English.

Ketika saya bertutur bahwa saya adalah mahasiswa Teknik Mesin di UGM, tiba-tiba dia tertawa. Dia bercerita bahwa di Universitas Montreal, tempatnya kuliah, mahasiswa Teknik Mesin adalah jenis makhluk yang paling menjengkelkan disitu. Mereka merasa paling hebat,..kata dia lhoo....dan paling suka menjahili mahasiswa dan mahasiswi dari disiplin ilmu yang lain. Kuliahnya rata-rata paling lama, tutur Janet, mahasiswi Montreal itu. Kelakuannya pun aneh-aneh sehingga jadi terkenal seantero kampus. Katanya, ada yang kegiatannya sehari-hari adalah menanam pohon di sekitaran kampus. Masih banyak hal lain yang diceritakan Janet pada saya tentang mahasiswa Teknik Mesin di Montreal University itu, tapi saya memang sudah lupa. Yang jelas teringat oleh saya adalah mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai para Mechy,..mungkin singkatan dari Mechanical Engineering..lha apa lagi?

Lalu bagaimana dengan mahasiswa dan mahasiswi Teknik Mesin di UGM sendiri? Setahuku mereka baik-baik saja semua tuh...gak ada yang aneh-aneh kayak para Mechy di Montreal University seperti yang diceritakan Janet pada saya bertahun-tahun yang lalu itu. Setahuku Jurusan Teknik Mesin di Fakultas Teknik UGM sekarang berubah menjadi Jurusan Teknik Mesin dan Teknik Industri, dan kegiatan perkuliahan yang paling diminati oleh mahasiswa Teknik Mesin disana adalah Kuliah Bersama (mahasiswi) Teknik Industri. Itu dulu,..enggak tahu kalau sekarang. Kangen juga aku dengan kampusku itu...banyak romantika yang kualami disana....dan,...oh Janet,....aku juga kangen kamu...apakah kamu kangen padaku?

Nasehat Untuk Ayamku

Sekarang aku tinggal di desa ayahku almarhum. Ayahku adalah seorang guru Matematika level Sekolah Menengah Pertama. Terakhir beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah SD dan SMP Dharma Wanita Unibraw. Nampaknya orang-orang Universitas Brawijaya sekarang lebih suka menggunakan abrevasi UB untuk menyebut dirinya sendiri. Dulu Universitas yang cukup besar di kota Malang, tempatku menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, ini menggunakan abrevasi Unbra atau Unibraw alih-alih UB yang mungkin lebih populer sekarang.

Analisis (iseng)-nya mungkin karena konotasi Unbra barangkali tidak terlalu menyenangkan, terutama bagi civitas academica yang bernaung pada institusi tersebut. Secara etimologi gurauan, yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa dan mahasiswi apabila lagi kecapekan dan jenuh belajar, kemudian berkumpul di teras pondokan dan ngobrol ngalor-ngidul sembari membuat lelucon, Unbra berasal dari english vocabulary Un, yang biasanya dipasang sebagai prefix dengan makna without atau dalam Bahasa Indonesia adalah "tanpa" dan Bra yang artinya pakaian dalam perempuan yang dikenakan di sebelah atas. Biasanya memang English, American dan orang-orang dari negara lain yang menggunakan Bahasa Inggris memang menggunakan istilah bra, instead of BH. Biasanya orang bersikeras bahwa BH adalah singkatan dari Breast Holder,...artinya itu Bahasa Inggris,..tapi sebenarnya bukan. BH adalah abreviasi dari Bahasa Belanda Borst Houder. Akan tetapi memang benar bahwa tetminologi unbra kurang lazim dipakai dalam pengertian diatas oleh inhabitants negara-negara dengan mother tongue English, mereka lebih suka menggunakan istilah topless atau no bra untuk pengertian yang sama.

Seingatku di dekade tujuhpuluhan atau delapanpuluhan di negara-negara Barat pernah ada gerakan no bra. Gerakan itu dipopulerkan oleh kaum feminist di sana. Gerakan ini memang memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Barangkali untuk menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki itu benar-benar setara dalam segala hal mereka menolak untuk mengenakan bra. Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa di UGM Yogyakarta, aku mengenal beberapa teman dan senior mahasiswi yang juga berpandangan feminist. Bacaan mereka terutama adalah buku-buku karya Fatima Mernissi, seorang feminist dari Mesir, sebuah negeri dengan latar belakang kebudayaan Islam yang panjang dan tentu saja menarik. Tapi aku tidak pernah cukup punya keberanian untuk bertanya pada teman-temanku itu apakah mereka mengenakan bra atau tidak.

Dulu, di jaman Pulau Jawa masih dijajah oleh Negeri Belanda, orang barat cq Belanda masih belum mengenal BH. Orang Jawa jauh lebih berbudaya, kaum perempuannya sudah mengenakan penutup untuk tubuh bagian atas. Kemudian orang Belanda bertanya pada orang Jawa....apakah itu..? Orang Jawa dengan santun  menjelaskan...meniko Buntele Hemik. Untuk memudahkan, akhirnya orang Belanda menyingkatnya dengan BH, dan karena mungkin malu karena istilah itu berasal dari tanah jajahan nun jauh di seberang lautan sono, maka dibuatlah kepanjangan yang "kebetulan" pas yaitu borst houder.

Wah,..ceritanya kok jadi begini,..tadi kan cerita soal ayahku. Ayahku memang membidani berdirinya SD dan SMP Dharma Wanita Unibraw tersebut. Tentunya beliau tidak sendirian, ada Ibu Zainal Arifin Achmady, yang waktu itu Ibu Rektor Unibraw dan tentunya juga ibu-ibu yang lain yang tergabung bersama di Dharma Wanita Persatuan Unibraw. Setelah ayahku meninggal konon pengelolaan SD dan SMP itu diambil alih oleh Unibraw...eh..maaf..keliru..keliru..sekarang UB ya...dan tidak lagi bernaung dibawah Dharma Wanita Persatuan UB. Nama sekolah itu sekarang menjadi SD dan SMP BSS yang merupakan singkatan dari Brawijaya Smart School. Jabatan Kepala Sekolah yang ditinggalkan oleh ayahku kemudian diisi oleh Bapak Saleh,..kemungkinan beliau adalah mantan guruku di SMA dulu...beliau mengajarkan kami Chemistry. Waktu kelas III SMA aku diajar oleh beliau. Orangnya sabar tapi tegas..dan senang melucu juga di depan kelas.

Selama ini aku tinggal di kamar merbot di Masjid Al Huda di Desa Kamulan ini. Untunglah aku masih diperkenankan tinggal disana karena aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi sekarang. Banyak kegiatan yang dilakukan di Masjid Desa itu. Bagiku yang menarik adalah kegiatan Madrasah Diniyyah di Masjid tersebut. Para jamaah juga menyelenggarakan Yasinan setiap Kamis Malam Jum'at. Oh ya...dulu ketika Semester empat atau lima di Universitas Gadjah Mada aku juga mengikuti acara Universitas Malam Jum'at atau disingkat UMJ di Pondok Pesantren Budi Mulia Yogyakarta. Acara itu diasuh oleh almarhum KH Suprapto Ibnu Juraimi.

Awalnya aku memang malas ikut Yasinan bersama jama'ah-jamaah Masjid yang lain, namun akhirnya hatiku tergerak untuk ikut bersama yang lain. Pertimbanganku, karena pada kenyataannya, ketika sendirian di kamar itu, aku tidak pernah membaca Surah Yaasiin.

Pada suatu kesempatan Yasinan aku diajak bicara oleh Mas Dwi, peternak burung kenari di desaku ini.
"Ayam-ayammu jangan boleh keluyuran di Masjid Mit".
"Bikin kotor".

Aku memang melakukan usaha enterpreneuring sebagai peternak ayam kampung. Biasanya ayam-ayamku suka menyusulku di Masjid. Apalagi apabila belum diberi makan. Ini adalah upayaku untuk bertahan hidup dan menghidupi keluargaku, bila tiba kelak masanya aku berumah tangga.

"Iya Mas Dwi", jawabku, kemudian,"Padahal ndak kurang-kurang loh aku kalau menasehati".

Orang-orang pada menahan ketawa. Aku tahu,..mereka kepingin ketawa tapi jengkel betul sama aku karena ulah ayamku di Masjid.

"Tapi lha piye", lanjutku, "Ayam-ayamku kok tetap tidak mau mengerti".

Meledaklah tawa seisi rumah Kang Yoko yang kali itu adalah tuan rumah Yasinan. Kali ini mereka tidak bisa lagi menahannya...they couldn't bear it.

"Jan ngglecen-ne persis Pak Toha", komentar salah seorang peserta Yasinan. Pak Toha adalah ayahku yang sempat kuceritakan di awal tulisan ini. Aku berfikir-fikir, apakah padanan Bahasa Indonesia yang pas untuk kata ngglecen dalam Bahasa Jawa Blitaran ini? Ngglecen diucapkan dengan huruf e seperti kata enau, semacam pohon palma. Adakah diantara para pembaca yang mengetahuinya? Share yuk......

Wednesday, March 19, 2014

Menulis Ulang Naskah Pribadi Pasca Krisis Usia Pertengahan



"Ayam-ayam kamu waktunya dijual lho Mit".
"Ya".
"Sekarung pakan itu harganya berapa?".
"Tigaratusribu Rupiah".
"Sekarung pakan habis berapa hari?"
"Nggak pernah merhatiin".
"Mbok Lasemi itu miara ayam juga, ada sepuluh ekor, sehari habis satusetengah kilo pakan, pakannya seharga tujuhribu rupiah per kilonya, dijual ceplok endog empatribu rupiah per ekor, kalau usia ayamnya tiga minggu harganya tujuhribu rupiah per ekor,...wah rugi".
    
     Demikian cerocos Pak Paijan tetangga desaku pagi ini tanpa diminta. Waktu itu aku sedang bertandang ke rumahnya dalam rangka membayar hutangku pada Reni, anak Pak Paijan. Reni membuka usaha warung kopi dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari lainnya persis di jalan poros desaku.
    
     Lama betul si Reni ini nukerin duit kembalian hutangku ya?, pikirku tak sabar. Hutangku padanya enamribu limaratus rupiah. Kuberikan padanya selembar sepuluhribuan rupiah dan sekeping limaratusan rupiah logam. Kebetulan dia tidak pegang duit cash sehingga perlu menukar uangku pada tetangga-tetangganya. Aku paling tidak bisa menikmati obrolan bersama Pak Paijan, bagiku dia ini suka usil dan cuma memancing-mancing komentar atau tanggapan yang tidak perlu.
    
     Eh,...jadi inget kalau aku pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sewaktu aku tinggal di Malang bersama kedua orangtuaku. Seingatku bahasa Latin yang dipakai di dunia Kedokteran untuk obrolan adalah anamnesa. Sehingga kalimat terakhir dalam paragraf diatas jika ditulis dalam peristilahan itu menjadi...Aku paling tidak bisa menikmati anamnesa bersama Pak Paijan, bagiku dia ini suka usil dan cuma memancing-mancing komentar atau tanggapan yang tidak perlu....lho..kok jadi aneh begini ya? Apanya ya yang bikin jadi aneh..?
 
     "Mbok kamu miara burung kenari kayak Mas Dwi itu Mit," demikian Pak Paijan meneruskan kuliah paginya. Aku berdoa supaya Reni segera pulang dan aku cepat terbebas dari derita ini.
"Usia sebulan harganya sudah seratuslimapuluh ribu rupiah,...yang babonan bisa sampai limaratusribu rupiah".
"Mas Dwi itu sampai kewalahan kebanjiran peminat burung kenari".
"Sudah tempatnya bersih, gak kayak ayam,..kotor".
    
     Rupanya Tuhan Yang Mahabijaksana mendengar doa-doaku. Kulihat Reni memasuki pekarangan rumahnya dan masuk ke ruang tamu sembari mengulurkan kembalian uangku sejumlah empatribu rupiah. Aku bersorak dalam hati, rasanya seolah-olah terbebas dari derita ribuan tahun di penjara bawah tanah.
   
     Demikian memang kehidupanku sekarang. Aku beternak ayam kampung di desaku ini. Usaha ini akan tetap aku geluti dan jatuh-bangunnya ingin kurasakan apapun komentar orang. Kalau dipikir-pikir komentar negatif semacam Pak Paijan itu jauh lebih sedikit dibandingkan komentar dan dukungan positif yang kurasakan.
    
     Di Kecamatan Kanigoro itu orang beternak ayam kampung sampai ribuan jumlahnya. Kalau usaha itu sampai sekarang tetap digeluti orang, berarti beternak ayam kampung-pun bisa jadi duit. Mungkin suaktu ketika jika ada kesempatan dan kenalan disana aku perlu juga melakukan studi banding kecil-kecilan di Kanigoro. Selain dikenal sebagai sentra ayam potong, atau mungkin orang lebih suka menyebutnya dengan ayam broiler, Kecamatan Kanigoro juga dikenal sebagai sentra ayam kampung. Enggak tahu ya..kalau sentra ayam kampus ada dimana, yang jelas bukan di kota kecil Blitar ini.
    
     Akhirnya aku pulang ke tanah kelahiranku. Desaku kecil saja di wilayah Kabupaten Blitar ini. Lama memang aku meninggalkan desaku ini bersama famili-famili keluarga ayah almarhum. Seingatku, ketika aku kuliah di Universitas Gadjah Mada, aku cuma berkunjung sekali kesini. Itupun cuma karena ingin berkunjung, atau lebih tepatnya berziarah ke makam mBah Putri Amanah almarhumah, nenekku, ibu ayahku almarhum.
    
     Desaku bernama Kamulan. Terletak di Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Disini aku dilahirkan ibuku. Waktu itu ibuku masih nderek mBah Putri Amanah almarhumah dan mBah Kakung Ahmad Iskak almarhum, orangtua ayahku. Mbah Kakung Ahmad Iskak dikenal sebagai mBah Kamituwo, sesuai dengan jabatannya sebagai Kamituwo Kamulan. Kamituwo artinya Kepala Dukuh. Ketika aku Kuliah Kerja Nyata di Bantul sebagai salah satu Matakuliah Wajib di UGM, Kepala Dukuh itu disana disebut sebagai Pak Dukuh saja.
    
     Selain bertani, mBah Kakung Ahmad Iskak juga mempunyai ketrampilan sebagai perajin perhiasan dari emas, atau istilahnya di Blitar ini adalah Kemasan. Dalam usia rentanya beliau sempat membuatkan necklace lengkap  dengan liontin-nya untuk ibuku. Barangkali ibuku memang menantu kesayangannya. Cincin kawin ibuku seberat lima gram diminta oleh mBah Kakung Almarhum, kemudian dilebur dan ditambah dengan simpanan emas milik mBah Kakung Ahmad Iskak sendiri dibentuk dan dijadikan necklace dan pelengkap liontin-nya dengan tangan mBah Kakung sendiri. Karena sudah sepuh sehingga tidak kuat lagi ngububi (calon) perhiasan, maka yang ngububi bakal perhiasan ibuku itu adalah Pak Ripan, seorang tetangga yang nderek mBah Putri Amanah dan mBah Kakung dari desa tetangga, yaitu Desa Jajar.
   
     Yang dimaksudkan dengan ngububi adalah memanaskan logam emas didalam tungku menggunakan semburan udara. Dulu Pak Ripan menggenjot sebuah piranti dengan kaki sehingga udara bertekanan keluar dari piranti itu ke dalam tungku, karena sekarang sudah jaman modern maka mungkin para kemasan jaman sekarang menggunakan compressor. Eh iya,...aku kan lulusan Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada....mungkin sebaiknya aku menggunakan terminologi furnace alih-alih tungku. Lebih gagah rasanya..swear deh...
   
     Ketika aku masih usia Sekolah Dasar, aku masih melihat kalung dengan liontin yang dipasangi sebuah batu berwarna merah menyala oleh mBah Kakung Ahmad Iskak Almarhum itu selalu dipakai oleh ibuku kemanapun beliau pergi dan dimanapun beliau berada. Bagaimana tidak? Necklace bersama liontin dengan batu merah manyala itu adalah karya terakhir Almarhum ayah mertuanya.
    
     Samar-samar aku ingat, dengan bercucuran airmata ayah berlutut di depan ibu meminta kalung bersejarah itu untuk dijual karena suatu keperluan yang aku masih belum mengerti... Bukankah waktu itu aku masih kecil..? Aku juga ingat ketika ibuku duduk dan melepas kalung yang sangat indah itu dari leher beliau serta menyerahkannya pada ayahku. Aku juga ingat ketika aku digendong oleh ibu di toko emas menemani ayahku menjual kalung bersejarah itu....semuanya...gone with the wind.....
    
     Sekarang disini dan kini aku tinggal membangun mimpiku sendiri sebagai peternak ayam. Jadi ingat bahwa dasar Psikologi Fritz Perl adalah orang yang berada disini dan kini. Terimakasih untuk mendiang ayahku...aku anak ayah sekarang...aku lahir di desa ayah..sekarang aku tinggal dan menetap di desa ayah,..merawat peninggalan ayah yang tersisa... Terimakasih Yah.....terimakasih...di desaku dan desa ayah ini aku bisa kembali merajut mimpi...mimpi untuk membentuk keluarga dan menghidupi keluargaku dengan usaha sendiri... Terimakasih Ayah.....I do mean it father...I do mean it.

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...