Tuesday, July 17, 2012

Memaknai "Ketidaksadaran Kolektif" Jungian dalam Perspektif Lokal


  • Carl Gustav Jung (1875-1961) pada sekitar usia menjelang empatpuluh tahun mengalami "krisis usia pertengahan", dia memutuskan ikatan emosional dan profesional yang erat dengan Sigmund Freud dan memutuskan untuk memulai "pengembaraan" pada dunia mitos2, mimpi2, penglihatan2 dan fantasi2nya sendiri.

    Dalam eksplorasi dan apresiasinya terhadap dunia2 itu akhirnya Jung merumuskan bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem yang terpisah tetapi mereka saling berinteraksi satu sama lain. Sistem2 itu adalah "aku" (ego),"ketidaksadaran pribadi" dan "ketidaksadaran kolektif".

    Menurut Jung, "ketidaksadaran kolektif" itu mengatur keseluruhan tingkah laku sekarang dan dengan demikian merupakan kekuatan yang paling berpengaruh terhadap kepribadian.
    "Ketidaksadaran kolektif" itu berasal dari peristiwa2 yang dialami oleh leluhur kita di masa lalu. Bahkan dalam pandangan Jung sebenarnya juga berakar sampai ancestors kita dalam bentuk pra-manusia. Wujud dari "ketidaksadaran kolektif" itu misalnya termanifestasi dari sikap beberapa keluarga di Jawa Timur yang akan sangat berkeberatan apabila ada anggota keluarganya yang memilih menikahi seorang perempuan Sunda. Ada banyak alasan yang biasanya dinyatakan untuk "keberatan" itu. Yang paling sering terdengar adalah bahwa perempuan Sunda biasanya "boros","suka selingkuh" dan "tidak bisa diajak hidup prihatin".

    Apabila kita memberikan suatu sanggahan pada keluarga-keluarga itu tentang "keberatan2" mereka, dapat dipastikan akan muncul alasan2 lain yang intinya tetap menolak kehadiran Suku Sunda dalam keluarga besar mereka ini. Apakah ada suatu "ketidaksadaran kolektif" yang dimiliki oleh beberapa keluarga di Jawa Timur itu yang mengingatkan mereka pada suatu "peristiwa traumatis" di masa lalu yang secara "tidak sadar" ingin mereka cegah?

    Marilah kita kembali ke dunia "mitos" atau mungkin bisa juga disebut "setengah mitos" yang menjadi bagian dari "ketidaksadaran kolektif" beberapa keluarga di Jawa Timur itu. Minimnya catatan sejarah serta banyaknya versi yang beredar di masyarakat memang menyulitkan bagi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu. Saya akan ungkapkan sebuah versi. Saya berharap agar kita dapat mengangkat "ketidaksadaran kolektif" ini menjadi "kesadaran kolektif" sehingga daerah "blind" dalam kepribadian kita menurut perspektif Johari Window menyempit, dan kita memahami diri kita sendiri secara lebih baik.

    Ketika Prabu Brawijaya II bertahta di Kerajaan Majapahit, seungguhnya yang berkuasa disana pada waktu itu, secara de facto adalah Mahapatih Gadjah Mada. Konon, kekuasaan Majapahit meluas sampai ke Asia Tenggara. Anehnya, Kerajaan Padjajaran di Jawa Barat yang "kecil" tidak dapat ditaklukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Menurut sumber yang lain, Kadipaten Kediri juga tidak dapat ditundukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Pada saat itu kebetulan Hayam Wuruk, nama kecil Prabu Brawijaya II belum beristri. Ambisi politik Hayam Wuruk adalah menyatukan Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Padjajaran. Karena itu beliau bermaksud untuk memperistri Dyah Pitaloka, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Singkatnya Prabu Siliwangi dan Dyah Pitaloka setuju dengan keinginan Hayam Wuruk tersebut dan Dyah Pitaloka diantarkan ke Trowulan oleh para pengawal dan tentara Siliwangi yang terpilih.

    Di tengah perjalanan, pasukan Siliwangi yang membawa Dyah Pitaloka dihadang oleh pasukan Mahapatih Gadjah Mada. Kepada pimpinan prajurit Siliwangi, Mahapatih Gadjah Mada menyatakan bahwa status Dyah Pitaloka dalah "putri boyongan". Artinya Kerajaan Padjajaran takluk kepada Kerajaan Majapahit dan Dyah Pitaloka diserahkan sebagai tanda takluk atau "upeti".
    Tentu pimpinan pengawal Dyah Pitaloka sangat marah dengan "sambutan" Majapahit ini. Mereka sadar bahwa Hayam Wuruk mengirim utusan kepada Prabu Siliwangi sebagai dua negara yang bersahabat, dan tidak bermaksud untuk menjadikan Padjajaran sebagai negara taklukan sebagaimana kerajaan2 yang lain. Tak terhindarkan lagi perang pun pecah dalam kondisi yang tidak berimbang. Pasukan Siliwangi yang kecil jumlahnya karena tidak dimaksudkan untuk tujuan berperang berhadapan secara frontal dengan pasukan Gadjah Mada yang telah terbukti mampu membentuk imperium di Asia Tenggara.

    Dapat dipastikan kemudian siapa yang menang dalam pertempuran ini. Seluruh prajurit Siliwangi gugur di medan laga membela harga diri bangsanya. Semuanya tanpa kecuali. Perang ini dikenal sebagai Perang Bubat. Dyah Pitaloka dibawa dengan tandu menuju Trowulan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Di dalam tandu, Dyah Pitalokan menagisi prajuritnya yang gugur membelanya serta harga diri "bangsa"nya yang terkoyak. Akhirnya beliau memutuskan untuk bunuh diri menggunakan "patrem" atau keris kecil yang biasa dibawa oleh putri2 bangsawan.

    Hayam Wuruk sangat malu dengan kejadian ini, tetapi seperti yang telah saya ungkapkan diatas, secara de facto penguasa Majapahit pada saat itu adalah Gadjah Mada, dia tidak berani memprotes tindakan Gadjah Mada secara langsung. Datang pada Prabu Siliwangi di Pajajaran sama saja dengan menyerahkan leher untuk dipenggal. Perwujudan dari rasa malu dan penyesalan Hayam Wuruk ini kemudian dinyatakan dengan melarang anak cucunya untuk menikahi perempuan Sunda. Memang bisa dibayangkan rasa malu yang dialami oleh Prabu Brawijaya ini. Hal itu memang merupakan peristiwa yang memalukan dan menyedihkan. Itukah sebenarnya "ketidaksadaran kolektif" beberapa keluarga di Jawa Timur ini? Secara tak sadar mereka ingin mencegah "peristiwa tragis" itu terulang kembali.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...