Monday, July 2, 2012

Logotheraphy Sebagai Teori Kepribadian dan Filsafat Manusia

  Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saya mulai tertarik dengan Ilmu Psikologi. Terlintas dalam benak saya dahulu, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Teknik, untuk mengikuti sebagian kuliah di Fakultas Psikologi. Saya membuka kurikulum di Program Studi Ilmu Psikologi dan ternyata di tahun pertama mereka mendapatkan mata kuliah Filsafat Umum. Mahasiswa Fakultas Psikologi ternyata perlu memperoleh sedikit gambaran mengenai sebagian teori filsafat terutama filsafat manusia.
    Filsafat sebagai sebuah teori, atau teori filsafat, memang berbagai macam bentuk klasifikasinya. Yang sedang nge-trend sekarang ini di dunia Barat adalah Filsafat Timur. Orang Barat merasa jenuh dan tidak puas dengan kehidupan yang serba materialistis, mereka merasa haus dengan kehidupan spiritualistik, kehidupan yang sarat dengan makna, karena itu mereka berbondong-bondong melakukan hijrah pemikiran ke dunia Timur.
    Yang paling sering menjadi rujukan tentu adalah Budhisme, baik di Nepal maupun India. India adalah tempat dari mana akar Budhisme berasal. Tokoh kontemporer yang tertarik dan melakukan studi secara mendalam tentang Budhisme di Nepal adalah Danah Zohar, seorang fisikawan dan filosof lulusan Massachussets Institute of Technology yang sekarang bermukim di Oxford, Inggris.  
    Selain itu mereka juga banyak yang tertarik dengan Taoisme di Tiongkok. Sekedar menyebutkan salah satu diantaranya adalah Fritjof Capra, yang menulis buku yang berjudul The The Tao of Phisics. Jarang atau bahkan mungkin  tidak pernah saya dengar mereka tertarik dengan Kejawen atau Klenik yang ada di nusantara kita ini. Saya tidak tahu mengapa begitu.
    Pusat ketertarikan saya sebenarnya adalah pada Logotheraphy, sebuah ilmu yang relatif baru, karena ilmu itu mulai dikenal paska Perang Dunia Kedua. Ilmu ini kemudian berkembang menjadi sebuah aliran dalam Ilmu Psikologi, terutama Psikologi Pertumbuhan, dan juga menjadi sebuah teori filsafat. Tentu teori filsafat yang dimaksudkan disini bukanlah sebuah teori filsafat sosial seperti Marxisme, tetapi lebih merupakan sebuah teori filsafat manusia atau filsafat humanistika.
    Apabila teori filsafat sosial seperti Marxisme berbicara tentang kelas sosial, pertentangan kelas sosial, ekonomi pada level werhanschauung, dan bagaimana merebut kekuasaan dari kaum borjuasi, maka teori filsafat manusia, atau humanistika lebih cenderung membicarakan tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri secara umum. Filsafat manusia jelasnya merupakan bagian atau cabang dari teori filsafat yang mengupas apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya. Ia mencoba mengungkapkan sebaik mungkin, apakah sebenarnya menjadi makhluk yang bernama manusia itu.
    Termasuk dalam cakupan filsafat manusia sebagai sebuah teori filsafat adalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar eksistensialisme manusia. Seperti pertanyaan tentang apakah hakekat hidup itu sebenarnya? Apakah kepentingan dari berkegiatan bagi manusia itu? Apakah manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya? Apakah artinya mencintai itu? Itulah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab oleh filsafat manusia sebagai teori filsafat.
    Filsafat manusia telah acap kali sepanjang sejarah perkembangan kebudayaan dinamakan sebagai “psikologi filosofis” atau “psikologi rasional”. Seringkali kedua terminologi diatas dibenturkan sebagai lawan dari “psikologi ilmiah”, “psikologi eksperimental” atau “psikologi empiris”. Disinilah keunikan Logotheraphy, dia bukan saja telah diterima sebagai sebuah “psikologi filosofis” semata-mata, namun juga telah teruji secara eksperimental oleh penemunya sendiri. Fictor E. Frankl, penggagas pertama Logotheraphy, yang telah menguji teori-teorinya sendiri selama tiga tahun didalam empat kamp konsentrasi Nazi yang berbeda. Bukunya yang pertama, Man’s Search of Meaning, mendapat kata pengantar dan pujian yang tinggi dari Gordon W. Allport, seorang profesor psikologi dari Harvard University. Sebagai informasi tambahan, Gordon W. Allport masih sering menjadi rujukan para ahli psikologi di masa kini, terutama tentang psikologi pertumbuhan.
    Pada usia tigapuluh tujuh tahun, Victor E. Frankl memulai pengembaraannya selama tiga tahun kedalam dunia pengalaman yang mengerikan karena kekejaman, kelaparan, penganiayaan dan kemelaratan manusia yang benar-benar telanjang. Dalam kondisi semacam itu seolah-olah kematian adalah satu-satunya jalan keluar.
    Perjalanan ke neraka itu dimulai didalam sebuah kereta api yang bertolak dari kota lelahirannya, Vienna, Austria, kearah timur laut. Tidak seorang pun diantara seribulimaratus penumpang yang mengetahui ke mana mereka akan pergi. Ada delapanpuluh orang dalam gerbong yang ditumpangi Frankl. Gerbong itu penuh sesak sehingga mereka harus tidur di atas bagasi dan barang-barang pribadi milik mereka sendiri yang mereka bawa serta.
    Selama beberapa hari kereta api itu meluncur melintasi kota-kota dan daerah pedusunan yang terlindung dari serangan musuh. Saat itu memang Perang Dunia Kedua sedang berkecamuk dengan hebatnya. Akhirnya, pagi-pagi benar kereta api itu bergerak lambat dan melangsir pada sebuah rangkaian rel. Para penumpang melihat dengan cemas melalui jendela-jendela. Mereka ingin sekali mengetahui dimana mereka sekarang berada. Kemudian nama setasiun itu kelihatan. Beberapa orang berteriak, tapi kebanyakan mereka tertegun diam. Pada papan nama jelas terbaca “Auschwitz”. Itulah saatnya Victor E. Frankl mulai mengembangkan dan menguji dalam laboratorium kehidupannya sendiri sebuah teori psikologi dan teori filsafat yang kemudian dinamakannya sendiri dengan “Logotheraphy”.
    Dalam kata pengantar dari buku Frankl, Man’s Search for Meaning, Gordon W. Allport menulis “Bagaimana ia dapat–semua miliknya hilang, semua nilai-nilainya dibinasakan, menderita kelaparan, kedinginan dan kekejaman, menantikan pembasmian setiap jam–bagaimana dia dapat menemukan kehidupan tetap bernilai? Seorang psikiater yang secara pribadi telah menghadapi tekanan ekstrim serupa itu adalah seorang psikiater yang pantas didengar.
    Saya belum bisa mengemukakan, sejak kapan Logotheraphy sebagai teori filsafat dan sebagat teori kepribadian mulai dikenal di Indonesia, tetapi menurut catatan Hanna Djumhana Bastaman, Logotheraphy mulai dikenal sekitar tahun 1975 di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Subjek ini mulai dipelajari melalui kegiatan kajian-kajian pribadi dan diskusi di kalangan terbatas, tulisan-tulisan untuk keperluan perkuliahan, serta publikasi-publikasi di beberapa media massa.
    Masih menurut Hanna Djumhana Bastaman, seminar tentang “Logotheraphy dan Makna Hidup” telah diselenggarakan oleh Kelompok Studi Psikologi-Psikiatri (1983), Yayasan Pengembangan Kreativitas (1986), dan Panitia Dies Natalis Universitas Indonesia XXXIX (1988). Sedangkan pembahasan mengenai kaitan antara Islam dan Logotheraphy untuk pertamakalinya dilakukan dalam forum KKA Yayasan Wakaf Paramadina (1988). Demikian juga peranan Logotheraphy dalam mengembangkan hidup bermakna dalam kehidupan modern disajikan oleh forum yang sama sebagai acara penutup tahun 1994.
    Bagaimanakah nasib Logotheraphy sebagai teori filsafat, atau filosofi kehidupan, dan sebagai teori kepribadian sekarang ini di Indonesia? Sulit bagi saya (penulis) untuk menjawab dengan pasti, karena sudah tidak lagi hidup di lingkungan perguruan tinggi. Secara pribadi, saya ingin agar Logotheraphy ini tetap dikembangkan di Indonesia.
    Tentu sekarang para pembaca ingin mengetahui, apakah sebenarnya inti ajaran serta tujuan dari Logotheraphy sebagai sebuah teori filsafat, atau mungkin lebih tepat disebut filosofi kehidupan dan teori kepribadian serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari?. Logotheraphy mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai suatu kesatuan, atau gestalt, dari bio-psiko-spiritual yang tidak terpisahkan. Kita tidak dapat memahami manusia dan kemanusiaannya apabila kita mengabaikan dimensi rohani, atau spiritual, Karena dimensi itu merupakan salah satu sumber kekuatan dan kesehatan manusia. Selain itu Logotheraphy juga memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani, seperti the will of meaning, atau kehendak untuk hidup bermakna, hati nurani, kreativitas dan sense of humor, serta memanfaatkan kualitas-kualitas itu untuk pengembangan kesehatan mental.
    Inti ajaran Logotheraphy yang selalu dimuat dalam halaman depan jurnal yang diterbitkan oleh The Institute of Logotheraphy adalah bahwa; yang pertama, hidup itu bermakna dalam setiap situasi, bahkan dalam kesedihan sekalipun. Yang kedua, kita memiliki “kehendak untuk hidup bermakna” yang menjadi motivasi primer kita dalam menjalani kehidupan. Ini berbeda dengan pandangan psikoanalisis Freudian yang menyatakan bahwa motivasi utama kita adalah “the will of pleasure” atau kehendak untuk menikmati kesenangan yang dititik beratkan pada kesenangan seksual.
    Yang berikutnya adalah, kita bebas menemukan makna hidup-pada apa yang kita kerjakan, kita alami atau setidaktidaknya pada sikap kita dalam menghadapi situasi derita yang tidak dapat diubah. Demikianlah inti ajaran Logotheraphy sebagai filosofi kehidupan atau sebuah teori filsafat.
    Sebagai penutup perlu pula dinyatakan disini bahwa sebagai teori filsafat manusia, Logotheraphy mengungkapkan bahwa kenyataan hidup tidaklah menyediakan keseimbangan tanpa ketegangan, tetapi justru menawarkan suatu ketegangan khusus. Ketegangan khusus itu berupa ketegangan antara kenyataan diri pada waktu sekarang dengan makna-makna yang harus dipenuhi. Masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan diantara kedua polar itulah proses pengembangan kepribadian berlangsung.


Malang, Mei 2012.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...