Monday, July 2, 2012

Diskusi di Thread Grup Kagama

Untuk mengisi blog ini, berikut saya kutipkan hasil diskusi antara penulis dengan anggota Grup Kagama dengan harapan agar kita semua dapat memetik manfaatnya. Mudah-mudahan dapat memperkaya khazanah pengetahuan kita semua dan dapat memberi sedikit arti dalam pengembangan pribadi, kepribadian dan masyarakat. Selamat mengikuti hasil diskusi ini.

Thread ini dimulai dengan pengantar sebagai berikut:
Freudian, dalam studinya tentang wit,comic, dan humor, antara lain menyimpulkan. Pertama, humor termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang penting. Melalui perilaku humor, seseorang menarik diri (withdrawal) dari kenyataan hidup yang menyakitkan ke alam fantasi yang penuh tawa. Berbeda dengan reaksi pertahanan diri yang patologis pada neurosis dan psikosis, humor termasuk jenis mekanisme pertahanan diri yang tak membahayakan (Grossman, 1976). Kedua, humor dan perilaku humoristis berfungsi sebagai penyalur fantasi dan dorongan-dorongan primer (agresifitas dan seksual) yang tak mungkin terungkap dalam kehidupan sehari2 karena tabu. Fantasi dan dorongan2 terlarang itu dapat lebih bebas diungkapkan dalam bentuk yang dapat diterima lingkungan,yaitu melalui humor (Cohen, 1976)
( Diambil dari Bastaman, Hanna Djumhana. 1997)

Adapun resume hasil diskusi dalah thread adalah sebagai berikut:

     Penulis berasumsi bahwa pengantar thread ini sudah cukup jelas dan tidak perlu diulas kembali secara panjang lebar dalam pembahasan ini. Pengantar memberikan pandangan Freudian, atau pengikut Sigmund Freud dalam fenomena humor pada perilaku manusia.

     Ratna Widiastuti menambahkan bahwa humor termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang baik dan perlu dikembangkan sejak usia dini. Ini paralel dengan kesimpulan Daniel Goleman yang menyebut usia kanak-kanak adalah periode emas atau "golden age" yang menentukan kehidupan dan perkembangan anak di masa dewasanya. Dengan diskusinya bersama Dwi Nastiti Arumsari Oscar, Ratna Widiastuti juga memberikan contoh aplikasi praktis menerapkan konsep itu pada anak-anak. Yakni dengan mentertawakan sesuatu yang bagi anak lucu sekalipun bagi orang dewasa tidak lucu.

     Ada suatu pertanyaan menggelitik dari Bambang N. Karim tentang ukuran seseorang dapat dikatakan witty (lucu tapi bukan pelawak, lucu tapi bukan dagelan murah). Ini bukan suatu pertanyaan yang mudah dijawab karena ukuran lucu dalam konteks budaya lokal dan konteks budaya global tentu berlainan. Menurut hemat penulis, untuk menjawab pertanyaan ini perlu orang yang sudah secara intens bersinggungan dengan budaya lokal maupun budaya global. Selain itu masalah ini juga perlu mempertimbangkan aspek Antropologi, bukan hanya perspektif Psikologi. Singkatnya, penulis tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

     Dalam salah satu pertanyaan penulis kepada Ratna Widiastuti tentang adanya sifat kanak-kanak dalam diri orang dewasa, Ratna Widiastuti menjawab bahwa orang (manusia) dalam kadar tertentu memang masih memiliki sifat kanak-kanak, seperti egosentris, sensitif dan menikmati permainan. Yang menjadi masalah adalah orang dewasa yang dominan sifat kanak-kanaknya. Dalam istilah Ratna Widiastuti, orang yang dewasa tetapi tidak "dewasa".

     Dalam paragraf ini, penulis merasa perlu untuk mengutip secara lengkap komentar dari Sri Marpinjun yang membicarakan salah satu poin tentang menjadi manusia yang efektif menurut Stephen R. Covey. Hal itu penulis lakukan agar pembaca bisa lebih merasakan konteks-nya dengan pembahasan dibawahnya. Dalam komentarnya itu Sri Marpinjun menuliskan bahwa menurut Covey seseorang yang efektif itu perlu menjadi independen, dengan ukuran, menjadi proaktif, punya misi hidup, punya prioritas. Jadi independen itu disini berarti menguasai diri sendiri. Namun, untuk menjadi makin efektif di dunia, independen saja tidak cukup karena setiap manusia itu harus berhubungan dengan orang lain. Karena itu Covey menambahkan karakter interdependen, yaitu berfikir menang-menang, mendahulukan mengerti orang lain untuk dimengerti orang lain, dan bersinergi.

     Lagi-lagi menurut Ratna Widiastuti, sepertinya sang bintang dalam diskusi ini, dalam konteks kepribadian, orang yang dependen adalah orang yang dalam "pengambilan keputusan" yang nantinya juga berujung pada perilaku, akan pasrah atau butuh bantuan orang lain. Pribadi yang independen adalah pribadi yang mampu mengambil keputusan sendiri, meski dia mengambil dari berbagai sumber untuk diolah dalam dirinya.

     Dalam diskusi antara penulis dan Ratna Widiastuti, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa, dalam konteks pribadi dan pengembangan organisasi atau masyarakat, dapat diilustrasikan bahwa pribadi-pribadi yang dependen berusaha untuk menjadi independen. Sekalipun sulit dalam konteks "makhluk sosial" seseorang bisa dikatakan independen seratus persen. Dalam diskusi ini, terminologi independen dalam konteks psikologi dan sosiologi tampaknya masih bias. Kemudian, pribadi-pribadi yang independen ini bersama-sama membentuk komunitas atau entitas yang interdependen. Ciri dari komunitas atau entitas ini adalah, masing-masing pribadi saling memperkuat dan melengkapi satu sama lain. Dalam proses ini pribadi-pribadi yang ada dalam komunitas atau entitas dapat lebih meningkatkan independensi dirinya masing-masing. Demikian proses ini berlangsung terus-menerus sehingga suatu masyarakat akan menjadi "mature". Hal ini dapat terjadi karena pasti selalu ada ruang pertemuan antara sekar-sekat yang membatasi setiap entitas dalam sebuah masyarakat.

     Sebagai penutup ulasan ini, penulis memberikan guideline yang diberikan Hirmaningsih Rivai dalm komennya bahwa dalam bidang Psikologi, penggunaan teori itu tidak bisa berdiri sendiri, ada kesalingtergantungan antara satu dengan lainnya. Bahkan ahli-ahli terapi psikologi juga menggunakan bidang ilmu yang lain untuk dimodifikasi dengan teori-teori psikologi yang ada. Demikianlah resume ini dibuat, secara khusus penulis menyampaikan terimakasih kepada partisipan aktif dalam diskusi ini, termasuk Hasanuddin M Kholil dan Budi Sulistiyo. Demikian juga penulis menyampaikan penghargaan dan termakasih untuk para "silent reader".

Demikianlah akhir dari diskusi dalam salah satu thread penulis di Grup Kagama. Tampak jelas disini bahwa hasil akhir diskusi berbeda jauh dengan awal dimulainya diskusi. Thread ini dimaksudkan untuk membicarakan masalah humor sebagai salah satu defence-mechanism yang sehat, tetapi dalam perjalanannya malah memdapatkan sebuah hasil berupa ide untuk perkembangan pribadi dan masyarakat. Sekali lagi penulis berterimakasih kepada Sri Marpinjun dan Ratna Widiastuti.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...