Tuesday, July 17, 2012

Memaknai "Ketidaksadaran Kolektif" Jungian dalam Perspektif Lokal


  • Carl Gustav Jung (1875-1961) pada sekitar usia menjelang empatpuluh tahun mengalami "krisis usia pertengahan", dia memutuskan ikatan emosional dan profesional yang erat dengan Sigmund Freud dan memutuskan untuk memulai "pengembaraan" pada dunia mitos2, mimpi2, penglihatan2 dan fantasi2nya sendiri.

    Dalam eksplorasi dan apresiasinya terhadap dunia2 itu akhirnya Jung merumuskan bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem yang terpisah tetapi mereka saling berinteraksi satu sama lain. Sistem2 itu adalah "aku" (ego),"ketidaksadaran pribadi" dan "ketidaksadaran kolektif".

    Menurut Jung, "ketidaksadaran kolektif" itu mengatur keseluruhan tingkah laku sekarang dan dengan demikian merupakan kekuatan yang paling berpengaruh terhadap kepribadian.
    "Ketidaksadaran kolektif" itu berasal dari peristiwa2 yang dialami oleh leluhur kita di masa lalu. Bahkan dalam pandangan Jung sebenarnya juga berakar sampai ancestors kita dalam bentuk pra-manusia. Wujud dari "ketidaksadaran kolektif" itu misalnya termanifestasi dari sikap beberapa keluarga di Jawa Timur yang akan sangat berkeberatan apabila ada anggota keluarganya yang memilih menikahi seorang perempuan Sunda. Ada banyak alasan yang biasanya dinyatakan untuk "keberatan" itu. Yang paling sering terdengar adalah bahwa perempuan Sunda biasanya "boros","suka selingkuh" dan "tidak bisa diajak hidup prihatin".

    Apabila kita memberikan suatu sanggahan pada keluarga-keluarga itu tentang "keberatan2" mereka, dapat dipastikan akan muncul alasan2 lain yang intinya tetap menolak kehadiran Suku Sunda dalam keluarga besar mereka ini. Apakah ada suatu "ketidaksadaran kolektif" yang dimiliki oleh beberapa keluarga di Jawa Timur itu yang mengingatkan mereka pada suatu "peristiwa traumatis" di masa lalu yang secara "tidak sadar" ingin mereka cegah?

    Marilah kita kembali ke dunia "mitos" atau mungkin bisa juga disebut "setengah mitos" yang menjadi bagian dari "ketidaksadaran kolektif" beberapa keluarga di Jawa Timur itu. Minimnya catatan sejarah serta banyaknya versi yang beredar di masyarakat memang menyulitkan bagi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu. Saya akan ungkapkan sebuah versi. Saya berharap agar kita dapat mengangkat "ketidaksadaran kolektif" ini menjadi "kesadaran kolektif" sehingga daerah "blind" dalam kepribadian kita menurut perspektif Johari Window menyempit, dan kita memahami diri kita sendiri secara lebih baik.

    Ketika Prabu Brawijaya II bertahta di Kerajaan Majapahit, seungguhnya yang berkuasa disana pada waktu itu, secara de facto adalah Mahapatih Gadjah Mada. Konon, kekuasaan Majapahit meluas sampai ke Asia Tenggara. Anehnya, Kerajaan Padjajaran di Jawa Barat yang "kecil" tidak dapat ditaklukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Menurut sumber yang lain, Kadipaten Kediri juga tidak dapat ditundukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Pada saat itu kebetulan Hayam Wuruk, nama kecil Prabu Brawijaya II belum beristri. Ambisi politik Hayam Wuruk adalah menyatukan Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Padjajaran. Karena itu beliau bermaksud untuk memperistri Dyah Pitaloka, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Singkatnya Prabu Siliwangi dan Dyah Pitaloka setuju dengan keinginan Hayam Wuruk tersebut dan Dyah Pitaloka diantarkan ke Trowulan oleh para pengawal dan tentara Siliwangi yang terpilih.

    Di tengah perjalanan, pasukan Siliwangi yang membawa Dyah Pitaloka dihadang oleh pasukan Mahapatih Gadjah Mada. Kepada pimpinan prajurit Siliwangi, Mahapatih Gadjah Mada menyatakan bahwa status Dyah Pitaloka dalah "putri boyongan". Artinya Kerajaan Padjajaran takluk kepada Kerajaan Majapahit dan Dyah Pitaloka diserahkan sebagai tanda takluk atau "upeti".
    Tentu pimpinan pengawal Dyah Pitaloka sangat marah dengan "sambutan" Majapahit ini. Mereka sadar bahwa Hayam Wuruk mengirim utusan kepada Prabu Siliwangi sebagai dua negara yang bersahabat, dan tidak bermaksud untuk menjadikan Padjajaran sebagai negara taklukan sebagaimana kerajaan2 yang lain. Tak terhindarkan lagi perang pun pecah dalam kondisi yang tidak berimbang. Pasukan Siliwangi yang kecil jumlahnya karena tidak dimaksudkan untuk tujuan berperang berhadapan secara frontal dengan pasukan Gadjah Mada yang telah terbukti mampu membentuk imperium di Asia Tenggara.

    Dapat dipastikan kemudian siapa yang menang dalam pertempuran ini. Seluruh prajurit Siliwangi gugur di medan laga membela harga diri bangsanya. Semuanya tanpa kecuali. Perang ini dikenal sebagai Perang Bubat. Dyah Pitaloka dibawa dengan tandu menuju Trowulan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Di dalam tandu, Dyah Pitalokan menagisi prajuritnya yang gugur membelanya serta harga diri "bangsa"nya yang terkoyak. Akhirnya beliau memutuskan untuk bunuh diri menggunakan "patrem" atau keris kecil yang biasa dibawa oleh putri2 bangsawan.

    Hayam Wuruk sangat malu dengan kejadian ini, tetapi seperti yang telah saya ungkapkan diatas, secara de facto penguasa Majapahit pada saat itu adalah Gadjah Mada, dia tidak berani memprotes tindakan Gadjah Mada secara langsung. Datang pada Prabu Siliwangi di Pajajaran sama saja dengan menyerahkan leher untuk dipenggal. Perwujudan dari rasa malu dan penyesalan Hayam Wuruk ini kemudian dinyatakan dengan melarang anak cucunya untuk menikahi perempuan Sunda. Memang bisa dibayangkan rasa malu yang dialami oleh Prabu Brawijaya ini. Hal itu memang merupakan peristiwa yang memalukan dan menyedihkan. Itukah sebenarnya "ketidaksadaran kolektif" beberapa keluarga di Jawa Timur ini? Secara tak sadar mereka ingin mencegah "peristiwa tragis" itu terulang kembali.

Monday, July 2, 2012

Laporan Pandangan Mata Kopdar I Grup Kagama Malang

Seperti yang telah disepakati bersama, pertemuan dilaksanakan di Warung Rudjak Pojok. Peserta pertama yang datang adalah saya, kemudian disusul berikutnya oleh mBak Diantini Viatrie. Kami bercakap-cakap untuk menunggu peserta yang lain sambil duduk lesehan di sebuah pojok.

Dalam percakapan kami akhirnya terungkap bahwa kami berdua berasal dari TK-SD dan SMP yang sama. Kami berdua adalah produk eksperimen pendidikan yang dilakukan oleh almarhumah Prof. Dr. Sapartinah Pakasi, seorang pakar pendidikan dari IKIP Malang. Sekarang IKIP Malang menjadi UM. Adalah sangat mengharukan apabila melihat kenyataan bahwa seorang profesor pendidikan mau mengurusi pendidikan kami sejak usia TK sampai SMP bukan hanya dalam tataran teoritis tetapi sekaligus juga praktis. Hanya saja karena kami berbeda generasi, maka kami tidak mengenal satu sama lain. Kagama Virtual adalah media yang mempertemukan kami. Mbak Diantini menggambarkan dengan persis motif dan warna baju seragam TK yang digunakan oleh generasiku, sesuatu hal yang telah lama kulupakan.


Pembicaraan kemudian berkembang menjadi lebih serius karena kami mendiskusikan beberapa hal dalam Psikologi Pertumbuhan. Psikologi adalah disiplin ilmu yang dipelajari mBak Diantini Viatrie di UGM. Diskusi kami terhenti ketika seorang perempuan mengucap salam dan mendekati kami. Ternyata dia mBak Lilis Puspitosari. Dia datang bersama suami dan empat anaknya. Pembicaraan kemudian berkembang menjadi lebih global dan kami mulai mengeluarkan joke-joke segar bergantian. Hampir sepanjang pertemuan di sore itu kami tertawa geli bersama-sama. Beberapa saat kemudian datanglah mBak Endah Siswati bersama putrinya. Suasana menjadi lebih riuh. Untunglah bahwa tidak banyak pengunjung warung di sore itu sehingga kami tidak perlu menjadi pusat perhatian. Akhirnya kami memesan makanan. Mbak Endah dan aku memilih Rujak Cingur, makanan khas Jawa Timur, mBak Lilis memesan Gado-Gado serta mBak Diantini memesan Rujak Manis. Sementara menunggu pesanan datang kami tetap bergurau memeriahkan suasana. Mbak Endah menyarankan kami untuk kapan-kapan mencoba Nasi Uduk Bedjo yang terkenal enak di dekat rumahnya. Kami sepakat dengan usulan tersebut dan merencanakan untuk bertandang bersama-sama ke rumah mBak Endah di sekitar kompleks ITN. Waktunya akan dibicarakan kemudian lewat jalur pribadi.

Hidangan datang dan segera tandas. Kami sepakat untuk menjadwalkan kembali pertemuan untuk Kopdar Kagama Virtual Malang II setelah lebaran. Tanggalnya belum bisa ditentukan karena tidak ada seorangpun diantara kami yang membawa kalender. Kami berpisah karena hari telah sore dan bersepakat untuk bertemu kembali.

Belajar Komputer di Era Informasi

Dalam kehidupan sehari-hari, praktis kita sekarang ini hampir selalu menggunakan komputer. Misalnya untuk mengerjakan tugas kuliah dan bekerja. Bahkan siswa sekolah menengah dan dasar sekalipun, sekarang ini banyak diminta oleh gurunya untuk mengerjakan beberapa tugas dengan menggunakan komputer. Bukan hanya untuk keperluan menulis saja, bahkan tugas-tugas  itu sudah melibatkan penggunaan internet. Karena itu belajar komputer di era informasi ini menjadi mutlak perlu. Komputer adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
    Bukan itu saja, dalam administrasi perkantoran sehari-hari, komputer sangat membantu dalam banyak bidang. Dengan bantuan komputer, seorang sekretaris selalu dapat membuat surat yang rapi dengan cepat dan tanpa sedikitpun membuat kesalahan ejaan, karena komputer mampu memeriksa kesalahan ejaan secara otomatis. Untuk itu seorang sekretaris sekarang ini perlu terlebih dahulu belajar komputer untuk menunjang pekerjaannya.
    Contoh lain lagi ialah di kantor Perusahaan Listrik Negara yang sempat dikomandani oleh Dahlan Iskan, seorang manager handal pemilik Jawa Pos Group. Di Badan Usaha Milik Negara itu, setiap bulan mereka harus menyiapkan rekening listrik dari pelanggan yang jumlahnya jutaan, tapi mereka tidak kesulitan dengan itu semua karena jasa komputer. Dengan belajar komputer kita akan mengetahui bahwa komputer dapat bekerja cepat dan bersedia bekerja penuh dua puluh empat jam setiap harinya.
    Demikian pula dalam dunia ekonomi perbankan, penggunaan jasa komputer sudah tidak terelakkan lagi. Kegiatan lalu lintas uang didalam dunia perbankan yang begitu ramai, dengan volume uang yang mencapai orde jutaan, milyaran bahkan trilyunan rupiah atau mata uang yang lain, sekarang ini dapat ditangani dengan cepat dan teliti. Bahkan bank-bank besar di Indonesia dan negara-negara lain sekarang ini sudah mampu memberikan jasa pencairan uang secara otomatis kepada para pelanggannya selama dua puluh empat jam sehari. Hal itu dapat dilakukan karena jasa komputer dan jaringannya yang tersambung pada mesin Anjungan Tunai Mandiri atau lebih kita kenal dalam percakapan sehari-hari sebagai mesin ATM.
    Demikian pula dalam dunia Travel Agent, pemesanan tempat di pesawat terbang untuk beberapa tempat tujuan dapat dipesan di kota tempat pemberangkatan sekaligus dengan aman. Bahkan bila pelanggan atau maskapai penerbangan melakukan perubahan rencana penerbangan secara mendadak sekalipun, Travel Agent dapat melayaninya dengan tenang karena jasa teknologi informasi komunikasi yang digunakan dalam sistim komputer. Sistim teknologi komunikasi dapat terbangun karena adanya komputer yang tersebar di berbagai belahan dunia dan terhubung serta saling berkomunikasi satu dengan lainnya. Demikianlah canggihnya teknologi komputer di era informasi ini.
    Apabila kita perhatikan dengan teliti, sesungguhnya kehadiran teknologi komputer telah melahirkan suatu jaman atau era baru yang disebut sebagai era informasi. Hal ini ditandai dengan pertukaran informasi yang sangat masif dan cepat menggunakan teknologi komputer.
    Penemuan mesin-mesin industri dalam bentuknya yang paling primitif di dunia barat telah melahirkan suatu jaman baru. Jaman atau era itu disebut sebagai era industri. Penemuan mesin cetak yang pertama oleh Johann Guttenberg di Jerman benar-benar merubah budaya manusia hampir secara total. Hal itu terjadi akibat revolusi industri yang terjadi di Inggris sekitar abad tujuh belas atau delapan belas Masehi. Jaman industri adalah era dimana tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin yang berkemampuan kerja belipat kali dari tenaga manusia. Pada abad-abad itu di Indonesia telah dikenal ilmu kanuragan, klenik dan santet. Tidak jelas penemuan ilmu klenik dan santet di Indonesia itu melahirkan era apa di dunia kita ini.
    Apabila kita belajar komputer, tentu timbul dalam pikiran kita, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan komputer itu. Secara etimologis sesungguhnya istilah komputer itu berasal dari bahasa Latin “computare” yang mengandung arti “menghitung” (to compute). Sekarang ini istilah komputer mengandung arti sebagai suatu perangkat elektronik yang dapat menerima masukan (input), dan selanjutnya melakukan pengolahan (processing), untuk menghasilkan keluaran (output) berupa informasi. Demikianlah maka perangkat utama untuk melakukan tindakan tersebut juga terdiri dari perangkat input (input devices), perangkat proses (process devices), serta perangkat keluaran (output devices), yang ditambah dengan perangkat penyimpanan data atau informasi (storage devices).
    Di perguruan tinggi, apabila kita belajar komputer, maka kita biasanya akan berhadapan dengan dua pilihan. Pilihan itu biasanya berupa apakah kita akan belajar komputer di Program Studi atau Jurusan Ilmu Komputer di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ataukah kita akan belajar komputer di Jurusan atau Program Studi Teknik Informatika yang biasanya tergabung dalam Fakultas Teknik.
    Biasanya secara awam orang menyebutkan bahwa Ilmu Komputer atau Computer Science di Fakultas MIPA mempelajari terutama tentang software atau perangkat lunak komputer sedangkan Teknik atau Teknologi Informatika lebih khusus mempelajari tentang hardware atau perangkat keras komputer. Yang dimaksud dengan software adalah suatu perangkat komputer yang berisi serangkaian instruksi, program, prosedur, pendukung, dan aktifitas-aktifitas pengolahan perintah pada sistim komputer. Sedangkan yang dimaksud dengan hardware atau perangkat keras komputer adalah alat atau komponen komputer yang berwujud secara fisik dan dapat dilihat atau dipegang menggunakan indera kita sebagai manusia. Tanpa software, hardware hanyalah berupa rongsokan elektronik. Hardware komputer akan “hidup” dan memiliki fungsi jika digunakan bersama-sama dengan softwarenya.
    Beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin pembagian pengertian antara Ilmu Komputer dan Teknik Informatika itu sudah cukup memadai, tetapi dengan berkembangnya kedua disiplin ilmu dan teknologi itu maka pengertian antara Ilmu Komputer dan Teknik Informatika juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini perlu kita sadari ketika kita belajar komputer di era informasi ini.
    Saat ini Teknik Informatika dapat dipandang sebagai teknologi yang memanfaatkan komputer sebagai perangkat utama untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat. Pengolahan data dengan komputer tersebut juga dikenal sebagai Pengolahan Data Elektronik, yakni proses manipulasi data menjadi bentuk yang lebih berguna. Bentuk yang lebih berguna dengan proses pengolahan data itulah yang disebut sebagai informasi. Data merupakan bahan mentah atau “raw material” yang belum diolah dan akan diproses selanjutnya menggunakan komputer. Lebih jelasnya, informasi adalah data yang terolah dan sifatnya menjadi data lain yang lebih bermanfaat.
    Giliran sekarang kita coba untuk lebih memahami dengan apa yang dimaksud sebagai Ilmu Komputer. Menurut Computing Sciences Accreditation Board, Ilmu Komputer atau Computer Science adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan komputer dan komputasi. Didalamnya terdapat teorisasi, eksperimen, dan pendesainan komponen. Termasuk dalam Ilmu Komputer itu adalah hal-hal yang berhubungan dengan, pertama, teori-teori untuk memahami perangkat komputer, program dan sistim. Yang kedua, eksperimen untuk pengembangan dan pengujian konsep. Ketiga adalah metodologi desain, algoritma, serta tools untuk merealisasikannya. Sedangkan yang terakhir, keempat,  adalah metode analisis untuk melakukan pembuktian bahwa realisasinya sudah sesuai dengan persyaratan yang diminta. Demikianlah cakupan dan pengertian dari Ilmu Komputer. Adalah nampak jelas bahwa cakupan dan pengertian Ilmu Komputer sangatlah luas. Didalamnya terkandung “basic science” berupa Matematika dan “applied science”, yakni penggunaan terutama Ilmu Matematika dan Fisika yang diterapkan dalam ranah kehidupan nyata.
    Membahas mengenai belajar komputer ini rasanya tidaklah lengkap apabila kita tidak membahas mengenai internet. Aplikasi internet sudah semakin mendunia. Semakin banyak orang yang “melek internet” sekarang ini. Dalam tulisan pendahuluan diatas juga sudah menyinggung aplikasi internet secara praktis dewasa ini. Kita sudah sedemikian terbiasa dengan internet, sehingga kadang-kadang kita lupa mengenai sebuah pertanyaan yang mungkin sangat mendasar, yaitu apakah sebenarnya internet itu?
    Internet merupakan kumpulan jaringan komputer atau Local Area Network menjadi jaringan komputer global atau World Area Network. Jaringan-jaringan tersebut saling berhubungan dan saling berkomunikasi satu sama lain, sehingga setiap pengguna atau user dapat mengakses layanan-layanan yang disediakan oleh setiap jaringan. Arsitektur jaringan komputer yang berbeda akan dapat saling mengenali satu sama lain dan dapat berkomunikasi menggunakan protokol. Untuk memahami protokol ini, kita perlu belajar komputer lebih cermat. Dan rasanya tidak pada tempatnya apabila kita bahas disini.
    Pengguna internet, atau internet user, dapat memanfaatkan berbagai macam fasilitas informasi dengan biaya murah. Dan hal itu dapat dilakukan tanpa harus datang sendiri ke tempat penyedia layanan secara fisik. Informasi yang dapat diakses dapat berupa data teks, gambar, animasi, video, suara, atau kombinasi dari beberapa macam data tersebut. Manfaat internet sudah kita rasakan saat ini. Sewaktu ketika, mungkin orang tidak perlu lagi membeli Koran dalam bentuk kertas untuk memperoleh berita-berita hangat dari dalam dan luar negeri.
    Memang, pada era informasi ini, belajar komputer, minimal sebagai user untuk beberapa aplikasi praktis, mutlak diperlukan.


Malang, Mei 2012.

Logotheraphy Sebagai Teori Kepribadian dan Filsafat Manusia

  Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saya mulai tertarik dengan Ilmu Psikologi. Terlintas dalam benak saya dahulu, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Teknik, untuk mengikuti sebagian kuliah di Fakultas Psikologi. Saya membuka kurikulum di Program Studi Ilmu Psikologi dan ternyata di tahun pertama mereka mendapatkan mata kuliah Filsafat Umum. Mahasiswa Fakultas Psikologi ternyata perlu memperoleh sedikit gambaran mengenai sebagian teori filsafat terutama filsafat manusia.
    Filsafat sebagai sebuah teori, atau teori filsafat, memang berbagai macam bentuk klasifikasinya. Yang sedang nge-trend sekarang ini di dunia Barat adalah Filsafat Timur. Orang Barat merasa jenuh dan tidak puas dengan kehidupan yang serba materialistis, mereka merasa haus dengan kehidupan spiritualistik, kehidupan yang sarat dengan makna, karena itu mereka berbondong-bondong melakukan hijrah pemikiran ke dunia Timur.
    Yang paling sering menjadi rujukan tentu adalah Budhisme, baik di Nepal maupun India. India adalah tempat dari mana akar Budhisme berasal. Tokoh kontemporer yang tertarik dan melakukan studi secara mendalam tentang Budhisme di Nepal adalah Danah Zohar, seorang fisikawan dan filosof lulusan Massachussets Institute of Technology yang sekarang bermukim di Oxford, Inggris.  
    Selain itu mereka juga banyak yang tertarik dengan Taoisme di Tiongkok. Sekedar menyebutkan salah satu diantaranya adalah Fritjof Capra, yang menulis buku yang berjudul The The Tao of Phisics. Jarang atau bahkan mungkin  tidak pernah saya dengar mereka tertarik dengan Kejawen atau Klenik yang ada di nusantara kita ini. Saya tidak tahu mengapa begitu.
    Pusat ketertarikan saya sebenarnya adalah pada Logotheraphy, sebuah ilmu yang relatif baru, karena ilmu itu mulai dikenal paska Perang Dunia Kedua. Ilmu ini kemudian berkembang menjadi sebuah aliran dalam Ilmu Psikologi, terutama Psikologi Pertumbuhan, dan juga menjadi sebuah teori filsafat. Tentu teori filsafat yang dimaksudkan disini bukanlah sebuah teori filsafat sosial seperti Marxisme, tetapi lebih merupakan sebuah teori filsafat manusia atau filsafat humanistika.
    Apabila teori filsafat sosial seperti Marxisme berbicara tentang kelas sosial, pertentangan kelas sosial, ekonomi pada level werhanschauung, dan bagaimana merebut kekuasaan dari kaum borjuasi, maka teori filsafat manusia, atau humanistika lebih cenderung membicarakan tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri secara umum. Filsafat manusia jelasnya merupakan bagian atau cabang dari teori filsafat yang mengupas apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya. Ia mencoba mengungkapkan sebaik mungkin, apakah sebenarnya menjadi makhluk yang bernama manusia itu.
    Termasuk dalam cakupan filsafat manusia sebagai sebuah teori filsafat adalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar eksistensialisme manusia. Seperti pertanyaan tentang apakah hakekat hidup itu sebenarnya? Apakah kepentingan dari berkegiatan bagi manusia itu? Apakah manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya? Apakah artinya mencintai itu? Itulah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab oleh filsafat manusia sebagai teori filsafat.
    Filsafat manusia telah acap kali sepanjang sejarah perkembangan kebudayaan dinamakan sebagai “psikologi filosofis” atau “psikologi rasional”. Seringkali kedua terminologi diatas dibenturkan sebagai lawan dari “psikologi ilmiah”, “psikologi eksperimental” atau “psikologi empiris”. Disinilah keunikan Logotheraphy, dia bukan saja telah diterima sebagai sebuah “psikologi filosofis” semata-mata, namun juga telah teruji secara eksperimental oleh penemunya sendiri. Fictor E. Frankl, penggagas pertama Logotheraphy, yang telah menguji teori-teorinya sendiri selama tiga tahun didalam empat kamp konsentrasi Nazi yang berbeda. Bukunya yang pertama, Man’s Search of Meaning, mendapat kata pengantar dan pujian yang tinggi dari Gordon W. Allport, seorang profesor psikologi dari Harvard University. Sebagai informasi tambahan, Gordon W. Allport masih sering menjadi rujukan para ahli psikologi di masa kini, terutama tentang psikologi pertumbuhan.
    Pada usia tigapuluh tujuh tahun, Victor E. Frankl memulai pengembaraannya selama tiga tahun kedalam dunia pengalaman yang mengerikan karena kekejaman, kelaparan, penganiayaan dan kemelaratan manusia yang benar-benar telanjang. Dalam kondisi semacam itu seolah-olah kematian adalah satu-satunya jalan keluar.
    Perjalanan ke neraka itu dimulai didalam sebuah kereta api yang bertolak dari kota lelahirannya, Vienna, Austria, kearah timur laut. Tidak seorang pun diantara seribulimaratus penumpang yang mengetahui ke mana mereka akan pergi. Ada delapanpuluh orang dalam gerbong yang ditumpangi Frankl. Gerbong itu penuh sesak sehingga mereka harus tidur di atas bagasi dan barang-barang pribadi milik mereka sendiri yang mereka bawa serta.
    Selama beberapa hari kereta api itu meluncur melintasi kota-kota dan daerah pedusunan yang terlindung dari serangan musuh. Saat itu memang Perang Dunia Kedua sedang berkecamuk dengan hebatnya. Akhirnya, pagi-pagi benar kereta api itu bergerak lambat dan melangsir pada sebuah rangkaian rel. Para penumpang melihat dengan cemas melalui jendela-jendela. Mereka ingin sekali mengetahui dimana mereka sekarang berada. Kemudian nama setasiun itu kelihatan. Beberapa orang berteriak, tapi kebanyakan mereka tertegun diam. Pada papan nama jelas terbaca “Auschwitz”. Itulah saatnya Victor E. Frankl mulai mengembangkan dan menguji dalam laboratorium kehidupannya sendiri sebuah teori psikologi dan teori filsafat yang kemudian dinamakannya sendiri dengan “Logotheraphy”.
    Dalam kata pengantar dari buku Frankl, Man’s Search for Meaning, Gordon W. Allport menulis “Bagaimana ia dapat–semua miliknya hilang, semua nilai-nilainya dibinasakan, menderita kelaparan, kedinginan dan kekejaman, menantikan pembasmian setiap jam–bagaimana dia dapat menemukan kehidupan tetap bernilai? Seorang psikiater yang secara pribadi telah menghadapi tekanan ekstrim serupa itu adalah seorang psikiater yang pantas didengar.
    Saya belum bisa mengemukakan, sejak kapan Logotheraphy sebagai teori filsafat dan sebagat teori kepribadian mulai dikenal di Indonesia, tetapi menurut catatan Hanna Djumhana Bastaman, Logotheraphy mulai dikenal sekitar tahun 1975 di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Subjek ini mulai dipelajari melalui kegiatan kajian-kajian pribadi dan diskusi di kalangan terbatas, tulisan-tulisan untuk keperluan perkuliahan, serta publikasi-publikasi di beberapa media massa.
    Masih menurut Hanna Djumhana Bastaman, seminar tentang “Logotheraphy dan Makna Hidup” telah diselenggarakan oleh Kelompok Studi Psikologi-Psikiatri (1983), Yayasan Pengembangan Kreativitas (1986), dan Panitia Dies Natalis Universitas Indonesia XXXIX (1988). Sedangkan pembahasan mengenai kaitan antara Islam dan Logotheraphy untuk pertamakalinya dilakukan dalam forum KKA Yayasan Wakaf Paramadina (1988). Demikian juga peranan Logotheraphy dalam mengembangkan hidup bermakna dalam kehidupan modern disajikan oleh forum yang sama sebagai acara penutup tahun 1994.
    Bagaimanakah nasib Logotheraphy sebagai teori filsafat, atau filosofi kehidupan, dan sebagai teori kepribadian sekarang ini di Indonesia? Sulit bagi saya (penulis) untuk menjawab dengan pasti, karena sudah tidak lagi hidup di lingkungan perguruan tinggi. Secara pribadi, saya ingin agar Logotheraphy ini tetap dikembangkan di Indonesia.
    Tentu sekarang para pembaca ingin mengetahui, apakah sebenarnya inti ajaran serta tujuan dari Logotheraphy sebagai sebuah teori filsafat, atau mungkin lebih tepat disebut filosofi kehidupan dan teori kepribadian serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari?. Logotheraphy mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai suatu kesatuan, atau gestalt, dari bio-psiko-spiritual yang tidak terpisahkan. Kita tidak dapat memahami manusia dan kemanusiaannya apabila kita mengabaikan dimensi rohani, atau spiritual, Karena dimensi itu merupakan salah satu sumber kekuatan dan kesehatan manusia. Selain itu Logotheraphy juga memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani, seperti the will of meaning, atau kehendak untuk hidup bermakna, hati nurani, kreativitas dan sense of humor, serta memanfaatkan kualitas-kualitas itu untuk pengembangan kesehatan mental.
    Inti ajaran Logotheraphy yang selalu dimuat dalam halaman depan jurnal yang diterbitkan oleh The Institute of Logotheraphy adalah bahwa; yang pertama, hidup itu bermakna dalam setiap situasi, bahkan dalam kesedihan sekalipun. Yang kedua, kita memiliki “kehendak untuk hidup bermakna” yang menjadi motivasi primer kita dalam menjalani kehidupan. Ini berbeda dengan pandangan psikoanalisis Freudian yang menyatakan bahwa motivasi utama kita adalah “the will of pleasure” atau kehendak untuk menikmati kesenangan yang dititik beratkan pada kesenangan seksual.
    Yang berikutnya adalah, kita bebas menemukan makna hidup-pada apa yang kita kerjakan, kita alami atau setidaktidaknya pada sikap kita dalam menghadapi situasi derita yang tidak dapat diubah. Demikianlah inti ajaran Logotheraphy sebagai filosofi kehidupan atau sebuah teori filsafat.
    Sebagai penutup perlu pula dinyatakan disini bahwa sebagai teori filsafat manusia, Logotheraphy mengungkapkan bahwa kenyataan hidup tidaklah menyediakan keseimbangan tanpa ketegangan, tetapi justru menawarkan suatu ketegangan khusus. Ketegangan khusus itu berupa ketegangan antara kenyataan diri pada waktu sekarang dengan makna-makna yang harus dipenuhi. Masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan diantara kedua polar itulah proses pengembangan kepribadian berlangsung.


Malang, Mei 2012.

Diskusi di Thread Grup Kagama

Untuk mengisi blog ini, berikut saya kutipkan hasil diskusi antara penulis dengan anggota Grup Kagama dengan harapan agar kita semua dapat memetik manfaatnya. Mudah-mudahan dapat memperkaya khazanah pengetahuan kita semua dan dapat memberi sedikit arti dalam pengembangan pribadi, kepribadian dan masyarakat. Selamat mengikuti hasil diskusi ini.

Thread ini dimulai dengan pengantar sebagai berikut:
Freudian, dalam studinya tentang wit,comic, dan humor, antara lain menyimpulkan. Pertama, humor termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang penting. Melalui perilaku humor, seseorang menarik diri (withdrawal) dari kenyataan hidup yang menyakitkan ke alam fantasi yang penuh tawa. Berbeda dengan reaksi pertahanan diri yang patologis pada neurosis dan psikosis, humor termasuk jenis mekanisme pertahanan diri yang tak membahayakan (Grossman, 1976). Kedua, humor dan perilaku humoristis berfungsi sebagai penyalur fantasi dan dorongan-dorongan primer (agresifitas dan seksual) yang tak mungkin terungkap dalam kehidupan sehari2 karena tabu. Fantasi dan dorongan2 terlarang itu dapat lebih bebas diungkapkan dalam bentuk yang dapat diterima lingkungan,yaitu melalui humor (Cohen, 1976)
( Diambil dari Bastaman, Hanna Djumhana. 1997)

Adapun resume hasil diskusi dalah thread adalah sebagai berikut:

     Penulis berasumsi bahwa pengantar thread ini sudah cukup jelas dan tidak perlu diulas kembali secara panjang lebar dalam pembahasan ini. Pengantar memberikan pandangan Freudian, atau pengikut Sigmund Freud dalam fenomena humor pada perilaku manusia.

     Ratna Widiastuti menambahkan bahwa humor termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang baik dan perlu dikembangkan sejak usia dini. Ini paralel dengan kesimpulan Daniel Goleman yang menyebut usia kanak-kanak adalah periode emas atau "golden age" yang menentukan kehidupan dan perkembangan anak di masa dewasanya. Dengan diskusinya bersama Dwi Nastiti Arumsari Oscar, Ratna Widiastuti juga memberikan contoh aplikasi praktis menerapkan konsep itu pada anak-anak. Yakni dengan mentertawakan sesuatu yang bagi anak lucu sekalipun bagi orang dewasa tidak lucu.

     Ada suatu pertanyaan menggelitik dari Bambang N. Karim tentang ukuran seseorang dapat dikatakan witty (lucu tapi bukan pelawak, lucu tapi bukan dagelan murah). Ini bukan suatu pertanyaan yang mudah dijawab karena ukuran lucu dalam konteks budaya lokal dan konteks budaya global tentu berlainan. Menurut hemat penulis, untuk menjawab pertanyaan ini perlu orang yang sudah secara intens bersinggungan dengan budaya lokal maupun budaya global. Selain itu masalah ini juga perlu mempertimbangkan aspek Antropologi, bukan hanya perspektif Psikologi. Singkatnya, penulis tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

     Dalam salah satu pertanyaan penulis kepada Ratna Widiastuti tentang adanya sifat kanak-kanak dalam diri orang dewasa, Ratna Widiastuti menjawab bahwa orang (manusia) dalam kadar tertentu memang masih memiliki sifat kanak-kanak, seperti egosentris, sensitif dan menikmati permainan. Yang menjadi masalah adalah orang dewasa yang dominan sifat kanak-kanaknya. Dalam istilah Ratna Widiastuti, orang yang dewasa tetapi tidak "dewasa".

     Dalam paragraf ini, penulis merasa perlu untuk mengutip secara lengkap komentar dari Sri Marpinjun yang membicarakan salah satu poin tentang menjadi manusia yang efektif menurut Stephen R. Covey. Hal itu penulis lakukan agar pembaca bisa lebih merasakan konteks-nya dengan pembahasan dibawahnya. Dalam komentarnya itu Sri Marpinjun menuliskan bahwa menurut Covey seseorang yang efektif itu perlu menjadi independen, dengan ukuran, menjadi proaktif, punya misi hidup, punya prioritas. Jadi independen itu disini berarti menguasai diri sendiri. Namun, untuk menjadi makin efektif di dunia, independen saja tidak cukup karena setiap manusia itu harus berhubungan dengan orang lain. Karena itu Covey menambahkan karakter interdependen, yaitu berfikir menang-menang, mendahulukan mengerti orang lain untuk dimengerti orang lain, dan bersinergi.

     Lagi-lagi menurut Ratna Widiastuti, sepertinya sang bintang dalam diskusi ini, dalam konteks kepribadian, orang yang dependen adalah orang yang dalam "pengambilan keputusan" yang nantinya juga berujung pada perilaku, akan pasrah atau butuh bantuan orang lain. Pribadi yang independen adalah pribadi yang mampu mengambil keputusan sendiri, meski dia mengambil dari berbagai sumber untuk diolah dalam dirinya.

     Dalam diskusi antara penulis dan Ratna Widiastuti, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa, dalam konteks pribadi dan pengembangan organisasi atau masyarakat, dapat diilustrasikan bahwa pribadi-pribadi yang dependen berusaha untuk menjadi independen. Sekalipun sulit dalam konteks "makhluk sosial" seseorang bisa dikatakan independen seratus persen. Dalam diskusi ini, terminologi independen dalam konteks psikologi dan sosiologi tampaknya masih bias. Kemudian, pribadi-pribadi yang independen ini bersama-sama membentuk komunitas atau entitas yang interdependen. Ciri dari komunitas atau entitas ini adalah, masing-masing pribadi saling memperkuat dan melengkapi satu sama lain. Dalam proses ini pribadi-pribadi yang ada dalam komunitas atau entitas dapat lebih meningkatkan independensi dirinya masing-masing. Demikian proses ini berlangsung terus-menerus sehingga suatu masyarakat akan menjadi "mature". Hal ini dapat terjadi karena pasti selalu ada ruang pertemuan antara sekar-sekat yang membatasi setiap entitas dalam sebuah masyarakat.

     Sebagai penutup ulasan ini, penulis memberikan guideline yang diberikan Hirmaningsih Rivai dalm komennya bahwa dalam bidang Psikologi, penggunaan teori itu tidak bisa berdiri sendiri, ada kesalingtergantungan antara satu dengan lainnya. Bahkan ahli-ahli terapi psikologi juga menggunakan bidang ilmu yang lain untuk dimodifikasi dengan teori-teori psikologi yang ada. Demikianlah resume ini dibuat, secara khusus penulis menyampaikan terimakasih kepada partisipan aktif dalam diskusi ini, termasuk Hasanuddin M Kholil dan Budi Sulistiyo. Demikian juga penulis menyampaikan penghargaan dan termakasih untuk para "silent reader".

Demikianlah akhir dari diskusi dalam salah satu thread penulis di Grup Kagama. Tampak jelas disini bahwa hasil akhir diskusi berbeda jauh dengan awal dimulainya diskusi. Thread ini dimaksudkan untuk membicarakan masalah humor sebagai salah satu defence-mechanism yang sehat, tetapi dalam perjalanannya malah memdapatkan sebuah hasil berupa ide untuk perkembangan pribadi dan masyarakat. Sekali lagi penulis berterimakasih kepada Sri Marpinjun dan Ratna Widiastuti.

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...