Tuesday, May 1, 2012

Visi dan Misi dalam Hidupku



Visi dan Misi Dalam Hidupku
Fermy Nurhidayat, ST.


     Aku merasa berbahagia telah menemukan tujuan hidupku. Satu langkah pasti telah kuambil dalam hidupku. Aku akan melaksanakannya dengan sepenuh nafasku. Aku tidak perduli kapan aku akan sampai kepada tahap akhir dari tujuan hidupku itu. Yang penting, aku telah mengambil langkah awal untuk mewujudkannya dalam kenyataan. Bukan hanya dalam angan atau imajinasi belaka. Seingatku, Viktor E. Frankl, seorang survivor dari empat kamp konsentrasi Nazi, pernah mengatakan dalam bukunya, Man's Search of Meaning, bahwa “kadang-kadang karya-karya yang terindah muncul dari simfoni-simfoni yang belum selesai”.
     Mungkin aku telah keburu mati sebelum tujuan hidupku terlaksana. Bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah aku mempunyai “sesuatu” untuk diperjuangkan. Suatu kegiatan terarah yang akan menuntunku untuk tetap hidup dengan penuh makna. Dan akan kulakukan tanpa melihatnya sebagai sebuah perjuangan, tapi suatu kegiatan untuk menikmati hidup yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepadaku. Sekaligus mensyukurinya sepenuh hatiku.
     Sempat terpikir olehku, betapa tidak masuk akalnya tujuan hidupku. Tapi bukankah rasional atau tidak rasionalnya tujuan hidup kita sangat tergantung dari persepsi kita masing-masing tentang rasionalitas itu. Sekali tujuan hidup telah ditemukan, maka hidup kita akan terarah dan menuntut untuk pemenuhannya. Hidup yang penuh arti akan kita jalani. Sekalipun orang melecehkan dan mentertawakan kita. Biarin aja,…karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan,…mentertawakan suatu visi atau nilai yang kita pandang terpenting dalam hidup kita. Pikiran mereka tentangku samasekali bukan urusanku.
     Aku akan meninjau dan menelaah kembali tujuan hidup, atau visi dan misi dalam hidupku ini secara teratur. Menambahkan yang relevan dan meredusir yang tidak relevan. Semata-mata untuk meneguhkan hatiku. Mengatakan YA pada kehidupan, sekalipun untuk itu banyak yang harus kupersiapkan untuk mewujudkannya dalam realitas riil dilapangan.
     Hampir selama seminggu ini aku mengikuti Group di Facebook, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Bergaul dan berinteraksi bersama para caregiver, psikiater, dan people with disorder di dunia maya. Insya Allah aku akan datang pada pertemuan KPSI Simpul Yogyakarta hari Minggu esok. Dan salah satu tujuan hidup sekunderku adalah aktif dalam komunitas ini, bukan sebagai caregiver,…tapi sebagai psikiater.
     Apakah kamu kaget dengan tujuan hidupku itu kawan? Kamu akan lebih terkejut lagi bila mengetahui tujuan hidup primerku. Tujuan hidupku yang utama adalah menjadi seorang psikiater. Betapapun tampaknya sulit dan dan tidak masuk akalnya itu bagimu sekarang ini. Kita lihat nanti apakah aku bisa menjadi seorang neuropsikiater. Orientasi dalam disiplin ilmu itu belum terlalu penting bagiku sekarang. Mungkin aku akan menjadi seorang Jungian, atau Franklian, atau apapun itu. Tapi aku tidak akan menjadi seorang Freudian murni. Terlalu banyak kritik terhadap Freud sekalipun teorinya tentang alam bawah sadar dan analisis mimpi adalah karya yang menggetarkan.
     Aku bahkan tidak peduli bila nanti penghasilanku sebagai seorang psikiater tidak cukup sebanding dengan pengorbananku untuk mewujudkannya. Aku tidak peduli bila nanti aku tinggal di rumah tipe RSSSS karena banyak pasienku tidak dapat membayarku untuk sekedar memperoleh pertolongan professional. Apakah teman-teman tahu kepanjangan dari RSSSS? Itu adalah tipe Rumah Sangat Sederhana sehingga Sulit Selonjor.
     Untuk itu tentu aku mesti kuliah lagi. Masuk Fakultas Kedokteran dan mengikuti seluruh proses Pendidikan Dokter dengan  patuh dan bahagia. Jelas perlu biaya banyak, karena masuk Fakultas Kedokteran sekarang ini di Indonesia mahal sekali. Aku akan mengumpulkan uang dengan menulis. Menulis cerpen, FTS atau Flash True Story dan mencoba membuat novel. Sebuah tema telah tergambar di pikiranku tentang novel itu. Tinggal merenungkannya lagi dan lagi,..serta mulai menulisnya. Aku juga sudah mendapat ide untuk cerpenku yang terbaru. Tampaknya itulah yang pertama kali kulakukan terlebih dahulu. Soalnya ide untuk cerpen itu sudah muncul dalam benak bertahun-tahun yang lalu. Dan mulai menjadi matang beberapa hari ini.
     Kudedikasikan diriku untuk membantu penyembuhan pasien-pasienku. Karena yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla. Aku akan hidup dalam dunia pasien-pasienku. Dunia halusinasi, delusi dan waham yang paling mengerikan sekalipun. Sekaligus menyadari bahwa duniaku bukanlah dunia mereka. Keterampilan menjaga jarak dengan dunia orang lain itu tentu sangat berguna. Bukan hanya dalam karierku kelak sebagai seorang psikiater, tapi juga bermanfaat dalam hidup keseharianku kini.
     Aku ingat dengan buku Eyang Kakung Mohammad yang kubaca waktu kecil dulu. Buku itu bercerita tentang Albert Schweizer. Seorang misionaris penyebar agama Kristen di Afrika. Schweizer berusia tigapuluh tahun ketika memutuskan untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagi misionaris di Afrika. Dan pada usia itulah dia memasuki Sekolah Kedokteran di Jerman. Aku adalah seorang Muslim,..aku tidak ingin menjadi misionaris Islam. Jelas sudah pernyataan akhir Surah Al Kaafiruun,..lakum diinukum wa liyadiin. Untukmu agamamu dan untukku agamaku… Karena itu aku tidak akan menyebarkan agama pada orang yang sudah beragama. Aku akan melayani mereka karena itu adalah panggilan jiwaku. Suatu cara untuk mengabdi kepada Allah dengan cara yang kuyakini benar.
     Semakin kutuliskan visi dan misi dalam hidupku ini, semakin jelaslah bagiku bahwa aku tidak berkhayal. Siapa yang bisa membantah bahwa aku sekarang ini sedang menulis? Tidak ada seorang pun. Tidak ada seorang pun.
ENTJ - "Field Marshall". The basic driving force and need is to lead. Tend to seek a position of responsibility and enjoys being an executive. 1.8% of total population.
Take Free Jung Personality Test
Personality Test by SimilarMinds.com
    

2 comments:

  1. Serius, Fermy? Mau jadi dokter? Masih banyak pilihan fakultas lain lho..

    ReplyDelete
  2. Ya serius lah mBak Vick...perkara keturutan ato enggak itu urusan lain..yg jelas langkahku bukan dari nol,...langkah pertama sudah lah,...sekalipun berikutnya perlu limaribu langkah....santai saja,...tapi serius,...

    ReplyDelete

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...