Tuesday, May 8, 2012

Kebiasaanku Merokok


     Aku mempunyai sebuah kebiasaan buruk. Diantara kebiasaan-kebiasaan burukku yang lain, kebiasaan itulah yang paling menjengkelkanku. Kebiasaan itu adalah kebiasaan merokok yang akut. Aku bisa menghabiskan dua bungkus sehari. Menjijikkan bukan? Sudah kucoba melakukan berbagai cara untuk menghentikan kebiasaan burukku itu. Aku bahkan sudah mencoba metode Emotional Freedom Technique, atau lebih dikenal dengan EFT, suatu metode healing yang dikenalkan dan dipopulerkan oleh Gary Craig, lulusan Mechanical Engineering Department dari Stanford University.
     Tapi tetap saja kebiasaanku itu seolah-olah menjadi suatu kebiasaan yang menetap. Dan bertambah lama bertambah parah. Secara kognitif aku tahu bahwa merokok itu tidak sehat dan cuma menghamburkan uang saja. Secara afektif aku juga merasa tidak nyaman , sedih dan jengkel dengan kebiasaan jelek yang menetap itu. Tapi secara psikomotoris aku melakukannya hampir sepanjang waktu. Aku melakukaannya hampir tanpa berfikir sama sekali. Mulai dari mengambil sebatang rokok dari pembungkusnya, menyalakannya dengan nikmat, dam mulailah aku berkebul-kebul ria.
     Gary Craig suka melakukan cramming pada pasien-pasiennya. Dia mengoceh apa saja sambil melakukan tapping pada titik-titik akupunktur di beberapa meridian tubuh. Prinsip itu akan aku lakukan kini, melakukan cramming pada diriku sendiri. Aku ingin mengingat-ingat, adakah suatu peristiwa yang sudah terkubur di alam bawah sadarku sehingga aku mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan itu? Sebuah metode self-psychoanalyze. Cuma aku belum tahu bagaimana langkah selanjutnya setelah itu. Pengetahuanku tentang psikoterapi hampir tidak ada. Aku bukan seorang psikolog atau seorang psikiater kini.
     Ada dua hal di masa laluku yang kuingat sebagai sebab mengapa sekarang aku menjadi seorang perokok aktif. Yang pertama adalah akibat konflik yang sangat keras dengan ayahku almarhum. Aku ingin menunjukkan padanya, bahwa kalau begini caramu mendidikku, aku juga bisa menjadi anak yang nakal. Merokok adalah cara yang kupilih. Yang kedua agak panjang ceritanya, dan memerlukan energi yang besar untuk mengingatnya kembali. Terus terang itu sebenarnya juga membuatku merasa kurang nyaman dan sakit.
     Aku akan mengingat sebab yang kedua itu. Sekalipun terasa perih di hati. Mungkin itu adalah sebuah konsekuensi dari psikoanalisa yang kulakukan secara kecil-kecilan ini. Adalah tidak adil untuk memvonis bahwa hanya kasus itulah yang menyebabkanku merokok. Konflikku dengan ayahku jelas mempunyai andil yang besar. Aku bisa terjebak dalam sebuah reductio at absurdum dalam tulisan ini. Tapi karena ini adalah sebuah esai pendek biasa, dan bukan sebuah tulisan ilmiah, maka aku akan mengambil resiko itu.
     Perlu juga dicatat, kebiasaan buruk merokokku ini adalah tanggung jawab pribadiku sendiri. Tidak ada orang atau pihak lain yang perlu disalahkan. Aku memilih untuk merokok, dan pilihan itu kulakukan dengan sadar. Menulis ini kuharap sebagai langkah awal dari perjuangan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap rokok. Aku tidak mau selamanya menjadi budak rokok.
     Peristiwa itu berawal ketika aku lulus dari SMA Negeri 5 Malang, dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Sebentar kawan,..tanganku mulai gemetar dan aku sedikit pusing. Aku perlu keluar rumah sebentar untuk menghirup udara segar sebelum kembali menulis disini.
     Baiklah,…aku lanjutkan kembali… Sebagaimana tradisi pada jaman itu, setiap mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti Penataran P4 sebelum benar-benar mengikuti kegiatan perkuliahan yang sebenarnya. Demikian pula aku tak terkecuali. Aku mengikuti penataran yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya selama dua minggu.
     Di hari-hari awal selama mengikuti Penataran P4 itu aku berkenalan dengan seorang gadis cantik. Dia memintaku untuk duduk di sebelahnya setelah kami bercakap-cakap singkat itu. Segera saja aku setuju. Kuambil tasku dari tempatku duduk dan memindahkannya di sebelah tempat duduk gadis itu. Sesi berikutnya dan sesi-sesi berikutnya aku akhirnya selalu menempati posisi di sebelah gadis itu. Terus terang, aku menikmati bau badannya yang lembut, aku tahu dia tidak memakai parfum pada saat-saat itu. Apabila kami semua sudah kecapekan dan hari menjelang sore, bau badannya semakin terasa, dan aku semakin menikmatinya.
     Hari-hari berlalu semenjak Penataran P4 itu, dan kami menjadi semakin akrab. Kutanyakan padanya, apa syarat untuk menjadi pacarnya? Dia bilang, “Jangan merokok”. Sesederhana itu?, kupikir. Aku sendiri memang belum menjadi perokok pada saat itu. Awal-awal kuliah di Fakultas Kedokteran.
     Semakin lama aku semakin menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Kami seolah-olah tak terpisahkan di awal-awal kuliah itu. Pernah kutanyakan padanya mengapa dia masuk Fakultas Kedokteran, dan dia menjawab dengan sebuah cerita yang panjang. Ternyata dia mengidap asma sejak kecil, dan kebetulan dokter yang merawatnya adalah seorang dokter yang baik hati. Dia terkesan dengan dokter yang merawatnya itu dan ingin menjadi seorang dokter pula.
     Pada sekitar akhir bulan kedua aku kuliah, aku diprovokasi oleh seorang temanku. Namanya Haidar Bauzier, sekarang dokter spesialis penyakit dalam entah dimana. Aku tidak ingat lagi apa yang diprovokasikannya pada saat itu,….semacam aku tidak punya harga diri dan menjadi hamba seorang perempuan. Aku hanya ingat bahwa Haidar menyuruhku untuk mengatakan sesuatu pada gadisku itu. Sesuatu yang akan membuatku tampak lebih bermartabat di depan teman-temanku. Tidak lagi nampak sebagai pelayan seorang gadis.
     Sebentar,…sebentar,….aku perlu waktu untuk menulis lagi. Kepalaku kembali pusing. Sepertinya aku dikuasai oleh kemarahan. Dan aku perlu waktu untuk menenangkan diri kembali.
     Ini adalah bagian terberat bagiku untk menuliskannya. Aku melakukan persis apa yang dikatakan Haidar. Dan gadis itu marah besar. Perlu waktu yang lama bagiku untuk tidak lagi menyalahkan Haidar dan melihatnya sebagai sebuah tanggung jawabku pribadi. Aku memang hanya diprovokasi, dan apabila aku cukup bisa berfikir jernih waktu itu, tentu aku tidak perlu termakan provokasinya. Memang itu tanggung jawabku pribadi. Tidak ada yang patut disalahkan pada peristiwa itu, apalagi gadis itu, dia hanyalah korban dari kekonyolanku.
     Setelah itu hubungan kami menjadi berjarak. Dan pada saat itulah seorang pemuda Mojokerto mendekatinya. Teman seangkatanku juga. Aku hanya memandangi hubungan mereka yang semakin hari semakin akrab dengan sedih. Gadis itu bahkan mengambilkan diktat kuliah yang dibagikan pada waktu kuliah untuk si pemuda Mojokerto. Si pemuda tidak perlu mengambilnya sediri di meja dosen. Sesuatu hal yang dulunya kulakukan untuk gadis itu. Perih rasanya…
     Kupikir saat itu aku menjadi matagelap. Kulakukan lagi sebuah kekonyolan yang tidak perlu. Kulakukan hal yang dilarang oleh gadis itu. Pada suatu pagi menjelang kuliah, sengaja aku datang lebih awal. Aku membeli sebatang rokok dengan korek apinya sekalian. Teman-teman mulai berdatangan. Aku tetap sabar menunggu sampai gadis itu datang. Gadis itu benar-benar datang, dia memang mahasiswi yang rajin. Begitu kulihat ia di depan pintu,..kunyalakan rokokku. Aku ingin dia melihatnya. Aku merokok berkebul-kebul ria dan anehnya aku tidak batuk-batuk. Biasanya gadis itu cuek denganku, tapi kali itu dia terkejut sekali. Dipandangnya aku dengan terbelalak, terhenti langkahnya sebentar. Akhirnya dia melanjutkan langkah tidak perduli dan duduk di sebelah pemuda Mojokerto.
     Kekacauan demi kekacauan mulai terjadi dalam hidupku. Waktu itu aku hampir tidak punya teman untuk berbagi kesedihan, kecuali seorang teman bernama Mahsun Muhammadi, dan tiga orang kakak kelas yang bernama Ali Mahsun, Warih Tjahyono dan Ahmad Khotib. Mereka berusaha untuk membangkitkan kembali semangat kuliahku yang timbul tenggelam. Tapi aku terlalu terlarut dalam kesedihan, aku masuk dalam suatu fase depresif yang nyata.
     Aku bukannya tidak berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan gadis itu. Aku berkali-kali minta maaf padanya. Bahkan pernah kudatangi rumahnya hanya sekedar untuk menyampaikan penyesalan dan permohonan maafku. Aku tahu,…dia tidak akan pernah benar-benar memaafkanku.
     Aku bahkan mengirim surat pada seorang Om-ku, yang waktu itu kuliah di Louisiana State University di Amerika Serikat sana untuk membelikanku sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun buatan Amerika dan dibeli di Amerika. Surat ucapan selamat ulang tahun buatan Harvest itu benar-benar datang dua bulan kemudian. Kusimpan dan kutunggu dengan sabar hari ulang tahunnya.
     Persis tanggal 14 Agustus, hari ulang tahunnya, kuantarkan surat itu ke rumahnya. Kubilang surat karena memang berbentuk surat, bukan sebuah kartu. Memang unik sekali. Aku yakin sekali waktu itu di Malang atau Surabaya pun tidak ada yang menjual surat ucapan seperti itu. Kutulis dengan hati-hati pada surat itu, LIFE BEGINS AT FORTY, sebuah saying yang sangat terkenal dalam bahasa Inggris. Kemudian dengan hati-hati pula kucoret kata FORTY dengan dua garis tegas. Lalu dibelakangnya kuganti dengan kata TWENTY. Dia memang setahun lebih tua daripada aku. Jadi aku merokok mulai usia sembilanbelas tahun.
     Ketika aku kuliah di Universitas Gadjah Mada, aku pernah mengiriminya surat sekali. Tapi suratku itu tidak ditanggapinya. Tiga semester pertama di UGM aku betul-betul tidak bisa melupakannya. Sering aku terbangun pada tengah malam dari sebuah mimpi buruk. Pernah aku seperti terhentak dari tidur dan berteriak memanggil namanya. Peluh berleleran dari tubuhku,…dan aku gemetaran. Pada saat-saat itu aku memasuki fase melancholia yang sangat parah.
     Mungkin itu dulu yang bisa kuceritakan pada saat ini. Bagiku,..merokok itu sudah merupakan penyakit,..aku sedang mencari-cari taht, apa yang kira-kira dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater setelah sesi psikoanalisa berakhir. Mungkin melakukan suatu reframing, aku tidak tahu. Mungkin cara yang termudah adalah segera pergi mencari bantuan. Sebagai makhluk sosial, manusia memang tidak bisa hidup sendiri,…

5 comments:

  1. pemberontakan rokok sudah usai. saya yakin bapak sebenarnya sayang sama kamu. cuma kosa kata beliau terbatas dan interfacenya kurang cocok denganmu. forgive him for being that naive.

    sekarang pilihlah alat perjuangan yang baru untuk menata masa depanmu. hidup sangat berharga. sayang kalau cuma dihabiskan untuk berkutat di gagasan. gunakan energi otak, raga dan passionmu kepada hal2 yang membantu sesama ciptaan Tuhan.

    hubungkan dunia gagasan dengan karsa dan karya di dunia nyata. mulai dari hal2 kecil. sederhanakan hidup agar tidak terlalu stress. jauhi masalah2 baru, selesaikan PR kehidupan yang tertunda. carilah pasangan yg baik, sebagai mitra diskusi dan pengambilan keputusan yg sehat.

    Pilihlah pilihan hidup yang membahagiakan diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Good luck with your life.

    ReplyDelete
  2. masukan positif mas ado,..thanks a lot,... good luck for you too,..and take care,...

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Ternyata anda punya moment keberhasilan ....si waktu dengan hal2 positif

    ReplyDelete
  5. Mator sakalangkong Pak Achmad,...nyo'on delem pangestona,....

    ReplyDelete

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...