Friday, May 11, 2012

Berurusan Dengan Dunia Perbankan


    Pengetahuanku tentang ilmu ekonomi sangatlah minim, apalagi ekonomi perbankan. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan CAR, kliring, giro dan lain-lain. Bahkan ketika duduk di Sekolah Dasar, dan pada waktu kelas empat serta lima mendapatkan pelajaran Tata Buku dan Hitung Dagang, aku masih sulit untuk membedakan antara Debet dan Kredit. Barulah ketika ada produk perbankan yang bernama Kartu Debet dan Kartu Kredit, aku mulai bisa membedakan kedua istilah itu.
    Layanan perbankan yang aku nikmati pertama kali adalah Tabungan. Waktu itu aku masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Ayahku mengirimkan uang untuk biaya kehidupan dan kuliahku melalui transfer perbankan setiap bulannya. Aku mengambilnya sedikit-sedikit sesuai keperluanku di ATM.
    Bank yang menjadi pilihanku untuk bertransaksi itu adalah sebuah bank swasta nasional yang besar. Sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Tentu ada alasan kenapa aku memilih bank itu. Ketika aku masih kecil, aku memiliki seorang Tante yang bekerja di bank tersebut. Namanya Tante Syamsiyati Nurlatifah. Beliau sangat sayang padaku. Seringkali beliau bertanya dalam surat-suratnya yang manis,..kamu ingin apa Mit? Dalam salah satu balasan suratku, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin punya tas koper. Maka tak lama kemudian datanglah paket dari Tanteku itu sebuah tas koper yang kupakai ke sekolah dengan penuh kebanggaan. Banyak kenangan manis tentang tanteku itu. Sayangnya beliau tidak berumur panjang. Beliau meninggalkan kami semuanya pada usia duapuluh delapan tahun. Waktu itu beliau masih aktif bekerja di bank yang kuceritakan tadi.
    Jelaslah mengapa aku memilih menjadi nasabah bank tersebut ketika melihat gedungnya di Bulaksumur, sebuah sisi di kampus kami. Mendatangi bank tersebut, dan menikmati layanan perbankan yang diberikannya selalu akan mengingatkanku pada Tante Syamsiyati Nurlatifah yang kucintai. Bank itu adalah cinta pertamaku.
    Ketika aku masih menjadi mahasiswa di UGM, banyak lembaga bisnis yang menawarkan kebebasan finansial bagi yang mengikuti programnya. Tapi aku tidak tertarik sama sekali. Teman-teman seringkali mengajakku untuk ikut. Tapi aku senyum-senyum saja dan dengan halus menolak. Kepribadianku memang konservatif dan konvensional dalam beberapa sisi, mungkin bahkan ada sedikit kecenderungan anakronistik pada diriku. Itulah alasannya mengapa aku selalu menolak ajakan teman-temanku itu dan itulah pula alasannya mengapa aku cenderung memilih bank-bank konvensional dibandingkan bank-bank yang lain.
    Di era informasi ini, berurusan dengan dunia perbankan dengan kemudahan transaksi yang ditawarkannya memang sepertinya tidak terhindarkan lagi. Itu benar-benar terjadi padaku kemudian setelah lulus. Melalui suatu perjalanan yang panjang dan berliku, akhirnya aku diterima bekerja di sebuah perusahaan Australia di Jakarta Selatan. Sistim pembayaran gaji yang dilakukan di perusahaan itu adalah melalui transfer rekening. Aku sudah tidak lagi memiliki sebuah rekening bank pun ketika itu. Kucari lokasi bank cinta pertamaku itu, yang terdekat dengan lokasi kerja dan kosku di Tanah Kusir. Aku memang menemukannya, tapi aku mesti naik angkot dulu untuk kesana, sedangkan aku mesti berhemat. Bayaranku belum seberapa banyak. Bank yang terdekat waktu itu adalah BCA KCP Ciputat II. Meskipun agak jauh juga, namun aku bisa berjalan kaki kesana, baik dari kantor maupun dari tempat kosku.
    Aku mendapatkan informasi dari teman sekantor, bagaimana caranya untuk menjadi nasabah Bank BCA. Maka segera kupersiapkan Surat Keterangan Bekerja dari kantor yang kukonsep sendiri, uang limaratus ribu rupiah untuk saldo awal, serta KTP dari Malang. Untuk jaga-jaga aku mempersiapkan SIM C juga. Siapa tahu ditanyakan disana. Sengaja surat-surat yang kupersiapkan itu tidak kufotokopi dahulu, ada memang mesin foto kopi di kantor, tapi aku masih belum bisa menggunakannya. Lagian Office Boy lagi sibuk. Aku yakin bahwa di BCA pasti ada mesin foto kopi.
    Berjalan kaki aku menuju kantor BCA KCP Ciputat II. Sesampai disana seorang bapak Satpam membukakan pintu untukku, dan mengucapkan selamat siang. Kuutarakan niatku untuk menjadi nasabah Bank BCA dan bapak Satpam itu dengan sigap mengambilkan sebuah kartu antrian untuk menemui Customer Service serta mempersilahkanku untuk duduk menunggu. Manis sekali.
    Aku duduk menunggu sambil melepas lelah. Agak jauh juga memang perjalananku dari kantor menuju Kantor BCA KCP Ciputat II. Setelah seberapa lama nomorku dipanggil oleh Customer Service yang bertugas saat itu. Seorang perempuan berusia awal empatpuluhan kukira. Kami bersalaman dan berkenalan. Namanya mBak Sri, aku lupa nama lengkapnya. Kuutarakan maksudku pada mBak Sri dan beliau kemudian menjelaskan produk-produk perbankan yang ditawarkan oleh BCA serta solusi perbankan untuk urusan-urusan finansial yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan di Jakarta pada umumnya.
    Benar dugaanku, mBak Sri ternyata memfotokopi sendiri surat-surat yang diperlukan dan urusanku di BCA selesai dengan cepat. Kartu ATM juga sudah selesai hari itu juga. Aku senang sekali karena mendapatkan pelayanan yang baik. Kami bertukar senyum, bersalaman dan aku balik ke kantor.
    Demikianlah ceritanya sampai akhirnya aku menjadi nasabah Bank BCA. Pengetahuanku tentang layanan perbankan juga bertambah setelah itu. Aku ingin bisa bertransaksi melalui sms-banking dan kembali aku menemui mBak Sri. Demikian pula kali itu urusanku kembali lancar dan tidak bertele-tele. Saat itulah pertama kalinya aku menikmati layanan perbankan yang bernama sms-banking.
    Aku menikmati kemudahan transaksi yang diberikan oleh BCA. Gajiku tidak pernah telat sampai di tanganku. Kadang-kadang aku mengambil uang di teller kalau sudah bosan mengambil di ATM. Interaksi interpersonal dengan para karyawan bank waktu aku berada di kantor BCA Ciputat II sungguh aku nikmati.
    Pada suatu hari aku bermaksud mengambil uang di teller. Bapak Satpam dengan sigap mengambilkanku slip penarikan tunai seperti biasanya. Segera kuisi dan segera antri. Sesampai di teller ternyata ada seorang perempuan yang berdiri di belakang para teller itu. Gadis itu berkerudung, manis dan berkaca mata. Kuperhatikan gadis itu baik-baik, ada gurat-gurat yang mengingatkanku pada wajah Sitoresmi Prabuningrat, keponakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sikapnya anggun, teduh dan tampak terpelajar. Dia balas menatapku dan tersenyum. Oooo…ternyata dia juga ramah dan hangat.
    Sejak saat itu aku lebih suka mengambil uang di teller daripada di ATM. Aku berharap bisa mencuri pandang kearah cewek itu. Kadang-kadang aku beruntung, tapi seringkali pula tidak. Aku mencoba mencari alasan untuk berkenalan dengan gadis berkerudung itu, tapi aku tidak menemukan satu cara pun yang tampak wajar dan masuk akal. Maka jadilah aku sekedar fans gelapnya.
    Pada suatu hari kartu ATM-ku hilang. Terpaksalah aku datang ke kantor BCA KCP Ciputat II untuk melaporkannya. Seperti biasanya aku dilayani oleh mBak Sri, si Customer Service yang ramah itu. Rupanya saat itu mBak Sri sedang pilek. Dia memakai masker berwarna hijau yang biasa dipakai oleh tenaga medis dan paramedis di Rumah Sakit. Timbul pikiran isengku untuk menjahilinya.
    “Mbak Sri hari ini aneh betul”, kataku memulai keisenganku.
    “Apanya yang aneh?”, tanyanya.
    “Kok mBak Sri pakai cadar tapi nggak pakai kerudung?”, sahutku sambil cengengesan.
    Perempuan itu tampak menahan tawa dibalik maskernya. Kemudian.
    “Lha yang tidak aneh bagaimana?”.
    Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. Kemudian mBak Sri memanggil sebuah nama. Yang dipanggil kemudian datang mendekati kami. Astaga,..ternyata yang dipanggilnya si cantik berkerudung yang wajahnya mirip Sitoresmi Prabuningrat itu.
    “Kalau yang ini aneh nggak?”, Tanya mBak Sri padaku yang masih cengar-cengir.
    “Ya nggak lah mBak”, jawabku spontan.
    “Kenapa nggak?”, kejar mBak Sri sambil terus tertawa.
    “Lah,..pakai kerudung tapi tidak pakai cadar kan nggak aneh”, jawabku tak mau kalah.
    “Cantik mana?”, tanya mBak Sri. Rupanya kali itu gantian mBak Sri yang jail.
    “Ya cantik yang pakai kerudung tapi nggak pakai cadar lah mBak”, jawabku terus terang.
    “Naksir ya?”, tanya mBak Sri lagi.
    Kali ini aku dan gadis itu yang cengar-cengir bersamaan. Kompak ni yee.
    “Tanyain namanya aja Fermy”, usul mBak Sri padaku.
    “Siapa namanya mBak?”, tanyaku nekad.
    Si gadis berkerudung dan berkacamata (tapi tidak bercadar), itu masih cengar-cengir. Aku tersenyum senang melihat sikapnya yang salah tingkah.
    “Ya udah,..kalau gak mau kasih tahu ya dikasih nama sendiri aja”, kataku seenaknya.
    “Siapa?”, Tanya mBak Sri.
    “Sweety”, jawabku asal.
    Gadis manis berkerudung itu menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak bisa menahan rasa gelinya. Kemudian dia berlari memasuki ruangan di belakang para teller bekerja. Mbak Sri tertawa keras-keras, kemudian dia kembali menggodaku.
    “Panggil dong”, katanya sambil tertawa.
    “Sweety,….sweety,…gitu lho”, lanjutnya memberi contoh.
    Kali ini aku yang tertawa. Ternyata mBak Sri bisa juga melucu. Aku sangat menghargai pertemananku dengan para karyawan BCA di KCP Ciputat II itu. Mereka itu orang-orang yang baik dan ramah. Sayangnya aku tidak bisa melanjutkan pertemanan itu dengan mereka. Tiba-tiba aku sakit keras tak lama setelah peristiwa itu berlalu. Ibuku membawaku pulang secara paksa ke Malang, aku bahkan tidak sempat pamit ke kantorku. Saking paniknya Ibuku, beliau bahkan tidak sempat mengemasi barang-barangku di kos. Pakaian, buku-buku, surat-surat identitas, bahkan Buku Tabungan dan Kartu ATM BCA-ku tertinggal di tempat kosku di Jakarta itu. Selama seminggu aku dirawat di RSUD Saiful Anwar Malang.
    Beberapa minggu kemudian, setelah diperbolehkan oleh dokter yang merawatku untuk pulang, aku mencoba mencari tahu bagaimana keadaan rekeningku saat itu. Seingatku, bulan terakhir aku bekerja, aku belum menerima gaji. Maka, berbekal Surat Keterangan Kehilangan dari Polres Kedungkandang Malang, aku mencoba menanyakan nasib rekeningku itu. Kebetulan aku mendapatkan nomor rekeningku dari sebuah slip transfer.
    Aku mendatangi kantor cabang BCA di dekat Lapangan Rampal, dan mendapat jawaban bahwa aku harus mengurus rekeningku itu di kantor cabang tempat aku membuka rekening. Aku sadar, mereka tentu punya suatu aturan yang harus ditegakkan dan ditaati. Itu untuk kepentingan nasabah sendiri. Sebagai nasabah aku harus patuh pada aturan itu.
    Pulang dari sana aku bercerita pada Ibu bahwa rekeningku harus diurus di Jakarta. Tidak bisa di Malang sini. Dengan takut-takut kubilang pada Ibu bahwa aku memerlukan uang untuk pergi ke Jakarta mengurusi segala sesuatunya yang belum jelas. Mungkin masih tersisa sedikit uang di rekening itu yang bisa dimanfaatkan. Siapa tahu perusahaan Australia tempat aku bekerja itu masih berbaik hati membayarkan gajiku yang terakhir di rekening itu. Tapi rupanya Ibuku benar-benar tidak punya uang. Bahkan untuk biaya pengobatanku selama seminggu di RSUD Saiful Anwar itu beliau masih berhutang disana-sini. Belum lagi sekarang beban beliau bertambah karena mesti menanggung biaya berobat jalanku setiap bulannya.
    Aku mengerti kondisi Ibuku,..adakalanya memang kita harus mengalah untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Adikku yang bontot masih kuliah dan dia juga bergantung pada Ibu. Ibuku cuma istri pensiunan pegawai negeri biasa. Uang pensiun yang diterimanya tidak besar.
    Tapi itu tidak berarti kiamat bagiku. Aku masih memiliki harapan, cita-cita dan rencana masa depan. Aku ingin kuliah lagi. Tentu aku sebaiknya berharap pada diriku sendiri terutama. Bukan pada ibuku. Aku mencoba untuk mengaktifkan blog-ku yang sudah agak lama terbengkalai,..mengisinya dengan postingan-postingan, dan mulai menulis cerpen. Aku belajar menulis dan mulai menikmatinya. Alhamdulillah,..bukannya tanpa hasil. Blog-ku sudah dinyatakan fully-approved oleh program monetize dari sebuah provider blog gratis, dan oleh karenanya dipasangi iklan. Tentu masih terlalu jauh untuk berharap mendapat penghasilan yang mencukupi dari program itu saja, belum bisalah untuk mengharapkan suatu kebebasan finansial dari situ. Aku berharap bisa menulis novel, sebuah outline sudah tergambar berkelebat di pikiranku. Dan mudah-mudahan cita-citaku untuk kuliah lagi bukanlah sebuah wishful thinking saja.
    Kadang-kadang juga ingatanku tentang teman-temanku di BCA KCP Ciputat II berkelebat sekejap. Aku ingat keramahan mereka, persahabatan yang mereka tawarkan, ruang tunggu mereka yang berharum khas. Seolah-olah aku dapat mencium baunya kini. Aku sangat menghargai pertemanan dan persahabatan itu. Dan aku ingat pada dialog-dialog kecil antara aku dan mBak Sri. Mudah-mudahan rekeningku belum ditutup karena memang sudah hampir setahun tidak ada transaksi di dalamnya. Aku masih ingin mengurusnya jika punya kesempatan ke Jakarta lagi, bagiku bukan nilai uangnya lagi yang paling penting. Tapi persahabatan kami. Yang terjalin dalam peristiwa–peristiwa kecil yang menyenangkan di KCP Ciputat II itu. Bank BCA adalah cinta keduaku, but, maybe the second will be the best.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...