Friday, May 11, 2012

Berurusan Dengan Dunia Perbankan


    Pengetahuanku tentang ilmu ekonomi sangatlah minim, apalagi ekonomi perbankan. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan CAR, kliring, giro dan lain-lain. Bahkan ketika duduk di Sekolah Dasar, dan pada waktu kelas empat serta lima mendapatkan pelajaran Tata Buku dan Hitung Dagang, aku masih sulit untuk membedakan antara Debet dan Kredit. Barulah ketika ada produk perbankan yang bernama Kartu Debet dan Kartu Kredit, aku mulai bisa membedakan kedua istilah itu.
    Layanan perbankan yang aku nikmati pertama kali adalah Tabungan. Waktu itu aku masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Ayahku mengirimkan uang untuk biaya kehidupan dan kuliahku melalui transfer perbankan setiap bulannya. Aku mengambilnya sedikit-sedikit sesuai keperluanku di ATM.
    Bank yang menjadi pilihanku untuk bertransaksi itu adalah sebuah bank swasta nasional yang besar. Sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Tentu ada alasan kenapa aku memilih bank itu. Ketika aku masih kecil, aku memiliki seorang Tante yang bekerja di bank tersebut. Namanya Tante Syamsiyati Nurlatifah. Beliau sangat sayang padaku. Seringkali beliau bertanya dalam surat-suratnya yang manis,..kamu ingin apa Mit? Dalam salah satu balasan suratku, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin punya tas koper. Maka tak lama kemudian datanglah paket dari Tanteku itu sebuah tas koper yang kupakai ke sekolah dengan penuh kebanggaan. Banyak kenangan manis tentang tanteku itu. Sayangnya beliau tidak berumur panjang. Beliau meninggalkan kami semuanya pada usia duapuluh delapan tahun. Waktu itu beliau masih aktif bekerja di bank yang kuceritakan tadi.
    Jelaslah mengapa aku memilih menjadi nasabah bank tersebut ketika melihat gedungnya di Bulaksumur, sebuah sisi di kampus kami. Mendatangi bank tersebut, dan menikmati layanan perbankan yang diberikannya selalu akan mengingatkanku pada Tante Syamsiyati Nurlatifah yang kucintai. Bank itu adalah cinta pertamaku.
    Ketika aku masih menjadi mahasiswa di UGM, banyak lembaga bisnis yang menawarkan kebebasan finansial bagi yang mengikuti programnya. Tapi aku tidak tertarik sama sekali. Teman-teman seringkali mengajakku untuk ikut. Tapi aku senyum-senyum saja dan dengan halus menolak. Kepribadianku memang konservatif dan konvensional dalam beberapa sisi, mungkin bahkan ada sedikit kecenderungan anakronistik pada diriku. Itulah alasannya mengapa aku selalu menolak ajakan teman-temanku itu dan itulah pula alasannya mengapa aku cenderung memilih bank-bank konvensional dibandingkan bank-bank yang lain.
    Di era informasi ini, berurusan dengan dunia perbankan dengan kemudahan transaksi yang ditawarkannya memang sepertinya tidak terhindarkan lagi. Itu benar-benar terjadi padaku kemudian setelah lulus. Melalui suatu perjalanan yang panjang dan berliku, akhirnya aku diterima bekerja di sebuah perusahaan Australia di Jakarta Selatan. Sistim pembayaran gaji yang dilakukan di perusahaan itu adalah melalui transfer rekening. Aku sudah tidak lagi memiliki sebuah rekening bank pun ketika itu. Kucari lokasi bank cinta pertamaku itu, yang terdekat dengan lokasi kerja dan kosku di Tanah Kusir. Aku memang menemukannya, tapi aku mesti naik angkot dulu untuk kesana, sedangkan aku mesti berhemat. Bayaranku belum seberapa banyak. Bank yang terdekat waktu itu adalah BCA KCP Ciputat II. Meskipun agak jauh juga, namun aku bisa berjalan kaki kesana, baik dari kantor maupun dari tempat kosku.
    Aku mendapatkan informasi dari teman sekantor, bagaimana caranya untuk menjadi nasabah Bank BCA. Maka segera kupersiapkan Surat Keterangan Bekerja dari kantor yang kukonsep sendiri, uang limaratus ribu rupiah untuk saldo awal, serta KTP dari Malang. Untuk jaga-jaga aku mempersiapkan SIM C juga. Siapa tahu ditanyakan disana. Sengaja surat-surat yang kupersiapkan itu tidak kufotokopi dahulu, ada memang mesin foto kopi di kantor, tapi aku masih belum bisa menggunakannya. Lagian Office Boy lagi sibuk. Aku yakin bahwa di BCA pasti ada mesin foto kopi.
    Berjalan kaki aku menuju kantor BCA KCP Ciputat II. Sesampai disana seorang bapak Satpam membukakan pintu untukku, dan mengucapkan selamat siang. Kuutarakan niatku untuk menjadi nasabah Bank BCA dan bapak Satpam itu dengan sigap mengambilkan sebuah kartu antrian untuk menemui Customer Service serta mempersilahkanku untuk duduk menunggu. Manis sekali.
    Aku duduk menunggu sambil melepas lelah. Agak jauh juga memang perjalananku dari kantor menuju Kantor BCA KCP Ciputat II. Setelah seberapa lama nomorku dipanggil oleh Customer Service yang bertugas saat itu. Seorang perempuan berusia awal empatpuluhan kukira. Kami bersalaman dan berkenalan. Namanya mBak Sri, aku lupa nama lengkapnya. Kuutarakan maksudku pada mBak Sri dan beliau kemudian menjelaskan produk-produk perbankan yang ditawarkan oleh BCA serta solusi perbankan untuk urusan-urusan finansial yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan di Jakarta pada umumnya.
    Benar dugaanku, mBak Sri ternyata memfotokopi sendiri surat-surat yang diperlukan dan urusanku di BCA selesai dengan cepat. Kartu ATM juga sudah selesai hari itu juga. Aku senang sekali karena mendapatkan pelayanan yang baik. Kami bertukar senyum, bersalaman dan aku balik ke kantor.
    Demikianlah ceritanya sampai akhirnya aku menjadi nasabah Bank BCA. Pengetahuanku tentang layanan perbankan juga bertambah setelah itu. Aku ingin bisa bertransaksi melalui sms-banking dan kembali aku menemui mBak Sri. Demikian pula kali itu urusanku kembali lancar dan tidak bertele-tele. Saat itulah pertama kalinya aku menikmati layanan perbankan yang bernama sms-banking.
    Aku menikmati kemudahan transaksi yang diberikan oleh BCA. Gajiku tidak pernah telat sampai di tanganku. Kadang-kadang aku mengambil uang di teller kalau sudah bosan mengambil di ATM. Interaksi interpersonal dengan para karyawan bank waktu aku berada di kantor BCA Ciputat II sungguh aku nikmati.
    Pada suatu hari aku bermaksud mengambil uang di teller. Bapak Satpam dengan sigap mengambilkanku slip penarikan tunai seperti biasanya. Segera kuisi dan segera antri. Sesampai di teller ternyata ada seorang perempuan yang berdiri di belakang para teller itu. Gadis itu berkerudung, manis dan berkaca mata. Kuperhatikan gadis itu baik-baik, ada gurat-gurat yang mengingatkanku pada wajah Sitoresmi Prabuningrat, keponakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sikapnya anggun, teduh dan tampak terpelajar. Dia balas menatapku dan tersenyum. Oooo…ternyata dia juga ramah dan hangat.
    Sejak saat itu aku lebih suka mengambil uang di teller daripada di ATM. Aku berharap bisa mencuri pandang kearah cewek itu. Kadang-kadang aku beruntung, tapi seringkali pula tidak. Aku mencoba mencari alasan untuk berkenalan dengan gadis berkerudung itu, tapi aku tidak menemukan satu cara pun yang tampak wajar dan masuk akal. Maka jadilah aku sekedar fans gelapnya.
    Pada suatu hari kartu ATM-ku hilang. Terpaksalah aku datang ke kantor BCA KCP Ciputat II untuk melaporkannya. Seperti biasanya aku dilayani oleh mBak Sri, si Customer Service yang ramah itu. Rupanya saat itu mBak Sri sedang pilek. Dia memakai masker berwarna hijau yang biasa dipakai oleh tenaga medis dan paramedis di Rumah Sakit. Timbul pikiran isengku untuk menjahilinya.
    “Mbak Sri hari ini aneh betul”, kataku memulai keisenganku.
    “Apanya yang aneh?”, tanyanya.
    “Kok mBak Sri pakai cadar tapi nggak pakai kerudung?”, sahutku sambil cengengesan.
    Perempuan itu tampak menahan tawa dibalik maskernya. Kemudian.
    “Lha yang tidak aneh bagaimana?”.
    Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. Kemudian mBak Sri memanggil sebuah nama. Yang dipanggil kemudian datang mendekati kami. Astaga,..ternyata yang dipanggilnya si cantik berkerudung yang wajahnya mirip Sitoresmi Prabuningrat itu.
    “Kalau yang ini aneh nggak?”, Tanya mBak Sri padaku yang masih cengar-cengir.
    “Ya nggak lah mBak”, jawabku spontan.
    “Kenapa nggak?”, kejar mBak Sri sambil terus tertawa.
    “Lah,..pakai kerudung tapi tidak pakai cadar kan nggak aneh”, jawabku tak mau kalah.
    “Cantik mana?”, tanya mBak Sri. Rupanya kali itu gantian mBak Sri yang jail.
    “Ya cantik yang pakai kerudung tapi nggak pakai cadar lah mBak”, jawabku terus terang.
    “Naksir ya?”, tanya mBak Sri lagi.
    Kali ini aku dan gadis itu yang cengar-cengir bersamaan. Kompak ni yee.
    “Tanyain namanya aja Fermy”, usul mBak Sri padaku.
    “Siapa namanya mBak?”, tanyaku nekad.
    Si gadis berkerudung dan berkacamata (tapi tidak bercadar), itu masih cengar-cengir. Aku tersenyum senang melihat sikapnya yang salah tingkah.
    “Ya udah,..kalau gak mau kasih tahu ya dikasih nama sendiri aja”, kataku seenaknya.
    “Siapa?”, Tanya mBak Sri.
    “Sweety”, jawabku asal.
    Gadis manis berkerudung itu menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak bisa menahan rasa gelinya. Kemudian dia berlari memasuki ruangan di belakang para teller bekerja. Mbak Sri tertawa keras-keras, kemudian dia kembali menggodaku.
    “Panggil dong”, katanya sambil tertawa.
    “Sweety,….sweety,…gitu lho”, lanjutnya memberi contoh.
    Kali ini aku yang tertawa. Ternyata mBak Sri bisa juga melucu. Aku sangat menghargai pertemananku dengan para karyawan BCA di KCP Ciputat II itu. Mereka itu orang-orang yang baik dan ramah. Sayangnya aku tidak bisa melanjutkan pertemanan itu dengan mereka. Tiba-tiba aku sakit keras tak lama setelah peristiwa itu berlalu. Ibuku membawaku pulang secara paksa ke Malang, aku bahkan tidak sempat pamit ke kantorku. Saking paniknya Ibuku, beliau bahkan tidak sempat mengemasi barang-barangku di kos. Pakaian, buku-buku, surat-surat identitas, bahkan Buku Tabungan dan Kartu ATM BCA-ku tertinggal di tempat kosku di Jakarta itu. Selama seminggu aku dirawat di RSUD Saiful Anwar Malang.
    Beberapa minggu kemudian, setelah diperbolehkan oleh dokter yang merawatku untuk pulang, aku mencoba mencari tahu bagaimana keadaan rekeningku saat itu. Seingatku, bulan terakhir aku bekerja, aku belum menerima gaji. Maka, berbekal Surat Keterangan Kehilangan dari Polres Kedungkandang Malang, aku mencoba menanyakan nasib rekeningku itu. Kebetulan aku mendapatkan nomor rekeningku dari sebuah slip transfer.
    Aku mendatangi kantor cabang BCA di dekat Lapangan Rampal, dan mendapat jawaban bahwa aku harus mengurus rekeningku itu di kantor cabang tempat aku membuka rekening. Aku sadar, mereka tentu punya suatu aturan yang harus ditegakkan dan ditaati. Itu untuk kepentingan nasabah sendiri. Sebagai nasabah aku harus patuh pada aturan itu.
    Pulang dari sana aku bercerita pada Ibu bahwa rekeningku harus diurus di Jakarta. Tidak bisa di Malang sini. Dengan takut-takut kubilang pada Ibu bahwa aku memerlukan uang untuk pergi ke Jakarta mengurusi segala sesuatunya yang belum jelas. Mungkin masih tersisa sedikit uang di rekening itu yang bisa dimanfaatkan. Siapa tahu perusahaan Australia tempat aku bekerja itu masih berbaik hati membayarkan gajiku yang terakhir di rekening itu. Tapi rupanya Ibuku benar-benar tidak punya uang. Bahkan untuk biaya pengobatanku selama seminggu di RSUD Saiful Anwar itu beliau masih berhutang disana-sini. Belum lagi sekarang beban beliau bertambah karena mesti menanggung biaya berobat jalanku setiap bulannya.
    Aku mengerti kondisi Ibuku,..adakalanya memang kita harus mengalah untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Adikku yang bontot masih kuliah dan dia juga bergantung pada Ibu. Ibuku cuma istri pensiunan pegawai negeri biasa. Uang pensiun yang diterimanya tidak besar.
    Tapi itu tidak berarti kiamat bagiku. Aku masih memiliki harapan, cita-cita dan rencana masa depan. Aku ingin kuliah lagi. Tentu aku sebaiknya berharap pada diriku sendiri terutama. Bukan pada ibuku. Aku mencoba untuk mengaktifkan blog-ku yang sudah agak lama terbengkalai,..mengisinya dengan postingan-postingan, dan mulai menulis cerpen. Aku belajar menulis dan mulai menikmatinya. Alhamdulillah,..bukannya tanpa hasil. Blog-ku sudah dinyatakan fully-approved oleh program monetize dari sebuah provider blog gratis, dan oleh karenanya dipasangi iklan. Tentu masih terlalu jauh untuk berharap mendapat penghasilan yang mencukupi dari program itu saja, belum bisalah untuk mengharapkan suatu kebebasan finansial dari situ. Aku berharap bisa menulis novel, sebuah outline sudah tergambar berkelebat di pikiranku. Dan mudah-mudahan cita-citaku untuk kuliah lagi bukanlah sebuah wishful thinking saja.
    Kadang-kadang juga ingatanku tentang teman-temanku di BCA KCP Ciputat II berkelebat sekejap. Aku ingat keramahan mereka, persahabatan yang mereka tawarkan, ruang tunggu mereka yang berharum khas. Seolah-olah aku dapat mencium baunya kini. Aku sangat menghargai pertemanan dan persahabatan itu. Dan aku ingat pada dialog-dialog kecil antara aku dan mBak Sri. Mudah-mudahan rekeningku belum ditutup karena memang sudah hampir setahun tidak ada transaksi di dalamnya. Aku masih ingin mengurusnya jika punya kesempatan ke Jakarta lagi, bagiku bukan nilai uangnya lagi yang paling penting. Tapi persahabatan kami. Yang terjalin dalam peristiwa–peristiwa kecil yang menyenangkan di KCP Ciputat II itu. Bank BCA adalah cinta keduaku, but, maybe the second will be the best.

Tuesday, May 8, 2012

Kebiasaanku Merokok


     Aku mempunyai sebuah kebiasaan buruk. Diantara kebiasaan-kebiasaan burukku yang lain, kebiasaan itulah yang paling menjengkelkanku. Kebiasaan itu adalah kebiasaan merokok yang akut. Aku bisa menghabiskan dua bungkus sehari. Menjijikkan bukan? Sudah kucoba melakukan berbagai cara untuk menghentikan kebiasaan burukku itu. Aku bahkan sudah mencoba metode Emotional Freedom Technique, atau lebih dikenal dengan EFT, suatu metode healing yang dikenalkan dan dipopulerkan oleh Gary Craig, lulusan Mechanical Engineering Department dari Stanford University.
     Tapi tetap saja kebiasaanku itu seolah-olah menjadi suatu kebiasaan yang menetap. Dan bertambah lama bertambah parah. Secara kognitif aku tahu bahwa merokok itu tidak sehat dan cuma menghamburkan uang saja. Secara afektif aku juga merasa tidak nyaman , sedih dan jengkel dengan kebiasaan jelek yang menetap itu. Tapi secara psikomotoris aku melakukannya hampir sepanjang waktu. Aku melakukaannya hampir tanpa berfikir sama sekali. Mulai dari mengambil sebatang rokok dari pembungkusnya, menyalakannya dengan nikmat, dam mulailah aku berkebul-kebul ria.
     Gary Craig suka melakukan cramming pada pasien-pasiennya. Dia mengoceh apa saja sambil melakukan tapping pada titik-titik akupunktur di beberapa meridian tubuh. Prinsip itu akan aku lakukan kini, melakukan cramming pada diriku sendiri. Aku ingin mengingat-ingat, adakah suatu peristiwa yang sudah terkubur di alam bawah sadarku sehingga aku mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan itu? Sebuah metode self-psychoanalyze. Cuma aku belum tahu bagaimana langkah selanjutnya setelah itu. Pengetahuanku tentang psikoterapi hampir tidak ada. Aku bukan seorang psikolog atau seorang psikiater kini.
     Ada dua hal di masa laluku yang kuingat sebagai sebab mengapa sekarang aku menjadi seorang perokok aktif. Yang pertama adalah akibat konflik yang sangat keras dengan ayahku almarhum. Aku ingin menunjukkan padanya, bahwa kalau begini caramu mendidikku, aku juga bisa menjadi anak yang nakal. Merokok adalah cara yang kupilih. Yang kedua agak panjang ceritanya, dan memerlukan energi yang besar untuk mengingatnya kembali. Terus terang itu sebenarnya juga membuatku merasa kurang nyaman dan sakit.
     Aku akan mengingat sebab yang kedua itu. Sekalipun terasa perih di hati. Mungkin itu adalah sebuah konsekuensi dari psikoanalisa yang kulakukan secara kecil-kecilan ini. Adalah tidak adil untuk memvonis bahwa hanya kasus itulah yang menyebabkanku merokok. Konflikku dengan ayahku jelas mempunyai andil yang besar. Aku bisa terjebak dalam sebuah reductio at absurdum dalam tulisan ini. Tapi karena ini adalah sebuah esai pendek biasa, dan bukan sebuah tulisan ilmiah, maka aku akan mengambil resiko itu.
     Perlu juga dicatat, kebiasaan buruk merokokku ini adalah tanggung jawab pribadiku sendiri. Tidak ada orang atau pihak lain yang perlu disalahkan. Aku memilih untuk merokok, dan pilihan itu kulakukan dengan sadar. Menulis ini kuharap sebagai langkah awal dari perjuangan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap rokok. Aku tidak mau selamanya menjadi budak rokok.
     Peristiwa itu berawal ketika aku lulus dari SMA Negeri 5 Malang, dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Sebentar kawan,..tanganku mulai gemetar dan aku sedikit pusing. Aku perlu keluar rumah sebentar untuk menghirup udara segar sebelum kembali menulis disini.
     Baiklah,…aku lanjutkan kembali… Sebagaimana tradisi pada jaman itu, setiap mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti Penataran P4 sebelum benar-benar mengikuti kegiatan perkuliahan yang sebenarnya. Demikian pula aku tak terkecuali. Aku mengikuti penataran yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya selama dua minggu.
     Di hari-hari awal selama mengikuti Penataran P4 itu aku berkenalan dengan seorang gadis cantik. Dia memintaku untuk duduk di sebelahnya setelah kami bercakap-cakap singkat itu. Segera saja aku setuju. Kuambil tasku dari tempatku duduk dan memindahkannya di sebelah tempat duduk gadis itu. Sesi berikutnya dan sesi-sesi berikutnya aku akhirnya selalu menempati posisi di sebelah gadis itu. Terus terang, aku menikmati bau badannya yang lembut, aku tahu dia tidak memakai parfum pada saat-saat itu. Apabila kami semua sudah kecapekan dan hari menjelang sore, bau badannya semakin terasa, dan aku semakin menikmatinya.
     Hari-hari berlalu semenjak Penataran P4 itu, dan kami menjadi semakin akrab. Kutanyakan padanya, apa syarat untuk menjadi pacarnya? Dia bilang, “Jangan merokok”. Sesederhana itu?, kupikir. Aku sendiri memang belum menjadi perokok pada saat itu. Awal-awal kuliah di Fakultas Kedokteran.
     Semakin lama aku semakin menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Kami seolah-olah tak terpisahkan di awal-awal kuliah itu. Pernah kutanyakan padanya mengapa dia masuk Fakultas Kedokteran, dan dia menjawab dengan sebuah cerita yang panjang. Ternyata dia mengidap asma sejak kecil, dan kebetulan dokter yang merawatnya adalah seorang dokter yang baik hati. Dia terkesan dengan dokter yang merawatnya itu dan ingin menjadi seorang dokter pula.
     Pada sekitar akhir bulan kedua aku kuliah, aku diprovokasi oleh seorang temanku. Namanya Haidar Bauzier, sekarang dokter spesialis penyakit dalam entah dimana. Aku tidak ingat lagi apa yang diprovokasikannya pada saat itu,….semacam aku tidak punya harga diri dan menjadi hamba seorang perempuan. Aku hanya ingat bahwa Haidar menyuruhku untuk mengatakan sesuatu pada gadisku itu. Sesuatu yang akan membuatku tampak lebih bermartabat di depan teman-temanku. Tidak lagi nampak sebagai pelayan seorang gadis.
     Sebentar,…sebentar,….aku perlu waktu untuk menulis lagi. Kepalaku kembali pusing. Sepertinya aku dikuasai oleh kemarahan. Dan aku perlu waktu untuk menenangkan diri kembali.
     Ini adalah bagian terberat bagiku untk menuliskannya. Aku melakukan persis apa yang dikatakan Haidar. Dan gadis itu marah besar. Perlu waktu yang lama bagiku untuk tidak lagi menyalahkan Haidar dan melihatnya sebagai sebuah tanggung jawabku pribadi. Aku memang hanya diprovokasi, dan apabila aku cukup bisa berfikir jernih waktu itu, tentu aku tidak perlu termakan provokasinya. Memang itu tanggung jawabku pribadi. Tidak ada yang patut disalahkan pada peristiwa itu, apalagi gadis itu, dia hanyalah korban dari kekonyolanku.
     Setelah itu hubungan kami menjadi berjarak. Dan pada saat itulah seorang pemuda Mojokerto mendekatinya. Teman seangkatanku juga. Aku hanya memandangi hubungan mereka yang semakin hari semakin akrab dengan sedih. Gadis itu bahkan mengambilkan diktat kuliah yang dibagikan pada waktu kuliah untuk si pemuda Mojokerto. Si pemuda tidak perlu mengambilnya sediri di meja dosen. Sesuatu hal yang dulunya kulakukan untuk gadis itu. Perih rasanya…
     Kupikir saat itu aku menjadi matagelap. Kulakukan lagi sebuah kekonyolan yang tidak perlu. Kulakukan hal yang dilarang oleh gadis itu. Pada suatu pagi menjelang kuliah, sengaja aku datang lebih awal. Aku membeli sebatang rokok dengan korek apinya sekalian. Teman-teman mulai berdatangan. Aku tetap sabar menunggu sampai gadis itu datang. Gadis itu benar-benar datang, dia memang mahasiswi yang rajin. Begitu kulihat ia di depan pintu,..kunyalakan rokokku. Aku ingin dia melihatnya. Aku merokok berkebul-kebul ria dan anehnya aku tidak batuk-batuk. Biasanya gadis itu cuek denganku, tapi kali itu dia terkejut sekali. Dipandangnya aku dengan terbelalak, terhenti langkahnya sebentar. Akhirnya dia melanjutkan langkah tidak perduli dan duduk di sebelah pemuda Mojokerto.
     Kekacauan demi kekacauan mulai terjadi dalam hidupku. Waktu itu aku hampir tidak punya teman untuk berbagi kesedihan, kecuali seorang teman bernama Mahsun Muhammadi, dan tiga orang kakak kelas yang bernama Ali Mahsun, Warih Tjahyono dan Ahmad Khotib. Mereka berusaha untuk membangkitkan kembali semangat kuliahku yang timbul tenggelam. Tapi aku terlalu terlarut dalam kesedihan, aku masuk dalam suatu fase depresif yang nyata.
     Aku bukannya tidak berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan gadis itu. Aku berkali-kali minta maaf padanya. Bahkan pernah kudatangi rumahnya hanya sekedar untuk menyampaikan penyesalan dan permohonan maafku. Aku tahu,…dia tidak akan pernah benar-benar memaafkanku.
     Aku bahkan mengirim surat pada seorang Om-ku, yang waktu itu kuliah di Louisiana State University di Amerika Serikat sana untuk membelikanku sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun buatan Amerika dan dibeli di Amerika. Surat ucapan selamat ulang tahun buatan Harvest itu benar-benar datang dua bulan kemudian. Kusimpan dan kutunggu dengan sabar hari ulang tahunnya.
     Persis tanggal 14 Agustus, hari ulang tahunnya, kuantarkan surat itu ke rumahnya. Kubilang surat karena memang berbentuk surat, bukan sebuah kartu. Memang unik sekali. Aku yakin sekali waktu itu di Malang atau Surabaya pun tidak ada yang menjual surat ucapan seperti itu. Kutulis dengan hati-hati pada surat itu, LIFE BEGINS AT FORTY, sebuah saying yang sangat terkenal dalam bahasa Inggris. Kemudian dengan hati-hati pula kucoret kata FORTY dengan dua garis tegas. Lalu dibelakangnya kuganti dengan kata TWENTY. Dia memang setahun lebih tua daripada aku. Jadi aku merokok mulai usia sembilanbelas tahun.
     Ketika aku kuliah di Universitas Gadjah Mada, aku pernah mengiriminya surat sekali. Tapi suratku itu tidak ditanggapinya. Tiga semester pertama di UGM aku betul-betul tidak bisa melupakannya. Sering aku terbangun pada tengah malam dari sebuah mimpi buruk. Pernah aku seperti terhentak dari tidur dan berteriak memanggil namanya. Peluh berleleran dari tubuhku,…dan aku gemetaran. Pada saat-saat itu aku memasuki fase melancholia yang sangat parah.
     Mungkin itu dulu yang bisa kuceritakan pada saat ini. Bagiku,..merokok itu sudah merupakan penyakit,..aku sedang mencari-cari taht, apa yang kira-kira dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater setelah sesi psikoanalisa berakhir. Mungkin melakukan suatu reframing, aku tidak tahu. Mungkin cara yang termudah adalah segera pergi mencari bantuan. Sebagai makhluk sosial, manusia memang tidak bisa hidup sendiri,…

Tuesday, May 1, 2012

Visi dan Misi dalam Hidupku



Visi dan Misi Dalam Hidupku
Fermy Nurhidayat, ST.


     Aku merasa berbahagia telah menemukan tujuan hidupku. Satu langkah pasti telah kuambil dalam hidupku. Aku akan melaksanakannya dengan sepenuh nafasku. Aku tidak perduli kapan aku akan sampai kepada tahap akhir dari tujuan hidupku itu. Yang penting, aku telah mengambil langkah awal untuk mewujudkannya dalam kenyataan. Bukan hanya dalam angan atau imajinasi belaka. Seingatku, Viktor E. Frankl, seorang survivor dari empat kamp konsentrasi Nazi, pernah mengatakan dalam bukunya, Man's Search of Meaning, bahwa “kadang-kadang karya-karya yang terindah muncul dari simfoni-simfoni yang belum selesai”.
     Mungkin aku telah keburu mati sebelum tujuan hidupku terlaksana. Bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah aku mempunyai “sesuatu” untuk diperjuangkan. Suatu kegiatan terarah yang akan menuntunku untuk tetap hidup dengan penuh makna. Dan akan kulakukan tanpa melihatnya sebagai sebuah perjuangan, tapi suatu kegiatan untuk menikmati hidup yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepadaku. Sekaligus mensyukurinya sepenuh hatiku.
     Sempat terpikir olehku, betapa tidak masuk akalnya tujuan hidupku. Tapi bukankah rasional atau tidak rasionalnya tujuan hidup kita sangat tergantung dari persepsi kita masing-masing tentang rasionalitas itu. Sekali tujuan hidup telah ditemukan, maka hidup kita akan terarah dan menuntut untuk pemenuhannya. Hidup yang penuh arti akan kita jalani. Sekalipun orang melecehkan dan mentertawakan kita. Biarin aja,…karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan,…mentertawakan suatu visi atau nilai yang kita pandang terpenting dalam hidup kita. Pikiran mereka tentangku samasekali bukan urusanku.
     Aku akan meninjau dan menelaah kembali tujuan hidup, atau visi dan misi dalam hidupku ini secara teratur. Menambahkan yang relevan dan meredusir yang tidak relevan. Semata-mata untuk meneguhkan hatiku. Mengatakan YA pada kehidupan, sekalipun untuk itu banyak yang harus kupersiapkan untuk mewujudkannya dalam realitas riil dilapangan.
     Hampir selama seminggu ini aku mengikuti Group di Facebook, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Bergaul dan berinteraksi bersama para caregiver, psikiater, dan people with disorder di dunia maya. Insya Allah aku akan datang pada pertemuan KPSI Simpul Yogyakarta hari Minggu esok. Dan salah satu tujuan hidup sekunderku adalah aktif dalam komunitas ini, bukan sebagai caregiver,…tapi sebagai psikiater.
     Apakah kamu kaget dengan tujuan hidupku itu kawan? Kamu akan lebih terkejut lagi bila mengetahui tujuan hidup primerku. Tujuan hidupku yang utama adalah menjadi seorang psikiater. Betapapun tampaknya sulit dan dan tidak masuk akalnya itu bagimu sekarang ini. Kita lihat nanti apakah aku bisa menjadi seorang neuropsikiater. Orientasi dalam disiplin ilmu itu belum terlalu penting bagiku sekarang. Mungkin aku akan menjadi seorang Jungian, atau Franklian, atau apapun itu. Tapi aku tidak akan menjadi seorang Freudian murni. Terlalu banyak kritik terhadap Freud sekalipun teorinya tentang alam bawah sadar dan analisis mimpi adalah karya yang menggetarkan.
     Aku bahkan tidak peduli bila nanti penghasilanku sebagai seorang psikiater tidak cukup sebanding dengan pengorbananku untuk mewujudkannya. Aku tidak peduli bila nanti aku tinggal di rumah tipe RSSSS karena banyak pasienku tidak dapat membayarku untuk sekedar memperoleh pertolongan professional. Apakah teman-teman tahu kepanjangan dari RSSSS? Itu adalah tipe Rumah Sangat Sederhana sehingga Sulit Selonjor.
     Untuk itu tentu aku mesti kuliah lagi. Masuk Fakultas Kedokteran dan mengikuti seluruh proses Pendidikan Dokter dengan  patuh dan bahagia. Jelas perlu biaya banyak, karena masuk Fakultas Kedokteran sekarang ini di Indonesia mahal sekali. Aku akan mengumpulkan uang dengan menulis. Menulis cerpen, FTS atau Flash True Story dan mencoba membuat novel. Sebuah tema telah tergambar di pikiranku tentang novel itu. Tinggal merenungkannya lagi dan lagi,..serta mulai menulisnya. Aku juga sudah mendapat ide untuk cerpenku yang terbaru. Tampaknya itulah yang pertama kali kulakukan terlebih dahulu. Soalnya ide untuk cerpen itu sudah muncul dalam benak bertahun-tahun yang lalu. Dan mulai menjadi matang beberapa hari ini.
     Kudedikasikan diriku untuk membantu penyembuhan pasien-pasienku. Karena yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla. Aku akan hidup dalam dunia pasien-pasienku. Dunia halusinasi, delusi dan waham yang paling mengerikan sekalipun. Sekaligus menyadari bahwa duniaku bukanlah dunia mereka. Keterampilan menjaga jarak dengan dunia orang lain itu tentu sangat berguna. Bukan hanya dalam karierku kelak sebagai seorang psikiater, tapi juga bermanfaat dalam hidup keseharianku kini.
     Aku ingat dengan buku Eyang Kakung Mohammad yang kubaca waktu kecil dulu. Buku itu bercerita tentang Albert Schweizer. Seorang misionaris penyebar agama Kristen di Afrika. Schweizer berusia tigapuluh tahun ketika memutuskan untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagi misionaris di Afrika. Dan pada usia itulah dia memasuki Sekolah Kedokteran di Jerman. Aku adalah seorang Muslim,..aku tidak ingin menjadi misionaris Islam. Jelas sudah pernyataan akhir Surah Al Kaafiruun,..lakum diinukum wa liyadiin. Untukmu agamamu dan untukku agamaku… Karena itu aku tidak akan menyebarkan agama pada orang yang sudah beragama. Aku akan melayani mereka karena itu adalah panggilan jiwaku. Suatu cara untuk mengabdi kepada Allah dengan cara yang kuyakini benar.
     Semakin kutuliskan visi dan misi dalam hidupku ini, semakin jelaslah bagiku bahwa aku tidak berkhayal. Siapa yang bisa membantah bahwa aku sekarang ini sedang menulis? Tidak ada seorang pun. Tidak ada seorang pun.
ENTJ - "Field Marshall". The basic driving force and need is to lead. Tend to seek a position of responsibility and enjoys being an executive. 1.8% of total population.
Take Free Jung Personality Test
Personality Test by SimilarMinds.com
    

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...