Friday, April 27, 2012

Tembang Dolanan "Ilir Ilir" dari Sunan Kalijaga


Lir ilir,…lir ilir,…tandure wus sumilir..
Tak ijo royo-royo,…tak sengguh temanten anyar..

Cah angon,…cah angon,..penekna blimbing kuwi…
Lunyu-lunyu peneken,..kanggo mbasuh dada sira…

Dada sira,..dada sira,..kumitir bedhah ing pinggir,..
Dandamana jlumatana,..kanggo sebo mengko sore,…

Mumpung padhang rembulane..
Mumpung jembar kalangane…

Sung surako…..surak…
Hooree…..

     Demikianlah tembang dolanan anak-anak yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Salah satu wali dari Walisongo yang menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa. Tembang tadi berjudul “Ilir-Ilir”. Sarat dengan muatan makna yang dalam. Konon tembang itu dinyanyikan oleh anak-anak di jaman eyangnya eyang kita dulu ketika bulan merekah purnama. Di pelataran rumah yang waktu itu tentu masih luas. Tidak seperti pelataran rumah orang jaman sekarang.
     Tidak banyak dari kita yang masih hafal tembang dolanan tersebut. Dan aku beruntung masih bisa mengingatnya dengan baik. Setangkai akar dari budaya milikku sendiri. Sehingga aku tidak tercerabut dari akar kekayaan batin nenek moyangku dulu.
     Anak-anak sekarang lebih kenal dengan Aluna Sagita Gutawa, Sherina Munaf atau Justin Bieber. Tidak salah memang, karena itulah salah satu mainstream musik saat ini. Dan harus diakui bahwa musik mereka memang berkelas. Jaman memang sudah berubah. Aku sendiri juga penggemar berat Yuni Shara. Salah satu lagunya, Pelangi, masih kuhafal sampai kini. Karena mengingatkanku pada seorang gadis yang kucintai. Bertahun-tahun yang lalu.
     Aku mempunyai sebuah apresiasi tentang karya Sunan Kalijaga ini. Ketika malam begitu syahdu, dan hatiku sedang dilanda rindu, kulafalkan tembang tadi dengan penuh penghayatan. Aku memang pernah mengajarkannya pada seorang gadis kecil. Tapi aku tidak yakin bahwa dia masih mengingatnya dengan sempurna.
     Orang Jawa rata-rata adalah petani di jaman itu. Dan bayangkanlah seorang anak penggembala kambing sedang duduk bersandar pada sebatang pohon belimbing di dekat kali, sambil mengamati batang-batang padi tanaman orang tuanya. Ketika itulah Kanjeng Sunan Kalijaga bertutur pada anak penggembala tersebut.
     “Lir ilir,..lir ilir,…tandure wus sumilir”. Lihatlah batang batang padi itu sudah mulai tumbuh, kata Kanjeng Sunan. Hal itu adalah kata kiasan untuk menyatakan bahwa dakwah Islam di Tanah Jawa sudah menampakkan hasilnya. Orang Jawa sudah menjadi Muslim dengan kesadaran sendiri.
\    “Tak ijo royo-royo,..tak sengguh temanten anyar”. Batang-batang padi itu menghijau karena dakwah Islam tumbuh dengan subur. Warna hijau selalu diidentikkan dengan Islam sejak jaman dahulu. Tidak hanya di Tanah Jawa, tapi juga di tempat-tempat lain di berbagai belahan dunia. Temanten anyar atau pengantin baru dalam Bahasa Indonesia melambangkan harapan baru, cakrawala baru. Sepasang kekasih yang menikah selalu akan menghadapi kehidupan baru, tantangan-tantangan baru, yang belum pernah dijumpainya ketika masih bujangan.
     Lalu dilanjutkannya dengan, “Cah angon,..cah angon..penekna blimbing kuwi”. Maksudnya adalah, wahai para santri,..wahai para santri,..jalankanlah shalat lima waktu. Pernahkah teman-teman berfikir, mengapa buah belimbing yang dijadikan kiasan oleh Kanjeng Sunan? Mengapa tidak pohon atau buah-buahan lainnya? Bukankah di Tanah Jawa yang subur tumbuh berbagai macam tanaman? Bukan hanya pohon belimbing. Nah,…coba perhatikan baik-baik. Buah belimbing memiliki lima sisi. Kalau dibelah dan diamati belahannya itu, maka akan tampak seperti bintang bersegi lima. Karena itu orang Inggris menyebutnya sebagai “starfruit”. Lima segi belimbing itu melambangkan shalat lima waktu, yang wajib dijalani oleh seorang muslim. Mulai dari waktu Maghrib dan Isya,…serta dilanjutkan saat Shubuh, Dhuhur, sampai Ashar.
     “Lunyu lunyu peneken”. Maksudnya sekalipun berat bagimu untuk menjalankan shalat lima waktu itu, tapi tetaplah kerjakan karena itu tiang Agama. Banyak memang godaan untuk konsisten menjalankan shalat lima waktu. Ketika Shubuh datang,..mata masih mengantuk dan bau bantal tercium begitu wangi. Ketika Dhuhur datang, kita masih sibuk beraktifitas. Tapi saat itu juga kita dipanggil untuk menghadapNya. Ketika waktu Ashar datang,..kita sedang melepas lelah setelah bekerja. Dan ketika waktu Maghrib datang,..kita masih ingin bercengkerama dengan keluarga di rumah. Dan ketika waktu Isya datang,..pembaringan kita seolah-olah sudah memanggil kita, untuk tidur di haribaannya yang nyaman. Itu baru sekelumit tentang cobaan orang yang menjalankan shalat lima waktu. Tentu ada lagi godaan-godaan yang lain, yang teman-teman juga merasakannya sendiri, sama seperti aku.
     “Kanggo mbasuh dada sira”. Maksudnya adalah, shalat itu untuk membersihkan jiwa kita. Dengan mengingatNya kita semakin sadar akan keberadaan diri. Diri yang kecil dan ilmu yang terbatas dihadapan Sang Mahapencipta. Dosa-dosa yang telah kita lakukan akan terbayang, dan harapan akan ampunan Allah. Harapan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Tanpa harapan itu kita tidak mempunyai alasan untuk melanjutkan hidup.
     “Dada sira,..dada sira,…kumitir bedhah ing pinggir”. Artinya, wahai sukma, atau jiwa,..sungguh engkau telah terluka,..terkoyak di pinggir. Begitu bayak peristiwa yang kita alami, dan itu membuat jiwa kita terluka,..mungkin bahkan sangat parah. Tapi untunglah,..jiwa kita itu tidak terkoyak di tengah, artinya luka kita itu masih bisa disembuhkan. Mudah bagi Allah untuk menyembuhkannya. Tinggal kita memohon kepadaNya. Dia akan memberikan penyembuh, entah dengan jalan apapun itu. Bukankah salah satu nama Al Qur’an adalah As Syifa’ atau penyembuh. Karena itu rajin-rajinlah membaca Al Qur’an.
     “Dandamana jlumatana”. Maksudnya rawatlah luka jiwamu itu sebelum ia menjadi koyak ditengah, dan tak bisa disembuhkan lagi. Rawatlah dengan mengabdi kepadaNya. Tersungkur dihadapanNya. Menyesali dosa-dosa, dan berharap bahwa Allah Sang Mahapengampun, mengampuni dosa-dosa kita itu…. Innallaha ghafururrahiim… Sesungguhnya Allah itu Mahapengampun dan Mahapenyayang.
     Kemudian tembang itu dilanjutkan dengan, “Kanggo sebo mengko sore”. Maksudnya, seluruh penghambaan kita kepadaNya itu adalah untuk bekal menghadapNya. Sang sangkan paraning dumadi. Atau tempat berasal dan kembalinya kehidupan.
     “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane”. Segeralah untuk kembali kepada Allah. Sang sangkan paraning dumadi. Senyampang kita masih punya kesempatan untuk pulang kepadaNya. Ketika dunia kehidupan masih kita nikmati. Ketika ruang yang kita tempati di dunia ini masih luas. Ketika kita masih dapat beraktifitas. Bayangkanlah ketika ruang untuk kita itu cuma seluas liang lahat, maka semuanya menjadi sia-sia. Tidak ada lagi waktu bagi kita untuk bertaubat. Nasi telah menjadi bubur. Dan tidak ada lagi waktu untuk merubahnya menjadi bubur yang enak dan lezat.
     Tembang Kanjeng Sunan kemudian dilanjutkan dengan, “Sung surako,…surak,..hooree”. Artinya berbahagialah wahai santri, sang penggembala kambing,kita, karena kita minimal adalah penggembala diri kita sendiri. Kita mesti berbahagia karena kesempatan untuk kembali kepada Allah itu masih ada. Selama hayat masih dikandung badan, selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Apalah artinya dunia dan segala isinya, jika murka Allah tertuju kepada kita. Na’udzubillahi min dzaalik, semoga kita terhindar dari hal yang semacam itu. Tapi tetap yakinlah bahwa Allah Mahapengasih dan Penyayang. Mahalembut dan Mahabijaksana.
     Apakah terdengar adzan sayup-sayup disana? Marilah kawan, basuhlah mukamu dengan mengambil air wudlu.

2 comments:

  1. yah, terima kasih sudah memaparkan pendapat anda di blog saya :)
    yg saya maksud orang dewasa di postingan saya itu sbnrnya adalah ortu saya. mrk selalu mengharapkan saya utk berbuat sesuai yg mereka mau. pdhl saya tdk bs terus begitu. tp bagaimanapun, saya ttp menyayangi mrk.
    skali lg terima kasih atas komentarnya :)

    ReplyDelete
  2. Jaman telah berubah , nampaknya bahasa isyarat beralih pakai realita , alam dilupakan orang padahal Allah selaku pencipta menciptakannya tiada sia2

    ReplyDelete

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...