Tuesday, April 17, 2012

Surat dari Danah Zohar

  Sedang iseng ketika itu, membuka email masuk di akun gmailku. Aku terbelalak ketika melihat nama Danah Zohar sebagai salah satu sender di inboxku. Hampir saja email itu terlewatkan begitu saja, karena memang terselip diantara tumpukan2 email lain yang kurang bermanfaat. Kulihat email itu, benarkah itu dari dia?, perasaanku campur aduk. Antara tidak percaya, senang dan merasa terhormat luar biasa.
  Danah Zohar adalah penulis favoritku, bersama Ian Marshall dia menulis buku2 bermutu tentang Kecerdasan Spiritual. Beliau adalah lulusan MIT, Massachussets Institute of Technology, seorang filosof zaman modern ini, fisikawan kuantum dan edukator manajemen. In-house presentation telah banyak dilakukannya di beberapa organisasi seperti Volvo, Shell, British Telecom, Motorola, Philips, Skandia Insurance, UNESCO, The Young President's Organization, dan The European Cultural Foundation.
  Diantara buku2 yang ditulisnya adalah The Quantum Self(1990), The Quantum Society(1994), Rewiring the Corporate Brain(1997). Bukunya, Spiritual Quotient(2000), menjadi best seller internasional. Sedangkan Ian Marshall, suaminya adalah seorang psikiater dan psikoterapis berorientasi Jungian. Merujuk pada nama Carl Gustav Jung, salah satu tokoh Psikologi Pertumbuhan, yang seringkali berbeda pandangan dengan Sigmund Freud, yang masih menjadi rujukan para dokter saat ini.
  Aku sendiri ketika masih menjadi mahasiswa sangat mengagumi Victor Frankl, seorang neuro-psikiater berkebangsaan Austria yang selamat dari empat kamp konsentasi Nazi pada masa Perang Dunia Kedua. Bahkan terpikir olehku untuk menjadi seorang neuro-psikiater pertama di Indonesia yang berorientasi Franklian. Tapi cita-cita tinggalah cita-cita. Arus nasib membawaku menjadi seorang Insinyur Mesin. Mudah2an menjadi Insinyur Mesin yang sukses, Amin Ya Rabb....
  Sangat mudah difahami kenapa aku sangat tertarik dengan suami istri yang kini tinggal di Oxford, Inggris, itu. Aku merasa tidak mempunyai apa yang mereka punyai. Cita-citaku sebagai dokter telah kandas, sedangkan Ian Marshall adalah seorang psikiater dan psikoterapis beraliran Jungian.
  Email Danah Zohar itu menawariku untuk mengikuti seminarnya di Oxford, seperti kuceritakan tadi aku merasa sangat terhormat. Jelas aku ingin pergi ke Inggris bertemu dengan dua tokoh idolaku itu. Tapi mana mungkin,...aku baru saja dirumahkan oleh perusahaan tempatku bekerja di Kalimantan. Dalam posisi bekerja pun jelas pergi ke Oxford masih sebatas mimpi. Tapi, bukankah banyak mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan? Karena itu aku tidak putus berharap kepada Allah.
  Bodohnya lagi, kukabarkan email dari Danah Zohar itu pada gadis impianku di Yogyakarta. Aku melakukannya karena sangat surprised dan kegirangan luar biasa. Aku tidak berfikir kemungkinan akibatnya. Mungkin dia menganggapku sudah gila. Telepon dan sms-ku tidak digubrisnya sama sekali... Rasanya hubungan kami jadi semakin jauh... Aku memang kurang berfikir panjang.
  Itu membuatku berintrospeksi sekarang. Melakukan tilik diri yang lebih jauh lagi. Bukankah gadis itu, sebagaimana diriku, adalah milik Allah. Sesungguhnya kita tidak memiliki apa2. Semuanya milik Allah...Biarlah Dia yang menentukan si gadis Yogya itu nanti dititipkan pada siapa. Seorang suami yang kuharap akan terus menyayanginya sampai tua. Aku sendiri hanya dapat meminta dan berharap kepada Allah,... Karena Dia lah yang Mahamenentukan.

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...