Thursday, March 22, 2012

Dongeng Dari Ibu

  Bel tanda keluar kantor berbunyi tadi sore. Kusempatkan untuk menelepon Ibuku. Banyak yang kuceritakan pada Ibu, demikian pula, banyak yang Ibu ceritakan padaku. Kuceritakan pada Ibuku bahwa setelah menulis postingan di Blogger yang terakhir, seorang sahabat menulis tentang bid'ah dalam agama.
  Entah itu ada hubungannya atau tidak, tapi aku merasa tersindir. Dalam postinganku yang terakhir aku memang menulis bahwa Ibu mengadakan selamatan ketika aku diterima di UGM. Beberapa kelompok dalam Islam memang menganggap bahwa selamatan itu termasuk hal yang tidak diajarkan oleh Nabi,...karena itu termasuk bid'ah.
  Aku tidak ingin membahas masalah bid'ah itu disini. Biarlah orang berpendapat dan berkeyakinan sesuai dengan hati nuraninya. Aku tidak ingin menghakimi.
  Aku hanya terkesan dengan jawaban Ibuku tadi sore. Beliau mengingatkan padaku dengan dongengannya ketika aku masih kecil. Memang beliau pernah mendongeng kepadaku sebuah cerita dari Timur Tengah. Inilah dongeng itu,...
  Pada suatu hari seorang Ayah mengajak anaknya untuk ke pasar menjual keledai mereka yang sudah tua. Keledai itu kurus dan sudah tidak bertenaga lagi, karena itu mereka memutuskan untuk menuntun keledai itu ke pasar. Ditengah jalan mereka bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu berkata, "Bodohnya kalian menuntun keledai,...mestinya keledai itu kalian naiki". Anak beranak itu kemudian berfikir dan membenarkan ucapan lelaki yang mereka temui.
  "Benar kata lelaki itu Nak", kata si Ayah, "Sebaiknya keledai ini dinaiki saja ke pasar".
  Si anak kemudian menaiki keledai itu dan mereka melanjutkan perjalanan ke pasar. Si Ayah menuntun keledai itu di depan. Tak seberapa lama mereka mereka bertemu dengan seorang laki2 lain. Lelaki itu berkomentar,"Hai anak muda,...betapa tidak tahu dirinya kamu,...ayahmu yang sudah tua kau biarkan berjalan kaki sedangkan kau enak2an menunggang keledai!".
  Si Anak merasa bahwa pendapat orang ini benar, maka merekapun bertukar tempat. Kali ini si Ayah yang menunggang keledai sedangkan si anak menuntun keledai itu ke pasar.
  Di tengah jalan mereka bertemu kembali dengan seorang lelaki, lelaki ini berkomentar, "Hai anak,..betapa teganya kamu,...kamu enak2an menunggang keledai sedangkan ayahmu yang tua kau biarkan berpanas2 berjalan kaki!". Si anak menjadi tidak enak hati, dalam hati dia membenarkan ucapan orang lewat itu.
  "Benar kata orang itu yah,..", katanya pada Ayahnya. "Supaya adil marilah kita naiki keledai ini bersama2", katanya pada ayahnya. Demikianlah akhirnya anak beranak tadi mengendarai keledai tua itu bersama2. Si Ayah duduk di depan dan si anak duduk di belakangnya.
  Setelah beberapa saat mereka kemudian bertemu dengan lelaki yang ketiga. Lelaki ini berkomentar yang lain pula. "Betapa teganya kalian berdua,..keledai tua dan lemah begini kalian naiki bersama2....itu makhluk Allah juga,..kalian ini benar2 tidak tahu diri!", begitu katanya.....
  Saat itu Ibu tidak melanjutkan ceritanya, karena ceritanya memang sudah habis sampai disitu. Aku hanya ingat bahwa kami berdua tertawa terbahak2 setelah Ibu menyelesaikan ceritanya.
  Ibuku mengajarkanku pada sebuah hikmah dari obrolan kami tadi sore hanya dengan mengingatkanku pada dongengnya waktu aku kecil. Pada kenyataannya memang seberapapun benarnya kita menurut kita sendiri, kita mungkin tetap saja akan disalahkan oleh orang lain. Itulah hidup. Memang mudah untuk menyalahkan. Tapi kita sendirilah yang tahu tentang latar belakang kita, kondisi kita dan pertimbangan kita untuk memilih suatu tindakan. Selanjutnya bertawakkallah kepada Allah.....
  Wallahu a'lam,.....

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...