Sunday, March 25, 2012

Bisera,...sebuah cerpen,....


Bisera
Oleh: Fermy Nurhidayat

   “Fermy.”
   Aku mendongak dari berkas-berkas yang sedang kuselesaikan. Menterjemahkan dokumen-dokumen perjanjian dengan perusahaan principal di Kuala Lumpur. Sebenarnya itu bukan tugasku. Tapi karena aku dianggap oleh Pak Henky paling bagus bahasa Inggrisnya, maka aku diperintahkan untuk menterjemahkan dokumen-dokumen itu.
   “Kita ke Tripatra sekarang,” katanya menyebut sebuah kontraktor minyak di kawasan Kalibata.
   “Lho, aku sudah tidak di bagian software sekarang,” protesku.
   “Tapi Pak Bambang membolehkanku untuk memintamu menyertaiku kalau hal itu diperlukan,” sangkalnya dengan galak.
   Bisera nama gadis itu. Seorang yang cerdas tapi kurang bersahabat. Teman-teman di kantor menjulukinya sebagai ‘singa betina’ bila dia sedang tidak ada ditempat. Dan memang, si singa betina itu benar-benar galak luar biasa.
   “Baiklah,” kataku enggan.
   Kuraih dasiku dari dalam laci,kemudian mengenakannya dengan enggan. Tanganku membuat beberapa simpul di secarik kain sutera itu. Dan jadilah aku berdasi. Aku berjalan menuju ruang rapat. Disana ada sebuah cermin besar. Kupatutkan diriku disana. Merapikan simpul yang kubuat dan krah baju yang kukenakan.
   Kemudian aku kembali ke mejaku. Ruangan Bisera ada di sebelah ruanganku. Aku diminta Pak Bambang, manager di bidang Mechanical untuk mengisi posisi Technical Support di Divisinya kira-kira sebulan yang lalu. Sebelumnya aku berada di divisi Software bersama Bisera. Bisera adalah staf senior di divisi itu. Sekalipun lebih tua dibandingkan dengannya, aku adalah staff junior di perusahaan itu.
   Perusahaan ini dimiliki oleh Pak Henky. PT Delta Central Perkasa. Pak Henky berasal dari Sampang, Pulau Madura. Usianya hanya berpaut beberapa tahun saja diatasku. Namun dia sudah bisa dibilang cukup berhasil dalam segi materi dan rohani. Bagaimana tidak?. Mempunyai usaha yang cukup mapan di Tebet ini, dan juga sudah mempunyai seorang istri. Istri yang lembut dan cantik yang juga berasal dari Sampang.
   Aku jarang berbicara dengan Pak Henky. Aku lebih sering berurusan dengan Bambang dan Bisera. Pak Henky sering keluar negeri. Biasanya ke Kuala Lumpur atau Singapura. Kadang-kadang ditemani Ibu Rini, istrinya yang dari Sampang itu. Istri Pak Henky itu sangat halus dan cantik. Dia mempunyai bisnis sendiri juga di daerah Matraman. Sebagai insinyur sipil dari Institut Teknologi Bandung, dia mempunyai usaha konstruksi bersama teman-temannya. Kebetulan aku tahu bahwa usaha konstruksinya itu diberi nama PT Delta Inti Perkasa.
   Kadang-kadang Ibu Rini datang ke lokasi perusahaan kami. Membawa makanan dari restoran untuk semua karyawan disini. Seringkali aku kebagian juga. Tapi kadang-kadang tidak. Ada tigapuluh enam karyawan di Delta Central Perkasa.
   Ibu Rini seumuran denganku. Kami sebaya. Kalau dia lulusan Departemen Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung, maka aku adalah lulusan Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. Tapi aku juga kurang begitu akrab dengan Ibu Rini. Sengaja aku menjaga jarak dengannya. Aku tidak ingin jatuh cinta padanya. Konyol banget kalau sampai jatuh cinta pada istri bos.
   “Ayo berangkat,” kata Bisera kepadaku. Dia membawa laptop kesayangannya.
   “Baiklah,”jawabku,”Tapi aku pamit dulu sama Pak Bambang.”
   “Bambang ke Singapura.”
   “Lho,urusan apa lagi?” tanyaku.
   “Sudahlah, kita berangkat.”
   Aku mengikutinya di belakang. Bisera berjalan dengan anggun dan percaya diri. Dagunya agak terangkat ke atas. Riasannya sederhana tapi menarik. Bibirnya tampak natural dengan sapuan lip-gloss tipis. Sebenarnya gadis ini cukup cantik, pikirku. Tapi galaknya itu, audzubilah setan.
   Kami menuruni tangga untuk menuju ke pelataran kantor. Ketika sampai disana, Pak Sonny, sopir yang biasa mengantar para staff sudah memanaskan mobilnya. Sebuah Panther bertenaga diesel. Mobil itu tampak terawat. Untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kami ini, kesan pada para customer sungguh sangat penting. Untuk itulah maka penampilan kami harus dijaga di depan mereka. Temasuk performa mobil yang mengantarkan kami.
   Pak Sonny baru saja selesai mengelap mobil. Semua pintu di Panther itu terbuka. Dia menoleh dan tersenyum ketika melihat aku dan Bisera menghampirinya.
   “Kemana mBak?” tanyanya.
   “Tripatra,” sahut Bisera dingin.
   Kadang-kadang aku berfikir, bagaimana bisa seorang Bisera yang kaku wataknya ini bisa diterima bekerja disini. Kepribadiannya sungguh menjengkelkan dan mau menang sendiri. Banyak karyawan lain yang memusuhinya. Baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dita, admin di Bagian Software jelas-jelas memusuhinya. Padahal notabene Dita adalah bawahan Bisera. Menurutku kondisi ini sudah tidak sehat.
   Mungkin kepribadian Bisera yang kurang terampil bergaul itu tidak nampak pada waktu dia diwawancarai oleh Pak Henky ketika proses lamaran kerja. Pak Sonny, sopir kami itu, termasuk yang paling sering menggunjingkan Bisera. Tapi dia tidak melakukannya di depan Bisera. Tidak seperti Dita yang terang-terangan memusuhi.
   Kami memasuki mobil itu dan aku memasang sabuk pengaman. Aku duduk di samping Pak Sonny. Dengan mulus Panther itu keluar dari gerbang perusahaan. Kemudian menghindari seorang pengendara sepeda motor dengan luwesnya. Jalanan di Jakarta sungguh sangat ruwet. Di dekat halte busway, Pak Sonny mengklakson seorang pejalan kaki yang berjalan agak ke tengah. Pak Sonny adalah sopir yang sangat gesit. Hampir semua jalan tikus di Jakarta ini dia mengenalnya. Kami beruntung mempunyai sopir  seperti dia.
   Kami melewati kawasan three in one dengan cepat. Kemudian memasuki jalan layang. Dari jendela mobil mataku menangkap sebuah poster besar. Seingatku poster itu belum ada ketika aku juga melewati jalan layang ini seminggu yang  lalu bersama Pak Darmadi, sopir kami yang lain.
   “Lihat,” kataku sambil menunjuk poster itu.
   “Pakailah kondom,” seruku keras-keras membaca poster itu.
   “Istri saja belum punya kok disuruh pakai kondom,” lanjutku sambil tertawa.
   Pak Sonny terbahak mendengar celetukanku.
   “Berapa umur Pak Fermy?” tanyanya.
   “Tigapuluh empat tahun.”
   “Apa,..?” kata Pak Sonny pura-pura terkejut,”Tigapuluh empat tahun cuma dipakai kencing doang?” candanya.
   Kami berdua terbahak. Sebenarnya guyonan konyol semacam itu tidak lucu bagi sebagian orang. Tapi Pak Sonny memang suka kelewatan kalau bergurau. Bagiku itu lebih baik daripada berdiam diri saja sepanjang perjalanan. Apalagi dengan kondisi jalan macet yang selalu terjadi di Jakarta ini. Kulirik Bisera yang duduk sendirian di belakang. Tampak bahwa dia berusaha menahan senyum. Usahanya tidak begitu berhasil. Wajahnya kelihatan kaku dan dibuat-buat.
   Kami sampai di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Makam itu nampak asri dengan beberapa ekor kijang di dalamnya. Diteduhi oleh pohon-pohon besar yang rindang. Mobil kemudian berbelok ke kiri. Setelah itu belok lagi ke kanan memasuki kompleks Tripatra Engineering.
   Dua orang Satpam menghentikan Panther kami. Pak Sonny menurunkan kaca di samping tempat duduknya. “Dari Delta Central Perkasa Pak,” jawab Pak Sonny pada Satpam yang menghampirinya. Satpam itu kemudian menulis sesuatu pada berkas yang dibawanya. Kemudian ia menyerahkannya kepada Pak Sonny.
   “Katepenya ditinggal Pak.”
   Sejak Jakarta diguncang terror bom oleh jaringan Noordin M. Top, pengamanan dalam gedung-gedung perkantoran dan hotel-hotel, terutama hotel-hotel berbintang, memang ditingkatkan. Aku memaklumi hal itu. Memang sudah sewajarnya.
   Pak Sonny menyerahkan dokumen yang diminta itu dan portal kemudian dibuka. Mobil meluncur perlahan dan Pak Sonny mengantarkan kami persis di depan gedung tempat Front Office berada. Ruangan dalam gedung itu tampak nyaman, dan resepsionis menyanyakan maksud kedatangan kami.
   “Kami mau bertemu Pak Singgih,” jawab Bisera pada resepsionis itu.
   “Sudah janji sebelumnya?”
   “Sudah,” sahut Bisera pendek.
   Petugas di Front Office itu memutar sebuah nomor di interkomnya. Dia melakukan hal itu sambil duduk. Tak seberapa lama kemudian dia sudah berbicara dengan orang dari seberang gedung.
   “Dari  Delta Central Perkasa Pak.”
   “Oh,..ya Pak,” kata resepsionis itu dari balik interkomnya.
   “Ya,..ya,..Pak.”
   “Baik Pak.”
   Gadis di belakang meja itu kemudia meletakkan gagang interkom yang dipegangnya. Kemudian berkata bahwa Bisera diminta menunggu di gedung sebelah. Bisera menanyakan arah dan lokasi dimana gedung itu berada dan akhirnya kami berdua menuju tempat yang dimaksud.
   Kami berjalan melewati sebuah taman yang asri. Pasti banyak uang yang diperlukan untuk membuat dan merawat taman indah seperti itu. Ada air mancur di dalam taman itu. Seluruh tatanan dalam kompleks itu rupanya benar-benar dirancang dengan baik. Indah sekali. Aku jadi ingat dengan kampung-kampung kumuh yang kadang-kadang terlihat waktu bersama Pak Sonny atau Pak Darmadi melewati jalan-jalan tikus di Jakarta.
   Kami melewati sebuah Masjid kecil. Beberapa orang tampak sedang shalat didalamnya. Mungkin mereka sedang melaksanakan shalat dhuha. Masjid itu juga tampak bersih dan terawat. Bisera dan aku kemudian melintasi sebuah pelataran dan akhirnya kami memasuki gedung C.
   “Dari Delta Central Perkasa ya?” Tanya petugas di meja resepsionis.
   “Ya,” sahut Bisera pendek.
   “Ditunggu sebentar ya mBak,” kata resepsionis itu,”Pak Singgih sedang rapat dengan dewan direksi.”
   Bisera mengangguk pendek. Janji ketemu dengan Pak Singgih memang jam sepuluh pagi. Dan waktu itu pukul sembilan lebih sepuluh menit. Pak Singgih terkenal memang disiplin dalam soal waktu. Itu aku sudah tahu sejak masih berada di divisi software dulu. Jadi memang sudah sepantasnya kami menunggu.
   Ruangan di Gedung C itu rangat rapi. Dan baunya harum. Tripatra adalah perusahaan kontraktor minyak yang besar. Ada kursi-kursi yang nyaman dalam ruangan itu. Pohon tanaman hias untuk di dalam ruangan juga menghiasinya dengan sangat cantik. Kami memutuskan untuk duduk di kursi-kursi nyaman itu.
   Seandainya aku lulus cepat dengan indeks prestasi yang meyakinkan, pikirku. Tentu aku bisa bekerja di perusahaan seperti Tripatra ini. Kukenang masa-masa aku kuliah di Yogyakarta. Aku kos di bantaran kali Code. Hanya sebentar berjalan kaki dari Rumah Sakit Sardjito. Sebelah utara persis dari Rumah Sakit itu adalah kampusku.
   Aku berusaha keras untuk lulus kuliah waktu itu. Belajar sampai subuh. Tapi nilai-nilaiku biasa-biasa saja. Padahal aku sudah berkali-kali menolak untuk memberikan les privat untuk anak-anak SMP dan SMA. Aku ingin mendedikasikan diriku untuk belajar. Sehingga bisa lulus cepat dengan indeks prestasi yang meyakinkan. Tapi aku memang belum beruntung waktu itu. Aku sempat tertinggal pelajaran. Sampai bersusah-susah aku mengejarnya. Bahkan adik kelasku yang sama-sama tertinggal dengan aku lebih cepat lulusnya.
   Setelah lulus aku baru menyadari bahwa semua itu bersumber dari fikiranku sendiri. Dari alam bawah sadarku. Aku sudah berfikir tidak akan lulus dari Teknik Mesin ini. Alam bawah sadar selanjutnya bekerja diluar kontrolku. Aku belajar dengan keras. Sekeras apapun aku belajar, tetap saja aku harus mengulang lagi. Kalaupun berhasil lulus dari suatu mata kuliah, pastilah dengan nilai yang minim.
   “Selamat pagi Pak Singgih,” kata Bisera sambil bangkit dari kursinya. Menyalami seorang laki-laki seumuran denganku.
   “Kenalkan ini Fermy.”
   Aku mengejapkan mataku beberapa kali. Rupanya aku telah melamun hampir sejam ini. Aku berdiri dari kursiku dan menyalami laki-laki itu. Dia tersenyum dan menyebut namanya,”Singgih”. Pak Singgih ternyata sangat ramah dan kooperatif.
   “Ada masalah dengan software yang kami pesan seminggu yang lalu mBak Bisera,”katanya.
   “Padahal kami memerlukannya segera untuk memperkirakan perilaku minyak mentah di kilang kami yang baru di Papua,”lanjutnya.
   Bisera mendengarkan dengan tekun. Dan mereka bediskusi dengan asyiknya mengenai kilang yang hendak dibuka di Papua itu. Bisera meyakinkan Singgih bahwa softwarenya sangat bisa diandalkan. Mereka membicarakan kemungkinan bahwa kekacauan itu mungkin karena kesalahan setting computer. Kalau persoalannya terletak pada virus, tentu orang-orang disini sudah bisa mengatasinya sendiri. Demikian yang kutangkap dari pembicaraan mereka.
   “Kilang kami ini temasuk deepwell,” kata Pak Singgih melanjutkan, menggunakan istilah teknis perminyakan yang baru kukenal sedikit-sedikit.
   Singgih kemudian meminta kami untuk memasuki ruangan kerja. Pintu masuk ruang kerja itu hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Dia mengambil sebuah kartu dari sakunya dan menggesekkan kartu itu di samping pintu masuk. Masuklah kami bertiga.
   Ruangan itu penuh dengan para insinyur. Layar-layar komputer tampak dimana-mana. Tampak dua orang sedang asyik membicarakan masalah perpipaan. Ada seorang insinyur sipil yang merancang landasan kilang untuk offshore. Pastilah banyak diantara mereka yang insinyur mesin sepertiku, pikirku iri.
   Pak Singgih mengantar kami ke sebuah meja. Diatas meja itu tampak seorang perempuan sedang mengutak-utik computer desktop di depannya. Rupanya software yang bermasalah itu ada disitu. Perempuan muda itu menoleh ketika kami bertiga menghampirinya.
   “Kenalkan ini Dona,” kata Pak Singgih.
   “Dia Process Engineer kami,” lanjutnya.
   Perempuan bernama Dona itu tersenyum dan mengangguk kearah kami. Kuperkirakan usianya sekitar pertengahan duapuluhan tahun. Bisa bekerja di perusahaan sebesar ini pasti merupakan  suatu kebanggaan besar baginya.
   “Mereka ini technical dari Delta Central Perkasa,” terang Pak Singgih kepada Dona.
   “Iya nih mBak,” sahut Dona.
   “Softwarenya bermasalah,” lanjutnya.
   “Setiap kali saya masukkan parameter-parameternya, software selalu mengirim pesan kesalahan,” katanya, lalu,”Padahal saya sudah obrak-abrik manual yang mBak berikan.”
   “Coba saya lihat,” kata Bisera sabar. Ternyata bisa juga dia bersikap ramah kalau di depan customer. Sangat berlainan dengan kelakuannya bila sedang bekerja di kantor kami di Tebet. Disini ‘singa betina’ itu kelihatan perduli sekali dengan permasalahan kliennya. Dasar.
   Setelah memeriksa konfigurasi komputer stand-alone itu akhirnya Bisera memutuskan install ulang. Dikemukakannya hal itu pada Pak Sinngih. Pak Singgih berdiskusi sejenak dengan Dona, si Process Engineer itu. Mereka berdiskusi beberapa saat lamanya sebelum akhirnya menyetujui usul Bisera.
   “Baiklah,” kata Pak Singgih.
   Dia meminta Dona untuk menghubungi Hariyadi, seorang staff IT yang bertugas menyimpan CD-CD software yang digunakan di perusahaan itu. Dona menghubungi Hariyadi dan meminta CD software yang bermasalah itu.
   Hariyadi datang tak lama kemudian. Dia sudah kenal dengan Bisera. Bisera mengenalkan aku padanya.
   “Fermy,” seruku padanya, dan kami bertukar kartu nama. Kartu namaku sederhana saja. Dibuat dari sebilah kertas kaku dan berlogo PT Delta Central Perkasa dan bertuliskan jabatanku. Technical Support.
   Aku sedikit jengkel pada Bisera karena praktis aku tidak melakukan apa-apa disitu. Semuanya ditanganinya sendiri. Bagaimana aku bisa menjadi sedikit lebih pandai kalau dia melakukan perbaikan software sendirian dan tanpa melibatkanku.
   Instalasi ulang itu berlangsung selama kurang dari satu jam. Dona mencoba memasukkan parameter-parameter yang dibutuhkannya dan mencoba me-run program tersebut. Dibimbing oleh Bisera akhirnya Dona mengetahui cara-cara praktis menggunakan software yang dimaksud.
  “Beres sudah,” kata Singgih.
   Kami berpamitan. Bisera berpesan pada mereka kalau ada masalah lagi dengan software yang berharga ribuan dollar Amerika itu, dia bersedia dipanggil lagi di Tripatra. Tapi ternyata mereka tidak langsung melepas kami pergi.
   “Ini sudah waktunya makan siang,” kata Dona.
   “Kami sudah memesan makanan di warung Padang,” kata Singgih.
   Berlima akhirnya kami makan di pantry. Aku makan dengan perasaan tidak enak. Aku tidak melakukan apapun disitu. Tapi aku turut diberi makan. Memang orang-orang Tripatra memang tidak mempermasalahkannya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak pada mereka. Terus terang aku jengkel pada Bisera. Rupanya ia hanya ingin ditemani.
   Beberapa hari telah berlalu sejak aku datang bersama Bisera ke kantor Tripatra. Terjemahanku sudah selesai dan kuserahkan pada Pak Henky. Rupanya beliau sangat teliti. Dia memeriksa terjemahanku dan menemukan beberapa kesalahan gramatikal.
   “Coba perbaiki ini Fermy.” Katanya.
   “Baik Pak.”
   “Jangan terburu-buru,” pesannya.
   Keluar dari ruang Pak Henky, aku bertemu Pak Joko. Darinya aku mendengar kabar bahwa Bisera akan menikah. Rupanya kabar itu sudah santer terdengar beberapa hari ini. Aku sedirilah yang kuper. Makanya tidak tahu ada kabar gembira seperti itu.
   Selesai istirahat siang aku menemui Bisera di mejanya. Mejanya berantakan seperti biasanya. Tapi wajahnya bersemu dadu ketika kutanyakan kebenaran berita itu padanya.
   “Ya, aku akan menikah seminggu lagi,”
   “Siapa nama pria yang beruntung itu?” tanyaku ingin tahu.
   “Gunawan.”
   “Ooohh,…si gundul tapi menawan.” Seruku reflek.
   Singa betina berwajah cantik itu memelototkan matanya padaku. “Sialan kamu,” katanya. Dan aku langsung ngibrit dari hadapannya. Bergegas menuju pintu. Kudengar tawa anak-anak dari divisi software yang seruangan bersama Bisera.
                                                                                ***
   Pagi itu aku terlambat ke kantor. Malamnya aku memang lembur. Begitu banyak pesanan pompa geser positif untuk Saipem, perusahaan minyak Italia. Sebagai Technical Support, aku bertanggung jawab untuk memilihkan pompa yang sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh Saipem. Mataku tampak lebam dan masih mengantuk.
   Di kantor orang-orang sudah berkumpul membentuk kerumunan yang ramai. Tidak seperti biasanya, pikirku. Kuhampiri gerombolan teman-temanku itu untuk mengetahui ada pa sebenarnya.
   “Bisera bunuh diri,” kata Pak Joko.
   Aku kaget luar biasa. Masih terkenang olehku wajah Bisera yang bersemu dadu ketika kutanyakan kebenaran rencana pernikahannya.
   “Teman-teman kosnya yang menemukan Bisera sekarat.”
   “Lho,..kenapa bisa sampai terjadi seperti itu,” tanyaku tak mengerti.
   “Calon suaminya menghamili adik ibu kosnya,”
   “Pernikahannya dibatalkan”.
   “Padahal undangan di Padang sudah disebarkan,” seru yang lain.
   Aku jadi mengerti situasinya. Bisera memang berasal dari Padang. Tentu keluarganya tidak bisa diajak damai begitu saja oleh Gunawan. Situasinya pasti rumit dan aku tidak berani membayangkannya.
                                                                                                                                                               Malang, Desember 2010

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...