Monday, March 19, 2012

Antara God Save The Queen, Indonesia Raya, dan Hymne Gadjah Mada

  Seharian di workshop membuatku sangat lelah hari ini, sekalipun begitu aku ingin menulis sebuah postingan karena sepulang dari kantor tiba-tiba aku mendapatkan sebuah ide untuk menulis. Perlu saya ungkapkan disini bahwa tulisan ini adalah pendapat dan pengalaman pribadi penulisnya. Jadi mohon jangan ditanggapi terlalu serius.
  Ide itu bermula ketika aku tiba-tiba ingat pada Ibuku yang mengajariku lagu "God Save The Queen", National Anthem dari Kerajaan Britania Raya. Agak menarik juga Ibuku itu, kok beliau bisa hafal lagu itu. padahal beliau berdarah Madura dan sama sekali tidak ada Inggris-inggrisnya.
  Waktu itu aku masih kelas enam di SD-SMP PPSP IKIP Malang. Aku malas sekali belajar dan Ibuku menjadi sangat prihatin. Sore itu beliau membujukku untuk belajar dan seperti biasanya aku acuh tak acuh.
  "Nanti ibu ajari lagu Kebangsaan Inggris Raya", bujuk Ibuku.
  "Ibu hafal?", tanyaku tak percaya.
  "Pokoknya setelah itu kamu mesti belajar", sahut Ibuku.
  Antusias dengan tawaran Ibu, aku segera menyetujuinya. Ibu segera mengambil kapur tulis dan mulai menulis di papan tulis yang biasa dipakai oleh Ayah untuk menerangkan materi dan mengerjakan soal Matematika pada murid-murid les privatnya. Ayahku memang seorang guru Matematika dan memberi les privat subjek itu untuk tambahan belanja.
  Seingatku Ibu menulis begini ketika itu,
                                                  God Save The Queen
                            God save our gracious Queen.
                            Long live our noble Queen.
                            God save the Queen.
                            Long her victorious, happy and glorious.
                            Long to reign ever us.
                            God save the Queen.
  Ibu menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Beliau memang berbakat menyanyi. Mudah-mudahan bakat itu menurun padaku karena aku menjadi vokalis lagu Keroncong dan Campursari Grup Keroncong dan Campursari Fakultas Teknik UGM, ketika masih menjadi mahasiswa Jurusan Teknik Mesin disana.
  Dibimbing oleh Ibuku aku mulai belajar menyanyikan lagu "keramat" bangsa Inggris itu. Ibuku memperbaiki tinggi nada dan pengucapan lafal lagu itu dan kami mengulanginya berkali-kali sampai aku sehafal Ibuku. Anehnya, sampai sekarang aku masih hafal dan dapat menyanyikan lagu Kebangsaan dan kebanggaan Inggris Raya itu.
  Anehnya lagi,...aku sekarang tidak hafal dengan lagu Kebangsaan Indonesia sendiri. Aku tidak tahu kenapa begitu, padahal sejak TK sampai SMA bersama teman-teman aku selalu menyanyikan "Indonesia Raya" waktu upacara bendera setiap Senin pagi. Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu semua,..yang penting aku masih bisa makan setiap hari. Aku mesti bersyukur kepada Tuhan karena masih dikaruniai pekerjaan. Padahal masalah lapangan pekerjaan ini adalah salah satu masalah yang krusial di Indonesia. Syukurlah dulu waktu wawancara pekerjaan aku tidak disuruh menyanyikan lagu "Indonesia Raya" sebagai syarat diterima bekerja.
  Selepas SMA aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Tapi kemudian aku dinyatakan Drop Out dan harus keluar dari sana dua tahun kemudian. Putus harapan dan asa aku mendaftar di sebuah Sekolah Menengah Atas swasta untuk mendapatkan ijazah SMA baru untuk bisa ikut UMPTN kembali. Sepuluh bulan aku mengulang di kelas III SMA itu sampai aku akhirnya dinyatakan lulus.
  Merasa takut dan malu ikut UMPTN di kota Malang, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti UMPTN di kota Yogyakarta tercinta. Aku menginap di rumah adik Ibuku di Yogya dan segera mendaftarkan diri untuk mengikuti UMPTN kembali. Aku ingat itu terjadi di tahun 1993. Tentu saja waktu itu teman-temanku yang masih kuliah di Kedokteran sudah mau koas setahun kemudian.
  Aku mendaftar di UGM dengan pilihan pertama di Teknik Mesin, pilihan kedua di Teknik Kimia dan pilihan ketiga di Jurusan Akuntansi. Tidak dapat kuceritakan perasaanku pada saat itu. Seperti hidup yang tidak hidup. Entah bagaimana para pembaca menafsirkan kalimat terakhirku tadi. Semua terasa kacau dan tidak ada kepastian tentang masa depan.
  Saat itu ide mendaftar di UGM adalah ide yang gila dan nekad, putus asa dan hampir tanpa motivasi. Aku kembali pulang ke Malang selesai mengikuti UMPTN itu dan bekerja sebagai pelayan di sebuah toko sepatu di Pasar Besar Malang.
  Tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu. Pengumuman Calon Mahasiswa Baru hasil seleksi UMPTN. Aku berangkat pagi-pagi ke Pasar Besar seperti biasanya dan tidak berusaha untuk membeli koran hari itu. Pengumuman calon mahasiswa yang masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur UMPTN memang dimuat di koran. Aku duduk terkantuk-kantuk di depan toko sepatu yang kujaga menjelang siang ketika kulihat Ibuku di pasar besar itu. Ibuku tidak biasa ke pasar besar, tentu ada sesuatu yang istimewa jika beliau kesana. Ibuku menenteng seekor ayam dan tersenyum kearahku. Kemudian beliau berlalu tanpa mengatakan apa-apa padaku. Aku terkesiap dan menyadari artinya,...aku diterima di UGM dan Ibuku mau selamatan!.
  Aku berangkat kembali ke Yogyakarta untuk kuliah kembali di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. Kuikuti seluruh acara OPSPEK dengan sepenuh hati. Dengan latar belakangku seperti itu tentu aku sangat bersyukur diterima di UGM. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat dan hafal lagu "Hymne Gadjah Mada" yang kuanggap aebagai "Lagu Kebangsaanku"
  Begini bunyinya,
                                            Hymne Gadjah Mada
                              Bakti kami Mahasiswa Gadjah Mada semua.
                              Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku.
                              Didalam Pancasilamu jiwa seluruh bangsaku
                              Kujunjung kebudayaanmu, Kejayaan Indonesia.
  Terimakasih UGM,....sampai sekarang aku masih tetap merasa sebagai mahasiswamu. Kukenang setiap perjuanganku untuk lulus darimu. Aku cinta kamu,.......

No comments:

Post a Comment

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...