Saturday, March 31, 2012

Reinkarnasi

  Dalam tradisi Hindu dan Budha dikenal paham Reinkarnasi. Memang menarik membayangkan kemungkinan bahwa kita bisa hidup di periode berikutnya di dunia ini. Bagiku percaya atau tidak percaya pada reinkarnasi adalah hak penuh seseorang,sama persis dengan hak seorang gadis untuk menerima atau menolak cinta seorang laki2.
  Ketika kita membahas masalah "sekularisasi" atau "sekularisme", maka besar kemungkinan bahwa kita akan berdebat berkepanjangan. Hal itu terjadi karena pemaknaan kita terhadap dua kata tersebut bisa berbeda. Kompiler dalam otak kita akan memberi makna yang berbeda sehingga mmenimbulkan bias. Coba,..tanyakan masalah sekularisasi padaku,pada Om Luki dan Tante Ami,..nanti akan ketahuan bahwa bakalan ada tiga pemahaman yang berbeda atau sekurang2nya dua pemahaman yang sangat berbeda bila ditinjau secara kategoris. Minimal "kesan" dari dua kata itu akan berbeda. Ada yang menilainya secara positif dan ada yang menilainya secara negatif.
  Berbeda dengan kata "reinkarnasi". Dapat dipastikan bahwa kita semua akan sepakat dengan makna kata itu. Kompiler bahasa pemrograman AmiPro, LukiPro dan Mi2tAmatir akan memberikan pemaknaan yang sama apabila disuruh mengeksekusi perintah "reinkarnasi".(Sori Om Luki dan Tante Ami,..namanya saya pinjem untuk menjelaskan sesuatu,..). Kira2 dalam terminologi Ushul Fiqh bisa diistilahkan dengan Mafhum Mukhalafah, begitu.
  Harun Yahya, seorang intelektual Muslim dari Turki, pernah membahas dan mengulas masalah reinkarnasi dalam tulisannya. Beliau menolak dengan keras adanya reinkarnasi ini karena Al Qur'an tidak pernah mengulasnya, demikian pula Sunnah juga tidak pernah mengajarkannya. Tapi seorang Paman yang sangat intelek dari Bani Tohiroen (yang sangat kuhormati pendapat2nya) justru malah yakin dengan reinkarnasi ini. Sama seperti Om Nanang, beliau juga percaya bahwa kemalangan atau keberhasilan seseorang dalam hidupnya saat ini adalah akibat dari perbuatan dan tindakan2nya pada kehidupan yang lalu.
  Alasan2 yang dikemukakan oleh Harun Yahya memang sangat normatif. Tidak semua orang senang dengan penjelasan seperti ini. Aku termasuk orang yang tidak percaya dengan reinkarnasi. Bukan apa2 sih,...aku hanya melihatnya dari pengaruhnya pada pikiranku sendiri. Mempercayai reinkarnasi membuatku yakin bahwa serentetan kegagalan dalam hidup(yang sekarang,..bagi yang mempercayai reinkarnasi) adalah buah dari kehidupanku yang terdahulu. Dasar "balung kere", begitu mungkin kata orang,.... Kompleks "negative thinking" ini akan semakin merajalela bila aku mempercayai reinkarnasi. Membuatku yakin bahwa kehidupanku tidak bisa diubah lagi. Padahal aku harus membiasakan diri untuk berfikir positif.
  Ibrahim Elfiky, intelektual Muslim berkebangsaan Mesir yang tinggal di Kanada mengingatkan bahaya berfikir negatif ini bagi semua orang. Aku saat ini tengah mempraktekkan berfikir positif ini pada diriku sendiri. Ibrahim Elfiky mengatakan bahwa bila satu file dalam otak kita terbuka maka hal itu akan membuka file2 lain yang sejenis dalam fikiran kita. Hal itu kuistilahkan sendiri sebagai "resonansi".
  Lalu,..bagaimana aplikasinya,..? Saat ini aku tengah mempelajari Bahasa C++,alasannya karena buku komputer yang saat ini tersedia, dan bisa digunakan untuk meng-upgrade kemampuan komputerku secara otodidak memang baru itu yang ada di rumah. Ada perasaan takut gagal, cemas dan pikiran2 negatif lain yang menderaku ketika mempelajari bahasa ini. Kalau dituruti fikiran2 negatif itu bisa gawat.
  Lalu bagaimana,..? Aku mencoba untuk meresonansikan pikiranku secara sadar sesuai prinsip2 yang dikemukakan oleh Ibrahim Elfiky. Kukenang saat saat menjelang UMPTN dulu ketika mempelajari Bahasa C++ saat ini. Sebulan belajar untuk memghadapi UMPTN padahal tiga tahun hampir tidak pernah belajar di SMA,...dan,..sim salabim,...diterima di Kedokteran. Dalam kondisi tidak menentu dan stress berat...kucoba untuk terus belajar meski sedikit yang bisa difahami dan,..sim salabim,...diterima di Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.
  Pengalaman2 puncak itu terus kureprodusir ketika belajar C++, tidak perduli sesusah apapun masalah yang kuhadapi ketika mempelajarinya. Hasilnya,..? Belum tahu,..proses untuk berfikir positif bagiku memang perlu waktu. Setidak2nya aku sudah mencoba,...

Thursday, March 29, 2012

Aku dan Kemaduraanku

   Aku selalu merasa berdarah Madura, padahal sebenarnya aku ini seorang Pendalungan, suatu istilah di Malang, tempat asalku, untuk anak-anak persilangan Jawa-Madura. Ibuku, darimana darah Maduraku berasal, pun sebenarnya tidak asli Madura.
  
Ayah dari Ibuku, Eyang Kakung Mohammad memang berasal dari Bangkalan, tetapi istrinya, nenekku, berasal dari Kediri, Jawa Timur. Ibuku bahkan lebih merasa sebagai orang Jawa daripada orang Madura. Ibuku lahir di Kediri, dan sudah tidak dapat lagi berbahasa Madura. Apalagi aku.....
  
Perasaan sebagai orang Madura itu muncul, mungkin terutama karena aku, pada masa kanak-kanakku, mendapatkan dan mengambil figur ayah dari Kakekku yang Madura itu. Figur ayah yang melindungi, memperhatikan dan melindungi.
  
Hubunganku dengan ayah kandungku memang buruk. Bagiku ayahku itu sosok yang menjengkelkan sekali, dan mungkin bagi ayahku, aku ini seorang anaknya yang sangat menjengkelkan juga,..yang terlalu mendewadewakan kakeknya, mertuanya... Jadi impas sudah, kami saling tidak menyukai satu sama lain.
   
Padahal Ayahku adalah figur yang menonjol di lingkungannya. Baik di Malang, kota tempat aku dibesarkan, maupun di dusun tempatnya berasal di Blitar sana. Keluarga ayahku konon masih trah dari Sunan Drajat. Salah satu dari Walisongo, penyebar Agama Islam di Tanah Jawa. Nenek ayahku dipanggil oleh lingkungannya dengan sebutan "mBok Nyai", suatu sebutan terhormat yang biasanya diberikan kepada istri Kyai pemimpin sebuah pondok pesantren. Sedangkan kakek ayahku bernama Haji Abdul Gani. Setahuku beliau bukan pemimpin sebuah pondok pesantren namun seorang Kemasan atau perajin perhiasan dari emas. Hebat juga beliau karena di zaman itu orang yang bisa berhaji di Tanah Suci masih sangat jarang. Berhaji di zaman itu tidak dapat disamakan dengan berhaji di zaman sekarang.
  
Kakak ayahku, Pakde Ghozali, bersama istrinya, pernah berkunjung ke Makam Sunan Drajat. Beliau menghubungi mBak Iin, salah satu keponakannya yang juga sama-sama ber-trah Sunan Drajat, kemudian mereka bersama-sama nyekar ke Makam Sunan Drajat. Oleh mBak Iin beliau kemudian dihubungkan dengan Juru Kunci Makam Sunan Drajat. Maka ketika beliau datang ke petilasan itu, beliau mendapat perlakuan khusus dari si Juru Kunci karena beliau keturunan Sunan Drajat. Bahkan nama beliau dimasukkan dalam silsilah keturunan Sunan Drajat oleh si Juru Kunci, atas rekomendasi mBak Iin yang sudah lebih dahulu masuk dalam silsilah keturunan Sunan Drajat.
  
Pengetahuanku sendiri tentang Sunan Drajat sangatlah minim. Aku hanya tahu bahwa beliau bernaman Raden Paku sebelum menjadi Sunan. Aku memang lebih familiar dengan keluarga dari Ibuku.
  
Perasaan sebagai orang Madura itu semakin mengental ketika aku memperoleh gelar Raden Panji dari sepupu Ibuku. Ibuku mentertawaiku ketika aku mendapatkan gelar itu. Tapi aku justru senang sekali karena aku merasa masih diakui sebagai orang Madura oleh kerabatku disana. Sejak saat itu perhatianku pada Madura dan hal ihwalnya menjadi meningkat. Aku tertarik pada perkembangan Pulau Madura, terutama Bangkalan.
 
Di sepanjang perantauankupun aku jadi memperhatikan tingkah polah orang Madura. Baik waktu di Jakarta maupun ketika di Balikpapan sini. Kudatangi kedai makanan Madura, sekumuh apapun tempat itu. Kalau saat makan siang, aku sering membeli gado-gado Bhuk Madura yang selalu mangkal di gapura gang di dekat kantorku. Aku sangat senang apabila dia menjawab, "Enggi', yang artinya "Ya", jika aku mengatakan,"Mator sakalangkong", padanya. Mator sakalangkong itu bahasa Madura yang artinya "Terimakasih".
  
Ada suatu hal yang menarik tentang kakekku yang Madura itu. Menurut Om Hamid, sepupu Ibuku dari Bangkalan, kakekku mendapat nama "Mohammad" dari Syaikhona Kholil, seorang 'ulama kharismatik disana. Aku pernah mendapat informasi bahwa Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari pernah berguru pada Syaikhona Kholil ini di masa mudanya sebelum KH Hasyim Asy'ari menuntut ilmu di Makkah. Sepulang dari belajar di Tanah Suci, konon gantian Syaihona Kholil yang berguru pada Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Disitulah keunikannya, setahuku ayah kakekku, Eyang Buyut Hasan Boesri Mertodihardjo adalah Ketua wilayah Muhammadiyah Bangkalan. Bagaimana mungkin yang memberi nama anaknya adalah seorang Kyai Khos dari NU?
 
Kakekku adalah bungsu dari tiga bersaudara, kakaknya yang pertama bernama R.Ay. Djauhairiyah, dan kakaknya yang kedua bernama R.Ay. Djauharinsiya. Menurut Om Hamid, hanya kakekku yang beruntung mendapat nama "Mohammad...baih", atau dalam Bahasa Indonesianya "Mohammad...saja" dari Kyai kharismatik NU, Syaikhona Kholil.
  
Ada satu hal lagi yang unik tentang kakekku itu,...aku merasa bahwa riwayat pendidikannya pun mirip denganku. Kakekku selepas AMS di Malang kuliah di STOVIA, School Tot Opleiding Van Indisch Artsen, yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Aku kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya setelah lulus SMA. Kakekku tidak betah di STOVIA dan beliau pindah di TH, Techniche Hogeschool, yang sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung. Aku sendiri Masuk Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada setelah dinyatakan Dropped Out dari Kedokteran Unibraw.... Memang mirip sekali...

Sunday, March 25, 2012

Bisera,...sebuah cerpen,....


Bisera
Oleh: Fermy Nurhidayat

   “Fermy.”
   Aku mendongak dari berkas-berkas yang sedang kuselesaikan. Menterjemahkan dokumen-dokumen perjanjian dengan perusahaan principal di Kuala Lumpur. Sebenarnya itu bukan tugasku. Tapi karena aku dianggap oleh Pak Henky paling bagus bahasa Inggrisnya, maka aku diperintahkan untuk menterjemahkan dokumen-dokumen itu.
   “Kita ke Tripatra sekarang,” katanya menyebut sebuah kontraktor minyak di kawasan Kalibata.
   “Lho, aku sudah tidak di bagian software sekarang,” protesku.
   “Tapi Pak Bambang membolehkanku untuk memintamu menyertaiku kalau hal itu diperlukan,” sangkalnya dengan galak.
   Bisera nama gadis itu. Seorang yang cerdas tapi kurang bersahabat. Teman-teman di kantor menjulukinya sebagai ‘singa betina’ bila dia sedang tidak ada ditempat. Dan memang, si singa betina itu benar-benar galak luar biasa.
   “Baiklah,” kataku enggan.
   Kuraih dasiku dari dalam laci,kemudian mengenakannya dengan enggan. Tanganku membuat beberapa simpul di secarik kain sutera itu. Dan jadilah aku berdasi. Aku berjalan menuju ruang rapat. Disana ada sebuah cermin besar. Kupatutkan diriku disana. Merapikan simpul yang kubuat dan krah baju yang kukenakan.
   Kemudian aku kembali ke mejaku. Ruangan Bisera ada di sebelah ruanganku. Aku diminta Pak Bambang, manager di bidang Mechanical untuk mengisi posisi Technical Support di Divisinya kira-kira sebulan yang lalu. Sebelumnya aku berada di divisi Software bersama Bisera. Bisera adalah staf senior di divisi itu. Sekalipun lebih tua dibandingkan dengannya, aku adalah staff junior di perusahaan itu.
   Perusahaan ini dimiliki oleh Pak Henky. PT Delta Central Perkasa. Pak Henky berasal dari Sampang, Pulau Madura. Usianya hanya berpaut beberapa tahun saja diatasku. Namun dia sudah bisa dibilang cukup berhasil dalam segi materi dan rohani. Bagaimana tidak?. Mempunyai usaha yang cukup mapan di Tebet ini, dan juga sudah mempunyai seorang istri. Istri yang lembut dan cantik yang juga berasal dari Sampang.
   Aku jarang berbicara dengan Pak Henky. Aku lebih sering berurusan dengan Bambang dan Bisera. Pak Henky sering keluar negeri. Biasanya ke Kuala Lumpur atau Singapura. Kadang-kadang ditemani Ibu Rini, istrinya yang dari Sampang itu. Istri Pak Henky itu sangat halus dan cantik. Dia mempunyai bisnis sendiri juga di daerah Matraman. Sebagai insinyur sipil dari Institut Teknologi Bandung, dia mempunyai usaha konstruksi bersama teman-temannya. Kebetulan aku tahu bahwa usaha konstruksinya itu diberi nama PT Delta Inti Perkasa.
   Kadang-kadang Ibu Rini datang ke lokasi perusahaan kami. Membawa makanan dari restoran untuk semua karyawan disini. Seringkali aku kebagian juga. Tapi kadang-kadang tidak. Ada tigapuluh enam karyawan di Delta Central Perkasa.
   Ibu Rini seumuran denganku. Kami sebaya. Kalau dia lulusan Departemen Teknik Sipil di Institut Teknologi Bandung, maka aku adalah lulusan Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. Tapi aku juga kurang begitu akrab dengan Ibu Rini. Sengaja aku menjaga jarak dengannya. Aku tidak ingin jatuh cinta padanya. Konyol banget kalau sampai jatuh cinta pada istri bos.
   “Ayo berangkat,” kata Bisera kepadaku. Dia membawa laptop kesayangannya.
   “Baiklah,”jawabku,”Tapi aku pamit dulu sama Pak Bambang.”
   “Bambang ke Singapura.”
   “Lho,urusan apa lagi?” tanyaku.
   “Sudahlah, kita berangkat.”
   Aku mengikutinya di belakang. Bisera berjalan dengan anggun dan percaya diri. Dagunya agak terangkat ke atas. Riasannya sederhana tapi menarik. Bibirnya tampak natural dengan sapuan lip-gloss tipis. Sebenarnya gadis ini cukup cantik, pikirku. Tapi galaknya itu, audzubilah setan.
   Kami menuruni tangga untuk menuju ke pelataran kantor. Ketika sampai disana, Pak Sonny, sopir yang biasa mengantar para staff sudah memanaskan mobilnya. Sebuah Panther bertenaga diesel. Mobil itu tampak terawat. Untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kami ini, kesan pada para customer sungguh sangat penting. Untuk itulah maka penampilan kami harus dijaga di depan mereka. Temasuk performa mobil yang mengantarkan kami.
   Pak Sonny baru saja selesai mengelap mobil. Semua pintu di Panther itu terbuka. Dia menoleh dan tersenyum ketika melihat aku dan Bisera menghampirinya.
   “Kemana mBak?” tanyanya.
   “Tripatra,” sahut Bisera dingin.
   Kadang-kadang aku berfikir, bagaimana bisa seorang Bisera yang kaku wataknya ini bisa diterima bekerja disini. Kepribadiannya sungguh menjengkelkan dan mau menang sendiri. Banyak karyawan lain yang memusuhinya. Baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dita, admin di Bagian Software jelas-jelas memusuhinya. Padahal notabene Dita adalah bawahan Bisera. Menurutku kondisi ini sudah tidak sehat.
   Mungkin kepribadian Bisera yang kurang terampil bergaul itu tidak nampak pada waktu dia diwawancarai oleh Pak Henky ketika proses lamaran kerja. Pak Sonny, sopir kami itu, termasuk yang paling sering menggunjingkan Bisera. Tapi dia tidak melakukannya di depan Bisera. Tidak seperti Dita yang terang-terangan memusuhi.
   Kami memasuki mobil itu dan aku memasang sabuk pengaman. Aku duduk di samping Pak Sonny. Dengan mulus Panther itu keluar dari gerbang perusahaan. Kemudian menghindari seorang pengendara sepeda motor dengan luwesnya. Jalanan di Jakarta sungguh sangat ruwet. Di dekat halte busway, Pak Sonny mengklakson seorang pejalan kaki yang berjalan agak ke tengah. Pak Sonny adalah sopir yang sangat gesit. Hampir semua jalan tikus di Jakarta ini dia mengenalnya. Kami beruntung mempunyai sopir  seperti dia.
   Kami melewati kawasan three in one dengan cepat. Kemudian memasuki jalan layang. Dari jendela mobil mataku menangkap sebuah poster besar. Seingatku poster itu belum ada ketika aku juga melewati jalan layang ini seminggu yang  lalu bersama Pak Darmadi, sopir kami yang lain.
   “Lihat,” kataku sambil menunjuk poster itu.
   “Pakailah kondom,” seruku keras-keras membaca poster itu.
   “Istri saja belum punya kok disuruh pakai kondom,” lanjutku sambil tertawa.
   Pak Sonny terbahak mendengar celetukanku.
   “Berapa umur Pak Fermy?” tanyanya.
   “Tigapuluh empat tahun.”
   “Apa,..?” kata Pak Sonny pura-pura terkejut,”Tigapuluh empat tahun cuma dipakai kencing doang?” candanya.
   Kami berdua terbahak. Sebenarnya guyonan konyol semacam itu tidak lucu bagi sebagian orang. Tapi Pak Sonny memang suka kelewatan kalau bergurau. Bagiku itu lebih baik daripada berdiam diri saja sepanjang perjalanan. Apalagi dengan kondisi jalan macet yang selalu terjadi di Jakarta ini. Kulirik Bisera yang duduk sendirian di belakang. Tampak bahwa dia berusaha menahan senyum. Usahanya tidak begitu berhasil. Wajahnya kelihatan kaku dan dibuat-buat.
   Kami sampai di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Makam itu nampak asri dengan beberapa ekor kijang di dalamnya. Diteduhi oleh pohon-pohon besar yang rindang. Mobil kemudian berbelok ke kiri. Setelah itu belok lagi ke kanan memasuki kompleks Tripatra Engineering.
   Dua orang Satpam menghentikan Panther kami. Pak Sonny menurunkan kaca di samping tempat duduknya. “Dari Delta Central Perkasa Pak,” jawab Pak Sonny pada Satpam yang menghampirinya. Satpam itu kemudian menulis sesuatu pada berkas yang dibawanya. Kemudian ia menyerahkannya kepada Pak Sonny.
   “Katepenya ditinggal Pak.”
   Sejak Jakarta diguncang terror bom oleh jaringan Noordin M. Top, pengamanan dalam gedung-gedung perkantoran dan hotel-hotel, terutama hotel-hotel berbintang, memang ditingkatkan. Aku memaklumi hal itu. Memang sudah sewajarnya.
   Pak Sonny menyerahkan dokumen yang diminta itu dan portal kemudian dibuka. Mobil meluncur perlahan dan Pak Sonny mengantarkan kami persis di depan gedung tempat Front Office berada. Ruangan dalam gedung itu tampak nyaman, dan resepsionis menyanyakan maksud kedatangan kami.
   “Kami mau bertemu Pak Singgih,” jawab Bisera pada resepsionis itu.
   “Sudah janji sebelumnya?”
   “Sudah,” sahut Bisera pendek.
   Petugas di Front Office itu memutar sebuah nomor di interkomnya. Dia melakukan hal itu sambil duduk. Tak seberapa lama kemudian dia sudah berbicara dengan orang dari seberang gedung.
   “Dari  Delta Central Perkasa Pak.”
   “Oh,..ya Pak,” kata resepsionis itu dari balik interkomnya.
   “Ya,..ya,..Pak.”
   “Baik Pak.”
   Gadis di belakang meja itu kemudia meletakkan gagang interkom yang dipegangnya. Kemudian berkata bahwa Bisera diminta menunggu di gedung sebelah. Bisera menanyakan arah dan lokasi dimana gedung itu berada dan akhirnya kami berdua menuju tempat yang dimaksud.
   Kami berjalan melewati sebuah taman yang asri. Pasti banyak uang yang diperlukan untuk membuat dan merawat taman indah seperti itu. Ada air mancur di dalam taman itu. Seluruh tatanan dalam kompleks itu rupanya benar-benar dirancang dengan baik. Indah sekali. Aku jadi ingat dengan kampung-kampung kumuh yang kadang-kadang terlihat waktu bersama Pak Sonny atau Pak Darmadi melewati jalan-jalan tikus di Jakarta.
   Kami melewati sebuah Masjid kecil. Beberapa orang tampak sedang shalat didalamnya. Mungkin mereka sedang melaksanakan shalat dhuha. Masjid itu juga tampak bersih dan terawat. Bisera dan aku kemudian melintasi sebuah pelataran dan akhirnya kami memasuki gedung C.
   “Dari Delta Central Perkasa ya?” Tanya petugas di meja resepsionis.
   “Ya,” sahut Bisera pendek.
   “Ditunggu sebentar ya mBak,” kata resepsionis itu,”Pak Singgih sedang rapat dengan dewan direksi.”
   Bisera mengangguk pendek. Janji ketemu dengan Pak Singgih memang jam sepuluh pagi. Dan waktu itu pukul sembilan lebih sepuluh menit. Pak Singgih terkenal memang disiplin dalam soal waktu. Itu aku sudah tahu sejak masih berada di divisi software dulu. Jadi memang sudah sepantasnya kami menunggu.
   Ruangan di Gedung C itu rangat rapi. Dan baunya harum. Tripatra adalah perusahaan kontraktor minyak yang besar. Ada kursi-kursi yang nyaman dalam ruangan itu. Pohon tanaman hias untuk di dalam ruangan juga menghiasinya dengan sangat cantik. Kami memutuskan untuk duduk di kursi-kursi nyaman itu.
   Seandainya aku lulus cepat dengan indeks prestasi yang meyakinkan, pikirku. Tentu aku bisa bekerja di perusahaan seperti Tripatra ini. Kukenang masa-masa aku kuliah di Yogyakarta. Aku kos di bantaran kali Code. Hanya sebentar berjalan kaki dari Rumah Sakit Sardjito. Sebelah utara persis dari Rumah Sakit itu adalah kampusku.
   Aku berusaha keras untuk lulus kuliah waktu itu. Belajar sampai subuh. Tapi nilai-nilaiku biasa-biasa saja. Padahal aku sudah berkali-kali menolak untuk memberikan les privat untuk anak-anak SMP dan SMA. Aku ingin mendedikasikan diriku untuk belajar. Sehingga bisa lulus cepat dengan indeks prestasi yang meyakinkan. Tapi aku memang belum beruntung waktu itu. Aku sempat tertinggal pelajaran. Sampai bersusah-susah aku mengejarnya. Bahkan adik kelasku yang sama-sama tertinggal dengan aku lebih cepat lulusnya.
   Setelah lulus aku baru menyadari bahwa semua itu bersumber dari fikiranku sendiri. Dari alam bawah sadarku. Aku sudah berfikir tidak akan lulus dari Teknik Mesin ini. Alam bawah sadar selanjutnya bekerja diluar kontrolku. Aku belajar dengan keras. Sekeras apapun aku belajar, tetap saja aku harus mengulang lagi. Kalaupun berhasil lulus dari suatu mata kuliah, pastilah dengan nilai yang minim.
   “Selamat pagi Pak Singgih,” kata Bisera sambil bangkit dari kursinya. Menyalami seorang laki-laki seumuran denganku.
   “Kenalkan ini Fermy.”
   Aku mengejapkan mataku beberapa kali. Rupanya aku telah melamun hampir sejam ini. Aku berdiri dari kursiku dan menyalami laki-laki itu. Dia tersenyum dan menyebut namanya,”Singgih”. Pak Singgih ternyata sangat ramah dan kooperatif.
   “Ada masalah dengan software yang kami pesan seminggu yang lalu mBak Bisera,”katanya.
   “Padahal kami memerlukannya segera untuk memperkirakan perilaku minyak mentah di kilang kami yang baru di Papua,”lanjutnya.
   Bisera mendengarkan dengan tekun. Dan mereka bediskusi dengan asyiknya mengenai kilang yang hendak dibuka di Papua itu. Bisera meyakinkan Singgih bahwa softwarenya sangat bisa diandalkan. Mereka membicarakan kemungkinan bahwa kekacauan itu mungkin karena kesalahan setting computer. Kalau persoalannya terletak pada virus, tentu orang-orang disini sudah bisa mengatasinya sendiri. Demikian yang kutangkap dari pembicaraan mereka.
   “Kilang kami ini temasuk deepwell,” kata Pak Singgih melanjutkan, menggunakan istilah teknis perminyakan yang baru kukenal sedikit-sedikit.
   Singgih kemudian meminta kami untuk memasuki ruangan kerja. Pintu masuk ruang kerja itu hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Dia mengambil sebuah kartu dari sakunya dan menggesekkan kartu itu di samping pintu masuk. Masuklah kami bertiga.
   Ruangan itu penuh dengan para insinyur. Layar-layar komputer tampak dimana-mana. Tampak dua orang sedang asyik membicarakan masalah perpipaan. Ada seorang insinyur sipil yang merancang landasan kilang untuk offshore. Pastilah banyak diantara mereka yang insinyur mesin sepertiku, pikirku iri.
   Pak Singgih mengantar kami ke sebuah meja. Diatas meja itu tampak seorang perempuan sedang mengutak-utik computer desktop di depannya. Rupanya software yang bermasalah itu ada disitu. Perempuan muda itu menoleh ketika kami bertiga menghampirinya.
   “Kenalkan ini Dona,” kata Pak Singgih.
   “Dia Process Engineer kami,” lanjutnya.
   Perempuan bernama Dona itu tersenyum dan mengangguk kearah kami. Kuperkirakan usianya sekitar pertengahan duapuluhan tahun. Bisa bekerja di perusahaan sebesar ini pasti merupakan  suatu kebanggaan besar baginya.
   “Mereka ini technical dari Delta Central Perkasa,” terang Pak Singgih kepada Dona.
   “Iya nih mBak,” sahut Dona.
   “Softwarenya bermasalah,” lanjutnya.
   “Setiap kali saya masukkan parameter-parameternya, software selalu mengirim pesan kesalahan,” katanya, lalu,”Padahal saya sudah obrak-abrik manual yang mBak berikan.”
   “Coba saya lihat,” kata Bisera sabar. Ternyata bisa juga dia bersikap ramah kalau di depan customer. Sangat berlainan dengan kelakuannya bila sedang bekerja di kantor kami di Tebet. Disini ‘singa betina’ itu kelihatan perduli sekali dengan permasalahan kliennya. Dasar.
   Setelah memeriksa konfigurasi komputer stand-alone itu akhirnya Bisera memutuskan install ulang. Dikemukakannya hal itu pada Pak Sinngih. Pak Singgih berdiskusi sejenak dengan Dona, si Process Engineer itu. Mereka berdiskusi beberapa saat lamanya sebelum akhirnya menyetujui usul Bisera.
   “Baiklah,” kata Pak Singgih.
   Dia meminta Dona untuk menghubungi Hariyadi, seorang staff IT yang bertugas menyimpan CD-CD software yang digunakan di perusahaan itu. Dona menghubungi Hariyadi dan meminta CD software yang bermasalah itu.
   Hariyadi datang tak lama kemudian. Dia sudah kenal dengan Bisera. Bisera mengenalkan aku padanya.
   “Fermy,” seruku padanya, dan kami bertukar kartu nama. Kartu namaku sederhana saja. Dibuat dari sebilah kertas kaku dan berlogo PT Delta Central Perkasa dan bertuliskan jabatanku. Technical Support.
   Aku sedikit jengkel pada Bisera karena praktis aku tidak melakukan apa-apa disitu. Semuanya ditanganinya sendiri. Bagaimana aku bisa menjadi sedikit lebih pandai kalau dia melakukan perbaikan software sendirian dan tanpa melibatkanku.
   Instalasi ulang itu berlangsung selama kurang dari satu jam. Dona mencoba memasukkan parameter-parameter yang dibutuhkannya dan mencoba me-run program tersebut. Dibimbing oleh Bisera akhirnya Dona mengetahui cara-cara praktis menggunakan software yang dimaksud.
  “Beres sudah,” kata Singgih.
   Kami berpamitan. Bisera berpesan pada mereka kalau ada masalah lagi dengan software yang berharga ribuan dollar Amerika itu, dia bersedia dipanggil lagi di Tripatra. Tapi ternyata mereka tidak langsung melepas kami pergi.
   “Ini sudah waktunya makan siang,” kata Dona.
   “Kami sudah memesan makanan di warung Padang,” kata Singgih.
   Berlima akhirnya kami makan di pantry. Aku makan dengan perasaan tidak enak. Aku tidak melakukan apapun disitu. Tapi aku turut diberi makan. Memang orang-orang Tripatra memang tidak mempermasalahkannya. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak pada mereka. Terus terang aku jengkel pada Bisera. Rupanya ia hanya ingin ditemani.
   Beberapa hari telah berlalu sejak aku datang bersama Bisera ke kantor Tripatra. Terjemahanku sudah selesai dan kuserahkan pada Pak Henky. Rupanya beliau sangat teliti. Dia memeriksa terjemahanku dan menemukan beberapa kesalahan gramatikal.
   “Coba perbaiki ini Fermy.” Katanya.
   “Baik Pak.”
   “Jangan terburu-buru,” pesannya.
   Keluar dari ruang Pak Henky, aku bertemu Pak Joko. Darinya aku mendengar kabar bahwa Bisera akan menikah. Rupanya kabar itu sudah santer terdengar beberapa hari ini. Aku sedirilah yang kuper. Makanya tidak tahu ada kabar gembira seperti itu.
   Selesai istirahat siang aku menemui Bisera di mejanya. Mejanya berantakan seperti biasanya. Tapi wajahnya bersemu dadu ketika kutanyakan kebenaran berita itu padanya.
   “Ya, aku akan menikah seminggu lagi,”
   “Siapa nama pria yang beruntung itu?” tanyaku ingin tahu.
   “Gunawan.”
   “Ooohh,…si gundul tapi menawan.” Seruku reflek.
   Singa betina berwajah cantik itu memelototkan matanya padaku. “Sialan kamu,” katanya. Dan aku langsung ngibrit dari hadapannya. Bergegas menuju pintu. Kudengar tawa anak-anak dari divisi software yang seruangan bersama Bisera.
                                                                                ***
   Pagi itu aku terlambat ke kantor. Malamnya aku memang lembur. Begitu banyak pesanan pompa geser positif untuk Saipem, perusahaan minyak Italia. Sebagai Technical Support, aku bertanggung jawab untuk memilihkan pompa yang sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh Saipem. Mataku tampak lebam dan masih mengantuk.
   Di kantor orang-orang sudah berkumpul membentuk kerumunan yang ramai. Tidak seperti biasanya, pikirku. Kuhampiri gerombolan teman-temanku itu untuk mengetahui ada pa sebenarnya.
   “Bisera bunuh diri,” kata Pak Joko.
   Aku kaget luar biasa. Masih terkenang olehku wajah Bisera yang bersemu dadu ketika kutanyakan kebenaran rencana pernikahannya.
   “Teman-teman kosnya yang menemukan Bisera sekarat.”
   “Lho,..kenapa bisa sampai terjadi seperti itu,” tanyaku tak mengerti.
   “Calon suaminya menghamili adik ibu kosnya,”
   “Pernikahannya dibatalkan”.
   “Padahal undangan di Padang sudah disebarkan,” seru yang lain.
   Aku jadi mengerti situasinya. Bisera memang berasal dari Padang. Tentu keluarganya tidak bisa diajak damai begitu saja oleh Gunawan. Situasinya pasti rumit dan aku tidak berani membayangkannya.
                                                                                                                                                               Malang, Desember 2010

Friday, March 23, 2012

Sabhe Sakentok

  Ini adalah sebuah cerita rakyat dari Madura. Aku mendengarnya dari Ibuku, dan Ibu waktu kecilnya didongengi cerita ini oleh Ayahnya, Eyang Kakungku. Jadi cerita ini dituturkan dari generasi ke generasi. Sayangnya cerita rakyat ini sudah kurang dikenal oleh generasi muda Madura yang kutemui di sepanjang perantauanku.
  Dahulu kala, daerah Madura dipimpin oleh seorang Raja. Seperti biasanya para raja, beliau didampingi oleh para punggawa kerajaan. Setahuku pembagian peran punggawa kerajaan di Madura hampir sama saja dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Setahuku pula, para Pangeran di Madura kebanyakan bersepupu dengan para Pangeran di Jawa.
  Panembahan Maduratna, atau lebih dikenal sebagai Pangeran Trunojoyo yang berasal dari Madura, gugur dibunuh oleh saudara sepupunya sendiri, Prabu Amangkurat II, raja Mataram pada saat itu. Pangeran Trunojoyo memang memberontak dari kekuasaan Mataram pada saat itu. Pangeran Trunojoyo dibunuh dengan tangannya sendiri oleh Prabu Amangkurat II. Keris yang dipakai membunuhnya bernama Kyai Setan Kober, yang dikenal ampuh untuk memunahkan ilmu-ilmu sakti yang ada pada jaman itu. Setahuku pula, pasukan Mataram yang berhasil menangkap Pangeran Trunojoyo itu dikepalai oleh Panglima Mataram yang bernama Ki Juru Kiting. Panembahan Maduratna atau Pangeran Trunojoyo ini berhasil dikelabuhi dan ditangkap di perbatasan antara Kediri dan Blitar. Ada yang bilang tepatnya di Wates, Kediri.
  Kita lupakan saja masa lalu,...sekarang ini banyak putra-putri Madura yang menimba ilmu di bekas daerah pusat Mataram, Yogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat. Mereka tentulah banyak mendapat bekal hidup setelah menimba ilmu dari sana.
  Kembali ke cerita rakyat yang mau saya ceritakan tadi, demikianlah kisahnya. Pada suatu hari, Raja Madura mendapat tamu dari negeri seberang. Tentulah beliau tamu penting. Didampingi oleh seorang punggawanya, sang Raja Madura membicarakan masalah-masalah bilateral dengan tamunya.
  Ditengah-tengah berdiskusi itu tantpa sengaja sang Raja terlepas kentut di hadapan tamunya. Suaranya keras sekali sehingga sang raja menjadi malu. Tanpa dinyana, sang punggawa berkata kepada tamu sang raja,"Beribu-ribu ampun tuan, saya kelepasan kentut,...maafkan saya Sang Raja,..tiba-tiba saya sakit perut,...saya telah membuat malu Sang Raja,..mohon ampun Sang Raja,...".
  Sang Raja Madura menjadi lega hatinya, beliau telah terlepas dari rasa malu didepan tamunya. Singkat cerita pertemuan bilateral tadi berlangsung dengan sukses dan sang tamu pulang kembali ke negerinya.
  Sang Raja sangat berterimakasih kepada punggawa yang mengakui kentutnya tadi, karena itu beliau menghadiahkan sawah, atau bahasa Maduranya sabhe kepadanya. Luas sawah yang dihadiahkan sang Raja adalah seluas daerah dimana bau kentutnya masih tercium,...karena itu luasnya dalam bahasa Madura disebut "sakentok". Konon, sabhe sakentok ini menjadi Kabupaten Blega di Madura sekarang ini. Sekabupaten,....bayangkan betapa dahsyatnya bau kentut sang Raja,....

Thursday, March 22, 2012

Dongeng Dari Ibu

  Bel tanda keluar kantor berbunyi tadi sore. Kusempatkan untuk menelepon Ibuku. Banyak yang kuceritakan pada Ibu, demikian pula, banyak yang Ibu ceritakan padaku. Kuceritakan pada Ibuku bahwa setelah menulis postingan di Blogger yang terakhir, seorang sahabat menulis tentang bid'ah dalam agama.
  Entah itu ada hubungannya atau tidak, tapi aku merasa tersindir. Dalam postinganku yang terakhir aku memang menulis bahwa Ibu mengadakan selamatan ketika aku diterima di UGM. Beberapa kelompok dalam Islam memang menganggap bahwa selamatan itu termasuk hal yang tidak diajarkan oleh Nabi,...karena itu termasuk bid'ah.
  Aku tidak ingin membahas masalah bid'ah itu disini. Biarlah orang berpendapat dan berkeyakinan sesuai dengan hati nuraninya. Aku tidak ingin menghakimi.
  Aku hanya terkesan dengan jawaban Ibuku tadi sore. Beliau mengingatkan padaku dengan dongengannya ketika aku masih kecil. Memang beliau pernah mendongeng kepadaku sebuah cerita dari Timur Tengah. Inilah dongeng itu,...
  Pada suatu hari seorang Ayah mengajak anaknya untuk ke pasar menjual keledai mereka yang sudah tua. Keledai itu kurus dan sudah tidak bertenaga lagi, karena itu mereka memutuskan untuk menuntun keledai itu ke pasar. Ditengah jalan mereka bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu berkata, "Bodohnya kalian menuntun keledai,...mestinya keledai itu kalian naiki". Anak beranak itu kemudian berfikir dan membenarkan ucapan lelaki yang mereka temui.
  "Benar kata lelaki itu Nak", kata si Ayah, "Sebaiknya keledai ini dinaiki saja ke pasar".
  Si anak kemudian menaiki keledai itu dan mereka melanjutkan perjalanan ke pasar. Si Ayah menuntun keledai itu di depan. Tak seberapa lama mereka mereka bertemu dengan seorang laki2 lain. Lelaki itu berkomentar,"Hai anak muda,...betapa tidak tahu dirinya kamu,...ayahmu yang sudah tua kau biarkan berjalan kaki sedangkan kau enak2an menunggang keledai!".
  Si Anak merasa bahwa pendapat orang ini benar, maka merekapun bertukar tempat. Kali ini si Ayah yang menunggang keledai sedangkan si anak menuntun keledai itu ke pasar.
  Di tengah jalan mereka bertemu kembali dengan seorang lelaki, lelaki ini berkomentar, "Hai anak,..betapa teganya kamu,...kamu enak2an menunggang keledai sedangkan ayahmu yang tua kau biarkan berpanas2 berjalan kaki!". Si anak menjadi tidak enak hati, dalam hati dia membenarkan ucapan orang lewat itu.
  "Benar kata orang itu yah,..", katanya pada Ayahnya. "Supaya adil marilah kita naiki keledai ini bersama2", katanya pada ayahnya. Demikianlah akhirnya anak beranak tadi mengendarai keledai tua itu bersama2. Si Ayah duduk di depan dan si anak duduk di belakangnya.
  Setelah beberapa saat mereka kemudian bertemu dengan lelaki yang ketiga. Lelaki ini berkomentar yang lain pula. "Betapa teganya kalian berdua,..keledai tua dan lemah begini kalian naiki bersama2....itu makhluk Allah juga,..kalian ini benar2 tidak tahu diri!", begitu katanya.....
  Saat itu Ibu tidak melanjutkan ceritanya, karena ceritanya memang sudah habis sampai disitu. Aku hanya ingat bahwa kami berdua tertawa terbahak2 setelah Ibu menyelesaikan ceritanya.
  Ibuku mengajarkanku pada sebuah hikmah dari obrolan kami tadi sore hanya dengan mengingatkanku pada dongengnya waktu aku kecil. Pada kenyataannya memang seberapapun benarnya kita menurut kita sendiri, kita mungkin tetap saja akan disalahkan oleh orang lain. Itulah hidup. Memang mudah untuk menyalahkan. Tapi kita sendirilah yang tahu tentang latar belakang kita, kondisi kita dan pertimbangan kita untuk memilih suatu tindakan. Selanjutnya bertawakkallah kepada Allah.....
  Wallahu a'lam,.....

Monday, March 19, 2012

Antara God Save The Queen, Indonesia Raya, dan Hymne Gadjah Mada

  Seharian di workshop membuatku sangat lelah hari ini, sekalipun begitu aku ingin menulis sebuah postingan karena sepulang dari kantor tiba-tiba aku mendapatkan sebuah ide untuk menulis. Perlu saya ungkapkan disini bahwa tulisan ini adalah pendapat dan pengalaman pribadi penulisnya. Jadi mohon jangan ditanggapi terlalu serius.
  Ide itu bermula ketika aku tiba-tiba ingat pada Ibuku yang mengajariku lagu "God Save The Queen", National Anthem dari Kerajaan Britania Raya. Agak menarik juga Ibuku itu, kok beliau bisa hafal lagu itu. padahal beliau berdarah Madura dan sama sekali tidak ada Inggris-inggrisnya.
  Waktu itu aku masih kelas enam di SD-SMP PPSP IKIP Malang. Aku malas sekali belajar dan Ibuku menjadi sangat prihatin. Sore itu beliau membujukku untuk belajar dan seperti biasanya aku acuh tak acuh.
  "Nanti ibu ajari lagu Kebangsaan Inggris Raya", bujuk Ibuku.
  "Ibu hafal?", tanyaku tak percaya.
  "Pokoknya setelah itu kamu mesti belajar", sahut Ibuku.
  Antusias dengan tawaran Ibu, aku segera menyetujuinya. Ibu segera mengambil kapur tulis dan mulai menulis di papan tulis yang biasa dipakai oleh Ayah untuk menerangkan materi dan mengerjakan soal Matematika pada murid-murid les privatnya. Ayahku memang seorang guru Matematika dan memberi les privat subjek itu untuk tambahan belanja.
  Seingatku Ibu menulis begini ketika itu,
                                                  God Save The Queen
                            God save our gracious Queen.
                            Long live our noble Queen.
                            God save the Queen.
                            Long her victorious, happy and glorious.
                            Long to reign ever us.
                            God save the Queen.
  Ibu menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Beliau memang berbakat menyanyi. Mudah-mudahan bakat itu menurun padaku karena aku menjadi vokalis lagu Keroncong dan Campursari Grup Keroncong dan Campursari Fakultas Teknik UGM, ketika masih menjadi mahasiswa Jurusan Teknik Mesin disana.
  Dibimbing oleh Ibuku aku mulai belajar menyanyikan lagu "keramat" bangsa Inggris itu. Ibuku memperbaiki tinggi nada dan pengucapan lafal lagu itu dan kami mengulanginya berkali-kali sampai aku sehafal Ibuku. Anehnya, sampai sekarang aku masih hafal dan dapat menyanyikan lagu Kebangsaan dan kebanggaan Inggris Raya itu.
  Anehnya lagi,...aku sekarang tidak hafal dengan lagu Kebangsaan Indonesia sendiri. Aku tidak tahu kenapa begitu, padahal sejak TK sampai SMA bersama teman-teman aku selalu menyanyikan "Indonesia Raya" waktu upacara bendera setiap Senin pagi. Tapi aku tidak ambil pusing dengan itu semua,..yang penting aku masih bisa makan setiap hari. Aku mesti bersyukur kepada Tuhan karena masih dikaruniai pekerjaan. Padahal masalah lapangan pekerjaan ini adalah salah satu masalah yang krusial di Indonesia. Syukurlah dulu waktu wawancara pekerjaan aku tidak disuruh menyanyikan lagu "Indonesia Raya" sebagai syarat diterima bekerja.
  Selepas SMA aku diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Tapi kemudian aku dinyatakan Drop Out dan harus keluar dari sana dua tahun kemudian. Putus harapan dan asa aku mendaftar di sebuah Sekolah Menengah Atas swasta untuk mendapatkan ijazah SMA baru untuk bisa ikut UMPTN kembali. Sepuluh bulan aku mengulang di kelas III SMA itu sampai aku akhirnya dinyatakan lulus.
  Merasa takut dan malu ikut UMPTN di kota Malang, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti UMPTN di kota Yogyakarta tercinta. Aku menginap di rumah adik Ibuku di Yogya dan segera mendaftarkan diri untuk mengikuti UMPTN kembali. Aku ingat itu terjadi di tahun 1993. Tentu saja waktu itu teman-temanku yang masih kuliah di Kedokteran sudah mau koas setahun kemudian.
  Aku mendaftar di UGM dengan pilihan pertama di Teknik Mesin, pilihan kedua di Teknik Kimia dan pilihan ketiga di Jurusan Akuntansi. Tidak dapat kuceritakan perasaanku pada saat itu. Seperti hidup yang tidak hidup. Entah bagaimana para pembaca menafsirkan kalimat terakhirku tadi. Semua terasa kacau dan tidak ada kepastian tentang masa depan.
  Saat itu ide mendaftar di UGM adalah ide yang gila dan nekad, putus asa dan hampir tanpa motivasi. Aku kembali pulang ke Malang selesai mengikuti UMPTN itu dan bekerja sebagai pelayan di sebuah toko sepatu di Pasar Besar Malang.
  Tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu. Pengumuman Calon Mahasiswa Baru hasil seleksi UMPTN. Aku berangkat pagi-pagi ke Pasar Besar seperti biasanya dan tidak berusaha untuk membeli koran hari itu. Pengumuman calon mahasiswa yang masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur UMPTN memang dimuat di koran. Aku duduk terkantuk-kantuk di depan toko sepatu yang kujaga menjelang siang ketika kulihat Ibuku di pasar besar itu. Ibuku tidak biasa ke pasar besar, tentu ada sesuatu yang istimewa jika beliau kesana. Ibuku menenteng seekor ayam dan tersenyum kearahku. Kemudian beliau berlalu tanpa mengatakan apa-apa padaku. Aku terkesiap dan menyadari artinya,...aku diterima di UGM dan Ibuku mau selamatan!.
  Aku berangkat kembali ke Yogyakarta untuk kuliah kembali di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. Kuikuti seluruh acara OPSPEK dengan sepenuh hati. Dengan latar belakangku seperti itu tentu aku sangat bersyukur diterima di UGM. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat dan hafal lagu "Hymne Gadjah Mada" yang kuanggap aebagai "Lagu Kebangsaanku"
  Begini bunyinya,
                                            Hymne Gadjah Mada
                              Bakti kami Mahasiswa Gadjah Mada semua.
                              Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku.
                              Didalam Pancasilamu jiwa seluruh bangsaku
                              Kujunjung kebudayaanmu, Kejayaan Indonesia.
  Terimakasih UGM,....sampai sekarang aku masih tetap merasa sebagai mahasiswamu. Kukenang setiap perjuanganku untuk lulus darimu. Aku cinta kamu,.......

Sunday, March 18, 2012

Kerinduan Terhadap Ibu

  Begitu banyak kenang-kenanganku tentang Ibuku. Yang sederhana, lembut dan ta'at beribadah. Saat ini aku berada di Balikpapan untuk bekerja pada sebuah perusahaan machining dan fabrikasi, dan kerinduan pada Ibuku begitu kuat meruyak sampai ke dasar hati.
  Ibuku putri seorang bangsawan Madura,..tapi kesederhanaannya sungguh menggugah hati. Beliau tabah menjalani hari-harinya yang sulit,..dan tidak merasakannya sebagai suatu penderitaan.
  Pernah dalam suatu percakapan telpon dengan Ibu, aku berkata padanya,.."Biar besok-besok aku mati lebih dulu dari Ibu saja ya Bu,....aku tidak sanggup hidup tanpa Ibu". Ibuku menjawab,"Kamu ini ngomong apa Nak,..?".
  Dulu, waktu aku masih bekerja di Jakarta ikut sebuah perusahaan Aussie, aku pernah meminta Ibuku untuk mempaketkan saja buku-buku bacaanku di kamar. Jumlahnya mungkin ratusan,..dari buku tentang hal-hal yang remeh temeh sampai buku-buku serius yang sulit dibaca. Aku meminta hal itu pada Ibu karena ada perpustakaan partikelir di daerah Ciputat yang mau menyewakan buku-bukuku sebagai tambahan koleksi. Kupikir itu lumayan buat tambahan uang sakuku.
  Ibuku menolak dengan keras permintaanku. Alasannya beliau sudah tua,..tidak kuat ngangkat-ngangkat paket ke Kantor Pos. Aku bersikeras pada Ibu supaya memenuhi keinginanku,"Kan bisa minta tolong pada adik?". Begitu alasanku pada Ibu.
  Ibuku tetap menolak,... Pokoknya TIDAK dan tetap TIDAK,..kata Ibuku. Akhirnya aku mengalah, aku tidak mau bersitegang dengan Ibuku. Lamaaa,..kemudian aku baru tahu alasan Ibuku yang sebenarnya. Ketika beliau sudah lelah memasak dan membersihkan rumah, beliau biasa berbaring di dipanku sambil membaca buku-bukuku sampai jatuh tertidur. Hal itu katanya dilakukan untuk mengobati kerinduannya padaku. Anak lelakinya yang pergi jauh untuk bekerja dirantau orang.
  Setelah tahu alasan yang sebenarnya dari Ibuku, aku jadi terharu. Aku bersyukur tidak ngeyel padanya untuk memenuhi keinginanku.
  Pernah ada pengalaman menarik bersama Ibuku,...aku bilang pada Ibuku sudah saatnya aku memiliki seorang istri,..TAPI tabunganku belum cukup,...begitu kataku pada Ibuku. Kemudian Ibuku bilang padaku,"Jangan sekali-kali bilang TAPI Nak,...karena ucapan TAPI itu membatalkan doa".
  "Kok Ibu yakin sekali?", tanyaku,"Apa alasan Ibu bilang seperti itu?", lanjutku.
  "Ibu baca dari bukumu 'Law of Attraction' dan 'The Secret' Nak", kata Ibuku." Bukankah buku itu berasal dari Shahifah Ibrahim yang ditemukan di Laut Tengah oleh orang2 Barat dan kemudian mereka mempelajari dan mengamalkannya?.
  Astagfirullah,....aku pemilik buku itu,..tapi Ibuku yang mendapatkan hikmah darinya,... Subhanallah,...

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...