Sunday, January 1, 2012

Merumuskan Visi dan Misi dalam Hidup

   Barusan aku membaca postingan Rona Mentari dalam blognya. Bagus sekali,...mengingatkan bahwa visi dan misi hidup itu sebaiknya dikembalikan kepada Allah, sebagaimana termaktub dalam Suratul Fatihah.
   Menata kembali sebuah visi hidup tentu memerlukan upaya yang sungguh2. Aku ingin membuat sebuah visi hidup yang praktikal dan sedapat mungkin tidak terlalu normatif. Ini tentu tidak dapat dilakukan sekejap mata. Perlu kejujuran dalam memaknai usia yang telah dihabiskan dan keberanian untuk memaafkan diri sendiri. Juga kesediaan untuk mengapresiasi prestasi yang dihasilkan oleh orang lain.
  Konon, Gary Craig, sang mahaguru Emotional Freedom Technique seringkali melakukan cramming ketika mengobati pasien2nya. Beliau mengoceh apa saja pada pasiennya dan secara acak menotok atau istilah Inggrisnya "tapping" titik2 akupuntur pada tubuh pasiennya.
  Kadangkala, dalam sebuah rapat divisi untuk memecahkan suatu masalah, anggota rapat melakukan "brainstorming" untuk memunculkan ide2 baru. Setiap orang diminta melakukan curah pendapat,..betapapun tidak logisnya pendapat itu. Dari ide2 yang bertebaran itu akhirnya sang pemimpin rapat bisa memutuskan untuk mengambil kebijakan yang paling sesuai dengan kondisi divisi yang bersangkutan.
  Kelihatannya cara itu juga bagus buatku untuk mencoba memformulakan sebuah visi dan misi dalam hidupku... Tapi tentunya tidak dapat dilakukan sekaligus. Aku akan mencoba membuat beberapa tahapan dalam melakukannya. Sampai berapa tahapan? Itulah yang akan selalu jadi pertanyaan. Yang jelas,..dalam beberapa hari kedepan aku akan berusaha untuk merenung dan menulis aspek2 dalam hidupku.
  Salah satu aspek yang akan kurenungkan adalah masalah faham keagamaanku... Aku berangkat dari ormas Al Irsyad Al Islamiyah ketika SMA, tertarik dengan Muhammadiyyah ketika kuliah sampai beberapa tahun setelah lulus, dan sekarang menjadi santri dari seorang Kyai kampung yang jelas2 berafiliasi ke Nahdhatul 'Ulama. Belum banyak yang kupelajari dari Pak Kyai,..tapi aku bertekad untuk terus mengaji atau Pak Kyai itu menyuruhku untuk berhenti.

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...