Saturday, August 4, 2012

Tuesday, September 15th 1998.

Kemarin malam rasanya tenagaku habis. Tapi rasanya sekarang sudah kembali lagi. Alhamdulillah.

Kemarin malam aku nyobain Yamie Ayam. Enak juga. Bumbunya lebih sederhana dibandingkan dengan punyanya Pak Wie. Rupanya kalau punyanya Pak Wie dikasih ebi segala.

Aku mau ke kampus, lihat apakah weselku sudah datang apa belum. Kurasa kinerjaku semester ini semakin bagus. Padahal semester kemarin aku juga merasa begitu. Kesimpulanku, kinerjaku memang mengalami progress dari waktu ke waktu. Syukurlah.....

Programku untuk selalu memakai sandangan yang resik dan rapi juga berjalan dengan baik. Sekarang aku sedang memikirkan kata-katanya dr. Yuni tempo dahulu. Aku cenderung untuk enda kalau orang berusaha untuk mendekatiku. Aku akan coba melihat nanti, bagaimana yang sebaiknya. Aku belum punya gagasan, bagaimana yang sebaiknya. Tapi aku mencoba untuk "in" dengan masalah itu.

Mbak Firda tampaknya sudah bulat tekadnya untuk pergi ke Jakarta. Pak Chairil tampaknya dingin-dingin saja. Mungkin sebenarnya beliau agak keberatan.

Sekarang aku harus yakin bahwa aku memang bisa mengatasi tantangan-tantangan yang muncul dari kuliah-kuliahku. Aku percaya bahwa semua ini bisa diatasi. Kudengar Emperor Waltz nya Strauss di tape-ku. Ya.....berjalanlah seperti seorang pemenang. Berfikir seperti pemenang dan bertindak seperti pemenang. Pemenang dalam hidup dan kehidupan.

Friday, August 3, 2012

Fermy's Diary Opening

Diary Book
September 1998

Hidup adalah Mencintai,
Hidup adalah Memahami,
Hidup adalah Memberi,
dengan kasih sayang
tanpa terlena.

Fermy Nurhidayat
Teknik Mesin FT-UGM
Grafika St, Yogyakarta.

Tuesday, July 17, 2012

Memaknai "Ketidaksadaran Kolektif" Jungian dalam Perspektif Lokal


  • Carl Gustav Jung (1875-1961) pada sekitar usia menjelang empatpuluh tahun mengalami "krisis usia pertengahan", dia memutuskan ikatan emosional dan profesional yang erat dengan Sigmund Freud dan memutuskan untuk memulai "pengembaraan" pada dunia mitos2, mimpi2, penglihatan2 dan fantasi2nya sendiri.

    Dalam eksplorasi dan apresiasinya terhadap dunia2 itu akhirnya Jung merumuskan bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem yang terpisah tetapi mereka saling berinteraksi satu sama lain. Sistem2 itu adalah "aku" (ego),"ketidaksadaran pribadi" dan "ketidaksadaran kolektif".

    Menurut Jung, "ketidaksadaran kolektif" itu mengatur keseluruhan tingkah laku sekarang dan dengan demikian merupakan kekuatan yang paling berpengaruh terhadap kepribadian.
    "Ketidaksadaran kolektif" itu berasal dari peristiwa2 yang dialami oleh leluhur kita di masa lalu. Bahkan dalam pandangan Jung sebenarnya juga berakar sampai ancestors kita dalam bentuk pra-manusia. Wujud dari "ketidaksadaran kolektif" itu misalnya termanifestasi dari sikap beberapa keluarga di Jawa Timur yang akan sangat berkeberatan apabila ada anggota keluarganya yang memilih menikahi seorang perempuan Sunda. Ada banyak alasan yang biasanya dinyatakan untuk "keberatan" itu. Yang paling sering terdengar adalah bahwa perempuan Sunda biasanya "boros","suka selingkuh" dan "tidak bisa diajak hidup prihatin".

    Apabila kita memberikan suatu sanggahan pada keluarga-keluarga itu tentang "keberatan2" mereka, dapat dipastikan akan muncul alasan2 lain yang intinya tetap menolak kehadiran Suku Sunda dalam keluarga besar mereka ini. Apakah ada suatu "ketidaksadaran kolektif" yang dimiliki oleh beberapa keluarga di Jawa Timur itu yang mengingatkan mereka pada suatu "peristiwa traumatis" di masa lalu yang secara "tidak sadar" ingin mereka cegah?

    Marilah kita kembali ke dunia "mitos" atau mungkin bisa juga disebut "setengah mitos" yang menjadi bagian dari "ketidaksadaran kolektif" beberapa keluarga di Jawa Timur itu. Minimnya catatan sejarah serta banyaknya versi yang beredar di masyarakat memang menyulitkan bagi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu. Saya akan ungkapkan sebuah versi. Saya berharap agar kita dapat mengangkat "ketidaksadaran kolektif" ini menjadi "kesadaran kolektif" sehingga daerah "blind" dalam kepribadian kita menurut perspektif Johari Window menyempit, dan kita memahami diri kita sendiri secara lebih baik.

    Ketika Prabu Brawijaya II bertahta di Kerajaan Majapahit, seungguhnya yang berkuasa disana pada waktu itu, secara de facto adalah Mahapatih Gadjah Mada. Konon, kekuasaan Majapahit meluas sampai ke Asia Tenggara. Anehnya, Kerajaan Padjajaran di Jawa Barat yang "kecil" tidak dapat ditaklukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Menurut sumber yang lain, Kadipaten Kediri juga tidak dapat ditundukkan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Pada saat itu kebetulan Hayam Wuruk, nama kecil Prabu Brawijaya II belum beristri. Ambisi politik Hayam Wuruk adalah menyatukan Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Padjajaran. Karena itu beliau bermaksud untuk memperistri Dyah Pitaloka, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran. Singkatnya Prabu Siliwangi dan Dyah Pitaloka setuju dengan keinginan Hayam Wuruk tersebut dan Dyah Pitaloka diantarkan ke Trowulan oleh para pengawal dan tentara Siliwangi yang terpilih.

    Di tengah perjalanan, pasukan Siliwangi yang membawa Dyah Pitaloka dihadang oleh pasukan Mahapatih Gadjah Mada. Kepada pimpinan prajurit Siliwangi, Mahapatih Gadjah Mada menyatakan bahwa status Dyah Pitaloka dalah "putri boyongan". Artinya Kerajaan Padjajaran takluk kepada Kerajaan Majapahit dan Dyah Pitaloka diserahkan sebagai tanda takluk atau "upeti".
    Tentu pimpinan pengawal Dyah Pitaloka sangat marah dengan "sambutan" Majapahit ini. Mereka sadar bahwa Hayam Wuruk mengirim utusan kepada Prabu Siliwangi sebagai dua negara yang bersahabat, dan tidak bermaksud untuk menjadikan Padjajaran sebagai negara taklukan sebagaimana kerajaan2 yang lain. Tak terhindarkan lagi perang pun pecah dalam kondisi yang tidak berimbang. Pasukan Siliwangi yang kecil jumlahnya karena tidak dimaksudkan untuk tujuan berperang berhadapan secara frontal dengan pasukan Gadjah Mada yang telah terbukti mampu membentuk imperium di Asia Tenggara.

    Dapat dipastikan kemudian siapa yang menang dalam pertempuran ini. Seluruh prajurit Siliwangi gugur di medan laga membela harga diri bangsanya. Semuanya tanpa kecuali. Perang ini dikenal sebagai Perang Bubat. Dyah Pitaloka dibawa dengan tandu menuju Trowulan oleh Mahapatih Gadjah Mada. Di dalam tandu, Dyah Pitalokan menagisi prajuritnya yang gugur membelanya serta harga diri "bangsa"nya yang terkoyak. Akhirnya beliau memutuskan untuk bunuh diri menggunakan "patrem" atau keris kecil yang biasa dibawa oleh putri2 bangsawan.

    Hayam Wuruk sangat malu dengan kejadian ini, tetapi seperti yang telah saya ungkapkan diatas, secara de facto penguasa Majapahit pada saat itu adalah Gadjah Mada, dia tidak berani memprotes tindakan Gadjah Mada secara langsung. Datang pada Prabu Siliwangi di Pajajaran sama saja dengan menyerahkan leher untuk dipenggal. Perwujudan dari rasa malu dan penyesalan Hayam Wuruk ini kemudian dinyatakan dengan melarang anak cucunya untuk menikahi perempuan Sunda. Memang bisa dibayangkan rasa malu yang dialami oleh Prabu Brawijaya ini. Hal itu memang merupakan peristiwa yang memalukan dan menyedihkan. Itukah sebenarnya "ketidaksadaran kolektif" beberapa keluarga di Jawa Timur ini? Secara tak sadar mereka ingin mencegah "peristiwa tragis" itu terulang kembali.

Monday, July 2, 2012

Laporan Pandangan Mata Kopdar I Grup Kagama Malang

Seperti yang telah disepakati bersama, pertemuan dilaksanakan di Warung Rudjak Pojok. Peserta pertama yang datang adalah saya, kemudian disusul berikutnya oleh mBak Diantini Viatrie. Kami bercakap-cakap untuk menunggu peserta yang lain sambil duduk lesehan di sebuah pojok.

Dalam percakapan kami akhirnya terungkap bahwa kami berdua berasal dari TK-SD dan SMP yang sama. Kami berdua adalah produk eksperimen pendidikan yang dilakukan oleh almarhumah Prof. Dr. Sapartinah Pakasi, seorang pakar pendidikan dari IKIP Malang. Sekarang IKIP Malang menjadi UM. Adalah sangat mengharukan apabila melihat kenyataan bahwa seorang profesor pendidikan mau mengurusi pendidikan kami sejak usia TK sampai SMP bukan hanya dalam tataran teoritis tetapi sekaligus juga praktis. Hanya saja karena kami berbeda generasi, maka kami tidak mengenal satu sama lain. Kagama Virtual adalah media yang mempertemukan kami. Mbak Diantini menggambarkan dengan persis motif dan warna baju seragam TK yang digunakan oleh generasiku, sesuatu hal yang telah lama kulupakan.


Pembicaraan kemudian berkembang menjadi lebih serius karena kami mendiskusikan beberapa hal dalam Psikologi Pertumbuhan. Psikologi adalah disiplin ilmu yang dipelajari mBak Diantini Viatrie di UGM. Diskusi kami terhenti ketika seorang perempuan mengucap salam dan mendekati kami. Ternyata dia mBak Lilis Puspitosari. Dia datang bersama suami dan empat anaknya. Pembicaraan kemudian berkembang menjadi lebih global dan kami mulai mengeluarkan joke-joke segar bergantian. Hampir sepanjang pertemuan di sore itu kami tertawa geli bersama-sama. Beberapa saat kemudian datanglah mBak Endah Siswati bersama putrinya. Suasana menjadi lebih riuh. Untunglah bahwa tidak banyak pengunjung warung di sore itu sehingga kami tidak perlu menjadi pusat perhatian. Akhirnya kami memesan makanan. Mbak Endah dan aku memilih Rujak Cingur, makanan khas Jawa Timur, mBak Lilis memesan Gado-Gado serta mBak Diantini memesan Rujak Manis. Sementara menunggu pesanan datang kami tetap bergurau memeriahkan suasana. Mbak Endah menyarankan kami untuk kapan-kapan mencoba Nasi Uduk Bedjo yang terkenal enak di dekat rumahnya. Kami sepakat dengan usulan tersebut dan merencanakan untuk bertandang bersama-sama ke rumah mBak Endah di sekitar kompleks ITN. Waktunya akan dibicarakan kemudian lewat jalur pribadi.

Hidangan datang dan segera tandas. Kami sepakat untuk menjadwalkan kembali pertemuan untuk Kopdar Kagama Virtual Malang II setelah lebaran. Tanggalnya belum bisa ditentukan karena tidak ada seorangpun diantara kami yang membawa kalender. Kami berpisah karena hari telah sore dan bersepakat untuk bertemu kembali.

Belajar Komputer di Era Informasi

Dalam kehidupan sehari-hari, praktis kita sekarang ini hampir selalu menggunakan komputer. Misalnya untuk mengerjakan tugas kuliah dan bekerja. Bahkan siswa sekolah menengah dan dasar sekalipun, sekarang ini banyak diminta oleh gurunya untuk mengerjakan beberapa tugas dengan menggunakan komputer. Bukan hanya untuk keperluan menulis saja, bahkan tugas-tugas  itu sudah melibatkan penggunaan internet. Karena itu belajar komputer di era informasi ini menjadi mutlak perlu. Komputer adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
    Bukan itu saja, dalam administrasi perkantoran sehari-hari, komputer sangat membantu dalam banyak bidang. Dengan bantuan komputer, seorang sekretaris selalu dapat membuat surat yang rapi dengan cepat dan tanpa sedikitpun membuat kesalahan ejaan, karena komputer mampu memeriksa kesalahan ejaan secara otomatis. Untuk itu seorang sekretaris sekarang ini perlu terlebih dahulu belajar komputer untuk menunjang pekerjaannya.
    Contoh lain lagi ialah di kantor Perusahaan Listrik Negara yang sempat dikomandani oleh Dahlan Iskan, seorang manager handal pemilik Jawa Pos Group. Di Badan Usaha Milik Negara itu, setiap bulan mereka harus menyiapkan rekening listrik dari pelanggan yang jumlahnya jutaan, tapi mereka tidak kesulitan dengan itu semua karena jasa komputer. Dengan belajar komputer kita akan mengetahui bahwa komputer dapat bekerja cepat dan bersedia bekerja penuh dua puluh empat jam setiap harinya.
    Demikian pula dalam dunia ekonomi perbankan, penggunaan jasa komputer sudah tidak terelakkan lagi. Kegiatan lalu lintas uang didalam dunia perbankan yang begitu ramai, dengan volume uang yang mencapai orde jutaan, milyaran bahkan trilyunan rupiah atau mata uang yang lain, sekarang ini dapat ditangani dengan cepat dan teliti. Bahkan bank-bank besar di Indonesia dan negara-negara lain sekarang ini sudah mampu memberikan jasa pencairan uang secara otomatis kepada para pelanggannya selama dua puluh empat jam sehari. Hal itu dapat dilakukan karena jasa komputer dan jaringannya yang tersambung pada mesin Anjungan Tunai Mandiri atau lebih kita kenal dalam percakapan sehari-hari sebagai mesin ATM.
    Demikian pula dalam dunia Travel Agent, pemesanan tempat di pesawat terbang untuk beberapa tempat tujuan dapat dipesan di kota tempat pemberangkatan sekaligus dengan aman. Bahkan bila pelanggan atau maskapai penerbangan melakukan perubahan rencana penerbangan secara mendadak sekalipun, Travel Agent dapat melayaninya dengan tenang karena jasa teknologi informasi komunikasi yang digunakan dalam sistim komputer. Sistim teknologi komunikasi dapat terbangun karena adanya komputer yang tersebar di berbagai belahan dunia dan terhubung serta saling berkomunikasi satu dengan lainnya. Demikianlah canggihnya teknologi komputer di era informasi ini.
    Apabila kita perhatikan dengan teliti, sesungguhnya kehadiran teknologi komputer telah melahirkan suatu jaman atau era baru yang disebut sebagai era informasi. Hal ini ditandai dengan pertukaran informasi yang sangat masif dan cepat menggunakan teknologi komputer.
    Penemuan mesin-mesin industri dalam bentuknya yang paling primitif di dunia barat telah melahirkan suatu jaman baru. Jaman atau era itu disebut sebagai era industri. Penemuan mesin cetak yang pertama oleh Johann Guttenberg di Jerman benar-benar merubah budaya manusia hampir secara total. Hal itu terjadi akibat revolusi industri yang terjadi di Inggris sekitar abad tujuh belas atau delapan belas Masehi. Jaman industri adalah era dimana tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin yang berkemampuan kerja belipat kali dari tenaga manusia. Pada abad-abad itu di Indonesia telah dikenal ilmu kanuragan, klenik dan santet. Tidak jelas penemuan ilmu klenik dan santet di Indonesia itu melahirkan era apa di dunia kita ini.
    Apabila kita belajar komputer, tentu timbul dalam pikiran kita, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan komputer itu. Secara etimologis sesungguhnya istilah komputer itu berasal dari bahasa Latin “computare” yang mengandung arti “menghitung” (to compute). Sekarang ini istilah komputer mengandung arti sebagai suatu perangkat elektronik yang dapat menerima masukan (input), dan selanjutnya melakukan pengolahan (processing), untuk menghasilkan keluaran (output) berupa informasi. Demikianlah maka perangkat utama untuk melakukan tindakan tersebut juga terdiri dari perangkat input (input devices), perangkat proses (process devices), serta perangkat keluaran (output devices), yang ditambah dengan perangkat penyimpanan data atau informasi (storage devices).
    Di perguruan tinggi, apabila kita belajar komputer, maka kita biasanya akan berhadapan dengan dua pilihan. Pilihan itu biasanya berupa apakah kita akan belajar komputer di Program Studi atau Jurusan Ilmu Komputer di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ataukah kita akan belajar komputer di Jurusan atau Program Studi Teknik Informatika yang biasanya tergabung dalam Fakultas Teknik.
    Biasanya secara awam orang menyebutkan bahwa Ilmu Komputer atau Computer Science di Fakultas MIPA mempelajari terutama tentang software atau perangkat lunak komputer sedangkan Teknik atau Teknologi Informatika lebih khusus mempelajari tentang hardware atau perangkat keras komputer. Yang dimaksud dengan software adalah suatu perangkat komputer yang berisi serangkaian instruksi, program, prosedur, pendukung, dan aktifitas-aktifitas pengolahan perintah pada sistim komputer. Sedangkan yang dimaksud dengan hardware atau perangkat keras komputer adalah alat atau komponen komputer yang berwujud secara fisik dan dapat dilihat atau dipegang menggunakan indera kita sebagai manusia. Tanpa software, hardware hanyalah berupa rongsokan elektronik. Hardware komputer akan “hidup” dan memiliki fungsi jika digunakan bersama-sama dengan softwarenya.
    Beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin pembagian pengertian antara Ilmu Komputer dan Teknik Informatika itu sudah cukup memadai, tetapi dengan berkembangnya kedua disiplin ilmu dan teknologi itu maka pengertian antara Ilmu Komputer dan Teknik Informatika juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini perlu kita sadari ketika kita belajar komputer di era informasi ini.
    Saat ini Teknik Informatika dapat dipandang sebagai teknologi yang memanfaatkan komputer sebagai perangkat utama untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat. Pengolahan data dengan komputer tersebut juga dikenal sebagai Pengolahan Data Elektronik, yakni proses manipulasi data menjadi bentuk yang lebih berguna. Bentuk yang lebih berguna dengan proses pengolahan data itulah yang disebut sebagai informasi. Data merupakan bahan mentah atau “raw material” yang belum diolah dan akan diproses selanjutnya menggunakan komputer. Lebih jelasnya, informasi adalah data yang terolah dan sifatnya menjadi data lain yang lebih bermanfaat.
    Giliran sekarang kita coba untuk lebih memahami dengan apa yang dimaksud sebagai Ilmu Komputer. Menurut Computing Sciences Accreditation Board, Ilmu Komputer atau Computer Science adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan komputer dan komputasi. Didalamnya terdapat teorisasi, eksperimen, dan pendesainan komponen. Termasuk dalam Ilmu Komputer itu adalah hal-hal yang berhubungan dengan, pertama, teori-teori untuk memahami perangkat komputer, program dan sistim. Yang kedua, eksperimen untuk pengembangan dan pengujian konsep. Ketiga adalah metodologi desain, algoritma, serta tools untuk merealisasikannya. Sedangkan yang terakhir, keempat,  adalah metode analisis untuk melakukan pembuktian bahwa realisasinya sudah sesuai dengan persyaratan yang diminta. Demikianlah cakupan dan pengertian dari Ilmu Komputer. Adalah nampak jelas bahwa cakupan dan pengertian Ilmu Komputer sangatlah luas. Didalamnya terkandung “basic science” berupa Matematika dan “applied science”, yakni penggunaan terutama Ilmu Matematika dan Fisika yang diterapkan dalam ranah kehidupan nyata.
    Membahas mengenai belajar komputer ini rasanya tidaklah lengkap apabila kita tidak membahas mengenai internet. Aplikasi internet sudah semakin mendunia. Semakin banyak orang yang “melek internet” sekarang ini. Dalam tulisan pendahuluan diatas juga sudah menyinggung aplikasi internet secara praktis dewasa ini. Kita sudah sedemikian terbiasa dengan internet, sehingga kadang-kadang kita lupa mengenai sebuah pertanyaan yang mungkin sangat mendasar, yaitu apakah sebenarnya internet itu?
    Internet merupakan kumpulan jaringan komputer atau Local Area Network menjadi jaringan komputer global atau World Area Network. Jaringan-jaringan tersebut saling berhubungan dan saling berkomunikasi satu sama lain, sehingga setiap pengguna atau user dapat mengakses layanan-layanan yang disediakan oleh setiap jaringan. Arsitektur jaringan komputer yang berbeda akan dapat saling mengenali satu sama lain dan dapat berkomunikasi menggunakan protokol. Untuk memahami protokol ini, kita perlu belajar komputer lebih cermat. Dan rasanya tidak pada tempatnya apabila kita bahas disini.
    Pengguna internet, atau internet user, dapat memanfaatkan berbagai macam fasilitas informasi dengan biaya murah. Dan hal itu dapat dilakukan tanpa harus datang sendiri ke tempat penyedia layanan secara fisik. Informasi yang dapat diakses dapat berupa data teks, gambar, animasi, video, suara, atau kombinasi dari beberapa macam data tersebut. Manfaat internet sudah kita rasakan saat ini. Sewaktu ketika, mungkin orang tidak perlu lagi membeli Koran dalam bentuk kertas untuk memperoleh berita-berita hangat dari dalam dan luar negeri.
    Memang, pada era informasi ini, belajar komputer, minimal sebagai user untuk beberapa aplikasi praktis, mutlak diperlukan.


Malang, Mei 2012.

Logotheraphy Sebagai Teori Kepribadian dan Filsafat Manusia

  Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saya mulai tertarik dengan Ilmu Psikologi. Terlintas dalam benak saya dahulu, ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Teknik, untuk mengikuti sebagian kuliah di Fakultas Psikologi. Saya membuka kurikulum di Program Studi Ilmu Psikologi dan ternyata di tahun pertama mereka mendapatkan mata kuliah Filsafat Umum. Mahasiswa Fakultas Psikologi ternyata perlu memperoleh sedikit gambaran mengenai sebagian teori filsafat terutama filsafat manusia.
    Filsafat sebagai sebuah teori, atau teori filsafat, memang berbagai macam bentuk klasifikasinya. Yang sedang nge-trend sekarang ini di dunia Barat adalah Filsafat Timur. Orang Barat merasa jenuh dan tidak puas dengan kehidupan yang serba materialistis, mereka merasa haus dengan kehidupan spiritualistik, kehidupan yang sarat dengan makna, karena itu mereka berbondong-bondong melakukan hijrah pemikiran ke dunia Timur.
    Yang paling sering menjadi rujukan tentu adalah Budhisme, baik di Nepal maupun India. India adalah tempat dari mana akar Budhisme berasal. Tokoh kontemporer yang tertarik dan melakukan studi secara mendalam tentang Budhisme di Nepal adalah Danah Zohar, seorang fisikawan dan filosof lulusan Massachussets Institute of Technology yang sekarang bermukim di Oxford, Inggris.  
    Selain itu mereka juga banyak yang tertarik dengan Taoisme di Tiongkok. Sekedar menyebutkan salah satu diantaranya adalah Fritjof Capra, yang menulis buku yang berjudul The The Tao of Phisics. Jarang atau bahkan mungkin  tidak pernah saya dengar mereka tertarik dengan Kejawen atau Klenik yang ada di nusantara kita ini. Saya tidak tahu mengapa begitu.
    Pusat ketertarikan saya sebenarnya adalah pada Logotheraphy, sebuah ilmu yang relatif baru, karena ilmu itu mulai dikenal paska Perang Dunia Kedua. Ilmu ini kemudian berkembang menjadi sebuah aliran dalam Ilmu Psikologi, terutama Psikologi Pertumbuhan, dan juga menjadi sebuah teori filsafat. Tentu teori filsafat yang dimaksudkan disini bukanlah sebuah teori filsafat sosial seperti Marxisme, tetapi lebih merupakan sebuah teori filsafat manusia atau filsafat humanistika.
    Apabila teori filsafat sosial seperti Marxisme berbicara tentang kelas sosial, pertentangan kelas sosial, ekonomi pada level werhanschauung, dan bagaimana merebut kekuasaan dari kaum borjuasi, maka teori filsafat manusia, atau humanistika lebih cenderung membicarakan tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri secara umum. Filsafat manusia jelasnya merupakan bagian atau cabang dari teori filsafat yang mengupas apa artinya menjadi manusia yang seutuhnya. Ia mencoba mengungkapkan sebaik mungkin, apakah sebenarnya menjadi makhluk yang bernama manusia itu.
    Termasuk dalam cakupan filsafat manusia sebagai sebuah teori filsafat adalah upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar eksistensialisme manusia. Seperti pertanyaan tentang apakah hakekat hidup itu sebenarnya? Apakah kepentingan dari berkegiatan bagi manusia itu? Apakah manusia memiliki kebebasan dalam hidupnya? Apakah artinya mencintai itu? Itulah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab oleh filsafat manusia sebagai teori filsafat.
    Filsafat manusia telah acap kali sepanjang sejarah perkembangan kebudayaan dinamakan sebagai “psikologi filosofis” atau “psikologi rasional”. Seringkali kedua terminologi diatas dibenturkan sebagai lawan dari “psikologi ilmiah”, “psikologi eksperimental” atau “psikologi empiris”. Disinilah keunikan Logotheraphy, dia bukan saja telah diterima sebagai sebuah “psikologi filosofis” semata-mata, namun juga telah teruji secara eksperimental oleh penemunya sendiri. Fictor E. Frankl, penggagas pertama Logotheraphy, yang telah menguji teori-teorinya sendiri selama tiga tahun didalam empat kamp konsentrasi Nazi yang berbeda. Bukunya yang pertama, Man’s Search of Meaning, mendapat kata pengantar dan pujian yang tinggi dari Gordon W. Allport, seorang profesor psikologi dari Harvard University. Sebagai informasi tambahan, Gordon W. Allport masih sering menjadi rujukan para ahli psikologi di masa kini, terutama tentang psikologi pertumbuhan.
    Pada usia tigapuluh tujuh tahun, Victor E. Frankl memulai pengembaraannya selama tiga tahun kedalam dunia pengalaman yang mengerikan karena kekejaman, kelaparan, penganiayaan dan kemelaratan manusia yang benar-benar telanjang. Dalam kondisi semacam itu seolah-olah kematian adalah satu-satunya jalan keluar.
    Perjalanan ke neraka itu dimulai didalam sebuah kereta api yang bertolak dari kota lelahirannya, Vienna, Austria, kearah timur laut. Tidak seorang pun diantara seribulimaratus penumpang yang mengetahui ke mana mereka akan pergi. Ada delapanpuluh orang dalam gerbong yang ditumpangi Frankl. Gerbong itu penuh sesak sehingga mereka harus tidur di atas bagasi dan barang-barang pribadi milik mereka sendiri yang mereka bawa serta.
    Selama beberapa hari kereta api itu meluncur melintasi kota-kota dan daerah pedusunan yang terlindung dari serangan musuh. Saat itu memang Perang Dunia Kedua sedang berkecamuk dengan hebatnya. Akhirnya, pagi-pagi benar kereta api itu bergerak lambat dan melangsir pada sebuah rangkaian rel. Para penumpang melihat dengan cemas melalui jendela-jendela. Mereka ingin sekali mengetahui dimana mereka sekarang berada. Kemudian nama setasiun itu kelihatan. Beberapa orang berteriak, tapi kebanyakan mereka tertegun diam. Pada papan nama jelas terbaca “Auschwitz”. Itulah saatnya Victor E. Frankl mulai mengembangkan dan menguji dalam laboratorium kehidupannya sendiri sebuah teori psikologi dan teori filsafat yang kemudian dinamakannya sendiri dengan “Logotheraphy”.
    Dalam kata pengantar dari buku Frankl, Man’s Search for Meaning, Gordon W. Allport menulis “Bagaimana ia dapat–semua miliknya hilang, semua nilai-nilainya dibinasakan, menderita kelaparan, kedinginan dan kekejaman, menantikan pembasmian setiap jam–bagaimana dia dapat menemukan kehidupan tetap bernilai? Seorang psikiater yang secara pribadi telah menghadapi tekanan ekstrim serupa itu adalah seorang psikiater yang pantas didengar.
    Saya belum bisa mengemukakan, sejak kapan Logotheraphy sebagai teori filsafat dan sebagat teori kepribadian mulai dikenal di Indonesia, tetapi menurut catatan Hanna Djumhana Bastaman, Logotheraphy mulai dikenal sekitar tahun 1975 di lingkungan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Subjek ini mulai dipelajari melalui kegiatan kajian-kajian pribadi dan diskusi di kalangan terbatas, tulisan-tulisan untuk keperluan perkuliahan, serta publikasi-publikasi di beberapa media massa.
    Masih menurut Hanna Djumhana Bastaman, seminar tentang “Logotheraphy dan Makna Hidup” telah diselenggarakan oleh Kelompok Studi Psikologi-Psikiatri (1983), Yayasan Pengembangan Kreativitas (1986), dan Panitia Dies Natalis Universitas Indonesia XXXIX (1988). Sedangkan pembahasan mengenai kaitan antara Islam dan Logotheraphy untuk pertamakalinya dilakukan dalam forum KKA Yayasan Wakaf Paramadina (1988). Demikian juga peranan Logotheraphy dalam mengembangkan hidup bermakna dalam kehidupan modern disajikan oleh forum yang sama sebagai acara penutup tahun 1994.
    Bagaimanakah nasib Logotheraphy sebagai teori filsafat, atau filosofi kehidupan, dan sebagai teori kepribadian sekarang ini di Indonesia? Sulit bagi saya (penulis) untuk menjawab dengan pasti, karena sudah tidak lagi hidup di lingkungan perguruan tinggi. Secara pribadi, saya ingin agar Logotheraphy ini tetap dikembangkan di Indonesia.
    Tentu sekarang para pembaca ingin mengetahui, apakah sebenarnya inti ajaran serta tujuan dari Logotheraphy sebagai sebuah teori filsafat, atau mungkin lebih tepat disebut filosofi kehidupan dan teori kepribadian serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari?. Logotheraphy mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai suatu kesatuan, atau gestalt, dari bio-psiko-spiritual yang tidak terpisahkan. Kita tidak dapat memahami manusia dan kemanusiaannya apabila kita mengabaikan dimensi rohani, atau spiritual, Karena dimensi itu merupakan salah satu sumber kekuatan dan kesehatan manusia. Selain itu Logotheraphy juga memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani, seperti the will of meaning, atau kehendak untuk hidup bermakna, hati nurani, kreativitas dan sense of humor, serta memanfaatkan kualitas-kualitas itu untuk pengembangan kesehatan mental.
    Inti ajaran Logotheraphy yang selalu dimuat dalam halaman depan jurnal yang diterbitkan oleh The Institute of Logotheraphy adalah bahwa; yang pertama, hidup itu bermakna dalam setiap situasi, bahkan dalam kesedihan sekalipun. Yang kedua, kita memiliki “kehendak untuk hidup bermakna” yang menjadi motivasi primer kita dalam menjalani kehidupan. Ini berbeda dengan pandangan psikoanalisis Freudian yang menyatakan bahwa motivasi utama kita adalah “the will of pleasure” atau kehendak untuk menikmati kesenangan yang dititik beratkan pada kesenangan seksual.
    Yang berikutnya adalah, kita bebas menemukan makna hidup-pada apa yang kita kerjakan, kita alami atau setidaktidaknya pada sikap kita dalam menghadapi situasi derita yang tidak dapat diubah. Demikianlah inti ajaran Logotheraphy sebagai filosofi kehidupan atau sebuah teori filsafat.
    Sebagai penutup perlu pula dinyatakan disini bahwa sebagai teori filsafat manusia, Logotheraphy mengungkapkan bahwa kenyataan hidup tidaklah menyediakan keseimbangan tanpa ketegangan, tetapi justru menawarkan suatu ketegangan khusus. Ketegangan khusus itu berupa ketegangan antara kenyataan diri pada waktu sekarang dengan makna-makna yang harus dipenuhi. Masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan diantara kedua polar itulah proses pengembangan kepribadian berlangsung.


Malang, Mei 2012.

Diskusi di Thread Grup Kagama

Untuk mengisi blog ini, berikut saya kutipkan hasil diskusi antara penulis dengan anggota Grup Kagama dengan harapan agar kita semua dapat memetik manfaatnya. Mudah-mudahan dapat memperkaya khazanah pengetahuan kita semua dan dapat memberi sedikit arti dalam pengembangan pribadi, kepribadian dan masyarakat. Selamat mengikuti hasil diskusi ini.

Thread ini dimulai dengan pengantar sebagai berikut:
Freudian, dalam studinya tentang wit,comic, dan humor, antara lain menyimpulkan. Pertama, humor termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang penting. Melalui perilaku humor, seseorang menarik diri (withdrawal) dari kenyataan hidup yang menyakitkan ke alam fantasi yang penuh tawa. Berbeda dengan reaksi pertahanan diri yang patologis pada neurosis dan psikosis, humor termasuk jenis mekanisme pertahanan diri yang tak membahayakan (Grossman, 1976). Kedua, humor dan perilaku humoristis berfungsi sebagai penyalur fantasi dan dorongan-dorongan primer (agresifitas dan seksual) yang tak mungkin terungkap dalam kehidupan sehari2 karena tabu. Fantasi dan dorongan2 terlarang itu dapat lebih bebas diungkapkan dalam bentuk yang dapat diterima lingkungan,yaitu melalui humor (Cohen, 1976)
( Diambil dari Bastaman, Hanna Djumhana. 1997)

Adapun resume hasil diskusi dalah thread adalah sebagai berikut:

     Penulis berasumsi bahwa pengantar thread ini sudah cukup jelas dan tidak perlu diulas kembali secara panjang lebar dalam pembahasan ini. Pengantar memberikan pandangan Freudian, atau pengikut Sigmund Freud dalam fenomena humor pada perilaku manusia.

     Ratna Widiastuti menambahkan bahwa humor termasuk salah satu mekanisme pertahanan diri yang baik dan perlu dikembangkan sejak usia dini. Ini paralel dengan kesimpulan Daniel Goleman yang menyebut usia kanak-kanak adalah periode emas atau "golden age" yang menentukan kehidupan dan perkembangan anak di masa dewasanya. Dengan diskusinya bersama Dwi Nastiti Arumsari Oscar, Ratna Widiastuti juga memberikan contoh aplikasi praktis menerapkan konsep itu pada anak-anak. Yakni dengan mentertawakan sesuatu yang bagi anak lucu sekalipun bagi orang dewasa tidak lucu.

     Ada suatu pertanyaan menggelitik dari Bambang N. Karim tentang ukuran seseorang dapat dikatakan witty (lucu tapi bukan pelawak, lucu tapi bukan dagelan murah). Ini bukan suatu pertanyaan yang mudah dijawab karena ukuran lucu dalam konteks budaya lokal dan konteks budaya global tentu berlainan. Menurut hemat penulis, untuk menjawab pertanyaan ini perlu orang yang sudah secara intens bersinggungan dengan budaya lokal maupun budaya global. Selain itu masalah ini juga perlu mempertimbangkan aspek Antropologi, bukan hanya perspektif Psikologi. Singkatnya, penulis tidak mampu menjawab pertanyaan ini.

     Dalam salah satu pertanyaan penulis kepada Ratna Widiastuti tentang adanya sifat kanak-kanak dalam diri orang dewasa, Ratna Widiastuti menjawab bahwa orang (manusia) dalam kadar tertentu memang masih memiliki sifat kanak-kanak, seperti egosentris, sensitif dan menikmati permainan. Yang menjadi masalah adalah orang dewasa yang dominan sifat kanak-kanaknya. Dalam istilah Ratna Widiastuti, orang yang dewasa tetapi tidak "dewasa".

     Dalam paragraf ini, penulis merasa perlu untuk mengutip secara lengkap komentar dari Sri Marpinjun yang membicarakan salah satu poin tentang menjadi manusia yang efektif menurut Stephen R. Covey. Hal itu penulis lakukan agar pembaca bisa lebih merasakan konteks-nya dengan pembahasan dibawahnya. Dalam komentarnya itu Sri Marpinjun menuliskan bahwa menurut Covey seseorang yang efektif itu perlu menjadi independen, dengan ukuran, menjadi proaktif, punya misi hidup, punya prioritas. Jadi independen itu disini berarti menguasai diri sendiri. Namun, untuk menjadi makin efektif di dunia, independen saja tidak cukup karena setiap manusia itu harus berhubungan dengan orang lain. Karena itu Covey menambahkan karakter interdependen, yaitu berfikir menang-menang, mendahulukan mengerti orang lain untuk dimengerti orang lain, dan bersinergi.

     Lagi-lagi menurut Ratna Widiastuti, sepertinya sang bintang dalam diskusi ini, dalam konteks kepribadian, orang yang dependen adalah orang yang dalam "pengambilan keputusan" yang nantinya juga berujung pada perilaku, akan pasrah atau butuh bantuan orang lain. Pribadi yang independen adalah pribadi yang mampu mengambil keputusan sendiri, meski dia mengambil dari berbagai sumber untuk diolah dalam dirinya.

     Dalam diskusi antara penulis dan Ratna Widiastuti, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa, dalam konteks pribadi dan pengembangan organisasi atau masyarakat, dapat diilustrasikan bahwa pribadi-pribadi yang dependen berusaha untuk menjadi independen. Sekalipun sulit dalam konteks "makhluk sosial" seseorang bisa dikatakan independen seratus persen. Dalam diskusi ini, terminologi independen dalam konteks psikologi dan sosiologi tampaknya masih bias. Kemudian, pribadi-pribadi yang independen ini bersama-sama membentuk komunitas atau entitas yang interdependen. Ciri dari komunitas atau entitas ini adalah, masing-masing pribadi saling memperkuat dan melengkapi satu sama lain. Dalam proses ini pribadi-pribadi yang ada dalam komunitas atau entitas dapat lebih meningkatkan independensi dirinya masing-masing. Demikian proses ini berlangsung terus-menerus sehingga suatu masyarakat akan menjadi "mature". Hal ini dapat terjadi karena pasti selalu ada ruang pertemuan antara sekar-sekat yang membatasi setiap entitas dalam sebuah masyarakat.

     Sebagai penutup ulasan ini, penulis memberikan guideline yang diberikan Hirmaningsih Rivai dalm komennya bahwa dalam bidang Psikologi, penggunaan teori itu tidak bisa berdiri sendiri, ada kesalingtergantungan antara satu dengan lainnya. Bahkan ahli-ahli terapi psikologi juga menggunakan bidang ilmu yang lain untuk dimodifikasi dengan teori-teori psikologi yang ada. Demikianlah resume ini dibuat, secara khusus penulis menyampaikan terimakasih kepada partisipan aktif dalam diskusi ini, termasuk Hasanuddin M Kholil dan Budi Sulistiyo. Demikian juga penulis menyampaikan penghargaan dan termakasih untuk para "silent reader".

Demikianlah akhir dari diskusi dalam salah satu thread penulis di Grup Kagama. Tampak jelas disini bahwa hasil akhir diskusi berbeda jauh dengan awal dimulainya diskusi. Thread ini dimaksudkan untuk membicarakan masalah humor sebagai salah satu defence-mechanism yang sehat, tetapi dalam perjalanannya malah memdapatkan sebuah hasil berupa ide untuk perkembangan pribadi dan masyarakat. Sekali lagi penulis berterimakasih kepada Sri Marpinjun dan Ratna Widiastuti.

Friday, May 11, 2012

Berurusan Dengan Dunia Perbankan


    Pengetahuanku tentang ilmu ekonomi sangatlah minim, apalagi ekonomi perbankan. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan CAR, kliring, giro dan lain-lain. Bahkan ketika duduk di Sekolah Dasar, dan pada waktu kelas empat serta lima mendapatkan pelajaran Tata Buku dan Hitung Dagang, aku masih sulit untuk membedakan antara Debet dan Kredit. Barulah ketika ada produk perbankan yang bernama Kartu Debet dan Kartu Kredit, aku mulai bisa membedakan kedua istilah itu.
    Layanan perbankan yang aku nikmati pertama kali adalah Tabungan. Waktu itu aku masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Ayahku mengirimkan uang untuk biaya kehidupan dan kuliahku melalui transfer perbankan setiap bulannya. Aku mengambilnya sedikit-sedikit sesuai keperluanku di ATM.
    Bank yang menjadi pilihanku untuk bertransaksi itu adalah sebuah bank swasta nasional yang besar. Sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah. Tentu ada alasan kenapa aku memilih bank itu. Ketika aku masih kecil, aku memiliki seorang Tante yang bekerja di bank tersebut. Namanya Tante Syamsiyati Nurlatifah. Beliau sangat sayang padaku. Seringkali beliau bertanya dalam surat-suratnya yang manis,..kamu ingin apa Mit? Dalam salah satu balasan suratku, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin punya tas koper. Maka tak lama kemudian datanglah paket dari Tanteku itu sebuah tas koper yang kupakai ke sekolah dengan penuh kebanggaan. Banyak kenangan manis tentang tanteku itu. Sayangnya beliau tidak berumur panjang. Beliau meninggalkan kami semuanya pada usia duapuluh delapan tahun. Waktu itu beliau masih aktif bekerja di bank yang kuceritakan tadi.
    Jelaslah mengapa aku memilih menjadi nasabah bank tersebut ketika melihat gedungnya di Bulaksumur, sebuah sisi di kampus kami. Mendatangi bank tersebut, dan menikmati layanan perbankan yang diberikannya selalu akan mengingatkanku pada Tante Syamsiyati Nurlatifah yang kucintai. Bank itu adalah cinta pertamaku.
    Ketika aku masih menjadi mahasiswa di UGM, banyak lembaga bisnis yang menawarkan kebebasan finansial bagi yang mengikuti programnya. Tapi aku tidak tertarik sama sekali. Teman-teman seringkali mengajakku untuk ikut. Tapi aku senyum-senyum saja dan dengan halus menolak. Kepribadianku memang konservatif dan konvensional dalam beberapa sisi, mungkin bahkan ada sedikit kecenderungan anakronistik pada diriku. Itulah alasannya mengapa aku selalu menolak ajakan teman-temanku itu dan itulah pula alasannya mengapa aku cenderung memilih bank-bank konvensional dibandingkan bank-bank yang lain.
    Di era informasi ini, berurusan dengan dunia perbankan dengan kemudahan transaksi yang ditawarkannya memang sepertinya tidak terhindarkan lagi. Itu benar-benar terjadi padaku kemudian setelah lulus. Melalui suatu perjalanan yang panjang dan berliku, akhirnya aku diterima bekerja di sebuah perusahaan Australia di Jakarta Selatan. Sistim pembayaran gaji yang dilakukan di perusahaan itu adalah melalui transfer rekening. Aku sudah tidak lagi memiliki sebuah rekening bank pun ketika itu. Kucari lokasi bank cinta pertamaku itu, yang terdekat dengan lokasi kerja dan kosku di Tanah Kusir. Aku memang menemukannya, tapi aku mesti naik angkot dulu untuk kesana, sedangkan aku mesti berhemat. Bayaranku belum seberapa banyak. Bank yang terdekat waktu itu adalah BCA KCP Ciputat II. Meskipun agak jauh juga, namun aku bisa berjalan kaki kesana, baik dari kantor maupun dari tempat kosku.
    Aku mendapatkan informasi dari teman sekantor, bagaimana caranya untuk menjadi nasabah Bank BCA. Maka segera kupersiapkan Surat Keterangan Bekerja dari kantor yang kukonsep sendiri, uang limaratus ribu rupiah untuk saldo awal, serta KTP dari Malang. Untuk jaga-jaga aku mempersiapkan SIM C juga. Siapa tahu ditanyakan disana. Sengaja surat-surat yang kupersiapkan itu tidak kufotokopi dahulu, ada memang mesin foto kopi di kantor, tapi aku masih belum bisa menggunakannya. Lagian Office Boy lagi sibuk. Aku yakin bahwa di BCA pasti ada mesin foto kopi.
    Berjalan kaki aku menuju kantor BCA KCP Ciputat II. Sesampai disana seorang bapak Satpam membukakan pintu untukku, dan mengucapkan selamat siang. Kuutarakan niatku untuk menjadi nasabah Bank BCA dan bapak Satpam itu dengan sigap mengambilkan sebuah kartu antrian untuk menemui Customer Service serta mempersilahkanku untuk duduk menunggu. Manis sekali.
    Aku duduk menunggu sambil melepas lelah. Agak jauh juga memang perjalananku dari kantor menuju Kantor BCA KCP Ciputat II. Setelah seberapa lama nomorku dipanggil oleh Customer Service yang bertugas saat itu. Seorang perempuan berusia awal empatpuluhan kukira. Kami bersalaman dan berkenalan. Namanya mBak Sri, aku lupa nama lengkapnya. Kuutarakan maksudku pada mBak Sri dan beliau kemudian menjelaskan produk-produk perbankan yang ditawarkan oleh BCA serta solusi perbankan untuk urusan-urusan finansial yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan di Jakarta pada umumnya.
    Benar dugaanku, mBak Sri ternyata memfotokopi sendiri surat-surat yang diperlukan dan urusanku di BCA selesai dengan cepat. Kartu ATM juga sudah selesai hari itu juga. Aku senang sekali karena mendapatkan pelayanan yang baik. Kami bertukar senyum, bersalaman dan aku balik ke kantor.
    Demikianlah ceritanya sampai akhirnya aku menjadi nasabah Bank BCA. Pengetahuanku tentang layanan perbankan juga bertambah setelah itu. Aku ingin bisa bertransaksi melalui sms-banking dan kembali aku menemui mBak Sri. Demikian pula kali itu urusanku kembali lancar dan tidak bertele-tele. Saat itulah pertama kalinya aku menikmati layanan perbankan yang bernama sms-banking.
    Aku menikmati kemudahan transaksi yang diberikan oleh BCA. Gajiku tidak pernah telat sampai di tanganku. Kadang-kadang aku mengambil uang di teller kalau sudah bosan mengambil di ATM. Interaksi interpersonal dengan para karyawan bank waktu aku berada di kantor BCA Ciputat II sungguh aku nikmati.
    Pada suatu hari aku bermaksud mengambil uang di teller. Bapak Satpam dengan sigap mengambilkanku slip penarikan tunai seperti biasanya. Segera kuisi dan segera antri. Sesampai di teller ternyata ada seorang perempuan yang berdiri di belakang para teller itu. Gadis itu berkerudung, manis dan berkaca mata. Kuperhatikan gadis itu baik-baik, ada gurat-gurat yang mengingatkanku pada wajah Sitoresmi Prabuningrat, keponakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sikapnya anggun, teduh dan tampak terpelajar. Dia balas menatapku dan tersenyum. Oooo…ternyata dia juga ramah dan hangat.
    Sejak saat itu aku lebih suka mengambil uang di teller daripada di ATM. Aku berharap bisa mencuri pandang kearah cewek itu. Kadang-kadang aku beruntung, tapi seringkali pula tidak. Aku mencoba mencari alasan untuk berkenalan dengan gadis berkerudung itu, tapi aku tidak menemukan satu cara pun yang tampak wajar dan masuk akal. Maka jadilah aku sekedar fans gelapnya.
    Pada suatu hari kartu ATM-ku hilang. Terpaksalah aku datang ke kantor BCA KCP Ciputat II untuk melaporkannya. Seperti biasanya aku dilayani oleh mBak Sri, si Customer Service yang ramah itu. Rupanya saat itu mBak Sri sedang pilek. Dia memakai masker berwarna hijau yang biasa dipakai oleh tenaga medis dan paramedis di Rumah Sakit. Timbul pikiran isengku untuk menjahilinya.
    “Mbak Sri hari ini aneh betul”, kataku memulai keisenganku.
    “Apanya yang aneh?”, tanyanya.
    “Kok mBak Sri pakai cadar tapi nggak pakai kerudung?”, sahutku sambil cengengesan.
    Perempuan itu tampak menahan tawa dibalik maskernya. Kemudian.
    “Lha yang tidak aneh bagaimana?”.
    Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya. Kemudian mBak Sri memanggil sebuah nama. Yang dipanggil kemudian datang mendekati kami. Astaga,..ternyata yang dipanggilnya si cantik berkerudung yang wajahnya mirip Sitoresmi Prabuningrat itu.
    “Kalau yang ini aneh nggak?”, Tanya mBak Sri padaku yang masih cengar-cengir.
    “Ya nggak lah mBak”, jawabku spontan.
    “Kenapa nggak?”, kejar mBak Sri sambil terus tertawa.
    “Lah,..pakai kerudung tapi tidak pakai cadar kan nggak aneh”, jawabku tak mau kalah.
    “Cantik mana?”, tanya mBak Sri. Rupanya kali itu gantian mBak Sri yang jail.
    “Ya cantik yang pakai kerudung tapi nggak pakai cadar lah mBak”, jawabku terus terang.
    “Naksir ya?”, tanya mBak Sri lagi.
    Kali ini aku dan gadis itu yang cengar-cengir bersamaan. Kompak ni yee.
    “Tanyain namanya aja Fermy”, usul mBak Sri padaku.
    “Siapa namanya mBak?”, tanyaku nekad.
    Si gadis berkerudung dan berkacamata (tapi tidak bercadar), itu masih cengar-cengir. Aku tersenyum senang melihat sikapnya yang salah tingkah.
    “Ya udah,..kalau gak mau kasih tahu ya dikasih nama sendiri aja”, kataku seenaknya.
    “Siapa?”, Tanya mBak Sri.
    “Sweety”, jawabku asal.
    Gadis manis berkerudung itu menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak bisa menahan rasa gelinya. Kemudian dia berlari memasuki ruangan di belakang para teller bekerja. Mbak Sri tertawa keras-keras, kemudian dia kembali menggodaku.
    “Panggil dong”, katanya sambil tertawa.
    “Sweety,….sweety,…gitu lho”, lanjutnya memberi contoh.
    Kali ini aku yang tertawa. Ternyata mBak Sri bisa juga melucu. Aku sangat menghargai pertemananku dengan para karyawan BCA di KCP Ciputat II itu. Mereka itu orang-orang yang baik dan ramah. Sayangnya aku tidak bisa melanjutkan pertemanan itu dengan mereka. Tiba-tiba aku sakit keras tak lama setelah peristiwa itu berlalu. Ibuku membawaku pulang secara paksa ke Malang, aku bahkan tidak sempat pamit ke kantorku. Saking paniknya Ibuku, beliau bahkan tidak sempat mengemasi barang-barangku di kos. Pakaian, buku-buku, surat-surat identitas, bahkan Buku Tabungan dan Kartu ATM BCA-ku tertinggal di tempat kosku di Jakarta itu. Selama seminggu aku dirawat di RSUD Saiful Anwar Malang.
    Beberapa minggu kemudian, setelah diperbolehkan oleh dokter yang merawatku untuk pulang, aku mencoba mencari tahu bagaimana keadaan rekeningku saat itu. Seingatku, bulan terakhir aku bekerja, aku belum menerima gaji. Maka, berbekal Surat Keterangan Kehilangan dari Polres Kedungkandang Malang, aku mencoba menanyakan nasib rekeningku itu. Kebetulan aku mendapatkan nomor rekeningku dari sebuah slip transfer.
    Aku mendatangi kantor cabang BCA di dekat Lapangan Rampal, dan mendapat jawaban bahwa aku harus mengurus rekeningku itu di kantor cabang tempat aku membuka rekening. Aku sadar, mereka tentu punya suatu aturan yang harus ditegakkan dan ditaati. Itu untuk kepentingan nasabah sendiri. Sebagai nasabah aku harus patuh pada aturan itu.
    Pulang dari sana aku bercerita pada Ibu bahwa rekeningku harus diurus di Jakarta. Tidak bisa di Malang sini. Dengan takut-takut kubilang pada Ibu bahwa aku memerlukan uang untuk pergi ke Jakarta mengurusi segala sesuatunya yang belum jelas. Mungkin masih tersisa sedikit uang di rekening itu yang bisa dimanfaatkan. Siapa tahu perusahaan Australia tempat aku bekerja itu masih berbaik hati membayarkan gajiku yang terakhir di rekening itu. Tapi rupanya Ibuku benar-benar tidak punya uang. Bahkan untuk biaya pengobatanku selama seminggu di RSUD Saiful Anwar itu beliau masih berhutang disana-sini. Belum lagi sekarang beban beliau bertambah karena mesti menanggung biaya berobat jalanku setiap bulannya.
    Aku mengerti kondisi Ibuku,..adakalanya memang kita harus mengalah untuk suatu kepentingan yang lebih besar. Adikku yang bontot masih kuliah dan dia juga bergantung pada Ibu. Ibuku cuma istri pensiunan pegawai negeri biasa. Uang pensiun yang diterimanya tidak besar.
    Tapi itu tidak berarti kiamat bagiku. Aku masih memiliki harapan, cita-cita dan rencana masa depan. Aku ingin kuliah lagi. Tentu aku sebaiknya berharap pada diriku sendiri terutama. Bukan pada ibuku. Aku mencoba untuk mengaktifkan blog-ku yang sudah agak lama terbengkalai,..mengisinya dengan postingan-postingan, dan mulai menulis cerpen. Aku belajar menulis dan mulai menikmatinya. Alhamdulillah,..bukannya tanpa hasil. Blog-ku sudah dinyatakan fully-approved oleh program monetize dari sebuah provider blog gratis, dan oleh karenanya dipasangi iklan. Tentu masih terlalu jauh untuk berharap mendapat penghasilan yang mencukupi dari program itu saja, belum bisalah untuk mengharapkan suatu kebebasan finansial dari situ. Aku berharap bisa menulis novel, sebuah outline sudah tergambar berkelebat di pikiranku. Dan mudah-mudahan cita-citaku untuk kuliah lagi bukanlah sebuah wishful thinking saja.
    Kadang-kadang juga ingatanku tentang teman-temanku di BCA KCP Ciputat II berkelebat sekejap. Aku ingat keramahan mereka, persahabatan yang mereka tawarkan, ruang tunggu mereka yang berharum khas. Seolah-olah aku dapat mencium baunya kini. Aku sangat menghargai pertemanan dan persahabatan itu. Dan aku ingat pada dialog-dialog kecil antara aku dan mBak Sri. Mudah-mudahan rekeningku belum ditutup karena memang sudah hampir setahun tidak ada transaksi di dalamnya. Aku masih ingin mengurusnya jika punya kesempatan ke Jakarta lagi, bagiku bukan nilai uangnya lagi yang paling penting. Tapi persahabatan kami. Yang terjalin dalam peristiwa–peristiwa kecil yang menyenangkan di KCP Ciputat II itu. Bank BCA adalah cinta keduaku, but, maybe the second will be the best.

Tuesday, May 8, 2012

Kebiasaanku Merokok


     Aku mempunyai sebuah kebiasaan buruk. Diantara kebiasaan-kebiasaan burukku yang lain, kebiasaan itulah yang paling menjengkelkanku. Kebiasaan itu adalah kebiasaan merokok yang akut. Aku bisa menghabiskan dua bungkus sehari. Menjijikkan bukan? Sudah kucoba melakukan berbagai cara untuk menghentikan kebiasaan burukku itu. Aku bahkan sudah mencoba metode Emotional Freedom Technique, atau lebih dikenal dengan EFT, suatu metode healing yang dikenalkan dan dipopulerkan oleh Gary Craig, lulusan Mechanical Engineering Department dari Stanford University.
     Tapi tetap saja kebiasaanku itu seolah-olah menjadi suatu kebiasaan yang menetap. Dan bertambah lama bertambah parah. Secara kognitif aku tahu bahwa merokok itu tidak sehat dan cuma menghamburkan uang saja. Secara afektif aku juga merasa tidak nyaman , sedih dan jengkel dengan kebiasaan jelek yang menetap itu. Tapi secara psikomotoris aku melakukannya hampir sepanjang waktu. Aku melakukaannya hampir tanpa berfikir sama sekali. Mulai dari mengambil sebatang rokok dari pembungkusnya, menyalakannya dengan nikmat, dam mulailah aku berkebul-kebul ria.
     Gary Craig suka melakukan cramming pada pasien-pasiennya. Dia mengoceh apa saja sambil melakukan tapping pada titik-titik akupunktur di beberapa meridian tubuh. Prinsip itu akan aku lakukan kini, melakukan cramming pada diriku sendiri. Aku ingin mengingat-ingat, adakah suatu peristiwa yang sudah terkubur di alam bawah sadarku sehingga aku mempunyai kebiasaan yang menjengkelkan itu? Sebuah metode self-psychoanalyze. Cuma aku belum tahu bagaimana langkah selanjutnya setelah itu. Pengetahuanku tentang psikoterapi hampir tidak ada. Aku bukan seorang psikolog atau seorang psikiater kini.
     Ada dua hal di masa laluku yang kuingat sebagai sebab mengapa sekarang aku menjadi seorang perokok aktif. Yang pertama adalah akibat konflik yang sangat keras dengan ayahku almarhum. Aku ingin menunjukkan padanya, bahwa kalau begini caramu mendidikku, aku juga bisa menjadi anak yang nakal. Merokok adalah cara yang kupilih. Yang kedua agak panjang ceritanya, dan memerlukan energi yang besar untuk mengingatnya kembali. Terus terang itu sebenarnya juga membuatku merasa kurang nyaman dan sakit.
     Aku akan mengingat sebab yang kedua itu. Sekalipun terasa perih di hati. Mungkin itu adalah sebuah konsekuensi dari psikoanalisa yang kulakukan secara kecil-kecilan ini. Adalah tidak adil untuk memvonis bahwa hanya kasus itulah yang menyebabkanku merokok. Konflikku dengan ayahku jelas mempunyai andil yang besar. Aku bisa terjebak dalam sebuah reductio at absurdum dalam tulisan ini. Tapi karena ini adalah sebuah esai pendek biasa, dan bukan sebuah tulisan ilmiah, maka aku akan mengambil resiko itu.
     Perlu juga dicatat, kebiasaan buruk merokokku ini adalah tanggung jawab pribadiku sendiri. Tidak ada orang atau pihak lain yang perlu disalahkan. Aku memilih untuk merokok, dan pilihan itu kulakukan dengan sadar. Menulis ini kuharap sebagai langkah awal dari perjuangan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap rokok. Aku tidak mau selamanya menjadi budak rokok.
     Peristiwa itu berawal ketika aku lulus dari SMA Negeri 5 Malang, dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Sebentar kawan,..tanganku mulai gemetar dan aku sedikit pusing. Aku perlu keluar rumah sebentar untuk menghirup udara segar sebelum kembali menulis disini.
     Baiklah,…aku lanjutkan kembali… Sebagaimana tradisi pada jaman itu, setiap mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti Penataran P4 sebelum benar-benar mengikuti kegiatan perkuliahan yang sebenarnya. Demikian pula aku tak terkecuali. Aku mengikuti penataran yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya selama dua minggu.
     Di hari-hari awal selama mengikuti Penataran P4 itu aku berkenalan dengan seorang gadis cantik. Dia memintaku untuk duduk di sebelahnya setelah kami bercakap-cakap singkat itu. Segera saja aku setuju. Kuambil tasku dari tempatku duduk dan memindahkannya di sebelah tempat duduk gadis itu. Sesi berikutnya dan sesi-sesi berikutnya aku akhirnya selalu menempati posisi di sebelah gadis itu. Terus terang, aku menikmati bau badannya yang lembut, aku tahu dia tidak memakai parfum pada saat-saat itu. Apabila kami semua sudah kecapekan dan hari menjelang sore, bau badannya semakin terasa, dan aku semakin menikmatinya.
     Hari-hari berlalu semenjak Penataran P4 itu, dan kami menjadi semakin akrab. Kutanyakan padanya, apa syarat untuk menjadi pacarnya? Dia bilang, “Jangan merokok”. Sesederhana itu?, kupikir. Aku sendiri memang belum menjadi perokok pada saat itu. Awal-awal kuliah di Fakultas Kedokteran.
     Semakin lama aku semakin menyadari bahwa aku benar-benar mencintainya. Kami seolah-olah tak terpisahkan di awal-awal kuliah itu. Pernah kutanyakan padanya mengapa dia masuk Fakultas Kedokteran, dan dia menjawab dengan sebuah cerita yang panjang. Ternyata dia mengidap asma sejak kecil, dan kebetulan dokter yang merawatnya adalah seorang dokter yang baik hati. Dia terkesan dengan dokter yang merawatnya itu dan ingin menjadi seorang dokter pula.
     Pada sekitar akhir bulan kedua aku kuliah, aku diprovokasi oleh seorang temanku. Namanya Haidar Bauzier, sekarang dokter spesialis penyakit dalam entah dimana. Aku tidak ingat lagi apa yang diprovokasikannya pada saat itu,….semacam aku tidak punya harga diri dan menjadi hamba seorang perempuan. Aku hanya ingat bahwa Haidar menyuruhku untuk mengatakan sesuatu pada gadisku itu. Sesuatu yang akan membuatku tampak lebih bermartabat di depan teman-temanku. Tidak lagi nampak sebagai pelayan seorang gadis.
     Sebentar,…sebentar,….aku perlu waktu untuk menulis lagi. Kepalaku kembali pusing. Sepertinya aku dikuasai oleh kemarahan. Dan aku perlu waktu untuk menenangkan diri kembali.
     Ini adalah bagian terberat bagiku untk menuliskannya. Aku melakukan persis apa yang dikatakan Haidar. Dan gadis itu marah besar. Perlu waktu yang lama bagiku untuk tidak lagi menyalahkan Haidar dan melihatnya sebagai sebuah tanggung jawabku pribadi. Aku memang hanya diprovokasi, dan apabila aku cukup bisa berfikir jernih waktu itu, tentu aku tidak perlu termakan provokasinya. Memang itu tanggung jawabku pribadi. Tidak ada yang patut disalahkan pada peristiwa itu, apalagi gadis itu, dia hanyalah korban dari kekonyolanku.
     Setelah itu hubungan kami menjadi berjarak. Dan pada saat itulah seorang pemuda Mojokerto mendekatinya. Teman seangkatanku juga. Aku hanya memandangi hubungan mereka yang semakin hari semakin akrab dengan sedih. Gadis itu bahkan mengambilkan diktat kuliah yang dibagikan pada waktu kuliah untuk si pemuda Mojokerto. Si pemuda tidak perlu mengambilnya sediri di meja dosen. Sesuatu hal yang dulunya kulakukan untuk gadis itu. Perih rasanya…
     Kupikir saat itu aku menjadi matagelap. Kulakukan lagi sebuah kekonyolan yang tidak perlu. Kulakukan hal yang dilarang oleh gadis itu. Pada suatu pagi menjelang kuliah, sengaja aku datang lebih awal. Aku membeli sebatang rokok dengan korek apinya sekalian. Teman-teman mulai berdatangan. Aku tetap sabar menunggu sampai gadis itu datang. Gadis itu benar-benar datang, dia memang mahasiswi yang rajin. Begitu kulihat ia di depan pintu,..kunyalakan rokokku. Aku ingin dia melihatnya. Aku merokok berkebul-kebul ria dan anehnya aku tidak batuk-batuk. Biasanya gadis itu cuek denganku, tapi kali itu dia terkejut sekali. Dipandangnya aku dengan terbelalak, terhenti langkahnya sebentar. Akhirnya dia melanjutkan langkah tidak perduli dan duduk di sebelah pemuda Mojokerto.
     Kekacauan demi kekacauan mulai terjadi dalam hidupku. Waktu itu aku hampir tidak punya teman untuk berbagi kesedihan, kecuali seorang teman bernama Mahsun Muhammadi, dan tiga orang kakak kelas yang bernama Ali Mahsun, Warih Tjahyono dan Ahmad Khotib. Mereka berusaha untuk membangkitkan kembali semangat kuliahku yang timbul tenggelam. Tapi aku terlalu terlarut dalam kesedihan, aku masuk dalam suatu fase depresif yang nyata.
     Aku bukannya tidak berusaha untuk memperbaiki hubunganku dengan gadis itu. Aku berkali-kali minta maaf padanya. Bahkan pernah kudatangi rumahnya hanya sekedar untuk menyampaikan penyesalan dan permohonan maafku. Aku tahu,…dia tidak akan pernah benar-benar memaafkanku.
     Aku bahkan mengirim surat pada seorang Om-ku, yang waktu itu kuliah di Louisiana State University di Amerika Serikat sana untuk membelikanku sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun buatan Amerika dan dibeli di Amerika. Surat ucapan selamat ulang tahun buatan Harvest itu benar-benar datang dua bulan kemudian. Kusimpan dan kutunggu dengan sabar hari ulang tahunnya.
     Persis tanggal 14 Agustus, hari ulang tahunnya, kuantarkan surat itu ke rumahnya. Kubilang surat karena memang berbentuk surat, bukan sebuah kartu. Memang unik sekali. Aku yakin sekali waktu itu di Malang atau Surabaya pun tidak ada yang menjual surat ucapan seperti itu. Kutulis dengan hati-hati pada surat itu, LIFE BEGINS AT FORTY, sebuah saying yang sangat terkenal dalam bahasa Inggris. Kemudian dengan hati-hati pula kucoret kata FORTY dengan dua garis tegas. Lalu dibelakangnya kuganti dengan kata TWENTY. Dia memang setahun lebih tua daripada aku. Jadi aku merokok mulai usia sembilanbelas tahun.
     Ketika aku kuliah di Universitas Gadjah Mada, aku pernah mengiriminya surat sekali. Tapi suratku itu tidak ditanggapinya. Tiga semester pertama di UGM aku betul-betul tidak bisa melupakannya. Sering aku terbangun pada tengah malam dari sebuah mimpi buruk. Pernah aku seperti terhentak dari tidur dan berteriak memanggil namanya. Peluh berleleran dari tubuhku,…dan aku gemetaran. Pada saat-saat itu aku memasuki fase melancholia yang sangat parah.
     Mungkin itu dulu yang bisa kuceritakan pada saat ini. Bagiku,..merokok itu sudah merupakan penyakit,..aku sedang mencari-cari taht, apa yang kira-kira dilakukan oleh seorang psikolog atau psikiater setelah sesi psikoanalisa berakhir. Mungkin melakukan suatu reframing, aku tidak tahu. Mungkin cara yang termudah adalah segera pergi mencari bantuan. Sebagai makhluk sosial, manusia memang tidak bisa hidup sendiri,…

Tuesday, May 1, 2012

Visi dan Misi dalam Hidupku



Visi dan Misi Dalam Hidupku
Fermy Nurhidayat, ST.


     Aku merasa berbahagia telah menemukan tujuan hidupku. Satu langkah pasti telah kuambil dalam hidupku. Aku akan melaksanakannya dengan sepenuh nafasku. Aku tidak perduli kapan aku akan sampai kepada tahap akhir dari tujuan hidupku itu. Yang penting, aku telah mengambil langkah awal untuk mewujudkannya dalam kenyataan. Bukan hanya dalam angan atau imajinasi belaka. Seingatku, Viktor E. Frankl, seorang survivor dari empat kamp konsentrasi Nazi, pernah mengatakan dalam bukunya, Man's Search of Meaning, bahwa “kadang-kadang karya-karya yang terindah muncul dari simfoni-simfoni yang belum selesai”.
     Mungkin aku telah keburu mati sebelum tujuan hidupku terlaksana. Bukan itu yang terpenting. Yang paling penting adalah aku mempunyai “sesuatu” untuk diperjuangkan. Suatu kegiatan terarah yang akan menuntunku untuk tetap hidup dengan penuh makna. Dan akan kulakukan tanpa melihatnya sebagai sebuah perjuangan, tapi suatu kegiatan untuk menikmati hidup yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepadaku. Sekaligus mensyukurinya sepenuh hatiku.
     Sempat terpikir olehku, betapa tidak masuk akalnya tujuan hidupku. Tapi bukankah rasional atau tidak rasionalnya tujuan hidup kita sangat tergantung dari persepsi kita masing-masing tentang rasionalitas itu. Sekali tujuan hidup telah ditemukan, maka hidup kita akan terarah dan menuntut untuk pemenuhannya. Hidup yang penuh arti akan kita jalani. Sekalipun orang melecehkan dan mentertawakan kita. Biarin aja,…karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan,…mentertawakan suatu visi atau nilai yang kita pandang terpenting dalam hidup kita. Pikiran mereka tentangku samasekali bukan urusanku.
     Aku akan meninjau dan menelaah kembali tujuan hidup, atau visi dan misi dalam hidupku ini secara teratur. Menambahkan yang relevan dan meredusir yang tidak relevan. Semata-mata untuk meneguhkan hatiku. Mengatakan YA pada kehidupan, sekalipun untuk itu banyak yang harus kupersiapkan untuk mewujudkannya dalam realitas riil dilapangan.
     Hampir selama seminggu ini aku mengikuti Group di Facebook, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia. Bergaul dan berinteraksi bersama para caregiver, psikiater, dan people with disorder di dunia maya. Insya Allah aku akan datang pada pertemuan KPSI Simpul Yogyakarta hari Minggu esok. Dan salah satu tujuan hidup sekunderku adalah aktif dalam komunitas ini, bukan sebagai caregiver,…tapi sebagai psikiater.
     Apakah kamu kaget dengan tujuan hidupku itu kawan? Kamu akan lebih terkejut lagi bila mengetahui tujuan hidup primerku. Tujuan hidupku yang utama adalah menjadi seorang psikiater. Betapapun tampaknya sulit dan dan tidak masuk akalnya itu bagimu sekarang ini. Kita lihat nanti apakah aku bisa menjadi seorang neuropsikiater. Orientasi dalam disiplin ilmu itu belum terlalu penting bagiku sekarang. Mungkin aku akan menjadi seorang Jungian, atau Franklian, atau apapun itu. Tapi aku tidak akan menjadi seorang Freudian murni. Terlalu banyak kritik terhadap Freud sekalipun teorinya tentang alam bawah sadar dan analisis mimpi adalah karya yang menggetarkan.
     Aku bahkan tidak peduli bila nanti penghasilanku sebagai seorang psikiater tidak cukup sebanding dengan pengorbananku untuk mewujudkannya. Aku tidak peduli bila nanti aku tinggal di rumah tipe RSSSS karena banyak pasienku tidak dapat membayarku untuk sekedar memperoleh pertolongan professional. Apakah teman-teman tahu kepanjangan dari RSSSS? Itu adalah tipe Rumah Sangat Sederhana sehingga Sulit Selonjor.
     Untuk itu tentu aku mesti kuliah lagi. Masuk Fakultas Kedokteran dan mengikuti seluruh proses Pendidikan Dokter dengan  patuh dan bahagia. Jelas perlu biaya banyak, karena masuk Fakultas Kedokteran sekarang ini di Indonesia mahal sekali. Aku akan mengumpulkan uang dengan menulis. Menulis cerpen, FTS atau Flash True Story dan mencoba membuat novel. Sebuah tema telah tergambar di pikiranku tentang novel itu. Tinggal merenungkannya lagi dan lagi,..serta mulai menulisnya. Aku juga sudah mendapat ide untuk cerpenku yang terbaru. Tampaknya itulah yang pertama kali kulakukan terlebih dahulu. Soalnya ide untuk cerpen itu sudah muncul dalam benak bertahun-tahun yang lalu. Dan mulai menjadi matang beberapa hari ini.
     Kudedikasikan diriku untuk membantu penyembuhan pasien-pasienku. Karena yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah Azza wa Jalla. Aku akan hidup dalam dunia pasien-pasienku. Dunia halusinasi, delusi dan waham yang paling mengerikan sekalipun. Sekaligus menyadari bahwa duniaku bukanlah dunia mereka. Keterampilan menjaga jarak dengan dunia orang lain itu tentu sangat berguna. Bukan hanya dalam karierku kelak sebagai seorang psikiater, tapi juga bermanfaat dalam hidup keseharianku kini.
     Aku ingat dengan buku Eyang Kakung Mohammad yang kubaca waktu kecil dulu. Buku itu bercerita tentang Albert Schweizer. Seorang misionaris penyebar agama Kristen di Afrika. Schweizer berusia tigapuluh tahun ketika memutuskan untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagi misionaris di Afrika. Dan pada usia itulah dia memasuki Sekolah Kedokteran di Jerman. Aku adalah seorang Muslim,..aku tidak ingin menjadi misionaris Islam. Jelas sudah pernyataan akhir Surah Al Kaafiruun,..lakum diinukum wa liyadiin. Untukmu agamamu dan untukku agamaku… Karena itu aku tidak akan menyebarkan agama pada orang yang sudah beragama. Aku akan melayani mereka karena itu adalah panggilan jiwaku. Suatu cara untuk mengabdi kepada Allah dengan cara yang kuyakini benar.
     Semakin kutuliskan visi dan misi dalam hidupku ini, semakin jelaslah bagiku bahwa aku tidak berkhayal. Siapa yang bisa membantah bahwa aku sekarang ini sedang menulis? Tidak ada seorang pun. Tidak ada seorang pun.
ENTJ - "Field Marshall". The basic driving force and need is to lead. Tend to seek a position of responsibility and enjoys being an executive. 1.8% of total population.
Take Free Jung Personality Test
Personality Test by SimilarMinds.com
    

Friday, April 27, 2012

Tembang Dolanan "Ilir Ilir" dari Sunan Kalijaga


Lir ilir,…lir ilir,…tandure wus sumilir..
Tak ijo royo-royo,…tak sengguh temanten anyar..

Cah angon,…cah angon,..penekna blimbing kuwi…
Lunyu-lunyu peneken,..kanggo mbasuh dada sira…

Dada sira,..dada sira,..kumitir bedhah ing pinggir,..
Dandamana jlumatana,..kanggo sebo mengko sore,…

Mumpung padhang rembulane..
Mumpung jembar kalangane…

Sung surako…..surak…
Hooree…..

     Demikianlah tembang dolanan anak-anak yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Salah satu wali dari Walisongo yang menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa. Tembang tadi berjudul “Ilir-Ilir”. Sarat dengan muatan makna yang dalam. Konon tembang itu dinyanyikan oleh anak-anak di jaman eyangnya eyang kita dulu ketika bulan merekah purnama. Di pelataran rumah yang waktu itu tentu masih luas. Tidak seperti pelataran rumah orang jaman sekarang.
     Tidak banyak dari kita yang masih hafal tembang dolanan tersebut. Dan aku beruntung masih bisa mengingatnya dengan baik. Setangkai akar dari budaya milikku sendiri. Sehingga aku tidak tercerabut dari akar kekayaan batin nenek moyangku dulu.
     Anak-anak sekarang lebih kenal dengan Aluna Sagita Gutawa, Sherina Munaf atau Justin Bieber. Tidak salah memang, karena itulah salah satu mainstream musik saat ini. Dan harus diakui bahwa musik mereka memang berkelas. Jaman memang sudah berubah. Aku sendiri juga penggemar berat Yuni Shara. Salah satu lagunya, Pelangi, masih kuhafal sampai kini. Karena mengingatkanku pada seorang gadis yang kucintai. Bertahun-tahun yang lalu.
     Aku mempunyai sebuah apresiasi tentang karya Sunan Kalijaga ini. Ketika malam begitu syahdu, dan hatiku sedang dilanda rindu, kulafalkan tembang tadi dengan penuh penghayatan. Aku memang pernah mengajarkannya pada seorang gadis kecil. Tapi aku tidak yakin bahwa dia masih mengingatnya dengan sempurna.
     Orang Jawa rata-rata adalah petani di jaman itu. Dan bayangkanlah seorang anak penggembala kambing sedang duduk bersandar pada sebatang pohon belimbing di dekat kali, sambil mengamati batang-batang padi tanaman orang tuanya. Ketika itulah Kanjeng Sunan Kalijaga bertutur pada anak penggembala tersebut.
     “Lir ilir,..lir ilir,…tandure wus sumilir”. Lihatlah batang batang padi itu sudah mulai tumbuh, kata Kanjeng Sunan. Hal itu adalah kata kiasan untuk menyatakan bahwa dakwah Islam di Tanah Jawa sudah menampakkan hasilnya. Orang Jawa sudah menjadi Muslim dengan kesadaran sendiri.
\    “Tak ijo royo-royo,..tak sengguh temanten anyar”. Batang-batang padi itu menghijau karena dakwah Islam tumbuh dengan subur. Warna hijau selalu diidentikkan dengan Islam sejak jaman dahulu. Tidak hanya di Tanah Jawa, tapi juga di tempat-tempat lain di berbagai belahan dunia. Temanten anyar atau pengantin baru dalam Bahasa Indonesia melambangkan harapan baru, cakrawala baru. Sepasang kekasih yang menikah selalu akan menghadapi kehidupan baru, tantangan-tantangan baru, yang belum pernah dijumpainya ketika masih bujangan.
     Lalu dilanjutkannya dengan, “Cah angon,..cah angon..penekna blimbing kuwi”. Maksudnya adalah, wahai para santri,..wahai para santri,..jalankanlah shalat lima waktu. Pernahkah teman-teman berfikir, mengapa buah belimbing yang dijadikan kiasan oleh Kanjeng Sunan? Mengapa tidak pohon atau buah-buahan lainnya? Bukankah di Tanah Jawa yang subur tumbuh berbagai macam tanaman? Bukan hanya pohon belimbing. Nah,…coba perhatikan baik-baik. Buah belimbing memiliki lima sisi. Kalau dibelah dan diamati belahannya itu, maka akan tampak seperti bintang bersegi lima. Karena itu orang Inggris menyebutnya sebagai “starfruit”. Lima segi belimbing itu melambangkan shalat lima waktu, yang wajib dijalani oleh seorang muslim. Mulai dari waktu Maghrib dan Isya,…serta dilanjutkan saat Shubuh, Dhuhur, sampai Ashar.
     “Lunyu lunyu peneken”. Maksudnya sekalipun berat bagimu untuk menjalankan shalat lima waktu itu, tapi tetaplah kerjakan karena itu tiang Agama. Banyak memang godaan untuk konsisten menjalankan shalat lima waktu. Ketika Shubuh datang,..mata masih mengantuk dan bau bantal tercium begitu wangi. Ketika Dhuhur datang, kita masih sibuk beraktifitas. Tapi saat itu juga kita dipanggil untuk menghadapNya. Ketika waktu Ashar datang,..kita sedang melepas lelah setelah bekerja. Dan ketika waktu Maghrib datang,..kita masih ingin bercengkerama dengan keluarga di rumah. Dan ketika waktu Isya datang,..pembaringan kita seolah-olah sudah memanggil kita, untuk tidur di haribaannya yang nyaman. Itu baru sekelumit tentang cobaan orang yang menjalankan shalat lima waktu. Tentu ada lagi godaan-godaan yang lain, yang teman-teman juga merasakannya sendiri, sama seperti aku.
     “Kanggo mbasuh dada sira”. Maksudnya adalah, shalat itu untuk membersihkan jiwa kita. Dengan mengingatNya kita semakin sadar akan keberadaan diri. Diri yang kecil dan ilmu yang terbatas dihadapan Sang Mahapencipta. Dosa-dosa yang telah kita lakukan akan terbayang, dan harapan akan ampunan Allah. Harapan itu sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Tanpa harapan itu kita tidak mempunyai alasan untuk melanjutkan hidup.
     “Dada sira,..dada sira,…kumitir bedhah ing pinggir”. Artinya, wahai sukma, atau jiwa,..sungguh engkau telah terluka,..terkoyak di pinggir. Begitu bayak peristiwa yang kita alami, dan itu membuat jiwa kita terluka,..mungkin bahkan sangat parah. Tapi untunglah,..jiwa kita itu tidak terkoyak di tengah, artinya luka kita itu masih bisa disembuhkan. Mudah bagi Allah untuk menyembuhkannya. Tinggal kita memohon kepadaNya. Dia akan memberikan penyembuh, entah dengan jalan apapun itu. Bukankah salah satu nama Al Qur’an adalah As Syifa’ atau penyembuh. Karena itu rajin-rajinlah membaca Al Qur’an.
     “Dandamana jlumatana”. Maksudnya rawatlah luka jiwamu itu sebelum ia menjadi koyak ditengah, dan tak bisa disembuhkan lagi. Rawatlah dengan mengabdi kepadaNya. Tersungkur dihadapanNya. Menyesali dosa-dosa, dan berharap bahwa Allah Sang Mahapengampun, mengampuni dosa-dosa kita itu…. Innallaha ghafururrahiim… Sesungguhnya Allah itu Mahapengampun dan Mahapenyayang.
     Kemudian tembang itu dilanjutkan dengan, “Kanggo sebo mengko sore”. Maksudnya, seluruh penghambaan kita kepadaNya itu adalah untuk bekal menghadapNya. Sang sangkan paraning dumadi. Atau tempat berasal dan kembalinya kehidupan.
     “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane”. Segeralah untuk kembali kepada Allah. Sang sangkan paraning dumadi. Senyampang kita masih punya kesempatan untuk pulang kepadaNya. Ketika dunia kehidupan masih kita nikmati. Ketika ruang yang kita tempati di dunia ini masih luas. Ketika kita masih dapat beraktifitas. Bayangkanlah ketika ruang untuk kita itu cuma seluas liang lahat, maka semuanya menjadi sia-sia. Tidak ada lagi waktu bagi kita untuk bertaubat. Nasi telah menjadi bubur. Dan tidak ada lagi waktu untuk merubahnya menjadi bubur yang enak dan lezat.
     Tembang Kanjeng Sunan kemudian dilanjutkan dengan, “Sung surako,…surak,..hooree”. Artinya berbahagialah wahai santri, sang penggembala kambing,kita, karena kita minimal adalah penggembala diri kita sendiri. Kita mesti berbahagia karena kesempatan untuk kembali kepada Allah itu masih ada. Selama hayat masih dikandung badan, selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Apalah artinya dunia dan segala isinya, jika murka Allah tertuju kepada kita. Na’udzubillahi min dzaalik, semoga kita terhindar dari hal yang semacam itu. Tapi tetap yakinlah bahwa Allah Mahapengasih dan Penyayang. Mahalembut dan Mahabijaksana.
     Apakah terdengar adzan sayup-sayup disana? Marilah kawan, basuhlah mukamu dengan mengambil air wudlu.

Thursday, April 19, 2012

Bercanda Dengan Teman Aussie

  Peristiwa ini terjadi bertahun2 yang lalu. Waktu itu aku bekerja di sebuah vendor Oil and Gas Company di daerah Jakarta Barat. Salah satu produk yang kami tawarkan kepada kastemer kami adalah software untuk digunakan di bidang perminyakan. Mulai dari drilling sampai eksplorasi. Bahkan saat itu kami juga menawarkan software untuk simulasi perilaku reservoir di lapangan pengeboran.
  Salah satu principal kami adalah SPT Group, sebuah perusahaan software dari Norwegia. Aku tidak pernah melupakan saat2 menyenangkan bersama mereka. Aku sering bertemu dengan Francesco Falsini, seorang Italia, yang bekerja sebagai General Manager perusahaan itu. Beliau ditempatkan di kantor Kuala Lumpur. Dia suka mengolokku sebagai "Italia palsu", sedangkan dia sendiri adalah "Italia asli". Namaku, Fermy, memang nama Italia, padahal aku orang Madura. Menggelikan memang....
  Pada suatu hari, SPT Group akan mengikuti pameran produk2 peralatan yang akan ditawarkan pada perusahaan2 minyak yang ada di dunia. Perwakilan dari Aramco Arab Saudi dan Petrogulf dari Mesir juga akan datang. Selain itu, perusahaan2 besar lainnya dari berbagai belahan dunia juga akan ikut hadir. Itu memang event internasional.
  Pameran itu diadakan di Hotel Four Seasson Jakarta. Aku sudah lupa tempat pastinya saat ini. Entah itu di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, atau Jakarta Selatan. Tibalah saat pameran, pengamanan waktu itu super ketat katena hantu teror bom masih menghantui Jakarta. Seingatku pameran itu dilaksanakan pada Bulan September 2009. Atau mungkin tahun 2008 ya,..? Aku sudah lupa...
  Pagi2 kami menyiapkan booth untuk SPT Group. Saya membantu Andrew dan Agnes. Andrew Paterson berasal dari Sydney, Australia sedangkan Agnes Scott adalah seorang Norwegia yang tinggal di Houston, Texas. Sampai sore kami menjaga booth itu. Berkenalan dan berdiskusi dengan teman2 dari perusahaan minyak seluruh dunia.
  Aku suka sekali menggoda Andrew dan Agnes untuk memancing tawa. Ternyata memancing tawa bule itu mudah kok. Aku pura2 bertanya pada Andrew, "Andrew, is that true that in Australia, even a little children speaks English?". Maksudnya aku pengen tahu apakah anak kecil di Australia berbicara dalam bahasa Inggris. Tentu saja Andrew kebingungan dengan pertanyaan saya. "Of course", jawabnya keheranan, "Why did you ask?", lanjutnya masih penasaran.
  Kukatakan padanya, "That's wonderful you know?", kataku geli merasa umpanku mengena. Kemudian kulanjutkan, "It's difficult in Indonesia to find a child speaking English". Maksudnya, aku menganggap hal itu luar biasa karena sangat jarang anak kecil berbicara bahasa Inggris di Indonesia. Agnes tertawa terbahak2, demikian pula Andrew, sobat baruku itu.
  Menjelang siang, booth kami didatangi oleh teman2 Andrew dari Australia. Ada Dora Lucano yang berkebangsaan Australia tapi berdarah Italia, Derek Fowler, dan masih banyak lagi. Andrew memperkenalkanku pada mereka. "This is my friend, Fermy,...He's a comedian", katanya bercanda. Teman2 Andrew tertawa mendengar itu, tapi aku tidak mau kalah. "Yeah,..I'm a comedian and you are my scriptwriter..", kataku padanya. Kali ini teman2 Andrew tertawa lebih kencang lagi. Dan kulihat wajah Andrew menjadi ungu.
  Untuk menggodaku Andrew memperkenalkanku sebagai seorang pelawak kepada temam2nya dari Australia. Kubalas dengan mengatakan pada mereka kalau aku ini pelawak maka Andrew lah si penulis skrip-nya. Senang sekali mempunyai banyak teman dari berbagai bangsa....


Tuesday, April 17, 2012

Surat dari Danah Zohar

  Sedang iseng ketika itu, membuka email masuk di akun gmailku. Aku terbelalak ketika melihat nama Danah Zohar sebagai salah satu sender di inboxku. Hampir saja email itu terlewatkan begitu saja, karena memang terselip diantara tumpukan2 email lain yang kurang bermanfaat. Kulihat email itu, benarkah itu dari dia?, perasaanku campur aduk. Antara tidak percaya, senang dan merasa terhormat luar biasa.
  Danah Zohar adalah penulis favoritku, bersama Ian Marshall dia menulis buku2 bermutu tentang Kecerdasan Spiritual. Beliau adalah lulusan MIT, Massachussets Institute of Technology, seorang filosof zaman modern ini, fisikawan kuantum dan edukator manajemen. In-house presentation telah banyak dilakukannya di beberapa organisasi seperti Volvo, Shell, British Telecom, Motorola, Philips, Skandia Insurance, UNESCO, The Young President's Organization, dan The European Cultural Foundation.
  Diantara buku2 yang ditulisnya adalah The Quantum Self(1990), The Quantum Society(1994), Rewiring the Corporate Brain(1997). Bukunya, Spiritual Quotient(2000), menjadi best seller internasional. Sedangkan Ian Marshall, suaminya adalah seorang psikiater dan psikoterapis berorientasi Jungian. Merujuk pada nama Carl Gustav Jung, salah satu tokoh Psikologi Pertumbuhan, yang seringkali berbeda pandangan dengan Sigmund Freud, yang masih menjadi rujukan para dokter saat ini.
  Aku sendiri ketika masih menjadi mahasiswa sangat mengagumi Victor Frankl, seorang neuro-psikiater berkebangsaan Austria yang selamat dari empat kamp konsentasi Nazi pada masa Perang Dunia Kedua. Bahkan terpikir olehku untuk menjadi seorang neuro-psikiater pertama di Indonesia yang berorientasi Franklian. Tapi cita-cita tinggalah cita-cita. Arus nasib membawaku menjadi seorang Insinyur Mesin. Mudah2an menjadi Insinyur Mesin yang sukses, Amin Ya Rabb....
  Sangat mudah difahami kenapa aku sangat tertarik dengan suami istri yang kini tinggal di Oxford, Inggris, itu. Aku merasa tidak mempunyai apa yang mereka punyai. Cita-citaku sebagai dokter telah kandas, sedangkan Ian Marshall adalah seorang psikiater dan psikoterapis beraliran Jungian.
  Email Danah Zohar itu menawariku untuk mengikuti seminarnya di Oxford, seperti kuceritakan tadi aku merasa sangat terhormat. Jelas aku ingin pergi ke Inggris bertemu dengan dua tokoh idolaku itu. Tapi mana mungkin,...aku baru saja dirumahkan oleh perusahaan tempatku bekerja di Kalimantan. Dalam posisi bekerja pun jelas pergi ke Oxford masih sebatas mimpi. Tapi, bukankah banyak mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan? Karena itu aku tidak putus berharap kepada Allah.
  Bodohnya lagi, kukabarkan email dari Danah Zohar itu pada gadis impianku di Yogyakarta. Aku melakukannya karena sangat surprised dan kegirangan luar biasa. Aku tidak berfikir kemungkinan akibatnya. Mungkin dia menganggapku sudah gila. Telepon dan sms-ku tidak digubrisnya sama sekali... Rasanya hubungan kami jadi semakin jauh... Aku memang kurang berfikir panjang.
  Itu membuatku berintrospeksi sekarang. Melakukan tilik diri yang lebih jauh lagi. Bukankah gadis itu, sebagaimana diriku, adalah milik Allah. Sesungguhnya kita tidak memiliki apa2. Semuanya milik Allah...Biarlah Dia yang menentukan si gadis Yogya itu nanti dititipkan pada siapa. Seorang suami yang kuharap akan terus menyayanginya sampai tua. Aku sendiri hanya dapat meminta dan berharap kepada Allah,... Karena Dia lah yang Mahamenentukan.

Saturday, March 31, 2012

Reinkarnasi

  Dalam tradisi Hindu dan Budha dikenal paham Reinkarnasi. Memang menarik membayangkan kemungkinan bahwa kita bisa hidup di periode berikutnya di dunia ini. Bagiku percaya atau tidak percaya pada reinkarnasi adalah hak penuh seseorang,sama persis dengan hak seorang gadis untuk menerima atau menolak cinta seorang laki2.
  Ketika kita membahas masalah "sekularisasi" atau "sekularisme", maka besar kemungkinan bahwa kita akan berdebat berkepanjangan. Hal itu terjadi karena pemaknaan kita terhadap dua kata tersebut bisa berbeda. Kompiler dalam otak kita akan memberi makna yang berbeda sehingga mmenimbulkan bias. Coba,..tanyakan masalah sekularisasi padaku,pada Om Luki dan Tante Ami,..nanti akan ketahuan bahwa bakalan ada tiga pemahaman yang berbeda atau sekurang2nya dua pemahaman yang sangat berbeda bila ditinjau secara kategoris. Minimal "kesan" dari dua kata itu akan berbeda. Ada yang menilainya secara positif dan ada yang menilainya secara negatif.
  Berbeda dengan kata "reinkarnasi". Dapat dipastikan bahwa kita semua akan sepakat dengan makna kata itu. Kompiler bahasa pemrograman AmiPro, LukiPro dan Mi2tAmatir akan memberikan pemaknaan yang sama apabila disuruh mengeksekusi perintah "reinkarnasi".(Sori Om Luki dan Tante Ami,..namanya saya pinjem untuk menjelaskan sesuatu,..). Kira2 dalam terminologi Ushul Fiqh bisa diistilahkan dengan Mafhum Mukhalafah, begitu.
  Harun Yahya, seorang intelektual Muslim dari Turki, pernah membahas dan mengulas masalah reinkarnasi dalam tulisannya. Beliau menolak dengan keras adanya reinkarnasi ini karena Al Qur'an tidak pernah mengulasnya, demikian pula Sunnah juga tidak pernah mengajarkannya. Tapi seorang Paman yang sangat intelek dari Bani Tohiroen (yang sangat kuhormati pendapat2nya) justru malah yakin dengan reinkarnasi ini. Sama seperti Om Nanang, beliau juga percaya bahwa kemalangan atau keberhasilan seseorang dalam hidupnya saat ini adalah akibat dari perbuatan dan tindakan2nya pada kehidupan yang lalu.
  Alasan2 yang dikemukakan oleh Harun Yahya memang sangat normatif. Tidak semua orang senang dengan penjelasan seperti ini. Aku termasuk orang yang tidak percaya dengan reinkarnasi. Bukan apa2 sih,...aku hanya melihatnya dari pengaruhnya pada pikiranku sendiri. Mempercayai reinkarnasi membuatku yakin bahwa serentetan kegagalan dalam hidup(yang sekarang,..bagi yang mempercayai reinkarnasi) adalah buah dari kehidupanku yang terdahulu. Dasar "balung kere", begitu mungkin kata orang,.... Kompleks "negative thinking" ini akan semakin merajalela bila aku mempercayai reinkarnasi. Membuatku yakin bahwa kehidupanku tidak bisa diubah lagi. Padahal aku harus membiasakan diri untuk berfikir positif.
  Ibrahim Elfiky, intelektual Muslim berkebangsaan Mesir yang tinggal di Kanada mengingatkan bahaya berfikir negatif ini bagi semua orang. Aku saat ini tengah mempraktekkan berfikir positif ini pada diriku sendiri. Ibrahim Elfiky mengatakan bahwa bila satu file dalam otak kita terbuka maka hal itu akan membuka file2 lain yang sejenis dalam fikiran kita. Hal itu kuistilahkan sendiri sebagai "resonansi".
  Lalu,..bagaimana aplikasinya,..? Saat ini aku tengah mempelajari Bahasa C++,alasannya karena buku komputer yang saat ini tersedia, dan bisa digunakan untuk meng-upgrade kemampuan komputerku secara otodidak memang baru itu yang ada di rumah. Ada perasaan takut gagal, cemas dan pikiran2 negatif lain yang menderaku ketika mempelajari bahasa ini. Kalau dituruti fikiran2 negatif itu bisa gawat.
  Lalu bagaimana,..? Aku mencoba untuk meresonansikan pikiranku secara sadar sesuai prinsip2 yang dikemukakan oleh Ibrahim Elfiky. Kukenang saat saat menjelang UMPTN dulu ketika mempelajari Bahasa C++ saat ini. Sebulan belajar untuk memghadapi UMPTN padahal tiga tahun hampir tidak pernah belajar di SMA,...dan,..sim salabim,...diterima di Kedokteran. Dalam kondisi tidak menentu dan stress berat...kucoba untuk terus belajar meski sedikit yang bisa difahami dan,..sim salabim,...diterima di Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.
  Pengalaman2 puncak itu terus kureprodusir ketika belajar C++, tidak perduli sesusah apapun masalah yang kuhadapi ketika mempelajarinya. Hasilnya,..? Belum tahu,..proses untuk berfikir positif bagiku memang perlu waktu. Setidak2nya aku sudah mencoba,...

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...