Sunday, September 11, 2011

Seorang Istri Untukku,...Sebuah Cerpen


Seorang Istri Untukku
Oleh: Fermy Nurhidayat

   Perempuan itu bangkit dari kursi yang sudah didudukinya selama beberapa saat. Celana ketatnya tampak dengan jelas di mataku. Mata seorang laki-laki normal yang punya nafsu birahi. Tergoda aku untuk melakukan sesuatu padanya. Siluetnya sungguh sangat menantang. Bagaimanapun juga aku telah membayarnya untuk semalam ini.
   “Lalu,..apa yang kau inginkan dariku?”tanyanya.
   “Kita mengobrol saja,”jawabku.
   Perempuan itu tertawa. “Kamu lucu,”  katanya kemudian. Deretan gigi yang putih menyiratkan bahwa gigi itu dirawatnya dengan baik. “Apanya yang lucu?”tanyaku kemudian setelah tawanya mereda. Senyumku mengembang bersahabat.”Kamu tidak seperti laki-laki lain yang kukenal,”katanya kemudian. Kembali senyumku mengembang perlahan.
   Aku jadi ingat peristiwa sekitar sepuluh tahun yang lalu. Seorang perempuan juga pernah berkata padaku seperti itu. Ah,…sudah lama peristiwa itu terjadi. Seorang gadis dari Fakultas Kedokteran Gigi. Kami berteman baik dan beberapa gigiku ditambalnya di Laboratorium Konservasi Gigi. Dia yang meminta padaku setelah kukeluhkan soal gigiku yang belubang itu padanya.
   Kisah kemudian menjadi cerita romantis sesaat. Aku jadi sering ke tempat kosnya untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Mulai cerita pribadi sampai cerita tentang kondisi politis dalam negeri. Cinta singkat itu kemudian tidak berlanjut setelah kutahu bahwa Wilma, cewek kedokteran gigi itu, juga diapelin oleh anak-anak yang lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang dari Program Pasca Sarjana. Aku menjadi malas untuk melanjutkan hubungan.
   “Kamu itu manusia langka,”kata Wilma ketika kami beristirahat di pelataran Laboratorium Konservasi Gigi yang penuh dengan para mahasiswa. Kebanyakan dari mereka mengobrol untuk mengisi waktu luang sebelum diperintahkan masuk oleh para pembimbing praktikum. Tepat pukul sembilan pagi.
   “Langka apanya?” tanyaku padanya.
   “Kamu tidak seperti laki-laki lain yang kukenal,” kata Wilma kemudian. Dia tertawa, memamerkan sederet giginya yang putih kepadaku. Persis seperti perempuan yang bersamaku di kamar hotel ini. Sepuluh tahun kemudian.
   Aku tersenyum ketika mengingat kembali peristiwa itu. Setidaknya sudah dua kali ini aku mendengar pengakuan dari seorang perempuan tentang langkanya aku bagi mereka.
   “Kalau menurutmu aku ini manusia langka, kenapa aku tidak kamu klon saja,” kataku kemudian,”Kamu kan orang medis,…kenapa tidak kamu ambil kukuku atau rambutku kemudian kamu klon sehingga orang sepertiku menjadi banyak dan tidak langka lagi.”
   “Iya Mas,..dikeloni,” sambar seorang teman Wilma. Baru beberapa hari kemudian kuketahui bahwa dia bernama Wuri. Para mahasiswa Kedokteran Gigi yang berada di sekitar tempat kami menoleh dan menghentikan percakapannya sesaat. Kemudian mereka tertawa. Termasuk Wilma dan Wuri. Demikian lugunya aku waktu itu sampai tersenyumpun aku tidak berani.
   Kudengar kemudian Wilma menikah dengan seorang perwira polisi. Dan aku tidak tahu bagaimana kabar Wuri selanjutnya. Yang kutahu, Wuri sempat berpacaran dengan Wawan, seorang teman dari Teknik Kimia. Mungkin mereka sekarang sudah menikah dan mempunyai beberapa orang anak. Siapa yang tahu?.
   “Kamu melamun,” kata perempuan bercelana ketat itu padaku.
   Aku tergeragap beberapa saat,”Iya,”jawabku polos padanya. Kukatakan padanya bahwa aku teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kuliah di sebuah Universitas yang besar di Yogyakarta. Dan bahkan reputasinya di negeri ini sudah tidak dapat diragukan lagi. Kuceritakan pada perempuan itu bahwa ketika masih menjadi mahasiswa, aku juga mendengar komentar yang kurang lebih sama dengan komentarnya tentang diriku.
   “Kamu juga mahasiswa kan?”
   “Dan kamu berusaha sendiri untuk menutup biaya kuliahmu?”
   “Ya,”jawabnya tak acuh.
   Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Benar-benar cantik. Rupanya perempuan yang bersamaku itu kurang nyaman dengan caraku memandangnya. Dia menyibakkan rambutnya sesaat. Kucium bau harum parfum mahal yang biasa dipakai mahasiswi-mahasiswi dari golongan anak orang berada. Berdesir hatiku sesaat.
   “Itulah bedanya kamu dan aku,” kataku.
   “Aku tidak punya keberanian untuk membiayai sendiri kuliahku,” lanjutku.
   “Lalu?” Tampak bahwa dia ingin mengetahui cerita masa laluku.
   “Adik nenek dan ayahkulah yang membiayai kuliahku dulu.”
   Kemudian aku menceritakan kisah masa laluku padanya. Masa kuliah yang berat dan berdarah-darah. Ayahku tidak cukup memberikan ongkos kuliah kepadaku. Aku sudah berfikir untuk membiayai kuliahku sendiri. Tapi kuliah-kuliah menjadi semakin berat. Dan prioritas utamaku adalah lulus kuliah. Maka aku belajar dengan keras untuk bisa lulus dari kuliah-kuliah yang menurutku sulit-sulit itu. Aku tidak berani mengambil resiko tertinggal pelajaran dengan belajar keras. Tapi itu tentu adalah sebuah keputusan yang kemudian kusadari keliru. Ternyata bukan hanya otak dan penguasaan materi pelajaran saja yang diperlukan untuk menyelesaikan kuliah. Tapi juga faktor keberuntungan.
   Kuceritakan pada perempuan itu tentang temanku. Seorang mahasiswi yang berani sekali mencontek waktu ujian. Bahkan didepan dosen pengampu mata kuliah tersebut. “Dia lulus cepat”, ceritaku padanya.”Dan setelah bekerja di dunia industri untuk beberapa waktu lamanya, dia melamar menjadi dosen dan diterima”.
   Perempuan itu tersenyum menunggu ceritaku selanjutnya. “Dia sekarang berada di Inggris mengambil kullah S-3,” lanjutku getir. Aku sendiri memang pengin jadi dosen dan tidak kesampaian.
   “Kamu lebih beruntung dibanding aku,” kata perempuan itu.
   “Ayahku meninggal waktu aku semester dua,” katanya.
   “Kemudian temanku mencarikan jalan keluar,” lanjutnya.
   “Aku ditawari kerjaan di karaoke,”matanya menerawang,”Aku tidak sadar bahwa kerjaan itu beresiko tinggi,”kenangnya.
   “Seorang tamu mengajakku berhubungan seksual.”
   “Waktu itu aku sedang perlu uang untuk membayar SPP dan membeli beberapa buku text,” Singkatnya dia akhirnya melayani permintaan tamu itu demi beberapa rupiah. Cerita yang sangat klise dan banyak dijumpai di kota-kota pelajar.
   “Pernahkah kamu menyesali hidupmu?” tanyaku kemudian.
   “Untuk apa?” katanya kemudian,”Ini sudah jalan yang kupilih.”
   Perempuan itu melepas jaket dan meletakkannya sembarangan di kursi sofa. Kamar hotel ini cukup luas dan nyaman. Ada televisi berukuran sedang persis berada di depan dipan. Sebuah sofa nyaman dan empuk berada di dekat balkon. Kursi sederhana untuk menulis juga ada. Kursi itu berada di belakang meja yang diatasnya terdapat telepon dan kertas surat berkepala nama hotel yang kusewa ini.
   Amboi,..tanpa jaket ternyata perempuan ini sungguh lebih menarik. Dia mengenakan kaus ketat yang biasa dipakai oleh remaja masa kini. Kaus itu berwarna kuning dan bertuliskan “I’m a Virgin” di dadanya. Tampak tersamar bra warna hitam yang dipakainya saat itu. Payudaranya sangat indah.
   “Aku shalat isya dulu,”kataku.
   Perempuan itu tampak terheran-heran,kemudian tertawa kecil. “Kamu menyewa kamar dan berduaan dengan seorang pelacur di  kamar hotel,”komentarnya. Lalu,”Sedangkan kamu tidak lupa untuk shalat.”
   “Sungguh sangat kontradiktif”.
   “Sudahlah,”sahutku. Aku masuk ke kamar mandi dan wudlu. Kemudian melaksanakan shalat isya empat rakaat. Jangan kau tanya teman, apakah aku khusyu atau tidak saat shalat itu. Pikiranku campur aduk. Aku berada di sebuah kamar hotel bersama seorang mahasiswi cantik dan libidoku mengamuk.
   Selesai shalat aku tidak berdoa seperti biasanya. Aku memilih untuk duduk menemani ayam kampus itu di sofa. Dia memegang remote televisi dan mencoba mencari channel acara yang menarik. Beberapa saat ia melakukan hal itu. Namun akhirnya dimatikannya televisi itu. Memang biasanya tidak ada acara yang menarik kalau malam minggu begini.
   “Ada satu hal yang ingin kuceritakan padamu.”
   “Aku sudah ditolak oleh beberapa cewek.”kataku terus terang.
   Gadis itu memandangiku dalam-dalam. Menunggu.
   “Padahal aku adalah manusia biasa yang memerlukan teman untuk berbagi.”
   “Maukah kamu kunikahi dan kita menjadi suami istri?” tanyaku  kepadanya.
   Gadis ayam kampus itu memandangiku seolah-olah aku sudah gila. Tentu dia berfikir bahwa aku akan mempermainkannya. Padahal jujur teman, aku sangat serius dan tidak mempunyai rencana untuk mempermainkannya. Aku sudah berkali-kali meminta seorang gadis baik-baik untuk kunikahi. Sebanyak itu aku mencoba untuk menikah sesuai anjuran agamaku ini, dan sebanyak itu pula  aku selalu ditolak.
   Sebagai seorang insinyur sipil aku mempunyai banyak kawan yang bekerja di lahan yang sama. Konstruksi. Dan bersama teman-teman aku kadang-kadang menservis pimpro-pimpro untuk mendapatkan tender. Sekali-kali aku menemukan selera yang aneh dari mereka. Ada diantara mereka yang ingin bersetubuh dengan perempuan hamil. Bingung aku mencarikan perempuan yang seperti itu sampai akhirnya aku berkenalan dengan Anton.
   Anton adalah seorang germo yang mempunyai jaringan yang luas dengan dunia semacam ini. Akhirnya dia dapat juga wanita hamil yang diminta oleh Pak Salman. Pimpro itu. Aku tidak tahu bagaimana cara Anton mendapatkan pesananku. Ah,..peduli amat. Yang penting tender sudah ada di tangan, sekalipun beberapa persen dari tender itu menjadi hak Pak Salman. Seperti yang kujanjikan padanya.
   “Nah begitu,” kata Anton waktu itu ketika kusampaikan padanya bahwa kali ini aku mencari pelacur untuk diriku sendiri. “Sebagai laki-laki akhirnya kamu harus merasakan juga hangatnya seorang perempuan,” lanjutnya.”Kupikir kamu itu tidak normal,” katanya lalu tertawa. “Ternyata doyan juga kamu heh,….” Dia tertawa terbahak-bahak. Aku merasa jengkel karena tidak menemukan segi-segi yang lucu dari permintaanku padanya. Aku memang benar-benar berniat cari istri. Cara-cara yang normal sudah kulakukan. Akhirnya aku ditolak lagi dan ditolak lagi.
   Itu adalah peristiwa seminggu yang lalu. Melalui perantaraan Anton akhirnya aku dipertemukan dengan gadis ini. Dan aku jatuh hati pada pandangan pertama. Selepas Maghrib tadi dia mengetuk pintu kamarku. Terus terang aku suka pada senyumnya yang malu-malu.
   “Kubiayai nanti kuliahmu,”kataku padanya.
   “Asalkan kamu mau menjadi istriku.”
   Tampak sekali bahwa ia gelisah. Mengoyang-goyang bahu dan menengadahkan mukanya yang cantik. Dipandanginya lantai kamar yang dilapisi karpet tebal. Kapet itu menutupi lantai kayu yang bercorak sangat menarik. Bukan kayu jati, tapi kayu pohon kelapa yang dalam bahasa jawa dikenal sebagai glugu. Matanya sayu memandangi bawah kakinya. Tampak bahwa ia betul-betul bimbang. Oh Tuhan, betapa ingin aku mencium bibirnya yang basah. Aku belum pernah mencium seorang gadis. Kukuatkan hatiku.
   “Aku tidak percaya pada laki-laki.”
   “Sewaktu ketika pasti kamu akan meninggalkanku,” lanjutnya.
   Aku mencoba memberinya pengertian. “Ah,..tidak semua laki-laki,” kataku padanya. Dan kami berdua tertawa terbahak-bahak. Kalimatku itu persis sama dengan judul lagu lama yang dinyanyikan oleh Basofi Sudirman. Mantan gubernur Jawa Timur.
   “Aku belum punya rencana untuk menikah,” katanya setelah tawa kami mereda. Aku tersenyum masygul. Akhirnya kali ini aku ditolak lagi. Yang terakhir ini oleh seorang ayam kampus yang kuduga akan menerima pinanganku. Dengan senang hati tentunya. Perempuan itu misterius kawan. Aku betul-betul sadar sekarang.
   “Baiklah,”kataku pasrah
   “Kita pulang.”
   “Oke,”katanya. Diambilnya jaket yang tersampir di sofa. Dikenakannya jaket itu. Dan aku hanya bisa memandang dengan sedih. Tidak enak ditolak terus oleh perempuan, tapi hidup berjalan terus. Meninggalkan segala sesuatunya dibelakang. Pasti akan tiba saatku menikahi seorang perempuan. Mungkin tidak dengan cara ini Allah akan memberikan jodoh padaku.
   Kami turun ke resepsionis menggunakan lift. Kami berdua berdiri mematung. Tidak berani memandang satu sama lain. Hanya kami berdua dalam lift itu. Lonceng berbunyi dan kami melangkah keluar. Resepsionis melayani kami dengan senyum ramah. Entahlah apa yang ada didalam fikirannya melihat tamunya hanya memakai kamar selama tiga jam saja.
   Kuajak gadis itu berjabat tangan. “Siapa namamu,” tanyaku,”Mungkin kita bisa bertemu lagi kapan-kapan,” kataku berharap. Perempuan yang menolakku itu tersenyum lebar dan menjawab pendek,”Wilma”.
   Kemudian kami berpisah dalam kegelapan malam.
                                               
                                                                                                                                                             Malang, Desember2010.

Thursday, January 27, 2011

Meminta Maaf,...

Peristiwa itu telah berlangsung beberapa tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya. Saat itu aku masih berstatus mahasiswa Teknik Mesin UGM. Aku melakukan kesalahan pada temanku Retno Wulandari,mahasiswi Kedokteran Gigi UGM dan Wiwid, mahasiswa Teknik Kimia UGM. Aku lupa nama lengkap Wiwid. Aku kehilangan kontak dengan mereka sejak lama, karena itu aku belum bisa meminta maaf pada mereka secara langsung. Seingatku Wulan bertempat tinggal di Jln. Wijilan no. 22 Yogyakarta. Aku tidak berani datang ke rumahnya untuk meminta maaf karena takut disangka yang tidak2. Aku khawatir dianggap membuat front baru dan itu tidak kukehendaki. Buat Wiwid dan Wulan,..aku meminta maaf atas kesalahan2ku yang telah lalu pada kalian. Sungguh aku menyesal sekali berbuat yang tidak pantas pada kalian. Selamat berbahagia untuk kalian,..tentunya kalian sudah memiliki beberapa orang putra yang lucu2 ya,....

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...