Saturday, October 27, 2018

Cah Ndeso

Genggamlah TangankuSeorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, dia bisa minta tolong ke toko buku dan minta mereka untuk menterjemahkannya. Sekalian katanya ingin menawarkan novel itu untuk alih bahasa ke Norwegian kepada penerbit di sana. Ya,...aku cuma bisa berharap agar itu berhasil. Aamiin.

Novel segera kukirim ke Honefoss, sebuah kota di sebelah selatan Oslo. Katanya tidak terlalu jauh lah dari Oslo itu. Ini Oslo betulan yah, jangan dikira yabg kumaksud adalah Solo yang di Jawa Tengah itu.

Yang bikin kaget lagi, setelah dia minta tolong untuk mencarikan SWIFT CODE dari Bank-ku, transaksi segera selesai. Katanya, tunggu sekitar tiga hari sampai uangnya masuk ke rekeningku.

Bingung juga aku, aku tidak cerita kalau satu-satunya rekeningku itu adalah Simpedes BRI. Layanan BRI untuk para bakul lombok. Mudah-mudahan selamet deh uangku yang berasal dari Norwegia ini.

Yogyakarta, Medio Oktober 2016
Di Sebuah Sudut Rumah

Kang Kenong dan PKH

Kang Kenong dan PKHKang Kenong adalah second cousin atau Bahasa Jawanya mindoanku di Kabupaten Blitar ini. Aku tidak pernah mengetahui nama aslinya, yang kuketahui cuma nama parabannya itu, Kang Kenong.

Kang Kenong bekerja sebagai tenaga honorer pada sebuah Sekolah Dasar di desa kami. Beliau terkadang juga membantu Kantor Desa jika diminta kantor itu untuk menyampaikan surat-surat untuk penduduk Desa Kamulan kami. Apakah Kang Kenong berprofesi ganda sebagai Carik?. Hahahaha, tentu saja tidak. Dia tetaplah seorang pesuruh.

Kemarin lusa kami sempat bertemu. Kang Kenong bercerita bahwa dia memperoleh dana bantuan PKH dari pemerintah saat ini. PKH atau Program Keluarga Harapan memang menjadi salah satu program pengentasan kemiskinan dari rezim Jokowi.

"Lumayan Mit, bisa bantu dapur tetep ngebul," cerita Kang Kenong dengan wajah sumringah.

"Tapi diminta sama dinas 40%," lanjutnya.

Tentu saja aku terkejut. Dinas mana yang berani menyunat jatah Kang Kenong hingga 40%?. Paling tidak Kang Kenong dinaungi oleh Dinas Pendidikan dan Kantor Desa. Namun aku tidak tega untuk menanyakan lebih jauh.

Duh, nasibmu Kang Kenong.....

Blitar, 20 Maret 2018
Saat Merenung di Tengah Sawah

(gambar milik pixabay.com)

Belajar Jadi Guru Privat

Belajar Jadi Guru PrivatAku bermaksud untuk memberikan les privat untuk Mapel Fisika SMA. Setelah mengobservasi materi-materinya kuperkirakan aku akan perlu waktu 10 bulan/setahun untuk mulai percaya diri memberikan les privat Fisika ini.

Dalam belajar, aku menggunakan formulasi yang sama dalam belajar ketika kuliah di Tk Mesin dahulu. Formulasi atau metode itu kudapatkan dari buku "Cara Belajar di Universitas" terjemahan Gramedia tahun 1992 tulisan orang Amerika Serikat. Buku itu sudah kucari kembali di berbagai Toko Buku, namun rupanya sudah tidak terbit lagi.

Dasar dari formulasi itu adalah sebuah kredo, "Orang pintar yang belajar selama satu jam, kira-kira tingkat pemahamannya akan sama dengan orang normal yang belajar selama dua atau tiga jam."

Dan aku memilih untuk menjadi orang normal.

Yogyakarta, Medio Juni 2018
Pada Sebuah Sudut Rumah

(gambar milik pixabay.com)

Friday, October 26, 2018

Etika Berjualan

Genggamlah TangankuMendapatkan kabar dari Penerbit bahwa buku saya GENGGAMLAH TANGANKU akan saya terima sebanyak 50 eksemplar menyisakan pikiran buat saya. Buku yang saya terima itu adalah bagian dari royalti yang merupakan hak saya.

Harga resmi penerbit adalah Rp. 75.000. Buku itu juga didistribusikan ke Social Agency di Yogyakarta yang toko buku diskon itu. Artinya pembeli yang membeli di sana akan mendapat harga yang lebih rendah.

Selama ini penerbit memperlakukan saya selaku penulis dengan baiiiiiiik sekali. Saya sungkan kalau melepas buku itu kepada teman2 dengan harga dibawah harga resmi penerbit.

Inginnya saya jual ke teman2 seharga Rp. 60.000. Toh teman2 nantinya juga masih menanggung ongkos kirim. Tapi,...apakah itu etis....?. Saya tidak ingin kehilangan kepercayaan dari penerbit.

Yogyakarta, Awal September 2016
Di Sudut Kamar

Best Entry

Cah Ndeso

Seorang sahabat di Norwegia membeli novelku GENGGAMLAH TANGANKU. Aku bingung karena novel itu berbahasa Indonesia. Katanya, tidak masalah, d...